Cerpen, Herumawan PA, Kedaulatan Rakyat

Empati

Empati ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(3)

Cerpen Herumawan PA (Kedaulatan Rakyat, 07 Januari 2022)

AKU menanggalkan empati. Membuangnya entah ke mana. Aku ingin merasakan hidup tanpa empati. Aku ingin tahu enaknya.

Aku berjalan keluar rumah, tanpa empati. Kulihat pejalan kaki diserempet sepeda motor di jalan kampung. Tangan dan kakinya tergores. Lukanya terus mengeluarkan darah. Aku mendekatinya. Memandanginya lekat-lekat.

“Sakit ya, Mas?” tanyaku tanpa ekspresi iba. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk.

“Ooo…,” jawabku sambil berlalu begitu saja. Hanya kosong di hati yang kurasakan. Tapi tidak kuhiraukan.

Kulangkahkan kaki menuju jalan besar. Aku duduk di halte bus, menunggu bus datang. Seorang bapak datang menghampiriku. Wajahnya kulihat tampak panik.

“Mas, boleh pinjam hapenya?”

“Buat apa?”

“Telepon taksi, istri saya mau melahirkan.”

“Tidak punya.”

“Lha itu yang Mas pegang.”

“Ini hape punya Kakak.” Aku berbohong kepadanya.

“Kalau gitu, tolong teleponkan taksi.”

“Tidak bisa, pulsanya tinggal sedikit.” Orang itu menatapku memelas. Aku cuek, sibuk mengutak atik hape. Ia lalu bergegas pergi.

Angkot yang kutunggu datang. Ada tujuh penumpang di dalamnya. Aku segera naik. Belum lama berjalan, angkot tiba-tiba berhenti. Mogok. Sopir meminta para penumpang termasuk aku untuk mendorong angkotnya. Semua penumpang mau turun. Hanya aku yang menolaknya.

“Maaf saya capek sedari tadi nunggu angkotnya lama sekali.” Aku melihat sopir angkot kesal mendengar jawabanku. Aku tidak peduli. Kusibukkan diri bermain game di hape.

Beberapa menit kemudian, angkot kembali berjalan. Para penumpang yang masuk menatap kesal ke arahku. Beberapa penumpang kudengar bergumam menyindirku, “Dasar orang tidak punya empati.” Aku tidak mau ribut karena itulah kujawab dalam hati, “Empati sudah kubuang jauh dari kehidupanku. Tidak ada gunanya.”

Baca juga  Manusia Setengah Duda

Satu kilometer berjalan, tiba-tiba angkot berhenti kembali. Kulihat di depan ada kecelakaan hebat. Aku dan beberapa penumpang turun untuk melihat lebih dekat. Tampak sebuah bus pariwisata terguling. Semua penumpang terlempar keluar. Sebagian tidak bergerak dengan banyak darah di sekujur tubuhnya. Ada yang mengerang kesakitan dengan luka di tangan dan kaki. Ada yang tidak terluka, hanya shock lalu diam mematung.

Beberapa penumpang lain bersama sejumlah warga menolong mereka yang terluka dan shock. Tapi aku tidak begitu. Kuabadikan kecelakan itu dalam video hape. Tidak lupa aku juga swafoto. Lalu mengunggahnya ke akun media sosialku.

“Pasti banyak yang tonton, banyak yang komentar, banyak yang like, banyak yang follow, banyak subscribe. Kalau sudah begitu, duit pun akan datang,” batinku sambil mengulum senyum.

Beberapa penumpang dan warga tidak suka melihat kelakuanku. Mereka mendekatiku. Aku segera berlari, masuk ke dalam angkot. Mereka mengejar, hendak masuk ke dalam angkot. Aku berpura-pura menelepon Polisi dengan suara kencang. Mereka mengurungkan niatnya lalu bergegas pergi. Masih sempat kudengar mereka menyumpahi dan mengutukku dengan kata-kata yang tidak pantas.

Di dalam angkot, kulihat akun media sosialku. Kubaca komentar-komentar follower. Isinya beragam. Ada yang berdoa untuk korban kecelakaannya. Ada yang bertanya lokasi kecelak‡an hingga berapa korban jiwa dan terlukanya. Tapi tidak kujawab semuanya.

Aku cukup terhenyak membaca satu komentar, “Pakailah kembali empatimu. Kalau kamu buang, carilah sampai ketemu. Atau kamu akan sangat menyesal nanti.”

Kubalas komentarnya, “Kamu siapa? Dari mana kamu tahu aku membuang empatiku.”

“Aku ini kamu di masa depan.” Aku kaget bukan kepalang melihat jawaban komentarnya. Aku tidak percaya. Kulihat akun media sosialnya. Ada tiga album fotoku saat bayi, sekarang, dan tua. Kubuka album masa tuaku. Aku penasaran ingin tahu seperti apa aku tua nanti. Kulihat foto diriku sendiri saat tua berada di sebuah bangsal Rumah Sakit Jiwa dengan rambut semua putih, tidak memakai baju, hanya celana kolor tampak seperti sedang mencari sesuatu tidak kasat mata yang hilang.

Baca juga  Pamitan pada Masjid 99 Kubah

Aku seperti tersadarkan. Kuhapus unggahan kecelakaan itu dan juga swafotoku. Lalu bergegas keluar angkot. Berlari sekencang-kencangnya menuju ke rumah. Mencari kembali empati yang tadi kubuang entah ke mana. ***

.

.

Yogyakarta, 8 Desember 2021

Herumawan Prasetyo Adhie, pejalan kaki yang lebih memilih naik trans Jogja atau becak ketimbang kendaraan pribadi, dan juga pemerhati sepakbola serta suka sekali menulis apapun. Karyanya dimuat di berbagai media massa.

.

.

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Singkat, dan mengalir sekali

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: