Cerpen, Dody Widianto, Fajar Makassar

Maling

Maling - Cerpen Dody Widianto

Maling ilustrasi Fajar Makassar

5
(1)

Cerpen Dody Widianto (Fajar Makassar, 09 Januari 2022)

PULUHAN kotak kardus kecil berisi jalangkote telah ia masukkan dalam dua keranjang khusus yang terikat di kanan dan kiri motor bebek tuanya. Sebelum berangkat ke pasar, ia masih sempat berpamitan dengan istrinya.

Dari rumahnya, jarak ke pasar sekitar sebelas kilometer. Untuk seseorang yang telah merasakan pahit getirnya berjualan selama lebih dari empat dekade silam, tentu jarak itu tidaklah dekat untuk ukuran umurnya yang telah berjualan sejak bujang. Namun, ia sudah punya langganan tersendiri yang paham lezat dan renyahnya jalangkote asli Makassar dari racikan tangannya.

“Ingat, Pak, pulang beli beras dan sayur.”

Ia mengangguk di depan istrinya. Semenjak dua anaknya merantau ke Balikpapan, mereka hanya hidup berdua. Untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari mereka terus berusaha berjualan jalangkote.

Setelah dirasa rapi dan siap, ia tancap gas. Menyusur jalanan yang masih lengang karena hari baru saja dimulai. Namun, di tengah jalan tiba-tiba motor tuanya bergoyang. Ia berhenti. Turun dari motor karena curiga. Kemudian memeriksa ban depan dan belakang. Dilihatnya ban belakang kempis. Bocor.

Ia menengok kanan kiri. Tak ada rumah penduduk atau bengkel terdekat di area sekitar. Benar-benar sedang apes karena tepat di tengah jalan raya yang diapit lahan persawahan yang sangat luas. Terpaksa ia menuntun motornya.

Sepanjang jalan, peluhnya terus menetes. Sudah hampir satu kilometer menuntun motor, tetapi belum ada bengkel yang buka. Perutnya terasa perih karena belum sarapan. Langgananya itu pasti sudah menunggu. Kemarin bilang pesananannya harus sampai sebelum jam delapan.

Tak lama, di kejauhan ia melihat warung makan di pinggir jalan yang sangat dikenalnya. Ia mempercepat langkahnya. Berhenti di depan warung. Kebetulan ia sudah sangat hafal dengan pemiliknya. Jika pulang, kadang ia mampir sebentar di situ dan membeli sayur matang untuk istrinya.

Baca juga  Lelaki Tua dan Sebuah Seragam

Sepeda motor yang baginya malah merepotkan perjalanannya akhirnya ia titipkan di depan warung makan setelah meminta izin pemiliknya. Ia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan dan menenteng dua keranjang kain berisi dagangannya. Jarak dari warung itu ke pasar sebenarnya agak dekat jika dengan motor. Terlihat lumayan jauh jika harus berjalan kaki. Namun, ia berpikir mungkin lebih cepat berjalan kaki tanpa harus menuntun-nuntun motornya. Dari pasar, siapa tahu ada yang membantunya nanti.

Sepulang dari pasar, sesuai pesanan istrinya, ia membeli dua kilogram beras dan keperluan lain. Cukup untuk seminggu. Istrinya selalu mengajarkannya untuk makan seadanya jika kiriman uang dari anaknya belum datang. Terlebih, di usia beranjak renta, banyak penyakit datang sebab sembarangan mengonsumsi makanan. Anaknya juga selalu menasihati agar mereka hidup hemat dan sisa uangnya ditabung untuk masa tua kelak. Begitu kata anak-anaknya terus mengingatkan.

Berjalan menuju arah pulang, tiba di depan warung makan tadi, ia langsung saja meletakkan belanjaannya dan sayur pesanan istrinya. Ia ikat di jok belakang lalu berusaha menyalakan motor, tetapi ia merasakan ada sesuatu yang aneh.

Entah kenapa kuncinya mendadak susah dimasukkan. Berkali-kali mencoba kunci itu seakan tak mau masuk seperti biasanya. Dalam kebingungan itu, mendadak suara orang-orang di belakang yang entah dari mana tiba-tiba berteriak.

Maling…! Maling…!

Ia kaget bercampur bingung. Menengok ke belakang dan tiba-tiba puluhan orang setengah berlari mendekatinya.

Ia ingin bertanya kenapa dan ada apa, tetapi melihat begitu banyak warga yang datang dengan raut wajah murka, nyalinya menjadi ciut.

Ia yang telah renta berusaha berlari meninggalkan motornya dalam kebingungan. Kejar-kejaran pun terjadi.

***

Siang seusai tabuh zuhur, aku baru saja tiba di pertigaan pasar. Mengantar pesanan jalangkote buatan Amak. Melihat jalanan tiba-tiba sangat macet. Sebuah benda terbakar terbiar begitu saja di pinggir jalan.

Baca juga  Radiah

Baru paham jika benda yang menghitam seperti bekas terbakar dan tertutup kertas koran sebagian, adalah jasad manusia setelah lama kuperhatikan dengan saksama. Kudukku sedikit merinding. Siapa yang tega melakukannya seperti binatang?

Orang-orang di sekitar pasar riuh. Bercerita dalam versinya masing-masing. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan hanya bisa mengelus dada.

Lalu melihat dua orang diborgol. Dipaksa masuk ke dalam truk polisi. Dua motor dengan bentuk, warna, dan merek sama, tetapi nomor pelat berbeda, ikut dimasukkan ke atas bak truk. Lalu mendengar umpatan beberapa orang di pingir jalan.

“Modar!”

“Tukang tuduh. Maling teriak maling.”

Di tepi jalan aku masih terdiam. Geleng-geleng kepala. Entah bingung entah apa. Benar-benar tak paham apa yang terjadi sebenarnya, tetapi masih sempat bergumam.

Betapa maling uang rakyat selalu lebih beruntung nasibnya. Akan ditangkap dan dipenjara pun masih sempat da-da da-da dan tersenyum di media dan layar kaca.

***

Di tempat lain, ketika hari beranjak meredup, seorang perempuan renta, masih saja menunggu suaminya yang tak pulang-pulang…. ***

.

.

DODY WIDIANTO lahir di Surabaya. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa. Buku kumpulan cerpen terbarunya, “Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita” (Airiz Publishing, Yogyakarta 2021). Akun IG: @pa_lurah.

.

.

 133 total views,  1 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!