Cerpen, Fuad Sulistyono, Kedaulatan Rakyat

Muntah

Muntah - Cerpen Fuad Sulistyono

Muntah ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

3.5
(2)

Cerpen Fuad Sulistyono (Kedaulatan Rakyat, 14 Januari 2022)

KEPALA Lik Tohir terasa gliyengan. Pusing teramat sangat dan bumi seolah berputar-putar. Tetapi Lik Tohir memaksakan diri untuk tetap berangkat kerja sebagai perangkat desa. Sebagai pejabat desa, dia tak mau mengabaikan amanah yang telah diembankannya untuk melayani masyarakat desa. Meskipun kali ini ia harus menahan gejolak tak enak dari dalam perutnya.

Benar-benar sudah tidak bisa ditahan. Rasa mual tak enak dan nyaman terus menggerunjal ingin segera minta keluar dari mulut Lik Tohir. Akhirnya, jebol juga desakan lahar muntahan dari mulut Lik Tohir. Tumpah dan muncrat seluruh isi perutnya hingga membuat genangan di lantai beranda rumahnya. Genangan muntahan itu melebar nyaris memenuhi separuh lantai beranda rumah Lik Tohir.

Genangan itu berbau luar biasa. Anyir dan amis, cukup menjijikkan. Orang lain yang melihat dan menciumnya bisa saja ikut terpancing ikut muntah. Namun, Lik Tohir justru merasa sangat lega dan lebih nyaman. Rasa pusingnya sudah berkurang. Kepalanya pun telah lebih ringan. Keringat dingin Lik Tohir belum menguap sepenuhnya. Seperti isi pikirannya pun masih berjubel ingin keluar satu demi satu untuk menceritakan “jejak digitalnya” tentang peristiwa semalam.

Ingatan Lik Tohir menyingkap kejadian demi kejadian di rumah besar Pak Leman. Pesta besar telah digelar atas nama syukuran pelantikan Pak Leman sebagai Ketua Serikat Pedagang Pasar Paing. Terpilihnya Pak Leman karena telah mengungguli dua calon lain sebagai pesaingnya. Kemenangan itu juga berkat kedekatan—dalam tanda petik—dia dengan Bupati dan Pak Camat. Karena itu, berhamburan dan berbusa-busalah omongan dan obrolan besar pada pesta tadi malam.

Beberapa saat Lik Tohir melihat genangan tumpahan isi perutnya. Ada yang berwarna coklat kekuningan, bening dan juga berwarna kental memutih. Mengamati yang berwarna coklat kekuningan, ia jadi teringat dan melihat bagaimana ketika istri dan putri Pak Leman mengeluarkan gule kambing dengan potongan-potongan daging yang besar membalut tulang-tulangnya. Mulut juragan sembako itu nyerocos. Jelas sekali pada genangan muntah yang menjelma seperti kaca yang berkilauan.

Baca juga  Kesrimpung Sarung

“Kesuksesan saya sebagai pemenang dalam pemilihan ketua adalah keberhasilan kita bersama. Ini untuk kemakmuran pasar kita bersama. Ini juga untuk masa depan kita semua.”

“Lho, kok masa depan kita? Maksud Pak Leman bagaimana?” Cukup berani pertanyaan Kang Wito.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Pak Leman mempersilakan para undangan se-RT untuk segera menyantap hidangan makan malam gule kambing yang aromanya mengundang air liur. Lik Tohir langsung menyambar piring yang kosong dan mengisinya dengan nasi yang menggunung dan menciduk gumpalan daging gule kambing beberapa potong. Dan telinganya pun masih jelas mendengar kata-kata Pak Leman.

“Kita juga harus selalu mendukung pembangunan yang sedang dilaksanakan di sana-sini. Bupati punya program bagus, kita harus mendukungnya. Kafe-kafe yang sedang didirikan di pinggir-pinggir jalan, mesti kita ikut menyosialisasikannya.” Mulut Pak Leman mulai berbusa-busa.

“Bener, lho.” Istri Pak Leman, Bu Lasmi yang yang tak lepas dengan gincu tebalnya ikut nimbrung. “Setiap kafe nanti akan dikasih hiburan dangdut. Ini sebenarnya untuk memberikan hiburan para sopir yang kebetulan mampir di tempat itu. Asyik, kan?”

Nampak jelas bayangan itu dalam genangan yang menyerupa seperti cermin.

“Dan ini ada informasi yang penting juga buat kita. Di kecamatan kita akan dibangun sebuah supermarket yang besar. Hampir menyamai mall. Malahan, kabarnya mau didirikan di desa kita,” terang Pak Leman dengan senyum lebar, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

“Bagus juga ya, Gan?” Pak Kadus yang sedang membetot daging gule yang alot masih sempat manggut-manggut. “Kita nggak perlu ke kota untuk belanja atau shopping.”

“Makanya, mari kita berharap dan berdoa, semoga itu semua segera terwujud.” Bu Lasmi menimpali dengan semangat.

Baca juga  Anak Ibu

Sebagian besar yang hadir mengamininya. Lik Tohir yang nampak kekenyangan dan mulutnya masih mengunyah hati kambing tidak sempat ikut mengamini. Dia memperhatikan pada tetangga seberang duduknya juga hanya diam. Tetangganya itu tiba-tiba terlihat tidak nyaman duduknya. Atau hati dan pikirannya sedang mencoba protes, bagaimana nanti dengan nasib kios kecilnya di depan rumah.

Malam pesta syukuran, lebih tepatnya sebenarnya adalah perayaan rencana dan program kabupaten yang dibilang aspiratif dan modernis, ditutup dengan doa dan harapan oleh saudara sepupu Pak Leman. Yang hadir rata-rata mengamininya dengan keras. Beberapa orang saja yang hanya basa-basi mengamini dengan suara lirih dan sebelumnya mesti melirik kanan-kirinya dulu.

Lantai beranda rumah Lik Tohir masih berkilau seperti cermin. Kepala Lik Tohir sudah semakin ringan dan enakan. Namun, matanya tak bisa menghindar dari genangan sebagian kecil pada akhir muntahnya yang berwarna putih kental. Ia pun teringat kalau itu adalah muntahan cair karena siangnya ia makan ubi rebus masakan istrinya. Meskipun di mulut rasanya lebih pahit, tetapi baunya tidak seanyir muntahan berisi gule kambing semalam.

Syukurlah, aroma tak sedap di depannya kini sedikit berkurang dengan kemunculan istrinya dari dalam rumah. Rambutnya yang baru saja keramas masih terlihat basah. Senyumnya yang manis telah berpartisispasi mengurangi sedikit rasa mual di perutnya. Tetapi ucapan istrinya telah menyingkirkan suasana nyaman yang baru saja terbangun.

“Pagi-pagi Bu Lasmi mengirim WA agar Bapak hadir lagi minggu depan pada acara lamaran putra Wakil Bupati kepada putri Pak Leman.”

Sekonyong-konyong Lik Tohir sudah membayangkan betapa pesta besar itu akan berulang dan rasa mual di perutnya akan kembali bergejolak. ***

Baca juga  Pernikahan Bayangan

.

.

Purbalingga, Desember ‘21

Fuad Sulistyono, alumnus Sastra Indonesia UGM dan kini mengajar di MTs Ma’arif NU 09 Purbalingga, pernah ngangsu kawruh dan terlibat dalam Forum Pecinta Sastra Bulaksumur, Yogyakarta. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media massa.

.

Muntah. Muntah. Muntah.

.

 335 total views,  1 views today

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: