Cerita Anak, Fery Lorena Yanni, Kedaulatan Rakyat

Klepon Ubi Ungu

Klepon Ubi Ungu - Oleh Fery Lorena Yanni

Klepon Ubi Ungu ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

4
(4)

Oleh Fery Lorena Yanni (Kedaulatan Rakyat, 14 Januari 2022)

MINGGU ini anak-anak akan praktik memasak dalam pelajaran Tata Boga. Minggu lalu mereka telah mempelajari tentang kue-kue tradisional, dan sekarang waktunya untuk mempraktikkannya. Ada macam-macam kue tradisional yang akan mereka praktikkan, di antaranya kue talam, putu ayu, kue apem, klepon, combro dan serabi.

Kegiatan membuat kue tradisional ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri sendiri sekaligus melestarikan jajanan tradisional yang mulai langka.

“Kita mau bikin apa, nih?” tanya Dian pada teman-temannya.

“Kita bikin yang unik, yuk! Kita modifikasi jajanan tradisional ini,” lanjut Farah.

Anak-anak berpikir keras.

“Hmm… bagaimana kalau kita bikin klepon?” usul Ida yang sedari tadi diam saja.

“Ah, tapi kan, klepon sudah biasa. Bikin yang lain, gitu, lha!” sahut Farah.

“Kleponnya kita modifikasi. Kalau biasanya klepon dari tepung ketan, kali ini kita membuat klepon dari ubi ungu. Kebetulan tetanggaku ada yang sedang panen ubi ungu. Selain lebih murah, juga unik,” Ida menjelaskan panjang lebar.

Hmmm… benar juga. Ubi ungu harganya lebih murah daripada tepung ketan. Dan tentu rasanya tak akan kalah dengan klepon tepung ketan. Dan… semua setuju.

Sore hari, anak-anak pergi ke rumah Ida. Mereka akan bersama-sama membeli bahan-bahan untuk praktik memasak besok. Sebagaimana usul Ida, mereka membeli ubi ungu pada tetangga Ida. Mereka juga membeli bahan-bahan lain di warung dekat rumah Ida. Mereka sengaja membeli di warung, selain dekat juga lebih mudah. Bahan-bahan yang mereka butuhkan semua ada di warung, seperti tepung tapioka, gula merah dan kelapa. Untuk daun pandan mereka akan memetik di belakang rumah Ida.

Baca juga  Baju Dinas Bu Cindy

“Nah, semua bahan sudah ada. Besok tinggal eksekusi,” kata Ida puas yang langsung diiyakan oleh teman­temannya. Mereka yakin klepon ubi ungu yang akan mereka buat besok akan menjadi yang terbaik.

Keesokan harinya, di sekolah, anak­anak ramai membicarakan tentang kue tradisional yang akan mereka buat. Kue­kue tradisional memang selalu menarik dan membuat kita penasaran ingin mencicipinya.

“Nah, sekarang kita bisa mulai memasak. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan makanan dan tempatnya, ya,” pesan Bu Guru sebelum praktik memasak dimulai.

“Siap…. Bu!” jawab anak-anak serentak. Mereka segera mempersiapkan diri dan mulai memasak. Bu Guru sesekali berkeliling untuk memeriksa kerja anak-anak. Bu Guru juga membantu jika ada yang mengalami kesulitan.

“Kalian mau membuat apa?” tanya Bu Guru pada Dian yang sedang mengupas ubi ungu yang sudah dikukus.

“Kami mau membuat klepon, Bu,” jawab Dian.

“Lho, klepon kok, pakai ubi? Kenapa tidak pakai tepung ketan?” Bu Guru tampak penasaran.

“Iya, Bu. Kami mengganti tepung ketan dengan ubi ungu. Selain harga bahannya lebih murah, kami juga tidak perlu memakai pewarna makanan lagi. Trus, ubi ungu kan, sudah manis, jadi bisa mengurangi gulanya juga,” Ida menjawab panjang lebar. Tentu saja Ida tahu semua, karena selain ini idenya, Ida juga pernah membuatnya bersama ibu saat liburan.

“Wow…. kalian berpikirnya sudah sejauh itu, ya. Luar biasa!” puji Bu Guru.

Teng… teng… teng…

Tak terasa 2 jam pelajaran berlalu. Anak-anak sudah selesai memasak. Semua kue hasil buatan anak-anak sudah ditata rapi di meja depan kelas. Penampilan kue-kue buatan anak-anak tampak cantik-cantik. Semua puas dengan kue buatan mereka. Para guru pun menyukai kue-kue ini.

Baca juga  Meme

“Sekarang saatnya kita akan mengetahui siapa juara dalam kelas memasak kali ini,” suara Bu Guru seketika meredakan riuh rendah anak­anak yang sedari tadi ribut.

“Pemenang lomba memasak kali ini adalah… KLEPON UBI UNGU….”

Plok… plok… plok…

Seketika suara tepuk tangan membahana.

“Mengapa klepon ubi ungu menang? Karena klepon ubi ungu ini lain daripada klepon yang biasa kita temui. Kelompok Ida mampu membuat variasi klepon yang lebih mudah dan rasanya lebih enak. Oleh sebab itu, klepon ini layak menjadi juara,” anak-anak bersorak sorai.

Ida dan teman-teman satu kelompoknya tentu saja bangga. Siapa sangka kue buatan mereka bisa menjadi juara. Mereka senang bisa membuat kue yang lebih menarik dan lebih enak, namun tetap bisa melestarikan kue tradisioanl kita. ***

.

.

Fery Lorena Yanni. (Bimbel Gladika, Jalan Cemara IV RT 05 RW 06 Sidorejo Lor, Salatiga 50714).

.

.

 293 total views,  3 views today

Average rating 4 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!