Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Risen Dhawuh Abdullah

Manusia Berkepala Babi

Cerpen Kedaulatan Rakyat

Manusia Berkepala Babi ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

4.4
(5)

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Kedaulatan Rakyat, 21 Januari 2022)

SEMINGGU sudah aku dan istriku tinggal di kampung Durian. Aku membeli tanah di sini dengan ukuran yang tidak terlalu luas. Tetangga yang pertama kali kukenal adalah bernama Teguh. Kepadaku Teguh mengatakan kalau di kampung ini ada manusia berkepala babi.

“Ya, saya tidak bohong. Setiap pagi ia menyapu halaman rumahnya. Ia selalu ramah dengan orang-orang yang lewat. Rumahnya berjarak enam rumah dari rumah njenengan, Mas,” ucap Teguh.

Teguh menceritakan kalau manusia berkepala babi yang bernama Toro, awalnya adalah manusia yang normal. Perubahan itu dimulai sejak dua tahun yang lalu. Ya, tepatnya ketika tiba-tiba ia tinggal di rumahnya yang sekarang—sebelumnya ia tinggal di rumah orangtuanya yang juga ada di kampung Durian—bersama dengan seorang perempuan yang juga penduduk asli kampung itu. Semenjak itu, warga kampung Durian saat melihat Toro, di mata mereka Toro adalah manusia berkepala babi.

“Ketika itu geger gedhen. Memang di kampung ini, tidak hanya dia saja yang menerabas norma, tapi masalahnya ia kumpul kebo dengan orang yang masih sekampung. Dan yang membuat saya heran itu, tidak ada sedikit pun rasa malu, Mas. Itu yang membuat warga sini geger, Mas,” terang Teguh sembari geleng-geleng kepala.

“Saya sendiri memang jijik, Mas. Terutama melihat wajahnya yang telah berubah menjadi babi. Sangat menjijikkan.”

Teguh kemudian juga menceritakan sikap orang-orang yang tidak memberikan sanksi sosial. Toro yang berkepala babi itu masih ikut kegiatan kampung, baik yang diselenggarakan kampung itu sendiri seperti malam tirakatan, maupun yang diadakan warga secara pribadi, misalnya kenduri.

“Jadi ketika kenduri, Mas. Dia itu datang tanpa dosa. Mas bisa membayangkan bagaimana kepalanya yang babi itu mengenakan peci, sarungan pula. Saya kok merasa aneh ya, Mas. Itu belum ke masjid, Mas, kalau ia menghadiri pengajian atau melaksanakan salat. Ahh, pokoknya coba, Mas, melihat dia,” kata Teguh.

Baca juga  Telur Harapan

Kemudian setelah aku berpikir, perubahan Toro menjadi manusia berkepala babi, karena mindset orang-orang yang sudah mengecap jelek Toro. Kepala babi merupakan simbol dari pikiran kotor Toro. Atau merupakan pikiran dia yang menerjang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan agama. Seperti kata Teguh, bagaimanapun apa yang sudah dilakukan Toro, tidak dapat hilang di kepala orang-orang kampung, walaupun orang-orang sudah mulai tidak peduli dengan hal itu atau menganggapnya sebagai sebuah kewajaran seiring berjalannya waktu.

Singkatnya, aku mewajarkan apa yang orang-orang lihat dari Toro; memandang Toro sebagai manusia berkepala babi. Sore ini aku melihat langsung Toro. Ia sedang menyapu halaman rumah. Tapi yang membuatku aneh, apa yang dikatakan oleh Teguh, bahwa Toro merupakan manusia berkepala babi tidak terbukti. Kepala Toro bukanlah babi, melainkan kepala manusia yang benar-benar riil manusia.

Seketika aku ingat dengan masa laluku. Masuk akal saja kalau aku tidak melihat Toro sebagai manusia berkepala babi. Toro adalah cerminan dari masa laluku. ***

.

.

Jejak Imaji, 2021

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2021. Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

.

.

 417 total views,  2 views today

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!