Cerpen, Dody Widianto, Radar Madiun

Kereta dari Surga

Kereta dari Surga - Cerpen Dody Widianto

Kereta dari Surga ilustrasi Dani Erwanto/Jawa Pos Radar Madiun

3.9
(10)

Cerpen Dody Widianto (Radar Madiun, 23 Januari 2022)

IA baru paham jika dalam cinta itu logika seakan mati. Bagaimana mungkin lingkaran waktu seolah dapat menyeret tubuhnya masuk ke dalam pusaran takdir untuk berdiri di dalam kotak bangunan besar bernama stasiun.

Lalu tak sengaja bertemu dalam tatap dengan seorang laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya. Ia terdiam mematung di antara lalu-lalang orang-orang yang berjalan dalam keinginan dan tujuannya masing-masing. Ia masih memastikan apakah benar laki-laki di depannya adalah orang yang sama, tiga tahun lalu.

Laki-laki itu perlahan maju beberapa langkah mendekatinya, ketika nada pemberitahuan silih berganti terdengar mengabarkan keberangkatan kereta. Sekarang, kedua mata itu lebih dekat bertemu dalam tatap. Laki-laki itu seolah tahu bahwa hati perempuan mirip kode kriptogram yang rumit. Sangat paham satu pertanyaan di rongga kepala perempuan di depannya. Jika tak pandai-pandai berargumentasi, ia akan terjebak dalam jawabannya sendiri.

“Manusia hidup mengikuti pola takdir yang digariskan Tuhan. Tapi, itu bukan berarti aku tak bisa memilih jalan nasib yang telah ada. Sejujurnya aku ingin cerita banyak sebelum ini. Terima kasih bukunya ya. Aku sampai lupa.”

Laki-laki itu coba menyerahkan buku ke tangan perempuan di depannya. Namun, si perempuan malah mencoba ingin membuang muka walau terasa berat. Wajah polos laki-laki di depannya yang mirip lakban bening seolah tak bisa membuatnya marah. Walau sebenarnya ia ingin menumpahkan segala kekesalan dan kekecewaannya. Entah terbuat dari apa wajahnya. Ia tahu manusia tercipta dari tanah. Mungkin laki-laki di depannya tercipta dari tanah yang tercampur dedaunan trembesi dan mahoni yang rimbun. Wajahnya begitu teduh. Membuat siapa saja yang memandang merasa simpati dan sungkan.

Baca juga  Mujarab Air Mata Kesedihan

“Kau lupa ada sepotong hati yang kuselipkan di dalamnya. Hari ini kau ingin mengembalikan lagi buku itu setelah hati yang terselip di dalamnya ikut kau pinjam? Kau mungkin akan bilang bahwa cinta mirip sebuah lego setelah kau selesai membaca buku itu. Kau percaya kepingan cinta yang hancur bisa saja disusun ulang mirip mainan itu di lain waktu. Dengan bentuk dan model yang baru. Namun, kau lupa bahwa cinta bersemayam dalam hati yang punya akal dan kenangannya sendiri. Untuk melupakannya, manusia perlu menghapus seluruh memorinya dalam kepala dan menjadi gila. Aku hanya ingin tahu ke mana saja tiga tahun itu.”

Tangan laki-laki di depannya masih menggantung di udara, sebelum akhirnya mengendur dan buku itu kembali menempel di paha kanannya. Si lelaki menghela napas. Tersenyum memandangi tubuh mungil perempuan di depannya. Sangat kontras dengan tubuhnya yang jangkung.

“Hidup manusia selalu dikelilingi pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengandung risiko. Takdir jugalah yang mempertemukan aku dengan ayahmu di Lumajang waktu itu. Aku tahu sekarang kau ingin ke sana bukan? Demi mengobati rasa rindumu. Kau selalu memandangi pintu masuk peron di jalur dua. Kereta itu akan membawamu ke stasiun Malang. Dulu kau tahu pekerjaanku selalu berurusan dengan konservasi alam dan kelestarian lingkungan. Kami telah tergabung dalam organisasi Walhi. Ayahmu pemilik pabrik semen di hulu sungai di dekat Klakah bukan?”

Perempuan itu mengerutkan dahi. Berusaha meraba dan mengingat-ingat masa lalu yang telah mereka lewati bersama. Mencoba menyusun kembali kepingan puzzle di waktu lampau demi mencari sebuah jawaban.

“Sebentar, masih ingat di kepalaku, tiga tahun lalu di depan pabrik baru milik ayahku, ada demonstrasi dari lembaga tertentu karena pabrik itu belum ada izin amdal. Jika kau termasuk di dalamnya, kenapa kau tak pernah cerita padaku?”

Baca juga  Hikayat si Kritikus

“Bukankah dalam cinta logika seakan mati. Aku menunggu takdir memilihkan jalannya sendiri untukku. Aku ke sini hanya ingin mengembalikan buku dan memberikan bungkusan ini. Setelah itu, aku akan pergi. Bungkusan ini adalah jawaban rindumu selama ini.”

Perempuan itu menggeleng perlahan. Sudut matanya tiba-tiba akan berair. Ia berusaha menahannya. Dadanya terasa nyeri. Tiga tahun tanpa kabar, tiba-tiba waktu mempertemukan mereka. Pun satu pertemuan itu hanya untuk mengatakan kata perpisahan. Ia malah tak sadar ketika dua benda dari laki-laki di depannya telah berpindah ke tangannya saat lamunannya terus membayang ke mana-mana. Laki-laki itu kemudian berlalu, berjalan memunggunginya dan telah berdiri di depan pintu masuk peron kereta tujuannya. Ia menolehkan kepala, mengangguk, tersenyum, dan melambaikan tangan untuknya.

Dalam dada yang bergemuruh hebat dan pipi yang sembap, perempuan itu telah terduduk di salah satu bangku. Ia penasaran dengan isi bungkusan di pangkuannya. Ia tak sadar telah merelakan seseorang pergi begitu saja ketika rasa rindu terus bergelayut dalam dada. Antara rasa marah, sedih, dan kecewa, tangannya dengan gesit membuka bungkusan itu.

Ia terkesiap. Begitu ngeri, jijik, dan mual ketika ia menemukan potongan tulang di dalamnya dan sebuah kertas. Sebuah tulisan dibacanya dalam hati yang bergetar, “Aku meminta padamu dengan tulus untuk menguburkan potongan-potongan rindumu ini di tempat yang layak. Aku tahu, di kisah apa pun, kejahatan selalu menang di awal dan di tengah-tengah. Semoga kau paham akan kau letakkan di mana kebenaran itu.”

Di antara riuh orang-orang dan petugas stasiun yang berusaha menggotong tubuhnya yang lemas dan pingsan, samar ia mendengar salam terakhir laki-laki tadi di kejauhan. Lalu derit roda kereta itu jelas terdengar di telinganya. Menjerit-jerit. Ia baru tersadar bahwa kereta yang dinaiki laki-laki yang dikasihinya telah membawanya menuju surga. ***

Baca juga  Halaman Terakhir Cerita Musim Ini

.

.

DODY WIDIANTO. Lahir di Surabaya. Buku kumpulan cerpen terbarunya, “Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita” (Airiz Publishing, Yogyakarta 2021).

.

Kereta dari Surga. Kereta dari Surga. Kereta dari Surga.

.

 335 total views,  2 views today

Average rating 3.9 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!