Cerpen, Kompas, Triyanto Triwikromo

Sembilan Nyawa Nawadru

Cerpen Kompas, Mayek Prayitno

Sembilan Nyawa Nawadru ilustrasi Mayek Prayitno/Kompas

4.3
(11)

Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 30 Januari 2022)

SEHARI sebelum Nawadru tewas, para pembunuh masih yakin lelaki yang dianggap sebagai guru spiritual Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo itu memiliki sembilan nyawa dan satwa-satwa pelindung di hutan menuju puncak Gunung Wisaula. Sebelumnya, ada perintah dari Panglima: Tangkap atau bunuh Nawadru. Kartosoewirjo mati jika Nawadru mati.

“Akan tetapi ingat, pemburu Nawadru harus memimpin delapan penembak ulung. Nawadru, yang kini bersembunyi di gunung angker dan senantiasa berkabut, punya sembilan nyawa. Dia hanya bisa mati jika sembilan peluru bersarang ke tubuhnya bersama-sama.”

Kepada atasan, Aswatama Dawud, sersan yang ditugasi memburu Nawadru, tidak bertanya siapa panglima yang memerintah pencarian Nawadru. Dia juga tidak mengusut apakah Presiden Sukarno terlibat dalam rencana penyerangan. Aswatama hanya membatin: mungkin selain Presiden, sebelum perintah sampai kepadaku, ada delapan orang yang terlibat dalam perancangan penangkapan.

Aswatama tidak hanya mengajak delapan penembak ulung. Sebelum sampai ke tujuh per delapan puncak gunung, sebelum sampai ke hutan penuh ular, kalajengking, kelabang, dan pohon kantong semar yang suka makan daging, serta stevia yang mirip edelweiss, dia mengajak 18 penembak ulung.

Aswatama dan rombongan mendaki Gunung Wisaula sejak asyar. Setelah berjam-jam mendengar lolongan anjing hutan serupa suara serigala, teriakan merak, kicau elang jawa, elang bido, jalak gading, auman macan tutul, suara monyet, keributan lutung budeng, dan yang terakhir dengus celeng, rombongan Aswatama hanya tersisa sembilan orang.

Saat itu, kira-kira pukul 03.00, hutan diliputi kabut berlapis-lapis. Agar bisa menembus hutan, Aswatama menyorotkan nyala senter kepala ke segala arah. Dia juga menyorotkan nyala senter itu ke arah para prajurit yang menggigil kedinginan.

“Kita telah kehilangan sembilan kawan,” kata Munawar, salah satu prajurit, kepada Aswatama, “Apakah pendakian akan kita teruskan?”

“Menurutmu mereka tidak akan menyusul kita?”

“Aku kira tidak,” jawab Munawar, “Mungkin sebagian tersesat. Mungkin sebagian terperosok ke jurang. Sebaiknya perburuan kita hentikan saja.”

“Ya, kita hentikan saja!” dukung Kidir, prajurit lain, “Menyebar kawan dalam pencarian Nawadru adalah kesalahan besar. Kita tak tahu apakah sekarang mereka mati atau hidup.”

“Kalian mulai tak yakin kita bakal bisa menangkap Nawadru?”

Munawar, Sulaiman, Ibrahim, Permadi, Kidir, Musa, Isa, dan Ahmad tak segera menjawab pertanyaan Aswatama. Mereka merasa, meskipun bakal bisa sampai ke puncak, tak akan bertemu dengan Nawadru.

“Mungkin kita hanya akan berhadapan dengan macan tutul, anjing hutan atau celeng,” kata Sulaiman.

Baca juga  Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

“Nawadru mungkin saja tak pernah ada,” kata Isa.

“Kartosoewirjo menipu kita ketika mengatakan dia punya guru sangat sakti bernama Nawadru,” ujar Ibrahim.

“Jadi, sebaiknya kita kembali ke lembah saja,” usul Musa.

Aswatama yang sangat yakin tak jauh dari puncak gunung ada desa yang dijadikan tempat persembunyian Nawadru, menolak permintaan anak buah. Aswatama yang bisa menghidu bau Nawadru dari angin yang berembus, tidak ingin menyerah begitu saja. “Kalian boleh turun ke lembah. Aku akan tetap mencari Nawadru,” kata Aswatama.

Disindir semacam itu, delapan prajurit yang sudah sangat kelelahan itu memilih diam. Meskipun demikian, mereka tetap mengikuti Aswatama.

Pendakian pun dilakukan lagi. Dari angin yang berembus, mereka tahu di depan ada puluhan ular, ratusan lintah, kalajengking, dan kelabang yang bakal menghalangi perjalanan. Malah mereka yakin benar jika tidak hati-hati akan dicekik oleh pohon-pohon pemangsa daging. Meskipun demikian, mereka tidak takut. Dengan masing-masing mengacungkan senapan berbayonet, mereka merasa bakal bisa membunuh aneka satwa buas.

Mereka memang tidak takut. Akan tetapi karena lelah dan kedinginan, pikiran-pikiran liar berkecamuk. Munawar, misalnya, berpikir untuk membangkang dan membunuh Aswatama. Isa lebih gila. Dia berpikir membunuh semua prajurit yang dia anggap goblok karena mau memburu sesuatu yang tak ada. Dia ingin segera ke lembah. Dia ingin tetap menjadi prajurit waras. Kenyataannya? Hingga mereka mendengarkan auman macan tutul, lolongan anjing, dan dengus celeng, tak ada bunyi letusan senapan. Munawar tak membunuh Aswatama, Isa tak melakukan tindakan konyol.

“Aku telah mendengar auman macan tutul,” tiba-tiba Ibrahim berteriak, “Tidak. Tidak. Ada juga lolong anjing dan dengus celeng.”

“Mungkin jumlahnya sembilan,” ujar Sulaiman.

“Suara-suara itu semakin dekat,” kata Kidir.

“Aku tak mendengar suara mereka,” tukas Isa.

Mendengarkan perkataan Isa yang bisa memengaruhi prajurit lain, ingin sekali Aswatama menghajar atau membunuh Isa. Akan tetapi karena tetap yakin Nawadru hanya bisa mati oleh sembilan penembak, dia menganggap membunuh Isa adalah kebodohan tak terampuni. Karena itulah, dia membiarkan para prajurit berbeda pendapat. Yang penting mereka tetap meneruskan pendakian.

Akan tetapi pendakian kian tak mudah. Kidir, Sulaiman, Ibrahim, dan Isa tiba-tiba dicekik oleh pohon pemangsa daging. Mereka meronta-ronta. Kian kuat meronta, cekikan pohon menjadi-jadi. Aswatama, Munawar, Ahmad, Musa, dan Permadi pun menembaki pohon-pohon itu. Tak pelak, getah pohon bewarna hijau muncrat ke mana-mana. Muncrat juga ke wajah empat prajurit yang nyaris tak bisa bernapas. “Pohon-pohon ini membenci Pak Karno,” tiba-tiba Sulaiman melepaskan humor garing, “Dia lebih memuja Nawadru.”

Baca juga  Tulisan Kelinci Merah

Tak ada yang tertawa. Mereka lebih memilih menjauh dari pohon-pohon pemangsa daging dan meneruskan pendakian.

Sampaikah mereka di persembunyian Nawadru? Sampai jika mereka bertemu lebih dulu dengan satwa-satwa yang dipercaya sebagai pelindung Nawadru. Dan benar, akhirnya mereka memang merasa bertemu dengan tiga macan tutul, tiga anjing hutan, dan tiga celeng buas. “Ini satwa pelindung Nawadru. Jangan ragu-ragu menembak mereka!” teriak Aswatama.

Tak ada yang ragu. Akan tetapi mereka dikejutkan oleh macan, celeng, dan anjing hutan, yang dalam pandangan samar, berubah ukuran. Mereka ragu apakah hewan-hewan itu membesar hingga tiga kali lipat atau bayangannyalah yang berubah.

“Ayo, tembak!” teriak Aswatama setengah gemetar sambil membayangkan jika tak segera mati, anjing-anjing, celeng-celeng, dan macan-macan tutul itu akan mencabik-cabik tubuh dia dan para prajurit.

Tak ayal satwa-satwa itu pun ditembak. Sembilan peluru melesat. Satu peluru menghunjam ke seekor satwa. Ada yang tertembak kepalanya. Ada yang tertembak lambungnya. Ada yang tertembak jantungnya. Darah pun muncrat.

Sayang satwa-satwa itu tak segera mati.

Karena takut mereka bakal menancapkan taring ke tubuh, Aswatama dan para prajurit melesatkan semua peluru. Semua peluru menghunjam ke kepala.

Apakah mereka mati? Tak ada yang mengerti. Yang mereka tahu satwa-satwa itu lenyap. Ceceran darahnya tak ada.

Apakah sebenarnya mereka itu tak pernah ada? Apakah kisah Nawadru dilindungi sembilan binatang buas hanya khayalan Panglima? Aswatama belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dari kegelapan muncul sosok laki-laki tua bersarung mengacungkan dua keris. Dua keris yang bisa digunakan untuk membunuh siapa saja.

“Kalian mencari aku?” kata lelaki itu.

“Sampean Nawadru?” tanya Aswatama yang memang belum pernah bertemu sosok yang diburu itu.

Nawadru tidak menjawab.

“Jawab pertanyaanku! Sampean Nawadru?”

Nawadru tetap tak menjawab. Disertai lolongan dua anjing, auman tiga macan, dan dengus tiga celeng dari sela-sela pohon yang menjulang, muncul delapan pria seusia Nawadru.

“Aku Nawadru,” kata seseorang, juga mengacungkan dua keris.

“Aku Nawadru,” kata yang lain.

“Aku Nawadru!” teriak enam laki-laki lain.

Tentu Aswatama dan para prajurit kaget. Akan tetapi karena yakin hanya ada satu Nawadru, Aswatama berteriak, “Bunuh semua!”

Tak menunggu perintah kali kedua, para prajurit pun bersiap-siap membunuh siapa pun yang mengaku sebagai Nawadru itu. Akan tetapi, mendadak mereka ragu-ragu menusukkan bayonet. “Tunggu dulu!” tiba-tiba Munawar berteriak, “Mereka memang bukan Nawadru. Lihat dengan cermat! Wajah-wajah mereka seperti wajah kita.”

Baca juga  Ikan-ikan Penolong Bapak

Aswatama melihat wajah-wajah mereka. Aswatama memang melihat wajahnya sendiri dan wajah Munawar, Permadi, Isa, Kidir, Ibrahim, Musa, Ahmad, dan Sulaiman menyeringai di hadapannya. Aswatama dan delapan prajurit seperti dipaksa membunuh diri mereka sendiri.

“Bunuh semua!” teriak Aswatama, “Salah satu dari mereka pasti Nawadru!”

Karena tak lagi punya peluru, Aswatama dan para prajurit pun dengan beringas menusukkan bayonet kepada sembilan pria yang mengaku sebagai Nawadru. Dalam pandangan samar Munawar menusuk jantung Ibrahim, Ibrahim menusuk jantung Musa, Musa menusuk jantung Sulaiman, Sulaiman menusuk jantung Permadi, Permadi menusuk jantung Ahmad, Ahmad menusuk jantung Kidir, Kidir menusuk jantung Aswatama, dan Aswatama menusuk jantung Munawar.

Hanya Isalah yang merasa telah membunuh Nawadru. Dia yakin tak melihat delapan Nawadru yang lain. Isa bahkan sembilan kali menusukkan bayonet ke tubuh Nawadru. Dia menusuk kepala, leher, lambung, paha, selangkangan, jantung, kuping, dan anus. Dia juga menusuk mulut Nawadru.

Aswatama terkejut menyaksikan keberingasan Isa. Dia kaget karena menjelang Nawadru tewas, mendengar Isa berteriak, “Ternyata mudah membunuhmu. Kami akan mudah juga membunuh muridmu.”

Akan gampangkah membunuh Kartosoewirjo? Aswatama tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aswatama lebih memilih memikirkan segera mencari jalan ke lembah, melawan belitan pohon-pohon pemangsa daging, dan segera berusaha meyakinkan Panglima betapa dia bersama prajurit telah membunuh Nawadru.

Akan tetapi Aswatama Dawud tidak yakin apakah dia akan sampai di lembah. Benar saja dari sela-sela pohon, tiga macan tutul, tiga anjing hutan, dan tiga celeng telah bersiap-siap menerkam, menyeruduk, dan menghunjamkan taring-taring mereka. ***

.

.

Semarang, 2022

Triyanto Triwikromo, peraih Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa. Dia juga menerima Penghargaan Kesetiaan Berkarya Kompas untuk cerita-cerita yang ditulisnya.

Mayek Prayitno. Perupa dan penulis seni rupa. Aktif berpameran dan tergabung dalam berbagai komunitas seni rupa. Pernah belajar di Modern School Desain jurusan seni lukis, FSR ISI Yogyakarta dan studi tubuh di Fakultas Anthropologi UGM Yogyakarta. Di samping itu juga mengerjakan mural, desain dan ilustrasi. Pernah mendapat beberapa penghargaan kompetisi seni rupa di Indonesia, China, dan Vietnam.

.

.

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!