Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Yogi Dwi Pradana

Rumah Pohon

Rumah Pohon - Cerpen Yogi Dwi Pradana

Rumah Pohon ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

4.3
(3)

Cerpen Yogi Dwi Pradana (Kedaulatan Rakyat, 04 Februari 2022)

BEBERAPA waktu lalu Har sudah berkunjung ke rumah Emil. Har melihat rumah Emil dengan bangunan arsitek yang sungguh menakjubkan. Rumah Emil terbuat dari beberapa kayu pilihan dan didesain dengan sungguh menarik. Emil bercerita untuk membangun rumah dari kayu-kayu pilihan tersebut sangat menguras kantong.

Rumah Emil yang berdiri di perkotaan itu hasil dari membeli lahan sawah yang masih tersisa beberapa petak. Emil juga bercerita bahwa lahan sawah yang dibelinya tidak boleh sepenuhnya didirikan bangunan. Arsitek yang dipercaya menyusun rumah Emil mengatakan bahwa harus ada beberapa lahan yang digunakan untuk penghidupan.

Emil menceritakan keinginannya untuk membangun rumah dari kayu-kayu pilihan tersebut karena ingin berbeda dari bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Bangunan-bangunan rumah yang ada di sekitar rumah Emil lebih sering menggunakan desain modern dan kurang ramah lingkungan. Har diajak duduk di belakang rumah. Melihat orang-orang yang sedang bermain merpati di kalangan pada sore hari.

“Lihatlah bangunan itu,” Emil menunjuk bangunan yang ada di sekitarnya.

“Ya, aku melihatnya. Ada apa?” tanya Har.

“Mereka membangun rumah dari bahan-bahan bangunan yang tidak ramah lingkungan, sangat berbeda dariku,” ucap Emil.

“Ya, ya, ya,” sahut Har.

Angin semilir dan suasana semakin menyenangkan. Ingatan Har terkait adanya gerakan menanam seribu pohon kembali. Har pernah menjadi penggerak penanam seribu pohon yang dilakukan satu tahun sekali. Gerakan menanam pohon tersebut selalu dilakukan pada 10 Januari. Har pernah menanam pohon di lahan kosong beberapa waktu yang lalu.

“Bukankah membuat rumah dengan bahan kayu pohon itu juga merusak ekosistem?” tanya Har.

“Ha?” tanya Emil.

Baca juga  Ajali Merindukan Pagi

“Ya, pohon-pohon yang seharusnya hidup diambil untuk membangun rumah, seperti milikmu,” jawab Har.

“Tentu kayu-kayu yang dibuat untuk membangun rumahku ini bukan sembarangan kayu yang menebang ilegal, ini semua kayu mahal yang sudah mendapat perizinan,” jawab Emil ketus.

Istri Emil datang dengan membawa nampan merah yang berisi satu teko berukuran sedang dengan dua gelas kosong. Istri Emil meletakkan di atas meja yang ada di hadapan Emil dan Har. Istri Emil mempersilakan untuk menikmati minuman yang baru saja dibawanya. Emil meraih teko dan menuangkan kepada dua gelas. Kopi. Ya, itu adalah kopi.

Emil mencoba memecah suasana tegang dengan mengajak Har meminum kopi buatan istrinya terlebih dahulu. Har menerima pemberian kopi dari Emil. Har menyeruput kopi. Har menemukan rasa yang sungguh enak pada kopi buatan istri Emil.

“Apakah orang yang membangun rumah dengan kayu-kayu pilihan sepertimu ini banyak?” tanya Har.

“Em, banyak sekali tentunya, tapi yang bisa membangun rumah-rumah dari kayu pilihan hanya orang-orang tertentu,” jawab Emil.

“Maksudmu?” tanya Har.

“Ya, orang-orang tertentu seperti orang yang punya selera bagus, yang punya channel untuk mendapatkan kayu-kayu itu, dan yang paling utama yang punya banyak uang,” jawab Emil.

Har tak melanjutkan. Melengos. Har tiba-tiba berdiri. Har berpamitan pulang kepada Emil. Har beralasan akan segera pulang karena anaknya yang paling kecil sudah menantinya di rumah. Emil mengantar Har sampai depan rumah. Har pergi dengan sepeda motor klasik miliknya.

Sesampainya di jalan, Har memiliki pikiran untuk mengomersilkan pohon-pohon yang pernah ditanamnya dulu. Har berpikir tak ada gunanya juga jika pohon-pohon itu tetap hidup dan tumbuh jika masih ada orang-orang yang menginginkan kayu-kayu untuk membangun rumah. ***

Baca juga  Namaku (Bukan) Tamae

.

.

Bantul, 3 Januari 2022

*) Yogi Dwi Pradana, mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Karyanya pernah dimuat di beberapa media daring dan cetak, serta memenangkan beberapa perlombaan menulis.

.

.

 377 total views,  3 views today

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!