Ruangsastra.Com, Spasi, Supriyadi

Aku, Kau dan Ruang Kosong

Aku, Kau dan Ruang Kosong, Spasi Supriyadi

Aku, Kau dan Ruang Kosong ilustrasi Wikipedia

4
(8)

Oleh Supriyadi (Ruangsastra.Com, 16 Februari 2022)

BAGAIMANA jika esok akan ada yang bertanya, siapa guru kalian sebenarnya? Dan tersebutlah, aku satu di antaranya. Bagaimana bisa aku menjawab semua pertanyaan yang akan timbul sesudahnya?

Bisikan di telinga kiriku membela. Tentu ini tidak terjadi di kelasmu saja. Semua orang mengalami ini. Tidak patut menyalahkan diri sendiri. Kamu jalani saja semua seperti biasa. Toh, kamu sudah memberikan materi pelajaran setiap hari.

Bagaimana bisa? Kamu harus bertanggung jawab terhadap anak-anak itu. Bagaimana bisa mereka kehilangan selera belajar, bahkan sampai turun drastis. Separuh lebih sedikit kehadiran siswa di kelasmu. Ini baru kehadirannya, jangan coba tanyakan keaktifannya! Kau tahu sendiri bagaimana. Kau turut andil dalam semua masalah ini. Apa yang sudah kau berikan sebenarnya?

Aku membolak-balikkan halaman buku. Selayaknya sedang membaca. Mataku menerawang. Pandanganku berpindah-pindah: sesekali menatap meja-kursi kosong di hadapanku, laptop di dekatku, gawai dan juga botol air minum yang aku bawa dari rumah. Sedangkan pikiranku seolah mendikte: bisikan di telinga kanan dan kiriku seakan mendebat.

Coba kau periksa kembali, murid-muridmu yang kerap mengumpulkan tugas lewat gawai-gawai mereka! Kau boleh berbangga, meski tidak sampai separuh mereka mengerjakan apa yang kau tugaskan, tetapi mereka sejatinya sudah juga berusaha belajar setiap hari. Kau berhasil sampai pada titik ini.

Coba kau lihat dirimu, apakah kau bisa disebut berhasil ketika murid-muridmu yang hanya separuh itu, mengumpulkan tugas lewat gawai-gawai mereka?

Cermatlah, Kawan! Mereka mengerjakan tugas sekenanya saja. Lihat! Mereka memindahkan pertanyaanmu ke mesin pencarian di internet. Mesin itu mengajarkan secara cepat, tidak suka repot. Muncul jawabannya. Mereka pindahkan lagi ke tugas yang kau berikan. Selanjutnya mereka larut dalam gawai mereka. Tentu tidak menggunakannya untuk memperdalam pelajaran yang kau bagi lewat dunia jaringan itu.

Baca juga  Sistem yang Diciptakan Kita

Aku meneguk air minum sekadar membasahi kerongkongan. Kuambil gawai. Aku mengirim tautan kepada murid-murid untuk hadir dalam pertemun virtual. Sesaat kemudian, permintaan bergabung dari murid-murid muncul.

Kita akan lihat antusiasme murid-muridmu. Mereka segera bergabung. Jangan kau hiraukan persentase kehadiran mereka. Tugasmu saat ini memberikan pelajaran di hadapan murid-murid virtualmu. Fokus saja. Berikan tugas dan minta mereka untuk menyampaikan hasilnya.

Aku memuji antusiasme murid-murid itu. Tapi pernahkah kau lihat, apakah terdapat penurunan jumlah murid yang hadir dalam kelas virtualmu dari hari ke hari? Dan Apakah mereka benar-benar hadir dalam kelasmu?

Boleh aku berbisik sedikit: meski kau meminta mereka mengaktifkan layanan video pada saat kau menjelaskan materi, tapi tak sedikit dari mereka menampilkan foto saja, dan mereka entah kemana. Sesekali, cobalah, untuk menyapa dan memberi pertanyaan kepada murid-murid itu di sela-sela kau menjelaskan materi. Kita lihat apa yang terjadi?

Aku mencoba meminta satu di antara murid yang hanya menampilkan foto wajahnya untuk mengaktifkan video dan memberinya pertanyaan sederhana seputar hal-hal yang baru aku jelaskan. Aku memanggil namanya berulang-ulang. Sedikit agak lama, murid itu mengaktifkan video. Murid itu meminta aku mengulangi pertanyaannya. Dalam benakku, murid ini pasti tidak bisa menjawab. Namun, yang terjadi murid ini bisa menjawab, meski kurang tepat. Aku semakin ragu.

Sudah kukatakan, muridmu masih mengikutimu. Buktinya, dia bisa menjawab pertanyaanmu. Bahkan jawabannya mendekati benar bukan? Tidak ada yang berbeda di kelas nyata atau lewat virtual. Mereka belajar sesuai zaman, Kawan. Kondisi pandemi ini menunjukkan masa depan pembelajaran akan seperti ini. Masalahnya, murid-murid itu butuh penyesuaian. Kehadiran dan ketidakhadiran mereka adalah soal waktu saja.

Baca juga  Mendobrak Tembok Kedangkalan

Kau sudah menjelaskan secara detail dan cermat. Seharusnya, pertanyaan sesederhana itu mampu dijawab dengan tepat: hanya sekedar menyebutkan. Apalagi, kau sudah menjelaskannya berulang-ulang. Jika benar murid itu hadir di kelas virtualmu, pastilah dia tidak ragu dan dengan cepat menjawabnya. Lain soal, jika kau memberikan pertanyaan yang satu tingkat di atasnya.

Kuakhiri kelas virtual dengan meminta semuanya mengaktifkan videonya. Aku mengambil foto rekam layar kehadiran mereka. Setelah mengucapkan terimakasih dan salam, satu per satu murid-murid itu keluar dari kelas.

Aku mengunggah foto rekam layar itu pada sosial media milikku. Kutambahkan sedikit ungkapan: Semangat hari ini di Kelas Virtual Berseri. Aku senyum-senyum, banyak yang menulis di kolom komentar. Aku membaca dan membalasnya. Entah mengapa aku merasa bangga.

Memang pantas kau mendapat pujian dari teman-teman dunia mayamu. Yang kau lakukan sudah sangat bagus. Kau juga sudah membuktikan bahwa di jenjang sekolah dasar, murid-murid juga bisa mengikuti kelas virtual. Kau juga sudah mencoba banyak hal.

Terus, apakah hasil dari semua ini adalah berujung pada sekadar komentar dari teman-teman mayamu?

Fokusmu sudah terbagi, Kawan. Orientasimu bergeser. Aku perlu mengingatkanmu. Kau sudah lari dari jalan seharusnya. Mungkin komentar itu bisa kau jadikan bahan untuk menaikkan level semangatmu. Tapi, apakah dampaknya sampai pada semangat murid-muridmu?

Ini saatnya bagimu jeda dan mengambil titik perenungan, mau bagaimana langkah pembelajaranmu? Apa yang mesti kau sadari tentang semua ini: pembelajaran, pandemi, demotivasi, penurunan kualitas pembelajaran, dan lain-lain.

“Hei! Melamun saja. Pulang gak?” Temanku menepuk pundakku.

Aku hampir saja melompat karena kaget. Aku tidak sadar sudah saatnya pulang. Aku meminta temanku menunggu. Aku mesti membereskan buku, laptop dan barang-barang lainnya.

Baca juga  Adzan Jumat Campur Dangdut

Aku meminta pikiranku berhenti berdebat. Kupandangi kelas kosong ini. Memang aku perlu jeda dan merenungi apa yang sudah aku jalani hampir satu tahun mengajar di masa pandemi ini.

Aku belum bisa menemukan apa ada yang salah dengan semua yang aku lakukan selama ini. Namun, aku merasa ada yang hilang dari pembelajaran ini. Pembelajaran masa depan siapa yang tahu. Mungkin saja seperti ini atau seperti itu. Tetapi kehadiran guru dan murid adalah ruh sebenarnya sebuah ruang pembelajaran itu.

“Ayo, kita pulang!” ***

 .

 .

Supriyadi, seorang guru yang mengajar di SD Negeri 58 Lubuklinggau. Suka menulis fiksi maupun non fiksi. Dia meyakini lewat tulisan dapat memberikan pesan dan kebermanfaatan, terutama bagi diri sendiri, karena tulisan adalah ruang belajar bagi batin dan perenungan.

.

,

Loading

Average rating 4 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!