Cerpen, Ichwan Arifin, Suara Merdeka

Aisha, Lamunan di Burj Khalifa

Aisha, Lamunan di Burj Khalifa, Cerpen Sejarah G30S/PKI

Aisha, Lamunan di Burj Khalifa ilustrasi Nugroho DS/Suara Merdeka

3
(3)

Cerpen Ichwan Arifin (Suara Merdeka, 06 Maret 2022)

SENJA itu, aku, Arshaka, dan Amira menghabiskan waktu di salah satu gerai kopi di Arabica Dubai Mall Fountain. Mereka teman satu kantor. Saat itu, kami dalam perjalanan bisnis dan transit di Dubai, salah satu kota megapolitan di Uni Emirat Arab (UEA).

Dubai juga identik dengan Burj Khalifa. Salah satu gedung pencakar langit tertinggi di dunia.

Dibangun dengan ketinggian 829m berlokasi di “downtown” Dubai, gedung ini dikelilingi taman cantik dengan luas sekitar 11 hektare dan dihiasi danau buatan. Di tengahnya, terdapat air mancur The Dubai Fountain. Semburan air mancur ini dapat bergerak dengan koreografi tertentu dan iramanya disesuaikan dengan musik yang diputar.

Aku menikmati senja itu dengan secangkir kopi, sambil melihat air macnur menari laksana penari balet. Amira dan Arshaka masih ngobrol tentang perjalanan yang barusan ditempuh dari Jakarta.

Aku tidak terlalu memperhatikan.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada satu fase dalam hidupku. Seolah-olah pikiran dan tubuhku dibawa kembali ke masa silam melalui lorong waktu. Aku berada di satu ruangan dengan banyak orang.

Ya, aku bersama teman-teman mahasiswa, pegiat Kine Klub, sedang menonton film bersama.

Kine Klub merupakan wadah pecinta dan kritikus film. Agendanya tidak hanya menonton film, tapi juga diskusi maupun membuat ragam pelatihan tengan film. Mulai dari aspek produksi, iklan, editing, dan sebagainya.

Saat itu, kami memutar “The Act of Killing”. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Jagal”.

Namun, belum genap lima menit, tiba-tiba segerombolan orang memasuki ruangan. Jumlahnya sekitar 30-an. Sebagian besar anak-anak muda. Wajahnya penuh dengan ekspresi kemarahan. Sebagian di antaranya membawa pentungan.

Mereka menyuruh kami bubar. Sambil berkali-kali meneriakkan nama Tuhan, mereka berteriak, “Ayo bubar semua! Ini acaranya komunis, bubar ayo bubar!”

Melihat orang-orang itu berteriak-teriak sambil membongkar screen, mencobot LCD, laptop, dan piranti pemutar film lainnya, para mahasiswi itu menangis histeris.

Aku tak kuasa mencegah kelompok itu mengobrak-abrik ruangan. Jumlah kami tidak banyak, hanya sekitar 10-an, kebanyakan mahasiswi baru. Sebagian mulai panik dan ketakutan. Salah satu di antara pemuda itu, tampaknya pemimpinnya, berteriak, “Mana yang namanya Abraham?”

Matanya nanar menyapu ruangan. Tak peduli dengan para mahasiswi yang panik dan histeris, ia terus berteriak.

Aku berdiri dan melangkah ke hadapannya, “Saya di sini, Bang,” jawabku.

Baca juga  Aku Bukan Pembunuh Papa

“Oh, jadi kau ini rupanya yang membodohi para mahasiswa ini. Kamu PKI yang menyusup di sini ya?” responnya dengan nada menghardik.

Badannya tinggi besar, membuat diriku terlihat kecil di depannya. Para pemuda lainnya ikut berkerumun di sekitarku.

Meski dalam hati khawatir, aku mencoba bersikap tenang, “Sabar Bang. Silakan duduk, kita ngobrol santai saja,” kataku sambil menyorongkan kursi.

Tampaknya gayung tak bersambut. Kursi yang kusorongkan ditendang.

“Gak perlu ngobrol! Ayo bubar semua!” teriaknya.

Beberapa teman panitia, mulai ikut mendekat. Aku mencoba menenangkan situasi. Sambil meminta mundur teman-teman, aku merespons tuntutan itu, “Oke Bang, kami akan bubar. Sabar-sabar.”

Tiba-tiba, salah satu mahasiswi melangkah maju dan berdiri di antara kami berdua. Dia menatap wajah pemuda itu dan berkata, “Cukup-cukup, nggak usah ribut. Kami akan bubar. Silakan kalian juga segera pergi dari sini.”

Pemuda itu tidak merespons apa pun, hanya menarik napas panjang. Sorot matanya tertuju ke mahasiswi itu dan kemudian melemparkan pandangannya ke wajahku.

Aku terkaget dengan keberanian mahasiswi itu. Menengahi situasi yang memanas, aku minta salah satu panitia mengantar para mahasiswa keluar ruangan.

“Aria, tolong teman-teman mahasiswa ini diantar ke kampus,” pintaku pada Aria, salah satu panitia.

Situasi masih tampak tegang. Untunglah, bersamaan dengan itu, muncul aparat keamanan yang kemudian membuat barikade di antara kami. Komandannya mengajakku bicara. Intinya meminta acara ini dihentikan dan dia juga akan memastikan para pemuda tersebut bubar.

Aku heran juga dengan reaksi para pemuda yang melarang pemutaran film ini. Sepengetahuanku, tidak ada pelarangan The Act of Killing. Diputar kali pertama di Indonesia pada November 2012.

Sebagian besar diputar dalam event tertutup dengan undangan terbatas.

Beberapa hari sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran tentang pembubaran. Seperti terjadi di beberapa kota lainnya. Namun pada akhirnya, kami jalan terus sesuai dengan rencana. Ternyata kekhawatiran itu beralasan.

Belakangan, baru kuketahui, mahasiswi baru itu bernama Aisha. Sedangkan pemuda yang memimpin kelompok membubarkan acara, bernama Jaffar. Mereka sudah saling kenal sebelumnya. Namun, itulah momen perkenalanku dengan Aisha.

Kami menjadi lebih akrab, karena ternyata dia teman akrab adikku, Maria. Dari situlah, kami sering bertemu. Kadang pergi bertiga dengan Maria, tidak jarang juga ngobrol berdua. Aisha tertarik dengan banyak hal. Keingintahuannya sangat besar. Apalagi jika hal tersebut berbeda dari pemikirannya atau kelaziman secara umum.

Baca juga  Kakek Pengekal Ingatan

Aisha anak tunggal dari keluarga kelas menengah. Perawakannya tinggi, hidung mancung, berkulit putih dengan bola mata hitam pekat, khas keturunan Timur Tengah. Lahir di Jakarta, namun masa kecilnya dihabiskan di Dubai. Aisha kemudian balik lagi ke Jakarta sejak SMA.

Terkait dengan film ini, Aisha sempat bertanya, “Apa menariknya film ini? Kubaca sinopsisnya, isinya didominasi adegan kekerasan. Di beberapa tempat juga banyak hambatan dalam pemutarannya. Sebagian orang bilang, ini film memuat ajaran komunis. Aku khawatir saja.” Mata beningnya menatapku tajam.

Aria, salah satu panita lainnya, menjawab, “Sha, film ini keren banget, dapat penghargaan di British Academy Film and Television Arts Wards tahun 2013 sebagai film dokumenter terbaik. Dibuat oleh Joshua Oppenheimer. Berkisah tentang pembunuhan yang dilakukan terhadap orang-orang komunis atau dituduh komunis pasca G30S/1965.”

Aku menambah penjelasan, “Sha, justru itu yang perlu kita pelajari. Memang ada beberapa kelompok masyarakat yang suka kasih label komunis atau menuduh PKI kepada anggota masyarakat lain yang berbeda pemikiran.”

Sambil menunjukkan beberapa komentar dari kritikus film tentang The Act of Killing, aku bilang, “Menariknya Sha, film ini menghadirkan sudut pandang pelaku pembunuhan. Gimana coba dilihat dari sisi piskologi. Suatu pembunuhan direkonstruksi dan disajikan kepada publik dengan unsur heroisme dan diklaim sebagai tugas atau amanah yang harus dituntaskan,” kataku.

Joshua Oppenheimer juga membuat satu film lagi dengan tema sama. Namun, memakai sudut pandang berbeda, dilihat dalam perspektif penyintas. Judulnya The Look of Silence. Diterjemahkan menjadi “Senyap”. Rencanaku, setelah The Act of Killing, kemudian dilanjutkan The Looks of Silence. Tujuannya adalah belajar dari sejarah, meskipun itu kelam.

“Sejarah merupakan pasangan dialog bagi kita untuk merefleksikan masa lalu, mengaitkan dengan realitas kekinian dan tentu untuk menata langkah ke depan lebih baik,” kataku.

Aisha menganggukkan kepala dan dengan senyumnya dia merespons, “Yap, you are right, Abraham. We have to learn from our history.”

Semakin lama, hubunganku dengan Aisha semakin dekat. Maria dan teman-teman lainnya sering menggoda kami berdua. Aisha terkadang tersipu malu. Namun, aku hanya ketawa tanpa merespons apa pun. Harus kuakui, Aisha sangat menarik, cantik, dan aku pun sangat nyaman di dekatnya.

Baca juga  Kupu-Kupu Bersayap Elang

Namun, aku tak punya nyali untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Kami sering bicara banyak hal. Cerita tentang masa kecilnya, tradisi dan budaya di keluarga besarnya. Termasuk hubungannya dengan Jaffar.

“Aku merasa semakin nggak bisa nyambung di banyak hal,” ungkap Aisha saat ada kesempatan bicara berdua. “Gimana pendapatmu, Ham?” tanyanya dengan sorot mata meluluhkan.

“Apanya?” aku balas bertanya.

“Iih, sebel, nggak merhatiin Aisha, pasti pikirannya ke mana-mana. What do you think about my relationship with Jaffar?” sergah Aisha dengan nada merajuk.

“Hehehe, aku susah menjawabnya,” kataku.

Kata Aisha, dia sempat hendak dijodohkan oleh orang tuanya dengan Jaffar. Namun, sebelum berlanjut lebih jauh, Aisha memutuskan untuk sebatas berteman saja. Bahkan, terkadang secara sengaja Aisha sering menghindari ajakan Jaffar dengan mengajakku pergi.

Beberapa kali Aisha mengajakku ke rumahnya. Namun kutolak dengan halus. Aku sadar, ada perbedaan besar menjadi fundamen hidup kami berdua yang sulit dijembatani.

Hingga pada satu saat, tiba-tiba Aisha menemuiku. Ia bercerita kedua orang tuanya mengetahui hubungan kami berdua. Pilihan yang diberikan orang tuanya adalah pindah dari Jakarta sekaligus memutuskan hubungan dan segala komunikasi dengan diriku. Jika tidak, namanya dihapus dari keluarga besar. Aku pun tak punya heroisme untuk membawa hubungan ini ke tingkat lebih lanjut.

Tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang, “Bro… dah kelar ngelamunnya? Kalau sudah, ayo coba Gelato Divino, katanya enak banget!”

Aku terhenyak. Kulihat Arshaka dan Amira tertawa terbahak-bahak melihatku larut dengan suasana di Burj Khalifa.

Dubai Fountain menari kembali, kali ini dengan lagu “Time to Say Goodbye” Andrea Bocelli.

Kutenggak kopi yang tersisa dan bergegas menyusul mereka berdua. ***

.

.

Ichwan Arifin, penulis dan pegiat budaya. Alumnus Pascasarjana Undip Semarang ini menulis fiksi dan nonfiksi sejak mahasiswa hingga kini, sembari bekerja di salah satu perusahaan migas.

.

.

Publikasikan karya terbaik Anda (puisi atau cerpen) di Suara Merdeka. Naskah dikirim ke email [email protected] Jangan lupa sertakan nomer ponsel Anda. Panjang naskah sekitar 7.000 karakter. Ditunggu. Terima kasih. (Redaksi)

.

.

 101 total views,  2 views today

Average rating 3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: