Iyut Fitra, Koran Tempo, Puisi

kertas putih; orang-orangan

kertas putih; orang-orangan, puisi Iyut Fitra

kertas putih; orang-orangan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

5
(3)

Puisi-puisi Iyut Fitra (Koran Tempo, 17 April 2022)

kertas putih

(buat kyal sin)

.

kertas itu hanya bertuliskan cinta. yang suatu saat kelak barangkali

akan ia kirim buat kekasihnya. kertas yang berwarna putih

seputih awan dan hati mereka yang berangkat ke jalan. doa-doa juga putih

tapi hitam aspal siang itu memanas leleh. riuh serupa guruh

dan kepalanya ditembak. kertas itu pun koyak

.

alangkah indah bunga yang terkapar di jalanan

.

harumnya sampai ke seluruh hulu. mewangi ke segala muara

kekasih, bila suratku tak sampai, bukankah sekali sempat pernah kukatakan

aku mencintaimu lebih dari seluruh darah yang mengalir di tubuhku!

.

serak ban-ban dibakar. barisan pagar kawat berduri

gemuruh yel-yel dan gas airmata. semua berkerumun membentuk siang yang hampa

seolah memanggil burung-burung bangkai untuk ikut bernyanyi dan menari

bahwa kedamaian adalah mulut-mulut yang berhadapan dengan muncung senjata

.

kertas itu bertuliskan cinta

kini ia terbang ke mana-mana. membangunkan para pecinta yang tidur

membisikkan kisah-kisah tiran, tidak boleh ada pertumpahan darah!

kertas yang kemudian dikenang seluruh orang. karena perempuan muda itu pergi

memanjat langit. bernyanyi dan menari sampai menjelma malaikat

sampai senja

adakah ia sempat pamit pada jalanan mandalay?

.

sebelum ia ditembak. sebelum ia ditembak.

.

.

.

.

orang-orangan

.

mumbang pesuk yang diukir serupa mata. kayu bersilang dan lilit jerami

lalu juntai plastik dan tali-temali. lalu bambu yang dibelah berdekak-dekak

entah sudah berapa lama orang-orangan sawah itu berdiri di pematang. tak berteman

deras hujan dan panas berdengkang lalu saja dalam hitungan

hanya kesepian yang tidak bisa ia lupa. kerinduan pada gabah, bunyi air,

Baca juga  Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu

serta gerombolan burung pipit yang kini hanya berkunjung sekali-sekali

setiap saat tempat ini kian menyempit. seolah angin pun tak ingin lagi berbuai

cerita-cerita harga pupuk, sulit benih, atau kemarau yang bertambah panjang

telah melipat petak sawah dalam kesiaan, lirihnya berusaha menggoyang-goyang tali

meski ia tahu, sesungguhnya burung-burung tak ada

karena sawah tinggal beberapa petak saja

.

sejenak ingin ia mengenang kembali masa lampau. masa orang-orangan hidup riang

sejauh pandang mata. dangau-dangau mengepulkan asap

para petani menghangatkan kopi, rebus ubi, dan lintuh tiup serunai batang padi

lalu terdengar sebait dendang. sebelum waktu bergerak petang

ada benar ditanam padi

nenas juga ditanya orang

ada benar ditanam budi

emas juga ditanya orang

sayup yang menggelitik. sebagaimana ibu-ibu melenggang di pematang

ia merasa bahagia itu tidak akan pernah sirna

.

tapi kini ia seolah terjengkang dalam lengang

sejauh mata dilayang hanya panorama yang telah bertukar

pabrik, perumahan, kantor, dan jalan-jalan telah membelah petak-petak sawah

ia hanya mampu menabung kepedihan. berkuai lemah

dan menggoyang-goyang tali sendiri

di sawah padi masak menguning

tikus bermain di atas bilah

mengalah selalu badan lah pening

sebab hidup semakin susah

.

tiap hari orang-orangan sawah melepas kepergian

tiap hari ia mencatat kehilangan

.

.

Iyut Fitra lahir dan menetap di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Buku puisinya, Lelaki dan Tangkai Sapu, dianugerahi penghargaan sastra Kemendikbud RI pada 2020.

.

kertas putih; orang-orangan. kertas putih; orang-orangan. kertas putih; orang-orangan. kertas putih; orang-orangan. kertas putih; orang-orangan

Loading

Leave a Reply

error: Content is protected !!