A Warits Rovi, Akhmad Sekhu, Beni Setia, Puisi, Republika, Vito Prasetyo

SEMUSIM DI NERAKA

SEMUSIM DI NERAKA - Puisi Vito Prasetyo

SEMUSIM DI NERAKA ilustrasi Rendra Purnama/Republika

3
(3)

Puisi-puisi A Warits Rovi, Beni Setia, Vito Prasetyo & Akhmad Sekhu (Republika, 24 Apri 2022)

NARASI WAKTU SAHUR

.

inilah hulu dari sungai waktu

tempat kita membaca nawaitu

langit masih bergaun gelap dan senyap

sisiran angin melengkapi ligih badan

tapi tak ada alasan bagi yang merindukan Tuhan

sebagaimana bulan merangkak dengan keyakinan

meski terus didera kesendirian

melintasi segala zaman dengan jasad yang telanjang

di meja makan, bukan soal lauk dan nasi dalam rantang

ada yang terhidang dari hal yang tak bisa dipandang

yang bakal membuat kita selalu kenyang

meski besok tak boleh makan.

.

Rumah Filzaibel, 2022

.

.

.

DALAM BARIS TARAWIH

.

masjid ini semakin nyata sebagai puisi

di belakang imam, bait-bait memanjang

dalam sentuh antarsiku lengan—dari takbir hingga salam

menyempurnakan diksi kebahagiaan

dalam doa bersama, saat semua mengangkat tangan

malaikat turut menitip pandang

dan menyertakan suara amin panjang

ke sidratul muntaha sebagai lembut ketukan

berharap Tuhan memberi jawaban

dan segala pintu dibukakan.

.

Bungduwak, 2022

.

.

A Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media. Memenangi beberapa lomba karya tulis sastra. Buku cerpennya yang telah terbit, Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisi Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisi Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangi lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl Raya Batang-Batang PP.

.

.

.

TERMANGU TEPI JALAN

.

termangu tepi jalan provinsi—lintas jawa—,

di bawah teduh tanjung, jam 09:00, sembari

menelani air liur. menatapi kendaraan melintas

mobil pribadi, mobil travel, bus akap—dan

Baca juga  Di Balik Bingkai Formosa

aku tahu: butuh lulus tes antigen sebelum

melunasi tiket pulang dan bersua kerinduan. masa lalu

tanpa pekerjaan, tanpa ada berpenghasilan,

tanpa kejelasan kesehatan: aku gemetar

mengharapkan limpahan imunitas. berkah Allah

bahkan terus didatangi (beruntun) keberuntungan

.

v/2021

.

.

.

MANAKIB

.

ketika ibu sudah mati, ketika ayah sudah

mati—aku tuntas 66 tahun—: aku masih

bermimpi pulang ke rumah. bertemu keluarga,

bertemu ibu, bertemu ayah. dinantikan mereka

(ihwal sederhana yang belum pernah dirasakan)

mungkin cuma akan kembali bertemu Allah

persis selama ini: cuma berlidung pada-Nya

(meski telah ditandaskan, bahwa Ia itu tidak

berputra serta diperanakkan). esa. sendirian

—lantas apakah surga itu panti yatim-piatu?

.

v/2021

.

.

.

AT 66

.

setelah tua tidak banyak yang bisa dimakan

serba dibatasi pertimbangan kesehatan

kondisi gigi, kronik pencernaan dan ekonomi

(tersenyum. amrin fokus pada otak goreng)

lupa pada pantangan asam urat. dalam pesta

(reuni) itu kuitansi bon-pesanan tak ditagih

angin melintas. rokok disulut, doni batuk-batuk

(setelah pesta bubar: siapa yang mati dahulu?)

.

v/2021

.

.

Beni Setia. Pengarang.

.

.

.

SEMUSIM DI NERAKA

: Arthur Rimbaud

.

aku ingin meminjam bukumu

“semusim di neraka”

angin mendera, mataku sembap

di pelepah malam, aku terkulai tak berdaya

: kullu nafsin dzaiqotul maut

mengalir di antara serpihan sinar

timbul-tenggelam

seperti air bening menyeruak di redup ingatanku

: aku membacanya alif-ba-ta’

dan membasuh dahaga jiwaku

SEMUSIM DI NERAKA - Puisi Vito Prasetyo

SEMUSIM DI NERAKA ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Arthur Rimbaud, halaman bukumu pun menjerit

menanti para peziarah membacanya

aku meraba dengan ketakutanku

masa kita telah mengingkari pertemuan ini

sajakku pun bagai jalang aksara, tak berlafal

dangkal dan hina, sedalam jurang

di telapak sujud, sejajar tanah-tanah

tempat kematian kita bergaung

mengembara tiada henti

Baca juga  Kemuning Masih Berbunga

sesungguhnya jiwaku teramat letih

begitu penat

terlunta-lunta di sudut-sudut kumuh

.

Arthur Rimbaud,

tahukah engkau tentang neraka

aku bermunajat agar doaku menuju surga

meski kutahu, lisanku penuh arang

terbakar tatkala api menjulur

dan lidahku menggigil diselimuti kabut

di ujung sana, kulihat

malaikat menatapku tajam

.

Arthur Rimbaud,

bukankah sajakmu terbungkus luka

yang memasung dirimu di liang neraka

jejakmu pun terhapus peziarah

ketika kulantunkan doa-doa, langit merona merah

wajah langit terlukis sesat

.

Arthur Rimbaud,

biarkan aku membaca nisanmu

mungkin,

di pelepah mimpi, meniscayakan tidur kita

adalah hujan membasahi ruang ingatan kita

dan tidur-tidur kita, telah menikuri

masa-masa paleontologi yang meniscayakan anatomi

komparatif

menjadi fosil cinta para pembaca mantra

dan kita bakar ingatan Georges Cuvier

hanya di selembar kertas

kita putihkan sinar

pada cahaya-cahaya redup

dan itu kubaca wasilah

puisi-puisi kita, semesta pikiran

hingga suatu masa aksara kita berevolusi jadi absurd

kadang gersang

kadang tandus

sepi dan gundah

bersilat lidah tanpa filosofi

di persimpangan masa lalu dan kini

hanya menerangkan sisa jejak musim

di antara perjalanan jiwa-jiwa kita

menuju keabadian yang samar

di kelokan jalan, surga dan neraka

.

Malang, 2021

.

.

Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Bertempat tinggal di Kabupaten Malang, Jawa Timur, pernah berkuliah di IKIP Makassar. Peminat budaya dan bergiat di penulisan sastra sejak 1983.

.

.

.

BELENGGU KALABENDU

.

Belenggu kalabendu muncul di siklus orang dating-pergi, hidup-mati,

Saling bertarung di batas antara kebajikan dan kejahatan

yang tersamar

.

Seperti korupsi yang menjalar dalam konspirasi begitu

rapi tersembunyi

Bagaikan api yang menjalar di jasad kayu kabar begitu

cepatnya terbakar

.

Saat sesosok orang terkuak, segalanya jadi tampak,

Baca juga  Lelaki Herbivora

sungguh tak ada lagi

Yang bisa disembunyikan, apalagi berlari dari bayang-bayang sendiri

Harta kemewahan dipertontonkan, kemudian mangkir

dari pemanggilan

Tapi tentu secepatnya akan dijemput paksa, pengadilan

segera tercipta

.

Ini negeri sudah berdiri setengah abad lebih yang

dirayakan begitu megah

Tanpa memahami negeri ini masih dijajah, bahkan

tumbuh penjajahan baru

.

Tak dapat dielakkan, kecuali saling tuding yang

sebenarnya menuding itu

Ke muka diri masing-masing, berlomba lakukan

kesalahan berulang-ulang

.

Apa yang harus dilakukan jika kebenaran semakin dalam

disembunyikan

Rezim atas nama kemanusiaan, juga atas nama

pengampunan pada semua

Pihak yang merasa dirugikan, tanpa tahu duduk perkara

yang sebenarnya

.

Kembalilah kembali pada awal-muasal muara dari

kebenaran yang hakiki

Tonggak-tonggak sejarah selalu berdarah-darah dari

masa ke masa tak ada

Hentinya membuat luka-luka yang semakin lama

semakin bertambah parah

Tanpa tahu obatnya, kecuali terus menambah

penderitaan demi penderitaan

Tak berkesudahan terus berhutang menambah daftar

panjang ketakberdayaan

.

Belenggu kalabendu semakin tak ada juntrungan sejak

diramalkan Jayabaya

Semua merasakan getah akibatnya dari segolongan

orang memperebutkan takhta

Karena tergoda kekuasaan yang melenakan, bahkan

begitu sangat memabukkan

Hingga selalu memikirkan untuk melanggengkan

kekuasaan yang sebenarnya semu

.

Dk Karangjati, Munjung Agung, Kramat, Tegal, 2022

.

.

Akhmad Sekhu lahir 27 Mei 1971 di Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Puisinya telah tersebar di berbagai buku antologi komunal. Buku puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (manuskrip).

.

SEMUSIM DI NERAKA

 239 total views,  2 views today

Average rating 3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!