Anton Kurnia, Cerpen, Jawa Pos

Pulang

Pulang Cerpen Anton Kurnia

Pulang ilustrasi Budiono/Jawa Pos

3.7
(11)

Cerpen Anton Kurnia (Jawa Pos, 30 April 2022)

SETIAP kali Ramadan tiba, kau selalu terkenang kepada ibumu. Sudah dua puluh tiga Ramadan ibumu meninggalkanmu. Namun, kenangan tentang dia masih jelas terpatri di dalam batinmu.

Saat ibumu pergi direnggut penyakit ganas yang juga pernah merampas ayahmu, kau hanyalah seorang pemuda tanggung yang masih kuliah. Dan setiap kali kau terkenang kepada ibumu, kau akan teringat satu saat pedih dari masa lalu yang membuatmu merasa bersalah.

***

Pada senja Ramadan di awal musim semi itu kau kembali terkenang kepada ibumu. Kau duduk di atas bangku kayu di sebuah taman sebelas ribu delapan ratus kilometer dari makam ibumu. Namun, kenangan tentang dia begitu dekat di hatimu.

Di taman itu bunga-bunga pancarona mulai bersemi. Langit cerah, tetapi udara terasa dingin. Sekawanan angsa putih berenang riang di dalam kolam. Di satu sudut tampak sepasang ibu dan anak bermain-main dengan riang di lapangan rumput. Di Kensington Gardens itu, kau teringat pada saat-saat terakhir ibumu.

Taman luas yang berjarak hanya seratusan meter dari hotel tempatmu menginap di Hyde Park itu adalah tempat bermain Peter Pan dalam sebuah cerita anak-anak yang ditulis lebih dari seabad silam. Saat kau masih kecil, ibumu kerap membacakanmu kisah bocah lelaki yang tak ingin tumbuh dewasa itu menjelang kau tidur siang. Kau amat menyukainya.

Dalam cerita itu, Peter Pan terdampar dan asyik bermain di Kensington Gardens bersama peri-peri penghuni taman sehingga lupa pulang dan membiarkan ibunya sendirian berbulan-bulan di rumah mereka di tengah kota London. Peter merasa bersalah karena meninggalkan ibunya, terutama karena dia yakin ibunya sangat merindukannya. Namun, ketika akhirnya dia pulang setelah pergi begitu lama, dia sangat terpukul saat dari balik jendela kaca dilihatnya ibunya telah melahirkan seorang anak laki-laki lain yang dia cintai. Peter yang merasa patah hati lalu kembali ke Kensington Gardens. Hilanglah si anak hilang; asyik bermain di dalam dunianya—untuk selamanya.

Di taman itu kau menyadari bahwa sesungguhnya kau berada di London karena ibumu. Jika ibumu tidak pernah membacakanmu cerita-cerita, mengajarimu membaca, dan membuatmu mencintai buku-buku, kau mungkin tak akan tumbuh menjadi seorang penulis. Jika kau tak menjadi penulis, kau tak bakal diundang ke London untuk mengikuti sebuah festival sastra. Dan kau mungkin tak akan pernah duduk di sebuah bangku kayu di Kensington Gardens pada satu senja yang cerah dan dingin, berziarah ke tempat yang sebelumnya hanya kau bayangkan dari kisah Peter Pan yang dibacakan ibumu dan kemudian kau baca sendiri berkali-kali.

Ya, jika kau tidak menjadi penulis, tapi menjadi pengusaha, misalnya, kau mungkin bisa saja pergi ke London. Namun, jika itu yang terjadi, barangkali kau tak akan tertarik mengunjungi Kensington Gardens. Bisa jadi kau akan lebih tertarik berbelanja di Harrods atau Westfield.

Baca juga  Bajing

Sepanjang hidupnya, ibumu tak pernah mampir di London. Dia tidak pernah menginjakkan kaki di Kensington Gardens. Namun, dialah yang telah membukakan jendela-jendela imajinasimu—sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu. Baru kau sadari cinta kasihnya telah mendekapmu sepanjang hayat. Bahkan hingga berpuluh tahun setelah dia tiada.

***

Ibumu pergi pada satu pagi di bulan Ramadan seminggu menjelang Lebaran tiba.

Setiap malam Lebaran, ibumu akan memasang rangkaian bunga sedap malam di dalam rumah. Wanginya yang sedap akan tercium sepanjang malam mengiringi gema takbir dari masjid. Namun, Lebaran tahun itu tak ada lagi bunga sedap malam. Yang ada hanyalah bunga-bunga kesedihan yang layu di hatimu.

Ramadan itu ibumu terbaring sakit. Beberapa bulan sebelumnya payudara kirinya telah diangkat untuk menghindarkan kanker ganas menyebar lebih luas. Tapi terlambat. Penyakit laknat itu terus menggerogoti tubuh ibumu.

Pada saat-saat terakhirnya ibumu rajin mendaras surah Al Qadr yang mengabarkan tentang malam kemuliaan. Orang-orang beriman percaya bahwa barangsiapa beribadah pada malam kemuliaan yang diyakini jatuh di salah satu malam terakhir Ramadan, dia akan mendapatkan kebaikan yang besar—bahkan lebih berharga daripada ibadah selama delapan puluh tahun.

Satu kali setelah salat, dia berkata kepadamu, “Kalau Ibu nanti pergi, bacakan surah Al Qadr, ya.”

Kau tersenyum hambar. “Ibu jangan bilang begitu. Umur itu rahasia Allah,” katamu. Di dalam hatimu kau berupaya yakin bahwa ibumu masih akan hidup seribu tahun lagi.

***

Menjelang subuh itu kau terbangun karena sebuah mimpi yang ganjil. Di dalam mimpi itu kau bertemu ibumu.

Kau berada di Bandung, tidur di atas karpet di beranda masjid kampusmu yang berdinding kayu, berselimut kain batik tua pemberian ibumu. Sementara itu, ibumu tengah dirawat di sebuah rumah sakit militer di satu kota kecil dua jam perjalanan dari Bandung. Malam sebelumnya, setelah waktu berbuka puasa kau berniat mengunjungi ibumu dan berencana menungguinya di rumah sakit hingga hari raya tiba karena kuliahmu telah libur. Namun, malam itu sesuatu menghalangi niatmu sehingga kau mengundurkan rencanamu.

Di dalam mimpimu, ibumu tampak cantik berkerudung dan berkebaya brokat keemasan seperti hendak berangkat ke pesta, tetapi sorot matanya sedih dan wajahnya sayu. Mimpi itu seakan begitu nyata.

“Ibu sudah sembuh. Ibu mau pulang,” kata ibumu. Dia tidak tersenyum.

Kau terkejut dan terjaga dengan rasa bersalah. Dari masjid terdengar suara azan membahana. Kau lagi-lagi tertinggal waktu sahur.

Baca juga  Dodolitdodolitdodolibret

Paginya kau bergegas bersiap pergi untuk mengunjungi ibumu di rumah sakit. Ranselmu kau isi pakaian yang mencukupi sampai Lebaran seminggu kemudian. Kau juga membawa buku-buku—salah satunya novel J.M. Barrie kesayanganmu, Peter Pan in Kensington Gardens. Kau berencana membacakannya untuk menghibur ibumu.

Sesampai di rumah sakit kau bergegas menuju ruangan tempat ibumu dirawat. Seorang perawat berbaju biru menyambutmu dan berkata, “Ibu sudah dimandikan. Jenazahnya sedang disalati di masjid.” Dia mengira kau sudah tahu bahwa ibumu telah tiada.

Bagaikan dihantam godam, kau terkaget dan menangis seperti anak kecil. Kau berharap itu tidak nyata; hanya lelucon gelap yang tak lucu.

Namun, itu bukan lelucon. Ibumu telah pergi tanpa sempat bertemu denganmu. Kau merasa sedih, kecewa, dan marah. Hatimu dipenuhi penyesalan. Kau merasa bersalah kepada ibumu—seperti Peter Pan yang merasa bersalah kepada ibunya karena terlambat pulang. Kau merasa kesal terhadap dirimu sendiri yang tak datang lebih awal sehingga tak bisa mendampingi ibumu pada saat-saat terakhirnya. Kau marah dan kecewa kepada Tuhan yang telah merenggut ibumu secara tiba-tiba. Kau merasa diperlakukan tidak adil oleh hidup ini, padahal menurutmu selama ini kau telah berbuat baik.

Kau yang begitu dekat dan saling mencintai dengan ibumu merasa hidup ini jadi tak menarik lagi. Apa indahnya hidup ini tanpa kasih ibunda?

Hancurlah segala cita-citamu untuk membahagiakan ibumu setelah kau lulus kuliah kelak: hidup bahagia bersama penuh cinta di sebuah rumah mungil yang asri di atas bukit.

Sampai esoknya ibumu dimakamkan di samping pusara ayahmu, kau masih merasa semua itu hanya lelucon yang tak lucu. Sampai orang-orang yang mengantarkan kepergian ibumu beranjak pergi, kau masih berjongkok sendirian di samping gundukan tanah merah bertabur bunga. Air matamu tak lagi rebas. Mungkin mata airnya telah mengering. Kau hanya diam membisu, menatap nanar kuburan baru dan nisan kayu bertulisan nama ibumu.

***

Rasa kecewa dan kesedihan membuat caramu memandang dunia berubah. Kau menjadi lebih pemurung dan lebih getir dari biasanya. Kau bersembunyi di dalam duniamu sendiri. Kau tak lagi hidup lurus di dalam rambu-rambu. Kau lampiaskan kesedihanmu dengan hidup liar sesukamu. Kau tinggalkan bangku kuliah. Kau lakukan segala yang terlarang. Kau jelajahi segala daki dunia. Kau terjerumus dalam penghiburan semu di dalam Kensington Gardens-mu.

Karena kau merasa Tuhan telah bersikap tidak adil dan meninggalkanmu, kau tak peduli lagi jalan pulang. Bertahun-tahun kau hidup serupa itu.

***

Pada satu malam dalam keadaan mabuk kau berjalan tersaruk-saruk tak tentu arah dan akhirnya terjerembap di beranda sebuah masjid yang sunyi. Kau terkapar tak sadarkan diri.

Baca juga  Hibriditas Pangeran Kunang-Kunang

Kala masuk sepertiga malam terakhir, kau terjaga saat mendengar suara merdu. Ada seorang perempuan mendaras ayat-ayat Al Qadr: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan roh dengan izin Tuhannya. Damailah malam itu hingga terbit fajar.

Kesadaranmu perlahan pulih. Kau tercenung. Kau teringat kepada ibumu. Kau memikirkan hidupmu yang kacau balau. Sudah bertahun-tahun kau tak bertandang ke rumah Tuhan. Kau tinggalkan sembahyang. Kau tak berpuasa meski itu bulan Ramadan.

Tiba-tiba satu desakan bergolak di lambungmu. Belakang kepalamu terasa seperti diganduli batu. Kau mencari kamar kecil dengan terburu-buru. Kau muntahkan seluruh isi perutmu. Setelah merasa lega, kau membasuh wajahmu. Kau mengambil air wudu.

Perlahan kau melangkah malu-malu ke dalam masjid kecil itu. Tak terdengar lagi suara orang mengaji. Tak ada orang lain di situ. Malam begitu sunyi. Angin seperti diam tak berembus. Tak terdengar dersiknya sedikit pun. Udara tidak terasa dingin, tapi juga tak terasa panas. Sementara, pepohonan di halaman masjid seakan-akan merunduk syahdu.

Setelah bertahun-tahun, kau kembali bersujud di hadapan Tuhanmu. Malam itu kau pulang menuju fitrah dirimu yang sejati. Kau mencoba berdamai dengan takdirmu meskipun takdir itu kejam. Amor fati fatum brutum.

***

Sudah menjelang pukul delapan petang. Taman itu akan segera ditutup. Langit mulai temaram. Tak lama lagi tiba waktu magrib. Kau beranjak dari bangku kayu dan merapatkan syal biru yang membungkus lehermu. Kau hendak mencari kedai makan untuk berbuka puasa.

Saat berjalan cepat meninggalkan Kensington Gardens di belakangmu, di dalam hatimu berkecamuk rasa rindu kepada ibumu. Kau tahu, hanya cinta yang bisa membuahkan rindu. Kau ingin pulang.

Kau membatin, sepulang ke tanah air, pada hari raya nanti kau akan berziarah ke makam ibumu; menaburkan bunga-bunga cinta di atas pusaranya dan mendaraskan doa sepenuh hati. ***

.

.

London, Maret 2019-Ponggok, April 2022

ANTON KURNIA. Menulis cerpen, novel, esai, dan nonfiksi naratif. Kumpulan cerpen pertamanya, Insomnia (2004), telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Arab. Kumpulan cerpen keduanya adalah Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Dalam Gelap Malam (2019). Kumpulan cerpennya yang ketiga, Nostalgia: Kisah-Kisah Ganjil tentang Maut dan Cinta, segera terbit. Ia diundang mengikuti The First Forum of Asian Countries’ Writers di Nur-Sultan, Kazakhstan, pada 2019.

.

Pulang.

 267 total views,  2 views today

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!