Cerpen, Koran Tempo, Raudal Tanjung Banua

Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu

Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu Cerpen Raudal Tanjung Banua

Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4.8
(11)

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 01 Mei 2022)

SELALU, saat bedug buka puasa ditabuh di masjid kampung, ia sudah berada di situ. Di sebuah munggu, daratan kecil tengah rawa, tempatnya melintas menggiring itik-itik gembalaan. Itulah titik perhentian Pak Tua untuk sejenak berbuka puasa.

Sayup gema bedug bersambung azan seketika mendiamkan suara kawanan itiknya yang sebentar tadi masih berkaok-kaok teretang-etang dengan perut kenyang. Berkebalikan dengan dirinya yang seharian menahan haus dan lapar. Tapi saat berbuka, ia cukup minum air putih dari botol plastik, makan satu-dua penganan, dan meneguk kopi dari termos kecil. Dan tentu saja tembakau. Semua ditaruh dalam tas lusuh yang disandangnya. Ia makan nasi kalau sudah di rumah karena, selama bulan puasa, ia sengaja tak bawa nasi.

Itik-itiknya serentak ikut berhenti. Mereka akan berkerubung di tebing munggu. Suara mereka pun berubah senyap. Pak Tua menikmati saat-saat seperti itu. Suasana keheningan. Sementara gelap turun perlahan menyungkup kampung di jauhan. Hanya di rawa, semburat terang masih tersisa, akan menerangi jalannya pulang hingga itik-itiknya masuk kandang.

Ia merokok satu-dua batang. Lembap kaki celana terasa hangat saat tembakau lintingan itu ia hirup dalam-dalam. Nikmat mana lagi yang hendak kaudustakan? Ia berbisik takzim. Kemudian ia menggenapkan rasa syukur dengan mengganti celananya yang berlumpur dengan kain sarung, lalu berwudu di bagian air rawa yang bersih. Dan sembahyang magrib beralaskan daun bakung.

Itik-itiknya tenggelam dalam keheningan. Makhluk yang begitu cerewet bertingkah, menyudu ke sana-kemari, bertengkar saling patuk, kawin seenaknya, liar berpencar—seolah watak manusia di tengah hibuk dunia—tiba-tiba akan hening sehening-heningnya. Seakan mereka berada dalam kandang beralaskan hangat jerami dan mengejan telur-telur keberuntungan. Selalu, di munggu, di tempat perhentian itu, seperti ada pengecualian jika bukan keanehan: mereka begitu jinak dan tertib. Bagai jemaah Pak Tua saja layaknya. Dan Pak Tua bagai seorang imam-khatib.

***

PERIHAL Pak Tua yang selalu tepat waktu berada di munggu itu pas berbuka puasa, sebenarnya itu bukan hal aneh. Pada hari biasa, maksudnya ketika bukan Ramadan, ia juga akan lewat di titik itu pada saat magrib begini. Hanya karena tidak perlu menyegerakan membatalkan puasa, ia tak pernah berhenti. Ia akan lanjut pulang dan masih akan terkejar salat magrib di rumah.

Tapi selama bulan puasa, ia sengaja berhenti di sana. Seolah itu ritual wajibnya dari tahun ke tahun. Dan anehnya, meski itik-itiknya bukan lagi rombongan terdahulu—setiap kali itik-itik itu mengurak, menua, dan rontok bulu-bulunya, pertanda tak lagi produktif bertelur, mereka akan dijual sebagai bebek potong dan ia ganti dengan itik-itik yang baru—namun tetap saja kelakuan mereka sama: diam tenang saat Pak Tua berbuka dan sembahyang di atas tanah munggu!

Pak Tua terbiasa dengan irama hidupnya, lurus dan teratur. Pagi-pagi, setelah memungut telur-telur di balik jerami kandang dan menaruhnya dalam peti kayu, ia akan memberi makan itik-itik itu dengan sagu yang sudah dicincang halus, dicampur dedak padi. Dulu, ketika istrinya masih hidup, perempuan itulah yang melakukannya. Ah, betapa ia selalu terkenang!

Setelah itu, Pak Tua menggiring mereka ke sawah taruko, nun di sebalik rawa-rawa, melewati galur-galur air yang dapat direnangi itik-itiknya, tapi ia sendiri mesti berbasah-basah karena kedalamannya kadang sampai sepinggang. Selain tanah yang ditumbuhi sebatang pohon duad tempat persinggahan burung-burung itu, tak ada lagi bagian tanah keras di situ. Itulah yang disebut tanah munggu. Ukurannya tak lebih dari 6 x 5 meter, atau sekitar tiga meja pingpong, seolah mencuat begitu saja dari air. Selebihnya hamparan lumpur melulu ditutupi pepat rumput hijau yang bergoyang-goyang saat diinjak dan gampang membuat kau kejeblos. Tapi Pak Tua sudah terbiasa. Dan munggu itu tak ubahnya pulau kecil di tengah lautan rawa.

Saat-saat berbuka di munggu, ia terkenang anaknya, Buyung Saili. Ia sangat menyayangi anaknya yang lincah. Dan memanjakannya, meski si anak jadi sedikit keras kepala. Tak apa. Anak tunggal, tonggak babeliang, istilah orang kampungnya; gadis di situ, buyung di situ. Maklum, Pak Tua menikah sudah lewat umur. Begitu pula istrinya, sama-sama di atas 40 tahun. Ah, anaknya sudah lama merantau. Dan istrinya yang rajin menyediakan pakan ternak sudah tiada. Kadang, sesudah berbisik “nikmat mana lagi yang hendak kaudustakan”, hatinya berganti suasana. Seperti hendak berdusta pada kenyataan, dan ia tahu itu berarti mendustakan nikmat Tuhan.

Tapi Pak Tua tak berkutik menghadapi perasaan dari sisi lain. Penyesalan. Ya, ia menyesali sebagian jalan hidupnya. Ia berpisah dengan anak semata wayangnya, dengan cara tidak baik-baik saja. Mereka bertengkar karena si anak berkeras ingin menjual tanah sebagai modal bekerja di kapal pesiar. Juga membayar utang-utang dan perawatan lanjutan ibunya yang sakit. Saili merasa tak ada pilihan lain: tanah tak seberapa luas itu mesti dilepas.

Baca juga  Operasi Babi Merah dan Dendam Pembunuhan

“Meski luasnya hanya setelapak tangan,” si ayah mengamsal, “tanah inilah yang membuat kau punya kampung. Ke sini kau akan pulang bila pergi. Jadi, tak akan kulepas!”

Ayahnya mungkin benar. Namun, selain memang kepepet, sebagai anak laki-laki yang tak punya saudara perempuan, Saili merasa tak mesti tinggal di rumah itu. Aku akan merantau dan tinggal di sana selamanya. Tapi jika terpaksa hidup di kampung, aku akan menikah dan tinggal di rumah istri. Bukankah itu adat-bestari kampungku selama ini—rantau dan sistem matrilenial? Begitulah Saili bercakap setengah kalut dengan dirinya sendiri.

Jadi, soal tanah tak perlu dicemaskan benar, kata Saili kepada ayahnya kemudian. Lagi pula, aku akan menggantinya jika pekerjaanku di kapal pesiar lancar. Dan ayah bisa tinggal sementara di rumah ponakan dulu, meski hanya ponakan jauh.

Orang tua itu tersinggung dan marah. Ia merasa petuahnya tak mengena. Dulu, ia kerap mengajak anaknya itu menggembala. Dan ia senang mengulang cerita tentang hakikat munggu sebagai tanah berpijak. Sesempit apa pun harus dijaga karena itulah tandanya kau berkampung, di sana ari-arimu ditanam. Tempat kau pulang saat lelah. Seperti saat berbuka puasa inilah, dalam lapar-dahaga, ke sini kita singgah, katanya.

Begitulah dulu jika kebetulan ia mengajak Saili menggembala pada bulan puasa. Mereka akan berbuka berdua, dan Saili biasanya akan langsung makan. Sewaktu itu Pak Tua lengkap membawa nasi dalam rantang. Dan itik-itik sabar menunggu mereka di tepi munggu. “Lihatlah, itik-itik ini pun butuh tempat berpijak, meski mereka biasa hidup di lumpur dan air,” kata si bapak memberi contoh pada yang tampak.

Sewaktu itu Saili berpikir ayahnya telah melatih hewan piaraannya diam di tepi munggu, sebagaimana ia melatih untuk sejumlah hal. Misalnya, si ayah cukup bilang “Balik!” jika si itik menggedudu ke padi orang, maka hewan itu akan putar badan. “Baris!” katanya saat menghitung atau “Kumpul” saat mau pulang.

Apa pun, semua ajaran Pak Tua kepada si anak ternyata sia-sia.

Si anak pergi mendendam. Sementara orang kampung menggunjing Pak Tua begitu tega dan kejam. “Kasihan, anak sudah dapat kerja, tak mau kasih modal,” kata seseorang.

“Iya, masak anak satu-satunya diperlakukan begitu?” kata seseorang lain.

“Seharusnya bak kata pepatah; tak kayu jenjang dikeping,” sahut yang lain lagi.

“Apalagi si Saili dapat panggilan tak main-main: kapal pesiar besar yang akan membawanya keliling dunia. Masak, beri uang untuk agen saja si ayah enggan?”

“Bahkan jika pun itu sogokan, apa salahnya?” sela seseorang tanpa merasa bersalah.

“Memangnya ada yang gratis hari ini? Nanti juga bakal balik modal!”

Hatinya terbakar oleh ocehan kiri-kanan. Tapi ia sendiri gagal menunjukkan tekadnya mempertahankan harta satu-satunya di dunia ini. Sial! Penyakit istrinya makin parah, utang menumpuk. Tanah itu akhirnya terjual! Sedihnya, sang istri meninggal tak tersembuhkan. Pak Tua menumpang mendirikan rumah—sebenarnya pondok doyong—di pinggir tanah Oyong, kawan lamanya. Di sana ia berkandang, hidup bersama kawanan itik menghabiskan masa tua.

Dirinya tercampak ke pinggir kampung, hidup terasing. Ia enggan bergaul, kecuali dengan dua-tiga orang: Saedi bekas tetangganya, Oyong pemilik tanah, dan Mirus yang datang tiap pekan menjemput telur. Ia tak pernah lagi ke lapau. Ke masjid hanya bila Jumat. Ia menenggelamkan diri sehari-hari di sawah dengan itik-itiknya.

Tapi untunglah gunjing itu berhenti dengan sendirinya. Sebab, dari kabar yang beredar, konon Saili tetap berhasil bekerja di kapal.

***

BUNYI bedug berdentum-dentum diguguh si Ujang dari masjid tua. Gemanya merayap di pucuk-pucuk pohon kelapa, dihantar angin senja ke rawa luas di batas kampung. Pastilah di munggu, Pak Tua sedang menyesap bekal berbukanya. Air putih. Kopi, rebus ubi, kue lapek bugi.

Di tengah kampung, suara bedug itu begitu lantang, mengejutkan seorang laki-laki muda yang baru turun dari bus. Kedatangannya persis saat berbuka. Saat bus menderu menjauh, laki-laki itu termangu-mangu di hadapan sebidang tanah belukar. Ia tak menampak rumahnya.

Di sebuah rumah tak jauh dari tanah itu, Pak Saedi, yang baru saja berbuka, melihat dari jendela seorang laki-laki berdiri ngungun seperti seekor bangau yang letih. Pak Saedi mengenali wajah itu meski sempat ragu-ragu. “Saili?”

Baca juga  Dua Rumah Kayu

Pak Saedi tinggal sendiri di rumahnya yang sederhana. Istrinya sudah tiada. Tiga anak laki-lakinya menikah dan tentu tinggal di rumah istri masing-masing. Pak Saedi hidup sebatang kara, persis Pak Tua, ayah Saili. Bedanya, Pak Saedi selalu dijenguk anak-anaknya karena mereka menikah di kampung itu juga. Sementara sahabatnya, Pak Tua penggembala itik, betul-betul hidup sendirian. Anak satu-satunya pergi.

Tapi benarkah ia yang kembali?

Pak Saedi mempertajam penglihatan mata tuanya. Ah, tak salah lagi!

Laki-laki itu benar Saili. Ia mengira rumahnya masih yang dulu. Ternyata rumah itu sudah rata dengan tanah. Ia terlongong heran. Datanglah Pak Saedi, menyampaikan kabar bahwa tanah itu sudah dijual ayahnya kepada Haji Moran, selang setahun dirinya pergi.

“Ayahmu terpaksa menjualnya karena ibumu tak kunjung sembuh, dan ayahmu menyesal kenapa tak menjualnya saat kau masih di sini sesuai dengan keinginanmu,” Pak Saedi menjelaskan.

Saili merasa disambangi petir yang menyelusup di antara pohon kelapa bekas tanahnya.

“Kau puasa? Mari berbuka dulu.”

“Terima kasih, Pak. Awak ndak puasa.”

“Ah, ya, kau dalam perjalanan,” Pak Saedi maklum, “tapi baiknya kita ke rumah,” ajaknya.

Ia panggul tasnya, lalu melangkah ke rumah Pak Saedi, di sebelah bekas tanahnya.

“Tapi kami dengar Nak Saili tetap berhasil bekerja di kapal luar negeri? Kapal apa namanya itu?” tanya Pak Saedi setelah tiba di rumah. Ia buatkan dan suguhkan Saili segelas teh.

“Iya, Pak, tapi bukan kapal pesiar. Kapal ikan, di Taiwan. Hanya agen kapal ikan yang bisa bayar belakangan dengan cara potong gaji. Agen kapal pesiar harus bayar lebih dulu sebelum mereka memberangkatkan kita ke Jepang. Dan sewaktu itu ayah tak mau menggadai atau menjual tanahnya sebagai modal. Tapi kini saya mengerti.” Ia menjelaskan sepenggal jalan hidupnya.

“Oh, kapal ikan,” Pak Saedi melongo. “Yang penting Nak Saili bekerja. Dan gemuk sekarang.” Pak Saedi tatap tubuh Saili yang tumbuh berdegap. Hanya, dalam hatinya, Pak Saedi membatin, dia agak hitam. Wajar karena bekerja sebagai pelaut.

“Ayahmu tinggal di tanah Oyong, di Parak Kerambil, dekat jalan ke sawah tempatnya menggembala. Ia tak mau ikut ponakannya. Ayahmu setia sekali dengan itik-itiknya. Tapi, kalau kau punya uang, tanahmu bisa kau beli kembali. Haji Moran tampaknya belum akan membangun apa-apa. Ia masih punya banyak tanah di mana-mana.”

“Iya, Pak, biarlah saya beli kembali, nanti jika sudah berunding dengan ayah.”

Pak Saedi menatap iba mata anak muda itu. Tak tebersit dendam di matanya. Ia kagum, untuk kemudian ia bertanya hati-hati, “Baik sekali niatmu, Nak. Maaf, sedikit pun tak kudengar kemarahan dan rasa menyesal. Air mukamu juga alangkah tenang.”

Saili menarik napas panjang. Tiba-tiba air matanya menggenang.

“Ayah benar melarang saya menjual tanah ini dulu. Ia ibaratkan tanah sebagai munggu, tempat berpijak. Ibarat pulau di tengah laut, tempat berlabuh bagi yang berlayar. Itulah yang saya rasakan, Pak. Suatu kali, kapal kami dihala badai. Tak ada pintu keselamatan andai kami tak melihat sebuah pulau karang, kecil saja, dan ke sanalah kami terdampar. Pulau kecil itu menyelamatkan saya dari maut. Sampai saya akhirnya memutuskan pulang sekarang.”

Pak Saedi ikut menarik napas panjang.

“Alhamdulillah, kau selamat. Sehabis makan dan sembahyang, kita pergi ke tempat ayahmu. Biasanya selepas magrib ia tiba di rumah dan mengandangkan itiknya.”

“Baik, Pak,” jawab Saili sambil mereguk hangat teh. Kepulangan membuatnya seperti anak penurut, berkebalikan dengan sebelum ia berangkat sebagai anak yang keras.

***

LEPAS magrib, dengan senter di tangan, Pak Saedi membawa Buyung Saili ke pondok ayahnya di Parak Kerambil. Tapi tak terdengar suara itik di kandang. Pelita pun tak nyala di pondok itu. Pak Saedi mengucap salam. Mungkin sekali orang tua itu sudah tidur kelelahan, pikirnya.

“Assalamualaikum… Bahrul, o, Bahrul! Lihat siapa yang kubawa….”

Ia mengintip ke balik dinding pondok yang bolong sana-sini sebab hanya ditutup kulit sagu dan papan-papan bekas. Tak ada orang.

“Tampaknya ayahmu belum pulang,” kata Pak Saedi. “Kita tunggu sebentar.”

Mereka duduk di bawah remang langit. Merokok dan sesekali saja bicara. Pak Saedi bercerita tentang kampung sejak ditinggalkan, seolah memancing Saili untuk bercerita pula lebih banyak daerah rantauannya. Tapi umpan itu tak menarik minat Saili karena ia sudah merasa cukup dengan sepenggal kisah yang ia ceritakan pada awal pertemuan tadi, tentang tanah.

Baca juga  Lelaki dalam Lukisan

Mulai beranjak malam, tak ada tanda-tanda Pak Tua akan datang. Keduanya mulai gelisah. “Tak pernah ia tak pulang, setahuku. Dia sedang tidak merantaukan ternaknya,” kata Pak Saedi setengah menganalisis.

Memang ada kalanya Pak Tua membawa itik-itiknya ke sawah lebih jauh di kampung sebelah atau daerah di balik bukit. Saili juga tahu pola itu dilakukan ayahnya. Di mana terkabar padi disabit, ke sana ayahnya membawa itiknya. Ia buat pondok dan kandang di tengah sawah. Itu artinya ia tak pulang ke rumah. Atau kalau sawah itu jauh di daerah lain, si ayah akan membawa itiknya dengan mencarter truk, lalu ia menumpang tidur di surau atau rumah kosong.

Tapi, kata Pak Saedi, sejak Saili pergi, Pak Tua tak pernah lagi melakukan pola itu. Mungkin itiknya kini tak banyak, hanya sekitar lima lusin atau 60-an ekor. Dulu bisa mencapai 10 sampai 15 lusin. Usia juga membatasi geraknya. Dan lagi pula, ia sudah hidup sendirian. Jadi, alasan apa kini ia tak pulang?

Tiba-tiba Pak Saedi punya gagasan untuk melapor kepada orang lain. “Kita susul ayahmu dengan menyusuri jalan yang biasa ia lewati,” katanya. Lebih karena mengkhawatirkan nasib Pak Tua, usulnya itu terasa supaya Saili bisa segera melabuhkan rindu kepada sang ayah. Apalagi ini malam Ramadan terakhir. Besok malam akan berganti suara takbir.

“Terserah Bapak kalau itu tak merepotkan orang-orang,” Saili menurut.

“Tak akan,” Pak Saedi bergegas, “tunggu di sini.” Ia pergi dengan cahaya senter melesat.

Tak berapa lama, Pak Saedi kembali dengan beberapa orang yang telah berganti pakaian sehabis tarawih. Malam itu juga mereka menyusuri rawa mencari Pak Tua. Kemarau membuat galur-galur air menjadi surut sehingga mempercepat langkah mereka. Mata mereka tajam mencari sesosok tubuh tua yang bungkuk dengan capingnya. Telinga juga awas mendengar suara ribut itik-itik. Tapi yang terdengar hanya suara katak dan ikan-ikan berloncatan. Sesekali menimpal suara petasan dari kampung.

Saili teringat munggu tempatnya dulu sering diajak ayahnya singgah berbuka.

“Barangkali ayah di munggu sana,” kata Saili kepada Pak Saedi.

Orang-orang berhenti sebentar, menajamkan telinga. Munggu itu memang terletak di balik rimbun semak singkubung, rapat mengurung. Jenis rumput panjang itu, sebagaimana pandan, biasa diambil para penganyam untuk dijadikan tas dan tikar. “Tak mungkin,” kata Pak Sadek, “tak ada tanda suara itik.”

Ketika Pak Sadek dan rombongan melanjutkan perjalanan, Saili menggamit tangan Pak Saedi untuk sejenak melipir menguak semak singkubung. Saili tak lupa, dulu itik-itiknya begitu tenang berada di munggu itu, setia menunggu tuannya selesai berbuka. Jadi, wajar tak ada suara.

Mereka mendapati munggu kecil itu begitu hening. Tapi seketika keheningan itu pecah oleh teriakan Pak Saedi, “Benar, ia di sini!”

Rombongan Sadek berbalik. Mata mereka serentak melihat tubuh Pak Tua meringkuk kaku di atas munggu, seolah hendak memeluk sebingkah tanah keras itu. Diperkirakan itu posisi sujud saat ia salat magrib, sebelum akhirnya rebah berserah. Mungkin karena sakit, kelelahan, atau dipantak makhluk berbisa. Tak ada yang tahu. Tapi yang bikin takjub, itik-itiknya tetap diam mengerumuninya di tebing munggu.

Barulah, ketika orang-orang mengangkat tubuh Pak Tua, seluruh itik serentak bersuara seperti meratap, membahana. Sebagian mengepak-ngepakkan sayapnya seolah hendak terbang ke langit. Saili pun merentang tangan, memeluk tubuh ayahnya erat-erat seperti ia memeluk sebongkah karang penyelamat saat kapalnya karam di lautan Formosa.

Dan besok akan bergema suara takbir. Itik-itik itu akan berlebaran tanpa tuannya. Buyung Saili berlebaran tanpa ayah. Tapi barisan nisan di segunduk tanah makam—sepasang di antaranya milik ayah dan ibunya—akan ia baca sebagai deretan kepala itik yang tegak takzim di segunduk tanah munggu kampung halaman. Hening, diam. Menunggu. ***

.

.

/Rumahlebah Yogyakarta, Maret 2022

Raudal Tanjung Banua tinggal di Bantul, Yogyakarta. Buku terbarunya berjudul Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan. Mengelola Akar Indonesia dan Komunitas Rumahlebah.

.

Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu. Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu. Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu. Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu.

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: