Kedaulatan Rakyat, Nuzula Maghfiro, Resensi

Menyoal Perempuan, Anak, dan Kematian

Menyoal Perempuan, Anak, dan Kematian

Tiga dalam Kayu ilustrasi GPU

5
(1)

Oleh Nuzula Maghfiro (Kedaulatan Rakyat, 26 April 2022)

NOVEL Tiga dalam Kayu masuk kategori lima karya layak terbit oleh Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. Dari judul itu, pembaca dapat menemukan maknanya setelah menuntaskan seluruh bab dalam bukunya.

Ziggy menggambarkan ‘kayu’di sini merupakan peti mati, sedangkan ‘tiga’ merupakan jumlah dari malaikat dalam kayu tersebut. Malaikat yang diceritakan Ziggy adalah sosok perempuan dan anak.

Novel ini memiliki dua bagian berbeda namun saling berkaitan. Bagian satu, terdapat pada Bab I sampai XI yang berisi sebelas judul buku. Bagian kedua merupakan Bab XII sampai XVIII yang berisi dunia di luar buku.

Dalam 18 bab yang menyusun novel Tiga dalam Kayu, dapat ditemukan benang merah pada tiap kisahnya, yaitu tentang perempuan, anak, dan kematian.

Bahwa tidak ada ruang aman untuk perempuan dan anak, bahkan dalam ruang yang disebut keluarga itu sendiri.

Pada tiap kisahnya menyiratkan bahwa untuk menyelamatkan perempuan dan anak dari kesengsaraan dunia, cara yang tepat untuk dilakukan adalah dengan membunuhnya. Kematian.

“Tempat pembuangan sampah bagi orang hidup, suaka perlindungan bagi harta orang mati. Perpustakaan.” (hal 104).

Perpustakaan di sini dikisahkan memiliki sebelas buku yang menceritakan sejarah dengan caranya masing-masing, cerita yang sepenuhnya berlainan dari satu buku ke buku lain, namun memiliki satu titik fokus yang sama.

Ziggy seolah menyuguhkan kisah dalam sebelas buku tersebut dekat dengan pembaca, seolah pembaca tahu bahwa kisah itu benar nyata adanya terjadi di masa lampau, sejarah di negara ini.

Kendati demikian, cerita-cerita tersebut juga terasa begitu asing dan ganjil.

Selanjutnya pada tujuh bab akhir, Tiga dalam Kayu menyajikan kisah dunia di luar sebelas buku yang tidak kalah ganjil, asing, dan dekat.

Baca juga  Cerdas Mengelola Gaji Menjadi Investasi

.

Judul Buku : Tiga dalam Kayu
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Maret 2022
Tebal : vi + 162 halaman
ISBN : 978-602-481-781-7

.

Judul dari tujuh bab tersebut merupakan kalimat berbahasa Ukraina yang menggambarkan isi dari perjalanan kisah di dalamnya. Tentang kegilaan tokoh ‘aku’ dan bagaimana ia sangat peduli dengan perempuan.

Pada akhir novel, Ziggy menyinggung perkataan Swedenborg mengenai dunia malaikat, bahwa kita bisa memilih masuk surga atau neraka. Lalu, para malaikat ini bisa bahagia dan menemukan kebebasannya setelah mati.

Beberapa tokoh yang hadir di buku ini digambarkan Ziggy memiliki pemikiran bahwa satu-satunya cara supaya ‘malaikat’ tersebut menemukan kebahagiaannya adalah dengan kematian.

Perempuan dan anak tidak akan pernah menemukan tempat yang aman, mereka tidak punya kebebasan memilih dan terpaksa menerima kebahagiaannya dengan cara paling mengenaskan.

Dalam novel ini, Ziggy menggunakan narasi feminis untuk memaparkan setiap kisah di dalamnya. Novel yang menyajikan suasana distopia dengan banyak plot miris dan gelap hadir di tiap kisahnya.

Tiga dalam Kayu seolah mengajak pembaca untuk menilik kembali bagaimana di masa lampau maupun masa kini, bahwa perempuan dan anak tidak memiliki tempat yang aman, mereka seolah manusia kelas kedua yang sah untuk dieksploitasi.

Bahwa ‘malaikat’ ini bukanlah manusia seutuhnya. ***

.

.

*) Nuzula Maghfiro, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga.

.

Menyoal Perempuan, Anak, dan Kematian. Menyoal Perempuan, Anak, dan Kematian. 

 9 total views,  2 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: