Cerpen, Ketut Sugiartha, Kompas

Bukan Bocah Biasa

Bukan Bocah Biasa, Cerpen Ketut Sugiartha

Bukan Bocah Biasa ilustrasi Cahyo Heryunanto/Kompas

2.5
(4)

Cerpen Ketut Sugiartha (Kompas, 08 Mei 2022)

SETIAP selesai menyusu bocah laki-laki itu selalu minta dilepaskan dari gendongan. Kebiasaan itu membuat Utari bertanya-tanya dalam hati: mau apa sih sebenarnya anak ini? Apabila sudah diturunkan ke lantai ia pasti merangkak mendekati orang-orang yang ada di sekitarnya. Begitu selesai mengamati wajah seseorang dan merasa tidak menemukan apa yang ia cari, perhatiannya akan beralih ke orang lain. Begitu seterusnya sampai setiap orang berhasil diperiksanya.

Mereka yang memperhatikan perilakunya tentu terheran-heran dan berpikir ia pasti bukan bocah biasa. Beda dengan anak kecil seusianya, gerakannya demikian lincah dan ia memiliki kemauan besar untuk mengetahui atau menemukan sesuatu. Sampai sejauh ini belum ada yang tahu apa sebenarnya yang ia cari atau inginkan.

Keanehan sudah menyertainya sejak ia mulai hadir di dunia ini. Neneknya orang pertama yang dibuatnya takjub. Wanita itu tergopoh-gopoh menemui Dharmaraja guna melaporkan bahwa pada saat bocah itu lahir ruangan bersalin dipenuhi cahaya terang benderang. Raja Amarta dan keempat adiknya senang mendengarnya. Mereka yakin masa depan penerus dinasti Kuru itu pasti akan gemilang.

Pandita istana segera dipanggil dan diminta melakukan upacara pembersihan dan pemberkatan untuk si bayi. Selanjutnya Dharmaraja mengundang ahli perbintangan yang akan diminta menuliskan ramalan masa depan anak itu berdasarkan hari kelahirannya. Ia dan adik-adiknya ingin segera tahu seperti apa gambaran kehidupan penerus mereka.

Pada hari ketiga para brahmin yang diundang telah hadir dan diberi tempat duduk khusus di pendapa agung. Mereka itu para bijak yang pengetahuannya tentang horoskop tidak perlu diragukan lagi. Mereka dapat memberikan gambaran rinci mengenai karakter dan nasib setiap anak berdasarkan getaran energi planet yang berpengaruh pada hari kelahirannya.

Setelah menjamu dan menghadiahi para brahmin dengan hadiah berharga berupa kain sutra dan permata, Dharmaraja maju membawa selembar lontar di atas nampan emas yang berisi keterangan mengenai jam dan hari kelahiran si bocah. Nampan itu ia letakkan di depan Lokacarya yang jadi pemimpin para brahmin. Ia lalu memberi hormat dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan dada sambil menunduk.

“Yang Suci, para bijak yang mengetahui ketiga masa, mohon periksa horoskop anak yang baru lahir ini. Bagaimana susunan bintang-bintang dan pengaruh planet-planet yang akan menuntun jalan hidupnya? Kami ingin tahu seperti apa peruntungannya kelak.”

Lokacarya mengambil lontar itu lalu dicermati bersama para ahli perbintangan yang menyertainya. Tak lama kemudian mereka membuat kesimpulan dengan perasaan takjub.

Baca juga  Yang Mulia

“Yang Mulia,” ucap Lokacarya. “Sampai saat ini kami sudah memeriksa ribuan horoskop, tapi kami belum pernah melihat yang seperti ini. Kami tak pernah menemukan susunan bintang dan planet sebaik yang ada pada hari kelahiran pangeran ini. Berbahagialah, segala kebaikan akan datang dari segala penjuru untuknya.”

Dharmaraja menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya sambil kembali mengatupkan tangan di depan dada. “Yang Suci mengatakan, segala kebaikan akan datang kepadanya. Namun, apakah ia juga akan memberikan kebaikan kepada rakyatnya? Apakah ia akan menghormati orang-orang suci?”

“Yang Mulia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Ia akan menjadi raja yang adil dan bijaksana. Rakyat sangat menghormati dan mencintainya. Ritual seperti yang tertulis dalam kitab suci akan diselenggarakan dengan baik. Ia akan memperoleh kemuliaan seperti leluhurnya.”

Sebenarnya masih banyak hal baik yang ingin Lokacarya sampaikan kepada Dharmaraja, tetapi pandita itu merasa perlu menghentikan ucapannya. Ia khawatir jika nanti terkesan terlalu menyanjung dan bahkan disangka hendak menjilat. Sebaliknya Dharmaraja masih belum puas. Ia ingin mendengar lebih banyak mengenai masa depan putra Utari itu.

Karena dapat menangkap apa yang sedang dipikirkan Dharmaraja, Lokacarya berkata lagi, “Agaknya Yang Mulia ingin tahu lebih banyak. Namun, kami akan lebih senang menjawab pertanyaan khusus daripada menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak begitu penting.”

“Baiklah,” tanggap Dharmaraja. “Pada saat ia memerintah kelak, apakah akan terjadi perang? Jika terjadi perang, bagaimana ia akan menghadapinya?”

“Tidak, Yang Mulia. Perang tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang berani mengganggu kerajaannya.”

Mendengar hal itu, Dharmaraja bertukar pandang dengan Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Mereka sama-sama tersenyum dengan wajah memancarkan sukacita. Setelah itu Dharmaraja berpaling lagi kepada Lokacarya.

“Kami patut bersyukur karena Dewata telah melimpahkan anugerah mahabesar kepada kami. Tapi…?”

“Agaknya masih ada yang ingin Yang Mulia tanyakan,” Lokacarya menatap Dharmaraja yang tampak bimbang dan menundukkan wajah. “Katakan saja Yang Mulia. Kami siap menjawab semua pertanyaan. Mengapa Yang Mulia tiba-tiba jadi ragu?”

“Kami sangat puas mendengar penjelasan Yang Suci bahwa pangeran ini akan menjalani kehidupan yang pasti diimpikan setiap orang. Ia pasti akan menjadi raja yang akan dikenang selamanya. Kebajikan dan kedamaian yang akan menyertai perjalanan hidupnya membuat kami sangat bahagia seakan kami ikut mengalaminya. Namun, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan lagi. Saya mohon maaf jika ini tidak layak ditanyakan.”

“Silakan, Yang Mulia. Katakan saja.”

“Bolehkah saya tahu bagaimana nanti ia mengakhiri hidupnya?”

Baca juga  Sepasang Sosok yang Menunggu

Para brahmin tidak menyangka Dharmaraja akan menanyakan hal itu. Begitu juga Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Mereka heran bagaimana kakak sulung mereka bisa penasaran seperti itu.

Arjuna yang merasa perlu menenangkan kakaknya lantas berkata, “Sudahlah, Kanda. Bukankah kematian akan datang kepada siapa saja dengan caranya sendiri? Tidakkah berlebihan jika kita ingin mengetahui hal itu sekarang? Saya khawatir kebahagiaan yang barusan kita rasakan akan sirna begitu saja karena kecemasan yang tidak beralasan.”

“Entahlah, Dinda. Tiba-tiba saja saya merasa gelisah dan ingin menanyakan hal itu.”

Sementara itu, Lokacarya minta waktu untuk menganalisa kembali horoskop bocah itu. Mendengar itu Dharmaraja tampak semakin gelisah seakan sedang menanti kabar buruk. Lokacarya lekas memberikan tanggapan.

“Yang Mulia, pangeran ini akan mengakhiri hidupnya karena kutukan.”

“Apa?” Bukan kepalang terkejutnya Dharmaraja. “Bagaimana kebajikan bisa berujung kutukan?”

Lokacarya membisu lalu menoleh pelan ke samping. Seorang brahmin yang duduk di sebelahnya kemudian mewakili, “Setelah mengkaji kembali horoskopnya, kami berkesimpulan bahwa pangeran ini akan wafat karena dipatuk ular.”

Dharmaraja terduduk lesu dihantam rasa putus asa. Seperti yang dikhawatirkan Arjuna, kebahagiaan yang barusan mereka rasakan jadi sirna dalam sekejap. Dharmaraja menggeleng-gelengkan kepala.

“Seorang yang menjalani kehidupan penuh kebajikan berakhir dengan kutukan? Dan dipatuk ular? Sungguh mengerikan. Ini tidak adil,” ratapnya.

Brahmin itu lanjut menyampaikan hasil analisa yang lain.

“Tidak perlu bersedih, Yang Mulia. Setelah mencermati kembali posisi planet-planet dalam horoskop anak ini, ada perpaduan yang berpengaruh sangat kuat. Dan itu pengaruh yang mendatangkan kebaikan. Setelah ia tahu mengenai kutukan itu, ia akan segera meninggalkan istana. Meninggalkan takhta dan keluarga lalu menyepi di tepi Sungai Gangga untuk memasrahkan diri kepada Dewata. Kemudian seorang resi agung akan muncul lalu menuntunnya ke jalan pencerahan. Ketekunannya menjalankan ajaran sang resi agung dan kesadarannya yang terus meningkat akhirnya mengantarkannya ke kehidupan abadi. Ya, ia akan moksa.”

Mendengar pernyataan brahmin itu wajah-wajah muram berubah semringah. Dharmaraja tidak lagi merasa khawatir, begitu pula saudara-saudaranya. Para brahmin pun merasa lega karena sudah menyelesaikan tugas mereka dan diterima dengan baik oleh penguasa negeri.

Hari terus berganti melahirkan peristiwa demi peristiwa yang berbeda. Akan tetapi, ada yang tidak berubah: tingkah laku bocah itu. Setiap selesai menyusu ia tetap saja minta dilepaskan dari gendongan. Para dayang yang menjaganya tidak lagi tertarik mempercakapkannya sebab itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Ketika upacara pemberian nama tiba, pendapa agung dihadiri banyak tamu. Para raja, para resi, kaum terpelajar dan sebagainya telah menempati kursinya masing-masing. Sri Kresna yang datang terakhir mendapat penghormatan khusus dari seluruh yang hadir sebelum ia duduk di kursi yang telah disediakan.

Baca juga  Lelaki yang Menderita bila Dipuji

Tak lama kemudian Sahadewa keluar dari keputren diiringi para dayang. Ia menggendong putra Utari yang berpakaian sutra dan berhiaskan permata. Pancaran keceriaan dari wajah bocah itu menyedot perhatian semua yang hadir. Sampai di tempat upacara pemberian nama yang beralaskan kembang aneka warna, Sahadewa menurunkan bocah itu. Begitu lepas dari gendongan, seperti biasa ia langsung merangkak dari tempatnya diturunkan. Sahadewa berusaha mencegahnya tetapi sia-sia.

“Biarkan saja, Dinda,” kata Dharmaraja. “Mari kita lihat apa yang akan ia lakukan kali ini.”

Agaknya bocah itu sudah mengamati orang-orang yang hadir di pendapa agung sebelum dilepaskan dari gendongan. Begitu pantatnya menyentuh lantai ia langsung bergerak ke arah yang pasti: tempat duduk Sri Kresna.

Orang yang dituju hanya tersenyum menyaksikan anak itu merangkak mendekatinya, sampai anak itu memegang kaki kursi yang didudukinya sambil menatap seakan ingin digendong. Sri Kresna yang tidak habis pikir melihat perilaku aneh bocah itu lalu mengangkat dan menggendongnya sambil tertawa. Segera saja anak itu memeriksa wajah penggendongnya seteliti mungkin seperti orang dewasa sedang memeriksa sesuatu. Setelah itu ia memeluk erat leher Sri Kresna seakan tak mau dilepaskan. Ia merasa sangat nyaman berada dalam gendongan orang yang menjadi kusir Arjuna selama perang saudara di Kurusetra itu.

“Karena ia selalu melakukan pariksha, memeriksa setiap orang, maka nama yang tepat untuknya adalah Parikesit,” kata Sri Kresna.

Dharmaraja dan saudara-saudaranya setuju. Maka dimulailah upacara pemberian nama yang dipimpin Kripacarya dengan melantunkan mantra-mantra Weda. ***

.

.

Ketut Sugiartha tinggal Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan 11 buku tunggal dan 3 buku bersama berupa novel dan kumpulan cerpen.

Cahyo Heryunanto, ilustrator asal Yogyakarta, lahir 26 Oktober 1995. Sejak 2018 memulai karier sebagai ilustrator di media nasional Indonesia. Beberapa kali mendapatkan penghargaan ilustrasi tingkat nasional ataupun internasional.

.

Bukan Bocah Biasa. Bukan Bocah Biasa. Bukan Bocah Biasa. Bukan Bocah Biasa. Bukan Bocah Biasa.

Average rating 2.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: