Cerpen, Eko Triono, Kedaulatan Rakyat

Ini Lelucon atau Hanya Mimpi?

Ini Lelucon atau Hanya Mimpi? - Cerpen Eko Triono

Ini Lelucon atau Hanya Mimpi ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(5)

Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 29 April 2022)

HAL yang tak masuk akal terjadi saat kunjungan kerja ke luar negeri, beberapa tahun lalu. Ketika itu, saya ikut rombongan sebuah komisi.

Pejabat negara tuan rumah mengajak kami untuk melihat peresmian penggunaan teknologi pertanian. Letaknya sekitar tiga jam perjalanan darat dari ibu kota. Tempatnya di lembah pertanian luas dan dikelilingi perbukitan.

Menurut pejabat setempat, itu bagian dari desa percobaan. “Ilmuwan di negara kami punya tanggung jawab mengembangkan pertanian, dari berbagai segi,” kata penerjemah yang sedang berjalan bersama kami setelah turun dari mobil, menerjemahkan kalimat pimpinannya.

“Kali ini kita akan melihat satelit untuk modifikasi cuaca masa tanam,” katanya lagi.

Namun, bukan itu hal yang ganjil. Sebelum ke negara ini, kami sudah melihat banyak video tentangnya.

Kami sebenarnya juga tidak ambil pusing amat dengan teknologi macam apa. Yang paling penting di akhir tahun, waktu itu, adalah anggaran lekas terserap habis, biar dapat lagi tahun depan, kuintasi ada, biar tidak kena masalah, foto-foto ada, biar mudah laporannya, serta harus memikirkan oleh-oleh yang merata buat semua orang kantor agar semua senang dan tidak ada pahlawan kesiangan.

“Lalu, apa yang tidak masuk akal?” Pembaca tak sabar.

Ketika kami sampai di tempat peresmian, di area panggung yang sederhana, yang kontras dengan teknologi yang dipamerkan, sedikit orang. Hanya panitia biasa. Mereka mengarahkan kami duduk jajaran kursi belakang.

Mengapa tidak di depan? Mengapa di meja tidak ada minuman, buah, tanda nama, gelar lengkap, atau urutan jabatan seperti lazimnya di Tanah Air?

Dari semua hal aneh itu, yang paling belgedes adalah pengumuman dari gadis pembawa acara, yang diterjemahkan oleh pemuda pembaca acara dalam bahasa Inggris. Seperti ini maksudnya.

Baca juga  Pawang Udan

“Para pejabat yang terhormat dan tamu dari negara sahabat, harap bersabar menunggu kehadiran para petani. Mereka masih dalam perjalanan.”

“Apa? Kita menunggu para petani? Kita menunggu rakyat untuk memulai acara?” Ketua komisi heran.

Dia biasa yang ditunggu, bahkan sering sengaja memperlama biar terkesan makin penting dan sibuk.

“Mohon maaf jika tidak nyaman, Tuan,” jawab pejabat setempat yang diterjemahkan, “Ini tradisi kami. Para petani sangat sibuk. Mereka sedikit libur. Mereka bekerja keras agar pangan tetap tersedia. Gaji kami juga dari pajak mereka. Kami harus menghargai waktu mereka. Itu sebagian sudah datang.”

Hadirin berdiri. Lagu, sepertinya lagu kehormatan, diputar dan para pejabat memberikan tepuk tangan.

Petani-petani dengan topi, baju, dan sepatu but yang kotor melangkah dengan gaya orang penting.

“Yang terhormat para petani dipersilakan duduk di barisan bangku terdepan.” Demikian pembawa acara mengarahkan para petani yang bau keringat dan lumpur ke kursi-kursi terbaik.

Tak tahan dengan perlakuan kebangetan itu, ketua komisi bertanya pada saya, yang sedang mencatat berita di sebelahnya, “Menurutmu ini lelucon atau sebenarnya kita sedang berada di alam mimpi?” ***

.

.

(2022)

*) Eko Triono, lahir di Cilacap, 1989. Akan terbit kumpulan cerpennya, ‘Berapa Harga Nyawa Hari Ini?’ (Shiramedia, 2022).

.

Ini Lelucon atau Hanya Mimpi? Ini Lelucon atau Hanya Mimpi?

 16 total views,  1 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: