Cerpen, Media Indonesia, Sasti Gotama

Luka

Luka - Cerpen Sasti Gotama

Luka ilustrasi Budi Setyo Widodo (Tiyok)/Media Indonesia

3.8
(16)

Cerpen Sasti Gotama (Media Indonesia, 08 Mei 2022)

SERBUK subuh mulai tercium ketika kamu muncul di ambang pintu penginapan. Di latarmu langit nyaris merah. Rambut panjangmu masai, tapi kamu masih terlihat sehangat musim semi yang menumbuhkan pucuk-pucuk stroberi. Lonceng angin bergemerincing ketika kamu berkata, “Kupikir kamu sudah mati. Ponselmu tak bisa kuhubungi berhari-hari. Media sosialmu hangus tak terlacak. Jadi, kamu yang dihadapanku ini hantu atau bukan?”

Mobil hitammu masih menggeram di belakang. Pasti kau langsung melompat keluar tanpa sempat mematikan mesin. Aku tak tahu harus sedih atau bahagia melihatmu. Sudah tiga tahun kita berjeda jarak. Aku di sini, tepi Sanur yang hangat, dan kamu di lereng Panderman, yang sejuk dan senyap. Pasti kamu telah mengarungi ratusan menit yang tak mudah, melewati gunung-gunung, jalan bebas hambatan, dan setengah jam memintas laut dengan feri yang membuatmu mual.

“Teh hangat?” ucapku sambil mundur dan memberimu jalan. Kusadari kakiku masih telanjang tanpa sandal karena terburu-buru menyambutmu. Alih-alih menjawab, kamu menggeleng. “Jawab dulu! Kenapa kamu menghantu? Tiga bulan lagi kita menikah, dan kita tak pernah main petak-umpet semacam ini.” Kuharap senyumku bisa menjinakkannya, tetapi sepertinya tak berhasil. “Kita bicara di dalam? Dekat pantai?” Kamu memejamkan mata sekejap, berbalik badan, memarkir mobilmu di bawah kamboja, lalu kembali dengan rambutmu yang telah terikat ekor kuda.

Dengan lincah, kamu bergerak lebih dulu. Kuhirup jejak frangipani di udara ketika kamu melintas. Wewangian itu rupanya masih setia menyerbuki lehermu. Aku memberi isyarat kepada Ketut di balik meja resepsionis untuk bergegas lebih agar bisa menyiapkan meja di bawah naungan pohon keben tepi pantai. Setelah itu aku bergegas menyusulmu.

Kita berjalan melewati ruang lobi, ruang makan sayap kanan, hingga keluar ke udara terbuka. Ada jalan setapak berupa balok-balok beton yang diapit lampu-lampu temaram yang memandu kita ke aroma laut. Kamu berjalan setergesa orang yang kebelet pipis sehingga ujung gaun merahmu melayang ringan. “Kupikir aku harus menyusuri setiap ruang mayat di semua rumah sakit hanya untuk mengidentifikasi tahi lalat di perut kirimu itu. Tiga hari aku tak bisa tidur memikirkan semua kemungkinan terburuk, dari ponselmu yang tenggelam di kloset, atau kamu sekarat terkena tifus, atau tubuhmu tercacah jadi tujuh akibat ulah para begundal!” Bisa kudengar nada cemasmu yang pekat. “Setiap aku menelepon ke resepsionis hotel, semua langsung menutup teleponku, termasuk si Ketut sialan itu!”

Baca juga  Sadovoe Koltso

“Maaf,” ucapku sambil meraih tanganmu dan mengarahkanmu belok ke kiri. “Kita tak ke tempat biasa.” Kuajak kamu melewati ruang makan sayap kiri dengan kursi-kursi yang disusun terbalik di atas meja. Dulu, ruang makan ini, seperti halnya ruang makan sayap kanan, mulai pukul tujuh pagi sudah sesak dengan para turis. Kini, ruang ini mati suri. Telapak kakiku terasa lengket terkena debu-debu. Sarang laba-laba yang menggantung beberapa lengket di rambutku.

Perjalanan singkat kita berujung pada pantai terbuka. Di tenggara langit saga. Di depan kita laut ungu. Di bawah pasir sewarna ragi. Sayup, bisa kita dengar suara laut yang masih janin. Di sana, di bawah pohon keben, Ketut telah menyiapkan sepasang kursi rotan imitasi, sebuah meja bulat, dan dua cangkir teh hangat tanpa gula.

“Ruang makan sayap kanan sebentar lagi ramai dengan tamu yang sarapan. Di sini, kita bisa berbincang dengan tenang,” ucapku setelah kita sama-sama duduk.

Aku ingat, dua tahun lalu kamu begitu khawatir melihat tempat ini. Dua sayap penginapan sesepi permakaman. Bahkan, sayap kiri katamu seperti rumah hantu, karena untuk menghemat pengeluaran, aku hanya mengoperasikan sayap kanan. Kini, pandemi mulai surut dan tamu-tamu mulai berdatangan. Kondisi penginapan semakin membaik, tetapi belum sampai membuat kamar-kamar sayap kiri terisi. Dari sini bisa kulihat kaca-kaca jendela kamar yang masih buram, tempat tidur yang berpenutup plastik, dan gorden-gorden yang mengusam. Semua tampak kedaluwarsa.

“Aku berhak mendapat penjelasan,” ucapmu dengan teriakan tertahan. “Mengapa kamu berubah menjadi hantu. Menghilang begitu saja. Padahal kamu baik-baik saja. Tidak sakit, tidak sekarat, tidak jadi mayat. Apa susahnya memberi kabar? Apa kamu ingin pergi dariku? Kamu ingin selesai?”

“Perjalananmu baik-baik saja? Pasti kamu lelah setelah menyetir dua belas ja—”

“Sembilan jam,” potongmu, “berkat tol baru dan tanpa keruwetan pemeriksaan swab lagi sebelum naik feri. Dan kamu tak menjawab pertanyaanku.”

Aku menggosok kedua tanganku yang terasa lembap. “Aku akan menikah bulan depan. Undangan sudah dibuat.” Kusodorkan ponselku kepadanya: tampak sebuah undangan digital acara pawiwahan, pernikahan adat Bali. Ada namaku, tetapi tak ada namamu di sana.

Kamu menutup matamu kuat-kuat, lalu membukanya. Dan di sana, di cowong mata itu, ada luka.

Baca juga  Benda Gaib

“Sejak kapan?” Bibirmu bergetar.

“Dua bulan lalu kami bertemu lagi. Waktu kuliah dulu kami pernah dekat. Malam itu ia datang ke penginapan ini dengan kondisi yang menyedihkan. Tubuhnya penuh lebam. Kekasihnya menjadikannya partner tinju. Aku hanya mencoba menghiburnya. Lalu kami …” Aku memalingkan muka, tak mampu memandang matamu. “Ada yang tumbuh dalam dirinya.”

Bibirmu mengucap oh tanpa suara. Aku tahu jemarimu bergetar, tubuhmu bergetar, bahkan kelopak matamu bergetar. “Kamu baik sekali. Kamu memang manusia yang penuh belas kasih. Dari dulu kamu memang selalu merawat burung, kucing, atau anjing yang terluka,” ucapmu dengan bibir yang tremor.

Kamu bangkit tiba-tiba. Aku meraih tangan kananmu. “Maaf,” desisku.

Kamu tersenyum, tapi wajahmu terlihat seperti hari-hari di musim penghujan. “Oh, tak apa. Ini tak seburuk perkiraanku. Kamu bukan cacahan daging berbelatung. Bahkan kamu berhasil menciptakan kehidupan baru. Aku turut bahagia.”

Kata-kataku hilang terserap udara lembap. “Maaf, aku tak bermaksud meninggalkanmu.” Namun, kamu menggeleng kuat-kuat sambil menggigit bibir bawahmu. “Bukan, bukan kamu yang pergi. Aku yang memutuskan pergi. Bukan karena kamu membuangku, tetapi karena aku yang tak menginginkanmu lagi. Aku mengambil kendali atas hidupku. Aku pergi,” ucapmu sambil beranjak dari kursi.

Kutarik tanganmu. “Istirahatlah dulu di sini. Sanur sebentar lagi biru. Bukankah kamu suka laut?”

Kamu tertawa getir. “Sekarang aku memutuskan tak lagi suka laut. Aku balik dulu.”

“Kamu masih lelah. Jangan menyetir—”

“Hanya sembilan jam,” potongmu. “Itu lebih singkat dari tiga tahun aku menunggumu. Jadi aku pamit. Kanvas, cat, dan terpentin sudah menungguku. Mereka selalu ada.”

Kamu berbalik, melangkah dengan tegas melewati lantai lengket ruang makan sayap kiri, melalui sulur-sulur sarang laba-laba, menerobos bau debu yang melayang-layang di udara. Dan seperti penginapan sayap kiri itu, aku tak baik-baik saja. Sejak pandemi menghantam dua tahun lalu, semua tak sama. Bali menjadi kota mati. Tak ada wisatawan. Tak ada kehidupan. Tak ada aliran uang. Padahal, uang adalah darah bagi penginapan. Ketika kehilangan darah, ia anemia, ia memucat, ia sekarat. Kupikir, hanya aku, pewaris tunggal penginapan ini, yang bisa mewujud sesok penyelamat laiknya Empu Bahula, yang menyelamatkan desa dari wabah dan banjir besar, dengan menikahi Ratna Manggali, putri Calon Arang.

Nyoman, sepupuku, seorang konsultan keuangan, yang pertama kali menyebutkan tentang satu-satunya jalan untuk menyelamatkan penginapan yang sekarat. Aku hanya perlu menjaminkan penginapan ini di bank, lalu memutar uangnya di reksadana sekuritas kenalannya. Keuntungannya 10% dan sistemnya seperti deposito. Bunga bisa kucairkan per tiga bulan. Itu akan bisa menutup biaya operasional penginapan tanpa harus merumahkan Ketut dan pegawai lainnya.

Baca juga  Gering Agung Wayan Natar

Semua berjalan lancar di tahun pertama. Kupikir, Tuhan telah menyelamatkanku, penginapan, dan seratus tiga puluh orang yang bergantung di situ. Bahkan aku berhasil membujuk Bli Dam, Paman Ji, dan Bibi Santini untuk meminjamiku ratusan juta rupiah untuk ditanamkan di reksadana itu dengan perjanjian bagi hasil keuntungan. Namun, tiba-tiba di tahun kedua semua berbalik. Bunga tak lagi lancar, bahkan macet. Saat jatuh tempo, uang tak bisa kucairkan. Semua raib, termasuk Nyoman. Celakanya, tidak hanya uangku, tetapi juga uang Bli Dam, Paman Ji, dan Bibi Santini.

Padahal, tahun ini pandemi mulai surut. Padahal, wisatawan mulai kembali berdatangan. Padahal, tiga bulan lagi aku dan kamu akan menikah. Namun, penginapan ini minggu depan akan dilelang. Bli Dam, Paman Ji, dan Bibi Santini pun bersepakat menuntutku di pengadilan atas raibnya uang mereka. Aku tak ingin kamu sedih. Aku tak ingin kamu terseret kasus ini. Aku tak ingin kosentrasimu pecah dan kamu tak mampu melukis lagi.

Dari tempat ini, aku bisa mendengar suara derum mobilmu. Kamu pasti begitu marah hingga menyiarkan kemarahanmu melalui deru itu. Bagus. Marahlah. Menyalalah. Dedarlah. Kamu butuh dirimu yang marah untuk bisa baik-baik saja.

Sudah seminggu ini aku berpikir bagaimana membuatmu marah. Amarah tak lahir dari kekosongan. Karena itu kamu butuh luka. Maaf, harus kutorehkan dengan sengaja melalui dusta: mengada-adakan seseorang yang tak pernah ada. ***

.

.

Sasti Gotama. Penulis. Kumpulan cerpennya Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam? (Diva Press, 2020) menjadi salah satu buku rekomendasi Tempo 2020, nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra “Rasa” 2022. Buku terbarunya berjudul B telah diterbitkan oleh Diva Press awal 2022 ini

.

Luka. Luka. Luka. Luka. Luka.

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 16

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: