Cerpen, Koran Tempo, Thomas Didimus Hugu

Guru Ben

Guru Ben - Cerpen Thomas Didimus Hugu

Guru Ben ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4.7
(6)

Cerpen Thomas Didimus Hugu (Koran Tempo, 15 Mei 2022)

TAHUN 1996. Dua gadis remaja duduk di dalam ruang konseling di depan Guru Ben. Yang satu mencolek hidung temannya. Dia dibalas dengan tarikan di telinga. Lalu keduanya berlomba menginjak telapak. Guru Ben masih sibuk menulis, entah apa isinya, dia sendiri yang tahu. Terganggu juga akhirnya dia atas kelakuan dua wanita muda itu.

“Kamu berdua, kembali ke kelas. Akan kita urus kemudian. Saya akan ada pertemuan pribadi dengan seseorang yang penting.”

Tak ada orang penting yang dia katakan tadi. Lelaki itu duduk dengan tatapan kosong. Ia dahulunya adalah seorang guru konseling muda yang penuh dengan tenaga. Kerja bimbingan baginya adalah proses memurnikan motivasi karena dia percaya manusia sebenarnya menjalani hidupnya dengan alasan-alasan liar. Para siswa yang dibimbingnya dia taruh di tempat khusus di hati dan pikirannya karena mereka adalah cermin dalam proyek pemurnian tersebut.

Bagaimanapun, semangat membara yang bertahan bertahun-tahun itu kini menukik ke titik terbawah pada lemak di perutnya yang semakin hari terasa semakin menumpuk. Tubuhnya yang kalau berjalan terlihat tegak sudah mulai kendur. Kelucuan ala seorang badut terlihat lebih jelas ketika baju kemejanya dia sisipkan ke dalam celana panjang. Tapi itu tak terlalu mengkhawatirkannya. Memangnya setiap orang yang bertambah umur mau memilih jalur yang mana?

Yah. Ini pokok persoalannya. Rasanya, ada tokoh utama yang menjadi simbol dari hidupnya yang mengerut. Kemarin, Boli dipaksanya kembali ke rumahnya. Dengan alasan macam-macam, Boli diyakinkannya untuk pergi menemui orang tuanya sendiri di kampung. Sebenarnya, pada awal-awal pertemuan di ruang konseling, anak remaja itu enggan menuruti permintaan si lelaki tua, guru pembimbingnya. Boli seorang pemuda bengal. Pantang baginya untuk surut. Persetan dengan nilai yang rendah di kelas. Anak-anak lain takut dan menaruh hormat kepadanya. Kepalan tangannya menggentarkan siapa pun karena beberapa kali dia mematahkan hidung sejumlah anak laki-laki. Tapi entah mengapa tiba-tiba, dalam pertemuan paling terakhir mereka, wajah Boli sangat muram. Air matanya mengalir beberapa saat. Tak ada suara tangisan. Sebuah kepedihan yang lucu, tapi menyakitkan.

Ternyata sang guru pembimbing telah meminta sesuatu kepadanya, “Sekolah ini bukan tempat orang menambatkan kambing mereka di pagi hari dan membiarkannya sampai kenyang. Juga bukan usaha jasa titipan di mana kami bertugas mengawasi agar tak ada yang lehernya terbelit tambang. Pendidikan berawal dari rumah. Orang tuamu yang seharusnya lebih bertanggung jawab.”

Sudah tiga hari ini Boli tak pernah sekali pun kembali ke sekolah. Guru Ben pusing tujuh keliling. Dua bulan lagi Boli harus mengikuti ebtanas. Guru Ben mengecek Boli ke tempat kosnya. Semua yang menyewa di situ bilang tak tahu, kecuali seorang anak SMA yang bersekolah di tempat lain yang bercerita bahwa Boli seminggu lalu berencana ke kampungnya. Ben pun mengejar Boli ke desa. Yang didapatinya hanya sebuah gubuk dan seorang kakek-kakek yang tidak jelas bicaranya. Yang ditangkap Guru Ben kira-kira berbunyi, “Ada-ada saja guru di kota, mau dibohongi sama cucu saya. Mana mungkin yang lebih tua mencari-cari yang lebih muda, paling-paling hanya akan menjadi bahan tertawaan.” Kakek tua itu kembali mencengkeram konok [1] tuaknya seperti tak ada orang lain di situ. Maka, Ben berbalik arah. Ah, paling-paling murid kurang ajar ini bersembunyi di salah satu kamar kos di sekitar sekolah.

Baca juga  Mahar Sunyi

Ke ruang konseling, satu per satu siswa laki-laki dan perempuan yang diperkirakannya memiliki informasi dipanggil. Ada yang bilang dia suka ngumpet di kantin belakang tembok sekolah. Seorang siswa perempuan mendengar kasak-kusuk bahwa Boli sedang merencanakan perkelahian dengan anak-anak sekolah lain. Pasti dia sedang mengintai musuh-musuhnya dari suatu tempat, sambung gadis itu. “Ah, rasanya dia bersembunyi di tempat kos anak sekolah lain, Pak. Dia kan tukang begadang menemani orang tua pemasak arak dekat tempat tinggalnya,” begitu kata seorang anak lelaki lain.

Boli memang misterius. Tak ada satu pun teman kelasnya yang benar-benar mengenalnya di luar sekolah. Kalau bel akhir pelajaran berbunyi, dia lenyap di luar pagar sekolah secepat cacing tanah yang terlepas dari jemari Guru Ben saat anaknya kena tifus dan membutuhkan daging makhluk jorok itu untuk menurunkan panas. Siapa juga yang berani main-main ke tempat kosnya.

Maka, menghilangnya Boli adalah perkara besar bagi Guru Ben. Sayangnya, keterangan yang diberikan anak-anak hanya membuat kepalanya tambah pusing.

Pada minggu pertama lenyapnya Boli, Guru Ben masih sempat juga mencari jejaknya dengan mendatangi satu-dua kerabat yang barangkali mengendus bau keringat anak laknat itu. Tak ada hasil.

Pada hari-hari selanjutnya, Guru Ben tetap mencari, tapi tanpa harapan. Kadang-kadang beberapa guru atau siswa tiba-tiba ditanyai tanpa kata-kata pembukaan yang justru membuat mereka yang ditanya menjadi kebingungan karena tak tahu pokok persoalannya. Lama-kelamaan di hati Ben tinggal jejak-jejak suram, sesuram tudingan terhadap dirinya sebagai sosok yang ikut andil atas hilangnya Boli.

Guru Ben kini disibukkan oleh ulah anak-anak lain. Tilde yang suka datang pagi-pagi menggantung tasnya di kursi, lalu menyelinap ke rumah penduduk untuk menghindari pelajaran; Markus yang selalu beralasan sakit setiap kali mendapat PR akuntansi, Beni dan Gusti yang suka memanas-manasi Gisel yang merasa diri paling cantik, sehingga hanya mau memacari mereka yang menunggang sepeda motor meskipun dalam keadaan butut; atau Goris yang selalu tidur di kelas dan hanya bersemangat pada jam pelajaran olahraga serta pada jam-jam saat guru berhalangan hadir. Bukankah mereka semua butuh perhatian? Apa faedahnya mengurusi seorang anak seperti Boli yang tak mau bekerja sama?

Tidak terasa sudah tiga puluh hari Boli lenyap dari pandangan bersamaan dengan terhapusnya anak itu dari buku catatan kejadian Ben di ruang konseling, dari segala diskusinya dengan teman sesama konselor, dari pertanyaan-pertanyaan wali kelas dan guru-guru mata pelajaran, dari tatapan buas kepala sekolah, serta dari hati Guru Ben yang telah menjadi batu.

Suatu sore, Ben berkeliling kota kecil Lewoleba. Mengayuh sepeda ontelnya di jalan kota yang hampir semuanya tidak beraspal untuk melawan lemak di perutnya. Tentu tidak banyak orang luar yang tahu mengenai kota ini.

Sebuah rumah penduduk dilihatnya sedang dibangun. Boli ada di sana memegang sekop, mencampur semen dan pasir dengan air. Seorang temannya datang dengan jeriken berisi tuak dari lontar dan menuangkan segelas untuk Boli. Peluh menjilat pipi dan lehernya yang jauh lebih menghitam dari saat dia masih ke sekolah. Beberapa lelaki lain yang jauh lebih tua dan tak kalah hitamnya juga sesibuk anak itu. Kepala tukangnya terdengar memerintah seorang lelaki di bawahnya untuk melemparkan ember berisi campuran yang sedang diaduk-aduk Boli.

Baca juga  KENANG

“Saya tahu, suatu saat Pak Guru akan datang ke tempat di mana saja saya berada.”

“Ini kebetulan. Saya tak memburumu, Boli. Ini bukan rencana untuk melihatmu lagi.”

“Bukan itu maksud saya, Pak. Ini kota kecil kan? Tidak susah menemui seseorang, termasuk yang pernah dikenal.”

Guru Ben membuang muka. Menyembunyikan perasaannya sebagai orang yang gagal menyelamatkan anak muridnya sendiri.

“Satu lagi, Pak Guru. Suatu kali lalu, Pak Guru menyuruh saya pulang ke rumah. Ini rumah saya, tapi bukan seperti milik kebanyakan orang. Kalau proyek ini selesai, saya akan berpindah rumah baru di proyek yang lain. Saya tak pernah mengenal orang tua saya. Sedangkan kakek peyot di kampung yang Pak Guru temui itu katanya ayah dari bapak saya. Bapak tua itu tak ambil pusing terhadap saya karena dia hanya sibuk dengan tembakau dan tuaknya. Maka, mereka yang sedang bekerja ini adalah orang tua dan saudara-saudara saya.”

Guru Ben mengayuh sepedanya, sebuah barang yang tergolong mewah di tempat itu. Dia melaju dalam dada yang penuh amuk, dilimburi rasa bersalah. Menjauhi bau tuak dan rokok murahan bercampur aroma semen, pasir, dan batu merah yang tersiram air—terpanggang terik.

Mana bisa kota sesempit ini, di Pulau Lembata yang begitu kecil dan jauh dari keramaian, telah menjadi sedramatis kota-kota besar tempat banyak orang tua menelantarkan anak-anak. Guru Ben sebenarnya telah paham akan kenyataan ini. Semakin hari semakin banyak anak yang mengaku tak mendengar kabar orang tuanya di perantauan. Kemudian mereka hidup entah dengan kakek atau nenek mereka, dengan paman dan tante, atau dengan siapa saja yang jatuh kasihan. Hanya, selama ini dia menipu diri untuk tak mempercayainya.

Di ruang kepala sekolah besok harinya, Guru Ben dan guru kepala duduk berhadap-hadapan.

“Telah sebulan anak ini tak masuk sekolah. Saya telah berhasil menemuinya dan berbicara muka dengan muka. Dia absen karena mengalami musibah besar. Dan dia tak pernah bilang mau berhenti sekolah!”

***

Tahun 2020. Sepotong tubuh yang hampir kaku membujur di atas dipan di sebuah kamar tidur. Lantai kamar tidak licin karena hanya diberi campuran semen dan pasir berbatu untuk menghindari tanah yang lembap. Dinding bagian bawah disusun dari batu alam, sedangkan atasannya yang tersambung ke bagian atap dikonstruksi dari keneka [2]. Supaya menghalangi vuvuk [3], keneka ditempeli koran-koran bekas yang bertahun-tahun lalu diselundupkan dari ruang perpustakaan sekolah.

Dan tubuh yang hampir kaku itu adalah milik Guru Ben. Telah lama ia pensiun, tapi tak mampu membangun rumah karena anak semata wayangnya menghabiskan begitu banyak uang saat berkuliah di kota. Guru Ben justru pensiun beberapa bulan sebelum pemerintah menggulirkan program sertifikasi guru pada 2005. Sialnya, anak gadisnya tak sanggup menyelesaikan pendidikannya karena sudah telanjur hamil.

Saat ini, meskipun memiliki kartu askes, Guru Ben menolak pergi ke rumah sakit. Dia beralasan bahwa selalu saja butuh biaya lain-lain yang tidak diduga dan tidak terbeli oleh kartu askes. Dana pensiunnya yang berjumlah lebih dari 30 juta telah ludes untuk membiayai pernikahan anak gadisnya.

Baca juga  Sakit Mental

Di hadapannya kini duduk tiga sosok berwajah sedih. Anak wanitanya yang sedang memegangi bahu cucunya yang telah remaja dan pria yang menghamilinya yang kini menjadi suami. Guru Ben, yang telah lama ditinggal mati istrinya, menatap mereka satu per satu. Kini mau tak mau dia harus yakin bahwa hidup adalah kesempatan emas bagi siapa pun untuk memurnikan motivasi.

Gadis semata wayangnya yang bertindak liar, bunting, dan putus kuliah dipaksakannya menjadi cermin baginya untuk melihat kehidupannya agar leluasa mempersiapkan kepergiannya menghadap Sang Khalik. Apalagi kini dia telah memiliki seorang cucu. Ayah dari cucu itu pun harus dipercayainya sebagai mantu yang memiliki hati baik karena tak pernah sedikit pun mengeluh setiap kali menggendongnya ke kamar mandi untuk buang air besar atau menyuapinya nasi lembek dan teh hangat.

“Bapak Guru,” tiba-tiba anak mantunya memanggilnya dengan suara yang menandakan kesungguhan. Anak mantunya itu melanjutkan, “Bapak Guru jangan khawatir. Saya akan menjaga anak perempuan dan membesarkan cucu Bapak Guru. Saya hanya tamatan SMA, tapi saya bisa mencari uang. Bapak Guru lihat sendiri, kan? Saya ini kepala tukang. Rumah ini akan saya renovasi sendiri secara permanen. Terima kasih banyak atas pengorbanan Bapak Guru yang dahulu membela saya di hadapan kepala sekolah sehingga saya tidak sampai dikeluarkan. Saya tak akan pernah melupakan jasamu, Bapak Guru.”

Guru Ben sekejap mengenang kerja kerasnya menyelamatkan Boli, anak laknat yang kini jadi mantunya. Dunia memang dipenuhi segala jenis mimpi.

Tapi Guru Ben memasang mukanya dengan ekspresi terbaik. Tak ada waktu lagi untuk menyesali hidup. Pada menit akhir, Guru Ben dengan kekuatan tersisa berkalkulasi. Memang, putri semata wayangnya tak merampungkan sekolah keperawatannya dan cita-citanya menjadi kepala puskesmas pun melayang. Toh, anak mantunya juga seorang kepala tukang. Apa bedanya? Kepala puskesmas dan kepala tukang sama-sama mengatur anak buah. Dan keduanya hanya berhasil jika mampu membantu anak buah mereka bekerja sesuai dengan rencana. Guru Ben mengatur napas seteratur mungkin dan mengulum senyum dengan wajah seperti orang yang hanya tidur sebentar. Pada akhirnya, hidup diselesaikannya dengan kalkulasi yang benar. Sebentar lagi akan ada himne guru. ***

.

.

Keterangan:

[1] Konok: bahasa lokal untuk menyebut alat minum tradisional yang dibuat dari belahan batok kelapa.

[2] Keneka: bahasa lokal di Pulau Lembata dan sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menyebut dinding rumah yang dibuat dari bambu.

[3] Vuvuk: bahasa lokal untuk menyebut kondisi kayu atau bambu yang telah dimakan rayap dan menimbulkan debu.

.

.

Thomas Didimus Hugu lahir di Kalikasa, Lembata, Nusa Tenggara Timur, 17 Maret 1974. Lulusan S-1 Psikologi Untag Surabaya dan S-2 School Counseling University of Arkansas, Amerika Serikat. Kini ia bekerja sebagai guru bimbingan konseling dan pembina majalah dinding di SMA Negeri 1 Nubatukan, Lewoleba, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

.

 467 total views,  4 views today

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!