Cerpen, Koran Tempo, Kurnia Effendi

Selebrasi Melankoli

Selebrasi Melankoli - Cerpen Kurnia Effendi

Selebrasi Melankoli ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

2.3
(3)

Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 20 Maret 2022)

UDARA Holland menyambutku saat keluar dari pesawat besar Turkish Air di Bandara Schiphol.

Inikah caraku menghindari bayang-bayangmu? Membunuh seluruh keinginan yang tidak kumengerti meski berbagai upaya yang kulakukan tampaknya sia-sia. Adakah cara memberangus hasrat dan impian yang paling jitu selain dengan memiliki benda yang dikehendaki? Seperti kamu ingin mengambil sesuatu dariku lalu berhasil memperolehnya. Seperti anak empat tahun yang memimpikan boneka teddy bear dan pada malam ulang tahun mendapatkannya di sisi bantal.

“Kita ke sculpture ikon I Amsterdam.” Ada bisik di sisi telingaku saat aku tiba di lobi yang ribut. Itu lebih satu jam setelah pemeriksaan yang membuat aku ingin mencuci muka polisi bandara dengan sambal terasi. Anjing pelacak mereka lebih berahi terhadap belacan daripada sabu-sabu.

Aku menoleh dan menemukan Laura Paais yang—dalam pandanganku—semakin kurus. Dia kian kentara sebagai orang Asia umumnya sekalipun lahir dan sempat tumbuh hingga remaja di Manado.

Aku melepas tongkat koper, lalu memeluknya. “Tak sangka kita justru bertemu di sini,” seruku.

“Kamu sehat, Nin?” Kedua tangannya menabuh punggungku gemas. “Syukurlah, corona akhirnya selesai.”

Selesai gundulmu! Aku tertawa di telinganya. “Aku penyintas. Beruntung tidak long Covid. Ah, itu sudah kujadikan masa lalu.” Aku merenggangkan badan, menatap matanya. “Mau ke mana kita tadi?”

“Oh, ada tempat bagus untuk berfoto. Mumpung masih di sini.” Laura mengambil alih koperku. Dibimbingnya aku ke sebuah pintu keluar menuju plaza yang lebar.

“Ah, ramai sekaliii!” Aku gembira sekaligus pesimistis, dua perasaan yang bertabrakan. Kapan dapat giliran berfoto di huruf-huruf besar terbuat dari logam itu?

“Tidak sama dengan di Tanah Air.” Laura tersenyum, seperti tahu pikiranku. “Di sini, dengan kesadaran empati, kita tidak perlu berebut. Akan saling mengerti untuk gantian memberikan privasi.”

Dan itu benar. Kami melakukan sesi foto dengan tingkah sebagaimana remaja. Ah… sudah lima belas tahun lalu kami meninggalkan usia 17. Tetapi… aku harus melenyapkan kenangan tahun-tahun ranum itu dari ingatan. Memang tidak pernah sanggup, kecuali, seperti kataku kepadamu seminggu lalu: mengonsumsi obat paling mujarab. Menghapus kenangan, melipat waktu, mengiris putus ingatan; itu targetku sebelum melanjutkan hidup. Tentu kalau diperkenankan berlanjut.

“Tiada kopi lebih enak dibanding Sidikalang atau Gayo atau Toraja atau Puntang atau Kintamani….”

“Stop!” Laura menutup mulutku dengan tangannya. “Di Belanda, kamu harus mencoba yang berbeda. Misalnya keju dari Gouda atau menjambal ikan herring kapan-kapan saat ada pasar tumpah akhir pekan.”

Toh, aku menyeruput tandas kopiku dari gelas kertas kafe di bandara. Sesapan yang memberikan sensasi segar setelah terbang 14 jam secara bersambung dengan transit di Istanbul selama empat jam. Udara musim panas yang tetap berada di bawah 20 derajat Celsius membuat lenganku dingin, padahal sudah terlindung sweater.

“Oh iya, aku turut berduka atas meninggalnya ibumu,” ujar Laura sembari mengambil kedua tanganku. Digenggamnya takzim. Aku mengangguk. Kalau Ibu tidak meninggal, aku tidak mungkin ke sini. Aku akan tetap menyimpan jarum dalam jantung. Kemudian Laura menyerahkan kartu dari dompetnya. “Ini kartu untuk naik kereta dan bus.”

“Hei, kamu janji akan mengantarku ke mana pun aku ingin pergi!” Aku protes. “Mana aku tahu arah di negeri mantan penjajah ini?”

Laura tertawa. “Sini ponselmu. Kupasangi aplikasi jadwal transportasi. Kamu pasti sudah melapor Telkomsel agar tidak roaming digunakan di sini.” Aku mengangguk lagi. Sembari mengurus visa, sebulan lalu, aku hampir tiap hari konsultasi mengenai hal-hal yang mesti kusiapkan untuk tinggal di Belanda beberapa hari. Ya, hanya kuperlukan beberapa hari, tetapi kudapatkan izin tinggal tiga bulan. “Jadi apa rencana pertamamu? Langsung mencari alamat ayahmu?”

“Aku menginap di rumahmu dulu. Setidaknya perlu menyesuaikan diri.” Aku melihat ke sekeliling bidang kaca. Langit masih terang benderang padahal jarum jam dinding menunjukkan pukul 7… malam? “Rasanya aku jetlag.”

Berikutnya kami turun ke stasiun kereta dan menumpang Intercity jurusan Den Haag. Benar, jam dan menit sesuai dengan yang ditunjukkan dalam aplikasi Laura. “Kamu dapat merencanakan perjalanan tanpa takut ketinggalan atau malah terlambat.”

Baca juga  Buka Puasa

***

Saat sarapan pagi roti bakar dengan olesan keju kucampur selai kacang, Laura memperkenalkan anaknya yang berumur tiga tahun. Georgy, anak lanang bermata biru. Dari meja makan kupergoki Dirk, suami Laura, naik tangga dengan piama mandi. Aroma sabun menguar ke tempat kami.

“Dirk, bergabunglah,” kata Laura dalam bahasa Inggris. Aku memandang heran. “Biar kamu tahu apa yang kubilang kepadanya. Sebetulnya, aku memang jarang pakai bahasa Belanda meski dia bicara dengan Dutch.”

Sepuluh menit kemudian jantungku sedikit kacau. Dirk bukan hanya bule, tetapi tampan dan segar. Aku belum pernah punya pacar bule, belum sekilas pun terpikir mencobanya. Semacam pasien yang telah berkonsultasi dengan berbagai dokter serta menjajal obat yang disarankan, kiranya perlu juga mencoba jalur alternatif.

“Nin, kamu mau coba minuman itu?” Laura menunjuk dengan dagunya ke gelas beling Dirk.

“Oh, tidak!” Aku malu, tergeragap. Tentu aku bukan tertarik dengan minumannya, tetapi pada tangan kekar dengan jemarinya yang berbulu. “Jam berapa kita jalan?”

“Aku bereskan beberapa pesan untuk Lui.” Laura menemui pengasuh anak paruh waktu yang kini dimintanya tinggal sampai petang. Kudengar rencananya demikian tadi selagi di dapur.

Aku berkemas dengan tas jinjing berisi satu setel pakaian untuk berjaga-jaga bila harus menginap di tempatmu. Seperti apa kondisi rumahmu, belum kuketahui benar. Hanya alamatmu dalam kartu yang diberikan Ibu jauh sebelum kami terserang Covid-19 dan dirawat di rumah sakit. Sebagai komorbid, Ibu tidak sanggup melewati derita itu. Pesannya: “Beri tahu ayahmu, ini nomor teleponnya.” Aku takjub. Bertahun-tahun Ibu menyembunyikan keberadaan suaminya yang konon kawin lagi di salah satu negeri Eropa.

“Dari sini bisa langsung ke Utrecht?” tanyaku.

“Kita cek nanti. Kalaupun transit, hanya sekali.” Laura membaca lagi alamat yang tercantum pada kartu nama. Bukan kartu namamu, melainkan Ibu menuliskan alamat lengkap di balik kartu nama entah milik siapa itu.

“Dekat dengan museum musik,” gumam Laura. Dia menoleh kepada Dirk. “Kami jalan. Kamu pulang nanti sudah kusiapkan lasagna di kulkas. Panaskan saja.”

Dirk mencium bibir Laura. Tersenyum kepadaku. “Be careful!”

Tentu aku akan berhati-hati menghadapi senyum manis itu. Dia kembali bermain dengan Georgy. Dan kembali terpikir olehku untuk memiliki pacar bule.

Apakah sebaiknya Laura tahu rencanaku sesungguhnya? Tepatnya: rencana yang sungguh tidak kumengerti cara menjalankannya. Aku hanya ingin sembuh dari hal yang paling mengganggu, bahkan membahayakan diriku dengan siapa pun aku sedang bercinta.

Beruntung Laura cukup cerewet. Memang demikian sepanjang yang kuketahui sebagai teman SMP. Kami terpisah saat SMA, tetapi kuliah di kampus yang sama berbeda jurusan. Dia bukan jadi teman untuk hang out atau kelompok belajar, kami berbeda gerombolan. Hanya kutahu dia menikah dengan Dirk, seorang ahli hukum yang membuka firma bersama teman-temannya di Den Haag, saat berjumpa dalam reuni. Bagiku, Laura seperti mutiara yang hilang. Kami lekas menjadi dekat hanya dalam beberapa hari selama Laura mudik ke Indonesia karena ada beberapa urusan selain reuni SMP. Ada satu hal yang tak kuceritakan kepadanya sebagai sahabat, hanya ibuku yang tahu dan selebihnya aku menanggung rasa sakit—atau malah ketagihan—yang harus kulenyapkan. Lima tahun kutahan diri, kini harus kuperoleh solusi untuk mengakhiri.

Aku tidak pernah sempat melamun panjang atau menggantinya dengan menyampaikan kepada Laura tujuan utama kuambil pakansi dari kantor advertising yang mulai sibuk setelah 90 persen penduduk Jakarta sudah vaksinasi kedua. Laura banyak memberi tahu hal-hal unik yang kami temui sepanjang jalan. Kadang-kadang terpikir olehku, Belanda yang peradabannya jauh lebih maju belum memperlihatkan mal megah serupa Grand Indonesia atau Mal Taman Anggrek.

“Di Rotterdam dan Amsterdam ada toserba, pujasera, tetapi lebih banyak museum dan galeri,” ujar Laura. “Kelak kamu tinggal di sini saja, negeri yang cocok untuk hari tua. Tampaknya, jika meniru sifat manusia, Belanda tidak ambisius.”

Baca juga  Danila

“Akan kupikirkan. Akan kucari calon suami orang sini.” Saat mengucapkan itu, yang berkelebat dalam benakku adalah Dirk. Aku segera mengalihkan pembicaraan. Melihat kanal-kanal dengan kapal wisata.

Kami turun di Utrecht Centraal, Laura mengajakku berjalan kaki saja. “Tidak jauh. Apa kita mau jalan-jalan dulu?”

“Hmmm… boleh.” Mendadak jantungku berdebar begitu tiba di kota yang lebih ramai daripada Den Haag. Ternyata niatku yang bulat sejak berangkat dari Jakarta, di sini sedikit goyah dan retak.

“Kita akan melihat gereja yang pernah dibom oleh Jerman. Singgah di rumah Mondrian. Ah, kamu sebagai desainer pasti suka hal-hal seperti itu,” kata Laura begitu yakin. Kenyataannya aku setuju dengan sarannya. Malah antusias. Aku merasa ada keinginan melupakan niatku semula. Tapi, apakah selamanya aku bakal menyiksa diri dengan pilihan bodoh? Bukankah Ibu yang selama ini menjadi pertimbanganku sudah tiada.

Laura bagai usai menyelesaikan kewajiban sebagai pemandu wisata. Bahkan kemudian mentraktirku steik yang luar biasa enak dan aku minum bir yang sempurna sebagai penutup makan malam di tepi kanal. Matahari masih 30 derajat di sebelah barat. Kecemasan dengan debaran jantung yang sempat kurasakan tadi, lumayan ditenangkan dengan alkohol tipis yang merayapi saraf dan menemani miliaran neuron di serebral.

“Kalau benar ayahmu tinggal di sini, tak sampai setengah kilometer. Apakah kamu mau meneleponnya lebih dulu?” Laura melihatku menggeleng. “Oke, kalau begitu. Kita sudah kenyang. Aku perlu mengejar kereta terakhir untuk pulang setelah mengantarmu.”

“Aku sangat berterima kasih, Laura.”

“Anin, kita akan jalan-jalan ke berbagai tempat. Kapan pun kamu siap, hubungi aku. Terima kasihmu nanti saja bila kita berpisah di Schiphol.” Laura menepuk pipiku. Ah, dia perempuan yang berbahagia.

Dua puluh menit kemudian kupandangi pintu kayu dengan dua bidang kaca setinggi pandangan mata yang berfungsi untuk mengintai. Bel yang kutekan mengundang respons. Langkah… yang sangat kukenal. Itu langkahmu. Diikuti dengan tatapan matamu di balik kaca. Laura memberikan senyum kepadamu. Pintu itu terbuka.

“Anin!” Suaramu, suara lelaki yang selalu bergema di dasar telingaku itu perlahan, tapi memiliki tekanan yang sulit kutafsirkan. Wajahnya seperti tidak pernah menua, kecuali rambutnya yang hampir seluruhnya menjadi perak.

“Ayah.” Aku menyapamu dalam suara yang ragu.

“Masuklah. Ini…?”

“Saya Laura, Om. Teman SMP dan kuliah Anin.”

Kami masuk. Dengan isyaratmu, kami duduk di sofa ruang tamu yang nyaman. Dan aku tahu engkau begitu kikuk. Sudah pasti tak menduga kedatanganku, karena aku tak meneleponmu lagi sejak memberi tahu bahwa Ibu meninggal.

“Kamu tidak sabar menunggu aku punya waktu ziarah. Aku pasti akan ke Jakarta, tetapi menunggu penerbangan aman. Ah, kamu berani ke luar negeri, pasti sudah aman.”

Aku tahu engkau berbasa-basi karena ada Laura. Memang aku tidak sabar. Lihatlah, tanganku seperti tremor. Rupanya Laura menafsirkan sebagai pertemuan ayah dan anak yang tak boleh diganggu. Dia tahu diri.

“Saya pamit, Om. Takut tertinggal kereta ke Den Haag.” Laura berdiri.

Tentu aku tidak menahannya. Sekalipun ini bagian yang paling mengkhawatirkan dalam hidupku, keputusan yang sudah kembali bulat kuambil, tetapi bisa saja Laura akan menyesal seumur hidup telah meninggalkan aku tanpa meminta persetujuanku. Dia bahkan lupa mengembalikan kartu alamatmu.

“Oh, lumayan jauh. Baik. Hati-hati di jalan,” ujarmu membukakan kembali pintu rumah. Aku melambai kepada Laura tanpa suara. Selain hari masih terang, Laura sudah tinggal bertahun-tahun di Belanda.

“Tante…” Aku mendadak lupa nama istrimu di sini.

“Sonia sudah dua hari demam. Bukan, bukan Covid.” Engkau kembali mempersilakan aku duduk. “Mau menengok ke kamar?”

“Tidak harus sekarang. Aku tidak punya waktu banyak—.”

“Maksudmu?” tanyamu bingung. Aku hanya menatapmu dengan perasaan yang bergelora. Apakah itu amarah atau berahi, aku sendiri tidak mampu membedakannya. Aku seketika teringat banyak hal, berlompatan.

“Aku sudah meminta maaf, Anin. Aku memang ayah yang bejat, keji, jahat….” Suaramu bergetar. “Entah hukuman apa yang pantas untukku. Ketika ibumu mengusirku, kurasa itu hanya agar aku selamat dari kematian melihatnya siap dengan pisau.”

Baca juga  Tanah Munggu, Pak Tua, dan Itik-itik yang Menunggu

Mataku memanas dan memandangmu seperti seorang kekasih yang sangat lama kurindukan. Kudambakan bertahun-tahun. Ketika Ibu bilang engkau binatang yang memperkosa anak sendiri, sesungguhnya aku ingin membelamu. Aku, sungguh, menikmati caramu menggumuliku. Mungkin karena beberapa kali kulihat engkau begitu hebat membuat Ibu mengerang sekaligus mendekapmu sangat erat agar tidak lepas sedetik pun. Ya, Ibu mengerang tetapi tidak ingin tubuh kalian renggang.

Lihat tanganku, oh, bahkan tubuhku bergetar. Matamu tampak melebar. Rindukah engkau kepadaku? Aku mendekat, engkau melangkah surut. Aku makin mendekat dan punggungmu sudah menempel ke dinding.

Aku sudah kehilangan kesabaran. Menubrukmu serta menciumi bibirmu. Kurasakan engkau berusaha mendorong tubuhku, tetapi salah menjamah payudaraku. Entah siapa yang memiliki setrum lebih tinggi, aku pun terkejut dan serta-merta memberikan kemudahan bagimu dengan membuka seluruh blus yang membungkus badanku.

Di tengah kesibukan yang khidmat, sofa seperti lautan yang mengombang-ambingkan tubuh kita. Aku terengah, kembali teringat bagaimana entakan-entakanmu yang lembut tapi pasti itu membawaku ke surga. Aku terpejam dan menggigit bibirmu gemas. Engkau mengaduh atau melenguh, tapi seolah-olah seluruh tubuhmu terbenam.

“Johan!” Suara itu milik perempuan, jauh, bukan suara ibuku karena mengandung logat bule.

Engkau sebentar menghentikan gerakan, memastikan dengan telinga. Tiada lagi suara susulan. Engkau mengakhiri dengan menyurukkan wajahmu ke leherku. Aku mengelus kepalamu.

“Terima kasih, Ayah.” Begitu tulus aku mengucapkannya di telingamu. Justru menyadarkanmu. Engkau seketika turun dari badanku dan menghindar ke sudut ruang, menutupi diri dengan bajuku yang kauraih dari lantai.

Aku tetap telentang di sofa. Air mataku meleleh. Kerinduan itu terobati. Waktu beringsut sangat lambat tanpa suara. Jangan-jangan membeku

***

Di dapur mungil, aku menyeduh dua cangkir teh dengan air panas dispenser. Dahulu, beberapa tahun lalu, aku selalu membuatkan minuman untukmu. Dan teh adalah kesukaanmu. Dengan sedikit gula. Engkau akan menyesapnya selagi masih mengepulkan uap.

Aku menyajikannya di ruang tamu. Ruang yang sudah kembali rapi. Namun, engkau masih duduk dengan kedua tangan menjabaki rambut sendiri.

“Minumlah. Ayah masih suka membeli teh Indonesia rupanya.”

Engkau mengangkat wajah. Pandanganmu tidak dapat kutafsirkan maknanya. Membisu. Aku memberi contoh memegang cangkir yang hangat itu dengan kedua tangan, lalu menyeruputnya penuh perasaan. Semenit, dua menit.

Tanganmu mengambil cangkir itu. Sedikit meniup untuk tidak mengorbankan lidahmu. Sesaat kemudian meneguknya. Tampak wajahmu sedikit segar. Kemudian seperti halnya aku, engkau meneguk lagi. Meneguk lagi.

“Sebaiknya kamu pergi, Anin. Kamu tidak boleh di sini,” ujarnya perlahan.

“Ya, Ayah.” Aku setuju.

Mungkin—atau pasti—itu ucapanmu yang terakhir. Aku tidak salah memilih cangkir yang aman. Engkau telah memberikan kenangan penghabisan kepadaku, kita merayakan berdua saja. Kupikir, ini obat terbaik bagiku. Setelah tujuh atau delapan lelaki yang kujadikan kekasih tak mampu sebaik engkau memperlakukan tubuhku. Ada baiknya engkau segera menyusul Ibu dan mencium kakinya. Lagi-lagi aku mempermudah jalanmu.

Berikutnya aku menghubungi Laura dengan pesan. Mengabarkan malam ini aku pulang ke rumahnya di Den Haag. Kulihat dalam jadwal di ponsel, masih ada kereta terakhir.

Laura menjawab: “Kalau memang benar, aku tunggu kamu di stasiun. Kamu bisa naik taksi. Ah, pasti akan kudengar cerita menarik mengapa kamu tidak jadi menginap di rumah ayahmu.” ***

.

.

Kurnia Effendi lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis di media massa sejak 1978. Bukunya yang mutakhir berupa novel fiksi sejarah yang ditulis bersama Iksaka Banu, Pangeran dari Timur, terbit 2020.

.

Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli. Selebrasi Melankoli.

 367 total views,  1 views today

Average rating 2.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: