Chris Triwarseno, Puisi, Suara Merdeka

RAJAH PALSU DALAM MANJANIQ

RAJAH PALSU DALAM MANJANIQ - Puisi-puisi Chris Triwarseno

RAJAH PALSU DALAM MANJANIQ ilustrasi Istimewa

4
(4)

Puisi-puisi Chris Triwarseno (Suara Merdeka, 15 Mei 2022)

RAJAH PALSU DALAM MANJANIQ

.

Hampir sewindu,

Kau racik benci dalam bejanamu

Kau sulut dendam kesumat

Dalam sekam, kaulumat.

Doa-doamu terucap dusta

Bara api kautanam, bakar luka

Sekutu laknat, iblis.

.

Kaurajah setiap nasib-nasib

Tanpa kenal takdir.

Ketakutan,

Kutukan, dan

Kesesatan.

Kauhembuskan, membusuk.

Kau tempatkanku dalam manjaniq

Sesaat terlontar dalam kematian

Di perapian Tuhan nafsumu,

Seperti Namrud.

.

Di petang magrib,

Rajah-rajah doa palsumu, menghujam.

Tak satupun menyentuhku.

Kuseru, Tuhan-nya Ibrahim

Seru sekalian alam.

.

.

Februari 2022

.

.

.

NARASI GAGAK

.

Di ketinggian Beringin, aku bertengger

Persis seperti leluhurku, yang juga mencengkeram dahan

Sayap-sayap dan mata, rapuh.

Membuatku memilih berdiam semedi,

Memikirkan banyak hal tentangku sendiri.

.

Menyoal identikku dengan mengubur bangkai,

Sehingga leluhur kalian pun terilhami.

Soal cemani warna seluruh tubuh berbuluku,

Sehingga kegelapan tersandang bagiku.

Bahkan, simbol kematian sekalipun tersematkan,

Sehingga aku menjadi sumber ketakutan, angker!

.

Aku adalah koloni makluk berparuh, tak beda.

Kenapa semua hitam kalian bebankan kepadaku?

Dimana pedulimu, bila aku bukan itu.

Sungguh gegabah, karena kau tak paham aku

Tak seperti Sulaiman, makluk pilihan.

.

Pernah kucengkeram dahan Tetehan pagar rumah,

Tentu saja di malam pekat, dimana kalian…

.

.

.

BOCAH TANPA PECI DAN PAMAN BERJANGGUT

.

Tepat tengah malam, tanpa mendung

Ritual itu berlanjut tanpa dihitung.

Seperti angin yang berkelebat,

Secepat itu datang Paman Berjanggut.

Membuka suara, lirih tanpa pamrih

Dibukanya pupuh empat puluh Serat Wedhatama, yang lusuh.

.

Bocah bersarung, tanpa peci

Terdiam membisu, bersila kaki.

Mengambil jarak, mencuri dengar

Tembang Pocung membuatnya tergetar.

Membuka batinnya, menyeruak

Tersingkap hakekat ilmu yang mengikat.

Mata hatinya penuh cayaha berarak,

Baca juga  Penyesalan

Sudah terpikat.

.

Di luar pendhopo joglo itu, aku terkesima. Mereka berdialog tanpa kata.

Dan mereka hilang begitu saja, ternyata aku setengah terjaga.

.

.

Januari 2022

.

.

.

LIDAH YANG KAUSAYAT

.

Duduk angkuh wanita setua paruhbaya

Berkebaya, berjarik motif parang gedhe.

Dihadapan simpuh-simpuhnya abdi tua

Kemben kumal dan kusam tanpa uba rampe.

Nyai Pegatnyawa,

Serapah ponggah tanpa jeda

Menghujam seperti bledhek tak berima

Kepada mereka, jongos abdi renta.

Sabdanya, nyawa mereka taruhannya

Tak tergantikan laku dhodhok dan ratusan sungkemnya.

Kuasa tak terbantah,

Seperti Kebo-kebo Nyai di sawah.

Malam Jumat Wage, di remang Lampu Senthir

Komat-kamit, lidah puluhan abdi yang tersayat; nembang Ilir-Ilir

Kepulan asap dupa dan wangi kembang Kanthil mengalir

Membuat Nyai Pegatnyawa akhirnya kenthir.

.

.

Januari 2022

.

.

.

MENIKAM RINDU

.

Selepas subuh, senja bertabuh

Jalanan sepi sudah terengkuh

Bergegas merapat, dan loket pun penuh

Sepagi buta di Lempuyangan, semua sudah dalam peluh.

Perempuan menyadap mata,

Terhenti, hilang semua tanpa makna

Wajah yang begitu rupa

Setiap takjub membawa lupa

Menakar hati, tertakar sama serupanya

Kursi di gerbong yang sama,

Rasa terkoyak mati, tepat disebelahnya

Mematung bisu, terpahat luka

Seperti tanpa nyawa

Tatapannya bercengkrama,

Menuju jantung,

Satu stasiun berlaju, perempuan berlalu

Meniupkan sandi di kaca jendela kereta,

Bertulis ìMenikam rindu, perempuan masa lalumuî.

.

.

Februari 2022

.

.

Chris Triwarseno ST (Pujangga Sepi), alumnus Teknik Geodesi UGM. Lahir di Karanganyar 14 Februari 1981 dan tinggal di Ungaran Semarang. Penulis buku puisi Bait-bait Pujangga Sepi “Ketika Kukatupkan Kedua Bibir Ini Sudah”.

.

RAJAH PALSU DALAM MANJANIQ

 321 total views,  1 views today

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: