Anton Kurnia, Cerpen, Koran Tempo

Corona untuk Miguela

Corona untuk Miguela - Cerpen Anton Kurnia

Corona untuk Miguela ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

3.7
(9)

Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 22 Mei 2022)

KETIKA berpelukan erat menjelang berpisah pagi itu, aku teringat pertemuan kami sembilan hari sebelumnya di lobi hotel tempat kami menginap di Oberursel, pinggiran Frankfurt. Saat itu aku duduk dengan gugup di tengah orang-orang dari berbagai bangsa yang tak satu pun kukenal dan dia tiba-tiba muncul dengan rambut hitam ikal panjang terurai yang tampak basah seperti habis keramas.

Aku tak bisa tak menatapnya dan langsung tersihir oleh pesonanya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang seakan-akan menarikku seperti magnet. Saat itu aku terlalu pemalu untuk menyapanya atau mengajaknya berkenalan. Aku hanya menatapnya dari jauh—mencuri-curi pandang seraya berupaya tetap bersikap sopan.

Beberapa hari kemudian, barulah kami berkenalan—atau lebih tepatnya bercakap-cakap.

“Mau ikut jalan-jalan dengan kawan-kawan?” tanya dia saat kami berpapasan hendak mengambil jaket di loker pada satu sore setelah seminar terakhir hari itu usai.

Aku tergeragap, tapi segera menguasai diri. Kutatap matanya yang hitam bening dan bibirnya yang penuh. “Ke mana?”

“Tidak tahu. Jalan-jalan saja. Lihat-lihat kota sebelum pulang ke hotel.”

Percakapan kami terputus begitu saja. Aku bergegas ke toilet, lalu buru-buru mengejar rombongan yang telah berkumpul di halaman Buchhaus, siap untuk bergerak. Dalam hawa dingin musim gugur, kami berjalan bersama ke arah Romer seraya bercanda. Beberapa di antara kami tampak sudah saling akrab. Felipe dari Kolombia dan Oleg dari Rusia yang paling banyak bergurau di antara kami semua. Aku hanya mengintil di belakang dan sesekali tersenyum.

Kami lalu menyeberangi jembatan yang membelah Sungai Rhine dan sempat berfoto-foto di dekat gembok cinta yang bergelantungan di satu sisi pagar jembatan. Kami lalu nongkrong sambil minum-minum di sebuah kafe terbuka di sisi lain sungai.

Miguela duduk tepat di depanku. Terhalang meja. Aku sudah tahu namanya. Aku bahkan tahu banyak hal lain tentang dirinya yang kuintip dari situs Buchhaus. Miguela Juanita Alvarez berasal dari Guadalajara, Meksiko. Dia editor di sebuah penerbit kiri independen di Mexico City. Dari hasil penelusuranku di Internet, ternyata dia juga penyair. Umurnya baru dua puluh tujuh tahun. Delapan belas tahun lebih muda dari usiaku. Kubayangkan saat aku lulus SMA, dia baru saja dilahirkan.

Kami berkumpul di Frankfurt selama sembilan hari sebagai tamu undangan Buchhaus atau Rumah Buku Jerman untuk program khusus bagi para editor penerbit independen dari seluruh dunia, terutama negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur, yang industri penerbitannya dianggap belum mapan. Setiap tahun ada 20 peserta yang diseleksi secara ketat untuk mengikuti serangkaian seminar dan lokakarya. Tahun itu aku beruntung terpilih mewakili Indonesia.

Miguela memesan bir hitam. Aku memesan bir tanpa alkohol. Kami lalu bersulang. Aku mengeluarkan sebungkus kretek yang kubawa dari Jakarta. Kutawarkan kepada Miguela. Dia menolak. Aku minta izin menyulut rokokku. Dia mengangguk. Sungguh nikmat rasanya mengisap kretek dalam udara dingin.

“Kamu sudah berapa lama merokok?” tanya Miguela.

“Sejak ibuku tiada. Waktu itu aku masih mahasiswa. Aku agak depresi saat ibuku meninggal dunia. Merokok membantuku meredakannya,” sahutku.

Miguela bercerita, dia berhenti merokok setelah ayahnya yang perokok berat meninggal akibat kanker paru-paru tiga tahun berselang. Dia bilang sejak saat itu ia hanya merokok setahun sekali pada hari raya kematian, Dia de Muertos, yang diperingati di Meksiko setiap 1 November. Hal itu dia lakukan sebagai pengingat atas kematian ayahnya.

Baca juga  Kimpul

Saat itu aku teringat kepada bapakku yang juga perokok berat dan meninggal akibat kanker ketika aku belum lulus SD. Aku bertanya-tanya, jika bapakku masih hidup, apakah kami akan berkawan atau justru bakal sering berdebat dan bertengkar?

Sambil minum bir, Miguela dan aku terus bertukar cerita seraya kami bercakap-cakap dengan kawan-kawan yang lain. Bahasa Inggris Miguela sangat bagus. Jauh lebih bagus daripada bahasa Inggrisku.

Miguela dan aku berbicara tentang para pengarang Meksiko yang kutahu: Octavio Paz, Carlos Fuentes, dan Elena Poniatowska. Kami juga bercakap-cakap tentang sepak bola. Rupanya dia penggemar sepak bola. Saat kutanya siapa pemain favoritnya, ternyata kami sama-sama menyukai Cristiano Ronaldo. Kami sependapat bahwa Ronaldo jauh lebih baik daripada Messi. Itu membuat kami menjadi selangkah lebih akrab. Malam itu, sepulang dari kafe, kami berjalan bersisian di belakang rombongan sambil mengobrol ringan

***

Makin hari, Miguela dan aku makin dekat. Kami kerap bertukar cerita dan tertawa bersama. Aku senang melihat dia tertawa. Dia mengajariku beberapa kata dalam bahasa Spanyol. Aku mengajarinya kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Miguela bercerita kepadaku tentang kegelisahan-kegelisahannya. Aku mendengarkan dengan sabar. Dia bercerita tentang femisida yang marak di negerinya. Banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap perempuan hanya karena mereka perempuan. Yang paling menyita perhatian adalah saat terjadi pembunuhan terhadap lebih dari 370 perempuan di Ciudad Juarez, kota terpadat di negara bagian Chihuahua, pada 1993 hingga 2005.

Menurut laporan terbaru Amnesty International, setiap hari rata-rata sepuluh perempuan tewas dibunuh di Meksiko. Artinya, setidaknya ada 3.600 perempuan yang terbunuh setiap tahun. Sungguh mengerikan. Pemicunya bermacam-macam, antara lain perampokan, serangan seksual, kekerasan rumah tangga, dan perang antar-geng.

Miguela kerap ikut melakukan aksi demonstrasi untuk memprotes kasus-kasus yang tak mampu ditangani dengan baik oleh pemerintah setempat itu.

Mendengar penuturan Miguela, aku jadi teringat pada kasus-kasus serupa di Indonesia yang banyak di antaranya belum terselesaikan selama bertahun-tahun, misalnya pembunuhan terhadap Marsinah, seorang aktivis buruh perempuan di Sidoarjo.

***

Pada malam terakhir di Frankfurt, kami mengadakan pesta perpisahan di sebuah hutan kecil di seberang hotel kami. Di dalam hutan, kami yang berasal dari beragam bangsa bernyanyi dan menari bergantian, bersulang dan minum bersama, tertawa dan bergembira. Kami semua seperti remaja yang keranjingan pesta.

Rodnei, yang berasal dari Kuba dan bekas atlet tinju, berkeliling mengedarkan sebotol besar Baccardi. Kami menenggak rum itu bergantian langsung dari botolnya.

Yasmina, wanita Maroko berdarah campuran Prancis, menggoyangkan tubuhnya menirukan gaya penari perut. Gamal, editor sebuah penerbit buku anak di Kairo, bergabung dengan Yasmina. Mereka berjoget diiringi musik padang pasir yang diputar kencang dari ponsel Oleg.

Setelah itu, Silvia, kawan kami dari Brasil, menyanyikan himne Gaudeamus Igitur dengan suara soprannya yang merdu. Beberapa dari kami ikut bernyanyi. Aku masih ingat beberapa lariknya yang tersisa dari masa mahasiswa: Gaudeamus igitur, juvenes dum sumus. Post iucundam iuventutem, post molestam senectutem, nos habebit humus. [Mari kita bersenang-senang, selagi masih muda. Setelah masa muda yang ceria, setelah masa tua yang penuh kesulitan, tanah akan merengkuh kita.]

Baca juga  Kaliska

Ketika lagu itu usai, kami semua bersorak dan tertawa. Tiba-tiba, Anastasia, gadis pemalu dari Ukraina, berseru, “Anton, ayo kamu menyanyi!”

Aku semula menolak. Suaraku yang buruk bisa bikin burung hantu bunuh diri. Tapi Felipe kemudian menyeretku ke tengah lingkaran. “Baiklah, aku akan bernyanyi, tapi kamu harus menemaniku,” kataku kepada Felipe.

Dalam keadaan agak mabuk, aku dan Felipe berduet menyanyikan Por Una Cabeza—sebuah lagu tango tentang cinta dan perjudian dalam kehidupan: kadang kita menang, kadang kita kalah, tapi kita tak pernah jera. Miguela tertawa gembira menyaksikan aku menyanyikan lagu berbahasa Spanyol dengan terbata-bata dan suara sumbang.

Lewat tengah malam, kami baru kembali ke hotel di tengah terpaan angin dingin musim gugur. Sesampai di hotel, Felipe mengajak kami melanjutkan pesta di kamarnya. Namun hanya beberapa orang yang bersedia ikut: Yasmina, Oleg, Miguela, dan aku. Yang lainnya beralasan sudah letih dan mengantuk, perlu beristirahat karena esok pagi harus terbang ke tanah air masing-masing.

***

Di kamar Felipe yang cukup luas di lantai tiga dengan balkon yang menghadap ke taman, kami melanjutkan pesta. Felipe ternyata menyimpan sebotol wiski. Oleg lalu mengambil sebotol vodka dari kamarnya. Aku mengeluarkan sebungkus rokok kretek dan menawarkannya kepada kawan-kawanku. Mereka semua menyukainya, kecuali Miguela. Yasmina bahkan terus meminta lagi. Dia sangat senang mengisap rokok kretekku yang menurut dia rasanya eksotis. Kubilang rokok itu ada campuran cengkihnya.

“Gara-gara cengkih itulah orang-orang Eropa menjarah negeriku ratusan tahun lalu, termasuk nenek moyang ibumu,” kataku. Yasmina hanya tertawa.

Kami merokok dan minum bersama di balkon sambil mengobrol ngalor-ngidul dan bergurau. Sekitar sejam kemudian, Yasmina dan Oleg pamit kembali ke kamar masing-masing. Tinggal tersisa Felipe, Miguela, dan aku di kamar itu.

Kami bertiga duduk di atas ranjang di dalam kamar. Televisi menyala melantunkan irama jazz. Entah bagaimana mulanya, aku yang sudah mabuk akibat terlalu banyak minum tiba-tiba saja berlutut di depan Miguela. Dia menatapku terperangah dan berkata gugup, “Oh, Tuhan, kamu tidak hendak melamarku, kan?”

“Maukah kamu menikahiku?” tanyaku kepada Miguela dengan berlutut seperti adegan dalam film-film Hollywood, diiringi tiupan saksofon John Coltrane di televisi yang memainkan Naima. Aku menyorongkan lubang bukaan kaleng yang kucopot dari sebuah kaleng bir kosong kepada gadis itu sebagai pengganti cincin.

Miguela terbelalak dan menutup mulut dengan jemarinya. “Wow!” dia berseru, lalu tertawa. “Ya, aku mau!” katanya.

Aku lalu meraih tangan Miguela. Kucoba memasukkan lubang bukaan kaleng itu ke jari manisnya. Tentu saja lubangnya kekecilan.

Felipe, yang semula terdiam menyaksikan semua adegan itu, berdiri dan meraih selembar roti tawar di atas meja. Dia melubangi bagian tengah roti itu, lalu menyerahkannya kepadaku. “Pakai ini saja,” katanya.

Aku menyodorkan roti tawar berlubang itu ke jari manis tangan kanan Miguela. Kali ini bisa masuk. Miguela tersenyum lebar.

Felipe lalu menyuruh kami berdiri bersisian. Dia berpura-pura menjadi pendeta dan mengucapkan kata-kata penahbisan pernikahan dengan tangan terjulur ke arah kami, “Dengan ini kunikahkan kalian. Hiduplah bersama saling mencinta sampai akhir.”

Baca juga  Di Ujung Belati

Aku merasa ada yang kurang. Aku harus memberi Miguela mahar. Kulihat ada sebotol Corona yang belum dibuka di atas kredenza. Kuraih botol bir buatan Meksiko itu. “Felipe, kuminta ini untukku, ya?” ujarku.

“Oh, tentu saja, mi amigo,” sahut Felipe dengan riang.

“Miguela, kuserahkan ini untukmu sebagai maskawin pernikahan kita,” ujarku kepada Miguela seraya mengulurkan botol itu kepadanya.

“Oh, terima kasih!” kata Miguela dengan mata berbinar.

“Nah, sekarang kalian sudah menjadi suami-istri. Mengapa kalian tidak berdansa?” kata Felipe.

Aku meraih tangan Miguela, lalu kami berdansa berputar-putar di kamar itu dengan diiringi musik instrumental Por Una Cabeza yang disetel kencang-kencang oleh Felipe dari ponselnya. Tubuhku begitu dekat dengan tubuh Miguela. Tangan kami berpegangan. Mataku menatap matanya yang bening. Bibirku nyaris menyentuh bibirnya. Aku merasa bahagia.

Kupejamkan mataku. Lalu, aku merasa melayang. Terbang tinggi ke awang-awang. Menuju nirwana yang biru nirmala.

***

Aku terbangun karena kilau cahaya matahari pagi yang menyusup dari jendela kaca. Aku terbaring di atas ranjang. Sendirian. Belakang kepalaku terasa berat. Aku mengucek mata dan berupaya mengumpulkan kesadaran.

Beberapa menit kemudian, Felipe keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sepinggang. Dadanya berbulu telanjang. Rambutnya basah habis keramas. Dia tersenyum lebar.

Buenos dias, amigo! Kau sudah bangun rupanya.”

“Mana Miguela?” tanyaku polos.

“Oh, tentu saja di kamarnya. Semalam kau mabuk dan tertidur pulas di ranjangku. Miguela lalu pergi ke kamarnya sendiri. Tenang, kau tak kuapa-apakan. He-he-he,” ujar Felipe bercanda.

Aku bergegas bangkit dan pergi ke kamarku untuk mandi, ganti baju, dan berkemas.

***

Setengah jam kemudian, aku turun ke ruang makan dengan membawa koper dan ransel. Kawan-kawanku yang lain sudah berada di sana, termasuk Felipe dan Miguela. Mereka sedang sarapan. Beberapa dari mereka tersenyum-senyum aneh sambil menatapku jenaka. Tampaknya kabar pernikahan ugal-ugalan semalam telah menyebar—pikirku jengah. Aku pura-pura tak peduli.

Setelah sarapan, kami semua saling berpamitan. Sungguh perpisahan yang menyesakkan setelah sembilan hari kebersamaan yang menyenangkan.

Ketika Miguela dan aku berpelukan erat menjelang berpisah pagi itu, dia berbisik di telingaku, “Jadi, kamu suami pertamaku.”

Aku menatap matanya lekat-lekat. Bibirnya tersenyum. Kupeluk dia sekali lagi dan berbisik di telinganya, “Hasta luego, mi esposa.” ***

.

.

Oberursel, 2019—Ponggok, 2022

Anton Kurnia menulis tiga buku kumpulan cerpen, antara lain Insomnia (2004) yang telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Arab. Buku cerpen terbarunya, Nostalgia: Kisah-kisah Ganjil tentang Maut dan Cinta, akan segera terbit. Pada 2019, dia diundang mengikuti The First Forum of Asian Countries’ Writers di Nur-Sultan, Kazakhstan.

.

Corona untuk Miguela. Corona untuk Miguela . Corona untuk Miguela . Corona untuk Miguela . Corona untuk Miguela . Corona untuk Miguela .

 185 total views,  2 views today

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!