Affan Safani Adham, Cerpen, Kedaulatan Rakyat

Kerja

Kerja - Cerpen Affan Safani Adham

Kerja ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

4
(1)

Cerpen Affan Safani Adham (Kedaulatan Rakyat, 20 Mei 2022)

SETELAH Lebaran masih saja isteriku kurang bersahabat padaku. Aku pun sudah berupaya keras memecah beragam problematika yang ada dalam rumah tanggaku. Tapi masih ada saja yang tersisa.

Aku ingin melepaskan segala beban. Aku tak ingin beban itu menjadi monster yang sewaktu-waktu bisa saja menggerogoti dari dalam.

“Berbagi cerita itu penting,” kataku kepada isteri.

“Apa yang perlu dibagikan?”

“Jika tidak mau berbagi bisa semakin mumet.”

Istriku cuma diam saja. Lalu aku lanjutkan, “Sebaiknya sekecil apapun masalahnya perlu diceritakan. Utamanya kepada suamimu ini.”

“Jangan suka menggurui istrimu, Mas.”

“Aku orang yang paling dekat dan tahu keberadaanmu. Aku yakin bisa memberikan jalan keluar.”

“Tapi, suamiku….”

“Jangan mau menang sendiri,” potongku.

Ya, selama ini istriku tak peduli denganku. Cuma bisa menyalahkan yang semestinya tidak perlu diucapkan. Lalu kudekati istriku. Kulihat pipinya berpeluh.

Kucoba memulai pembicaraan lagi sambil memijit tangannya. Aku baru tahu istriku memendam perasaan mangkel padaku.

“Berarti kopi yang ia suguhkan selama ini dengan rasa mangkel?” batinku.

Pastilah istriku mengendap sakit hati, lalu menjadi kerak ke-mangkel-an. Jangan-jangan ke-mangkel-an itu telah berubah menjadi beragam penyakit?

***

Kemudian, kuubah kebiasaanku. Aku bangun pagi-pagi. Siapkan sarapan untuk keluarga. Istriku kaget. Terutama Lastri anakku.

“Ini ada apa, Pak?” bisik Lastri padaku.

Aku tak peduli. Kugoreng bawah putih. Lalu kubuatkan sayur urap. Kubuatkan pepes ikan. Ya, pagi itu seperti masak besar.

“Ayo, kita makan bersama. Kebersamaan itu penting agar segala masalah terpecahkan,” kataku.

“Maksudnya?” tanya istriku.

“Coba ceritakan apa masalahmu.”

“Kalau aku sih tak bermasalah.”

Baca juga  Yang Ditinggalkan

“Jangan-jangan Bapak sendiri yang bermasalah, ya?” seloroh Lastri.

Istriku tertawa.

“Benar, kan?” timpal istriku.

Suara sendok beradu dengan piring. Seperti musik yang mengiringi makan kami sekeluarga. Kulirik istriku. Ia terus menatap wajahku. Sepertinya ia masih mencurigaiku dengan perubahan sikapku pagi ini.

“Coba ceritakan yang kau rasakan selama ini,” kataku kepada isteriku.

Sepertinya istriku tak berani berterus terang di depan Lastri, anaknya.

“Berterus terang itu bagus. Jangan meniru orang-orang yang tak jujur. Rumah tangga tanpa kejujuran tiangnya akan keropos,” ungkapku.

Tiba-tiba istriku berkata, “Semua orang memang punya masalah.”

“Tidak hanya kita. Cuma kita saja yang mempermasalahkan masalah itu. Coba jalani masalah itu, pasti terselesaikan.”

***

Keesokan harinya istriku tiba-tiba izin padaku untuk bekerja. “Mas, aku mau kerja. Sumpek di rumah terus.”

“Memangnya kenapa?”

“Apa anak dan istrimu bisa dihidupi dari ikan-ikan yang kamu pancing?”

“Sebetulnya aku sudah berusaha cari kerja yang layak.”

“Kamu itu harus berpikiran maju, Mas. Tidak seperti ini terus.”

Halimah pun menangis.

Memang, sudah lama aku tidak bekerja sejak ada Pandemi Covid-19. Sekarang, setelah anak sudah cukup besar, tiba-tiba istriku mau kerja lagi.

Semoga istriku benar-benar dapat pekerjaan agar bisa menghilangkan perasaan-perasaan buruk yang mengimpit dada. Dan aku pun mencoba untuk tidak ber-su’udzon kepada isteriku demi ketenteraman hati yang sebenarnya sudah mulai bergolak.

***

Setelah cukup lama menunggu, istriku diberi kesempatan untuk bergabung di sebuah biro periklanan.

“Alhamdulillah, saya bersyukur karena ini adalah babak baru dalam karier dan tidak ada ragu sedikit pun saat melangkah,” kata Halimah.

Meski penuh tantangan karena dunia digital dan teknologi adalah hal baru buat Halimah, tapi aku yakin pasti seru dan menyenangkan.

Baca juga  Hanyut

“Ikuti prosesnya, yang penting lakukan dan kerjakan yang terbaik,” kataku kepada Halimah, istriku.

Dulu sebelum aku mengizinkan istriku bekerja, belum terpikir untuk merenungkan apa tujuan bekerja, untuk apa berangkat ngantor di awal pagi dan balik ke rumah saat senja sudah berganti malam.

Waktu berkumpul dengan keluarga pun menjadi sangat terbatas. Saat itu yang penting istriku bisa punya penghasilan, bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan bisa punya ini-itu.

“Kerja nggak cuma materi, tapi untuk kebutuhan hati dan jiwa juga,” kata Halimah kepadaku.

Aku sering disadarkan istriku bahwa tujuan kerja bukan hanya memenuhi kebutuhan materi dan raga, tapi juga kebutuhan hati dan jiwa. “Bagaimana bekerja dari hati, memberikan manfaat bagi orang lain, keluarga dan perusahaan,” tandas Halimah.

Aku juga mengingatkan istriku untuk saling peduli dengan sesama, saling support satu sama lain, melayani dengan tulus, dengan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.

Memang, istriku bisa bekerja dari mana saja. Bisa melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Di saat bersamaan tetap bisa berbagi waktu berharga untuk keluarga tercinta.

Bahagia itu sederhana. Kalau kita bisa menghadirkan kebahagiaan buat orang lain, maka kerja dan ibadah itu selaras. ***

.

.

*) Affan Safani Adham, anggota Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY tinggal di Notoprajan, Yogyakarta

.

 142 total views,  2 views today

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: