Cerpen, Eli Rusli, Pikiran Rakyat

Satu Nama Dua Cinta

Satu Nama Dua Cinta - Cerpen Eli Rusli

Satu Nama Dua Cinta ilustrasi Ismail Kusmayadi/Pikiran Rakyat

3.3
(3)

Cerpen Eli Rusli (Pikiran Rakyat, 21 Mei 2022)

AKU tidak menyangka jika perempuan kulit cokelat dengan rambut hitam lurus melewati bahunya itu menyimpan isi hatinya untukku.

Ia mahasiswa tingkat ketiga perguruan tinggi negeri yang tiga bulan ke belakang aku tinggalkan. “Dia sangat menyukaimu,” kata Mbak Rosa setiap kali bertatap muka denganku.

Mbak Rosa adalah salah seorang penghuni kamar kos di samping kamar kos Beni teman dekatku. Jika tanganku mengetuk pintu kamar Beni, perempuan kulit cokelat itu akan menghadiahkan senyum manisnya untukku. Senyum manisnya aku balas dengan senyum tipis. Kemudian wajahku menunduk. Malu-malu. Lalu salah tingkah. Ajaib?

Perasaan aneh tiba-tiba menguasai tubuh dan jiwaku. Dulu, sebelum mulut Mbak Rosa membisikkan perasaan hati perempuan rambut panjang itu di telingaku, aku sudah merasakan getar-getar aneh di balik dada pada pandangan pertama. Tepatnya menjelang awal semester perkulihan tahun ini. Saat dia baru menghuni salah satu kamar di tempat kos-kosan Beni.

Beni menguatkan bisikan Mbak Rosa kepadaku. Beni itu sahabatku. Dia sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah. Karena masalah asmara, Beni sempat menelantarkan kuliahnya. Makanya ketika aku mengenakan toga, dia terpaksa menambah porsi kuliah satu semester lagi.

“Dia sangat menyukaimu,” kata Beni dengan mimik serius.

“Jangan buat dia kecewa! Dia perempuan baik-baik,” Beni seperti membuatku terpojok. Sepertinya dia belajar dari pengalamannya. Aku membalas dengan tertawa.

“Kenal dekat juga tidak! Mengapa tiba-tiba harus mencintai dia?”

Aku menutupi gejolak perasaan yang sebenarnya kepada sahabatku. Padahal setiap mataku melihat perempuan itu lewat depan kamar Beni, aku diam-diam mencuri pandang lewat pintu kamar yang sengaja dibuka.

“Ah… munafik! Kamu tidak pernah merasakan nikmatnya jatuh cinta sih.” Beni tersenyum sinis kepadaku.

Aku sangat mengerti perasaan sahabatku. Beni pernah jatuh cinta dengan anak didiknya saat praktik mengajar lapangan di sekolah swasta. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Pacar Beni yang masih duduk di bangku sekolah kejuruan, batang hidungnya sering tertangkap di pintu kos-kosan. Aku pun jadi akrab dengan wajahnya.

Baca juga  Lokot Tak Kembali

Beni yang usianya terpaut dua tahun denganku kembali menjadi anak sekolah yang baru mengenal cinta. Setiap saat setiap waktu yang keluar dari mulutnya selalu tentang pacarnya. Beni tidak segan menghambur-hamburkan koin untuk sekadar bicara jarak jauh dengan kekasihnya. Sekian puluh ribu kali aku mengingatkan agar jangan terlalu sibuk dengan kekasihnya. Jawabannya telak.

“Kamu tidak pernah merasakan bagaimana perasaan orang dilanda asmara. Rindu adalah candu asmara. Membuat sepasang kekasih ketagihan.”

Jika Beni sudah bicara seperti itu, mulutku seperti dijejali ribuan ton kapas, tidak dapat berkata apa-apa.

Selesai praktik mengajar lapangan, cinta Beni kandas di tengah jalan. Pacarnya menggunting ikatan cintanya. Alasannya orangtua si gadis minta anaknya fokus sekolah saja. Tidak ada pacaran apalagi dengan lelaki yang usianya terpaut jauh. Beni tidak terima alasan ini. Kepalanya jungkir balik agar tali asmara yang putus tersambung lagi.

Namun karang tetap kokoh. Tidak bergerak sedikit pun. Beni patah hati. Akibatnya sangat fatal. Beni seperti layangan putus. Terombang-ambing dimainkan angin. Hatinya perih disayat pisau paling tajam di dunia. Siang malam tubuhnya gelisah dimakan kisah cintanya yang kandas. Aku kembali mengingatkan agar dia kembali fokus pada kuliahnya. Jawaban dari mulutnya beda-beda tipis seperti pada saat dia jatuh cinta.

“Kamu tidak pernah merasakan bagaimana perasaan orang patah hati di tusuk asmara. Benar kata Meggy Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.”

Aku tersenyum mendengar jawaban sahabatku. Apakah orang terkena demam asmara separah itu?

Di tempat kerja aku mengenal perempuan cantik bernama Rismawati. Nama yang sama dengan perempuan yang dibilang Mbak Rosa dan Beni mencintaiku. Bedanya Wati, aku panggil saja begitu, bila disandingkan dengan Risma tubuhnya lebih pendek, kulit putih, dan rambut ikal sebahu.

Aku lebih mengenalnya karena setiap hari bertatap muka dengannya. Meja kerjanya tidak terlalu jauh dari mejaku. Kami satu departemen, satu atasan. Dan kami sama-sama bekerja di bawah tekanan. Merasa sama-sama menderita, kami menjadi lengket. Masalahku adalah masalah dia, demikian pula sebaliknya.

Karena tidak ada jarak, diam-diam aku ingin menanam benih cinta di balik dadanya. Namun aku malu mengungkapkannya. Apalagi telingaku menangkap desas-desus jika Wati sudah ada pemiliknya. Mulutku terkunci rapat, tidak berani menanyakan langsung padanya. Prinsipku, jalani saja dulu. Andai hatinya bukan untukku, bukankah aku masih mempunyai Risma di kos-kosan Beni?

Baca juga  Pemuda Bernama Luta

Dua purnama telah lewat. Aku mengajak Wati makan di sebuah rumah makan pinggir kota sepulang kerja. Aku ingin mengeluarkan isi hatiku padanya. Namun cuaca tidak bersahabat. Sejak melewati pagar kantor awan hitam membuntuti dari atas langit.

Hujan menyongsong kami setibanya di halaman rumah makan. Lampu-lampu dinyalakan karena hari semakin pekat. Aku memilih duduk dekat jendela sehingga dapat mengintip saat langit melemparkan butiran-butiran air ke jalan raya.

Sore yang gelap berujung duka. Dengan wajah dingin Wati mengatakan, “Saat ini aku tidak mau pacaran dulu. Biarlah kita menjadi teman saja.”

Jawaban yang tidak berbanding lurus dengan harapan yang bersarang di kepala. Harapan yang melambung meledak berujung kekecewaan. Sakit hati ini.

“Jawaban ini tidak sungguh-sungguh kan, Ris?” Aku mencoba meluruskan.

“Tidak. Aku sungguh-sungguh,” katanya tandas.

Selepas azan Magrib hujan mulai reda. Kami pulang sendiri-sendiri. Di dalam angkutan kota aku termenung, masih tidak memercayai jawaban Wati alias Rismawati.

Aku menghibur diri dengan mengunjungi kamar kosan Beni yang belakangan jarang aku kunjungi. Aku harap Risma masih ingin menaruh hatinya di balik dadaku.

Mbak Rosa yang berpapasan di pintu masuk mulutnya tidak seramai dulu. Dia tidak lagi bercerita tentang gadis cokelat yang mencintaiku. Begitu pula Risma yang selalu menebar senyum menyapaku. Wajahnya tiba-tiba menghilang.

Beni yang serius menyelesaikan tugas akhir juga tidak menyenggol-nyenggol nama gadis ber kulit cokelat itu. Aku gelisah. Mengapa semua orang mengosongkan cerita aku dan Risma di kepalanya?

Malam Minggu selepas isya aku kembali mengunjungi Beni. Tubuhku tersengat halilintar di siang bolong ketika berpapasan dengan Risma. Dia tidak sendirian. Di sampingnya seorang lelaki muda menggandeng tangannya. Napasku tiba-tiba naik.

Api cemburu menjalar ke seluruh tubuh. Risma tersenyum menyapaku. Aku membalas dengan senyum yang dipaksakan. Tiba di kamar Beni, mulutku terkunci rapat-rapat. Aku seperti kucing hitam terpojok di tempat sampah. Diam menunggu orang membuang makanan.

Baca juga  Batu Landak

“Mengapa, Sobat? Mari nikmati malam Minggu ini dengan senyuman!” Beni mengajak bicara.

Aku tidak menanggapi. Pikiran masih kusut menyaksikan perempuan harapanku bergandengan tangan dengan lelaki yang tidak aku kenal.

“Ben,” kataku setelah beberapa saat diam, “siapa lelaki yang berjalan dengan Risma?”

Beni tertawa tergelak. Dia paham isi kepalaku.

“Oh… itu! Dia pacarnya. Belum lama jadiannya. Kenapa? Cemburu?”

Beni kembali tertawa. Ingin rasanya menggampar mulutnya. Tapi apa kesalahan dia. Toh ini salahku. Hati serasa diiris pisau mendengar kabar ini. Pantas Mbak Rosa tidak menyambut penuh gairah.

Di kamar Beni aku seperti patung. Tidak banyak bicara. Mulut seperti sudah dijahit selamanya. Aku dua kali kecewa dengan perempuan yang namanya sama. Kini, dua-duanya terbang meninggalkanku.

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan! Bukankah dulu kamu bilang perempuan itu banyak? Hilang satu masih ada seribu.”

Beni mengulangi perkataanku dulu waktu dia ditinggal pacarnya. Aku tidak menimpali.

“Itulah dahsyatnya cinta. Sekarang kamu merasakannya, kan? Dulu mencibir padaku. Sekarang apa yang dulu aku rasakan kini menimpamu. Sakit hatimu belum seberapa dibanding aku dulu. Enjoy saja sobat!”

Perkataan Beni menamparku. Pelan-pelan aku sadar. Apa yang dikatakan Beni sepenuhnya benar. Diam-diam aku menertawakan diriku sendiri.

“Ben! Lebih baik kita keluar saja, yu! Kita cari nasi goreng yang paling enak daripada pusing mikirin cinta!”

“Nah! Itu baru sahabatku.”

Aku dan Beni meninggalkan kamar. Malam Minggu ini langit sangat cerah meski hatiku menderita. ***

.

.

Eli Rusli, alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Menulis cerpen dalam bahasa Indonesia dan Sunda, dimuat di beberapa surat kabar lokal.

.

Satu Nama Dua Cinta. Satu Nama Dua Cinta. Satu Nama Dua Cinta.

Loading

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!