Cerpen, Jayadi Kasto Kastari, Kedaulatan Rakyat

Risalah Pohon Duka

Risalah Pohon Duka - Cerpen Jayadi Kasto Kastari

Risalah Pohon Duka ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(2)

Cerpen Jayadi Kasto Kastari (Kedaulatan Rakyat, 27 Mei 2022)

DALAM referensi orang kampung, Wagiman dan Wagini sebenarnya tinggal berdekatan kampung, beda Rukun Tetangga (RT).

Wagiman selama ini memang dicap orang kampung tidak waras. Disebut tidak waras karena perilakunya yang tidak lazim. Meski sudah berkeluarga, pagi, siang dan malam hanya berkutat dengan burung. Tidak mau kerja, tetapi minta makan enak.

Setiap hari tidak lupa selalu bermain sendirian di kuburan/makam desa. Kesukaan Wagiman bermain burung dan bermain-main di makam sebenarnya sudah sering diingatkan warga atau tokoh kampung.

“Tidak baik lho main-main di kuburan,” komentar warga desa.

“Man, Wagiman, main itu di tanah lapang jangan di kuburan,” kata RT setempat. Wagiman saat diingatkan seperti itu tidak marah hanya cengengesan.

“He-he-he, Pak RT takut kuburan ya?” jawabnya sambil meledek dan senyam-senyum.

“Man, Wagiman di kuburan tidak elok, main di sawah sana sambil gabur burung daramu !”

“Hooooeee… orang kampung, woro-woro Pak RT takut kuburan. Jangan-jangan Pak RT takut mati? Takut ada gempa bumi lagi? Takut mati kena wabah Korona. Korona, Korona, Horeee !”

“Ooalah Man, Man, Wagiman dasar wong edan,” umpat Pak RT sambil berlalu menjauh. Wagiman hanya cengengesan dan berjoget-joget kegirangan. Wagiman memang merasa kegirangan dan menemukan kepuasan tersendiri kalau orang lain mengolok-olok perilakunya.

“Orang hidup kok takut mati?” gumannya.

“Orang waras takut gila, orang gila takut waras. Orang sakit takut mati. Orang kaya takut miskin. Orang mati hidup lagi. Hi hi hi… Ha ha ha,” katanya meracau tak karuan.

***

Omongan dan perilaku Wagiman memang aneh. Orang menyangatkan, Wagiman edan. Bagi Wagiman sebenarnya tidak mempersoalkan lagi dirinya dicap wong edan, tidak waras.

Baca juga  Makam Nyai Malinda

Sebentar, sebentar, tapi dengan Wagini, kenapa harus marah dan protes saat menyebut bagas waras? Rupanya, diam-diam selama ini, Wagiman memendam rasa dengan Wagini, saat masih remaja. Wagini berumah tangga dengan orang yang bernama Bagas. Bagas dianggap lebih waras dibandingkan Wagiman yang hanya sebagai buruh tani di desa.

Setiap menyebut kata Bagas, Wagiman sangat sensitif. Apalagi dengan menyebut bagas waras. Biarpun maksudnya berbeda, dianggap menyindir dirinya, Bagas lebih waras. Wagiman tidak waras. Padahal dalam perkembangan waktu, ucapan dan perilaku Wagiman sering dianggap tidak waras oleh kebanyakan orang di kampung.

Dulu, setelah Bagas menikahi Wagini diboyong ke kota. Setelah suaminya meninggal Wagini kembali lagi ke kampung menempati rumah orangtua yang kosong.

Selama ini, Bagas-Wagini berkeluarga tidak memiliki anak.

Hari-harinya terasa sepi. Menempati rumah orangtuanya yang telah dibangun lagi dari reruntuhan terkena gempa bumi. Kembali menempati rumah orangtuanya seperti mengingatkan peristiwa gempa bumi dengan segala duka laranya.

Pelampiasan tiap harinya menyapu jalan yang kiri kanan ditumbuhi pohon kemboja.

Pohon kemboja itu seperti risalah pohon duka. Depan rumah tinggal pohon kemboja yang sudah sangat tua. Pohon itu sudah ada ketika Wagini masih remaja.

Kenapa banyak pohon kemboja? Bagi warga di Jalan Adas Sanggrahan, yakin pada mitos, jalan menuju ke makam lebih bagus ditanami pohon kemboja.

“Pohon kemboja depan rumah ini seperti merangkum suka-duka hidupku,” ucapnya saat ditanya tetangga, kenapa dirinya mencintai pohon kemboja dengan selalu menyapu jalanan di depan rumah. “Menyapu jalan ditumbuhi pohon kemboja jadi kebahagianku,” ucapnya pada tetangga rumah. “Pohon kemboja saat gempa bumi menyelamatkan hidupku,” ujarnya.

Wagini sudah menyampu bertahun-tahun, tidak ada yang membayar. Itu menjadi kesadaran dirinya. Harum bunga kemboja yang menguar itu seperti sudah menjadi balasan atau jasa menyapu jalan. Maka tidak mengherankan setiap mengawali menyapu daun dan bunga kemboja, selalu menyelipkan bunga itu di telinga kanan.

Baca juga  Membeli Maaf

Kenapa selalu menyelipkan bunga kemboja di atas telinga kanan?

Urip kuwi kudu nengen, urip kuwi kudu ndalan,” kata Wagini spontan. Saat itu ada yang menanyakan, Wagini menjelaskan pada tetangga. Urip kudu nengen alias orang hidup harus berjalan pada kebaikan, pada jalan di kanan, jalan kebenaran. Kiri identik dengan hal-hal negatif, kanan pada kebenaran. Hidup harus pula menapaki jalan kenyataan.

Wagini sangat menyadari pula, orang sudah tua, seperti dirinya, tidak ada jalan lain kecuali jalan kanan, menuju pemakaman. Memang tidak jauh dari rumah orangtua Wagini pemakaman desa yang ditumbuhi bunga kemboja. Di kuburan itu pula Wagiman sering bermain sambil membawa burung dara.

Bahkan sesekali, Wagiman berteriak[1]teriak dan menggoda, “Dik Wagini, di sini ada pohon dan bunga kemboja lho.”

“Dik Wagini, kemari dong temani aku. Ha ha ha…”

Wagiman berandai-andai. Rasanya ingin dirinya saat ada di makam ditemani Wagini. Wagiman ingin sekali saat menerbangkan burung dara atau merpati itu dilihat langsung oleh Wagini. Burung itu terbang dan meliuk-liuk di angkasa sampai senjakala menjelang.

Bahkan Wagiman juga ingin sekali, tanpa diminta, Wagini mengambil bunga kemboja dari makam, kemudian diselipkan di atas telinga kanan Wagiman. Itu romantisme kuburan, romantisme yang aneh dan romantisme yang entah. ***

.

.

Sanggrahan, Bantul, Maret 2020 – April 2022.

*) Jayadi Kasto Kastari, Jurnalis dan Cerpenis. Cerpen ‘Wasiat Batu’ terangkum dalam ‘Perempuan Bermulut Api’ (Antologi Cerita Pendek Indonesia di Yogyakarta) terbitan Balai Bahasa Yogyakarta, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional tahun 2010. Cerpen ‘Selasa Wage’ terangkum dalam antologi cerpen ‘Mider Ing Rat’ (Proses Kreatif Cerpenis Yogyakarta) terbitan Balai Bahasa DIY terbitan Kementerian Pendidikan Kebudayaan tahun 2018.

.

Risalah Pohon Duka. Risalah Pohon Duka.

 159 total views,  3 views today

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: