Bhirawa, Cerpen, De Eka Putrakha

Tiga Lingkaran

Tiga Lingkaran - Cerpen De Eka Putrakha

Tiga Lingkaran ilustrasi Bhirawa

3.5
(2)

Cerpen De Eka Putrakha (Bhirawa, 03 Juni 2022)

SEBAGAI seorang istri sekaligus ibu bagi anak semata wayangnya, Rosma begitu mendambakan keluarga kecilnya baik-baik saja. Namun, segala harapan hanyalah sebatas harapan yang tidak kunjung didapatkannya. Siapa juga yang menginginkan jika keadaannya semakin runyam dan bahkan aneh. Tidak dapat dicerna dengan nalar manusia.

Saat ini hanya Rosma dan anak gadisnya saja yang menempati rumah semi permanen itu. Setelah ibunya, Dalimah, mengalami suatu penyakit aneh yang akhirnya merenggut nyawa perempuan enam puluh tahunan itu. Beragam tanda tanya masih bersarang di kepala Rosma. Bagaimana tidak?

Hal aneh itu baru dialaminya semenjak Amira menginjak usia empat tahun. Semula dirinya merasakan bahwa anak gadisnya itu kerab bermain sendirian di sekitar rumpun pisang pada sudut halaman rumahnya yang begitu asri.

Menyaksikan Amira berkomat kamit seakan berbicara dengan sesuatu, Rosma juga sering mendapati gambar orang-orangan botak yang digoreskan anak gadisnya itu di atas tanah dengan sebilah kayu. Ditambah lagi gumaman yang setengah berbisik keluar dari mulut kecilnya yang polos.

Harus diikhlaskannya jika takdir memang mengariskannya begitu. Namun, menerimanya bukanlah perkara yang mudah. Sebagai ibu muda, cobaan seperti ini amatlah berat bagi Rosma. Suaminya belum sempat pulang setelah sekian tahun bekerja di negeri seberang. Apalagi ditambah dengan keadaan pandemi yang terjadi di mana-mana. Beruntungnya Amira bukan anak yang cengeng, apalagi setelah dijelaskan bahwa ayahnya pergi jauh untuk bekerja dan suatu saat akan pulang ke rumah.

Rosma mesti terus mengawasi Amira. Dirinya teringat pesan ibunya agar terus mengawasi buah hatinya itu. Sekarang Rosma benar-benar mengerti alasan di balik semua itu. Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan yaitu penyebab semua itu terjadi.

“Lingkaran itu semakin besar dan terus bertambah, Rosma.”

Begitu ucap seseorang padanya dulu saat datang melayat. Ucapan yang lebih menjurus pada sebuah peringatan. Sesuatu itu akan terjadi tanpa bisa ditebak kapan waktu dan tempatnya.

Baca juga  Perempuan yang Hidup dalam Sesal

“Sepertinya ada yang tidak beres menyangkut keberadaan serumpun pisang yang sudah lama tumbuh di halaman.” Begitu batin Rosma sambil disingkapnya kain jendela guna melihat keluar. Terlihat daun-daun pisang melambai-lambai ditiup angin.

***

Rosma merasa ada hal aneh mengenai serumpun pisang di halaman. Sebab sampai sekarang dirinya belum pernah melihat pohonnya berbuah, apalagi memakan buahnya. Setelah menampakkan bakal bunga namun beberapa hari kemudian tidak kunjung berbuah. Paling-paling baru berupa putik dan beberapa hari akan menjadi kehitaman lantas mengering.

“Apa nggak ditebang saja pisang yang seperti ini, Bu?”

“Jangan!”

“Jadi untuk apa hanya sekadar tumbuh? Apa lebih baik ditebang dan diganti dengan tanaman lain. Atau jika ibu masih menginginkan tanaman pisang, bisa kita cari bibitnya yang bagus.” Terang Rosma panjang lebar. Dalimah diam tanpa menanggapi lagi.

Sebenarnya dalam hati, Dalimah membenarkan apa yang diucapkan Rosma. Namun, karena satu dan lain hal dirinya akan terus membiarkan pisang-pisang itu tumbuh subur. Hanya saja siapapun termasuk dirinya belum pernah memakan buahnya sama sekali. Dalimah mulai menyadari Rosma akan mempertanyakan hal ini.

“Selama hayat dikandung badan, kau harus tetap menjaga pisang ini tetap tumbuh!”

Perempuan paruh baya itu terkesiap. Sejenak mengingat kembali apa yang pernah dipesankan kepadanya dulu, pada masa mudanya yang nyaris terkubur. Kemudian dikuburlah janin yang dikeluarkan paksa sebelum waktunya. Sebelum terlambat, sebelum semuanya berantakan.

Dalimah melirik ke arah Rosma. Sebuah tragedi menjadi kesalahan dan berubah menjadi rahasia yang disimpannya sangat rapat. Dalam serumpun pisang itulah tertanam aib, tertanam sebuah perjanjian entah yang dirinya sendiri tidak sepenuhnya tahu. Hanya saja serumpun pisang harus terus dijaga agar tetap tumbuh. Itu saja.

“Ada apa, Bu?”

Lagi-lagi Dalimah merasa gugup. Walaupun rahasia itu disimpannya sangat rapat. Namun, hati kecilnya terus menerus dihantui rasa bersalah. Hingga di hari tuanya sekarang hal itu tidak akan hilang dari ingatannya.

“Oh. Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya sekadar mengingat bahwa pisang ini nenekmu lah yang menanamnya dulu,” jawab Dalimah mengalihkan, “oh ya, semoga kandunganmu baik-baik saja. Tidak sabar ibu ingin mengendong cucu,” sambungnya lagi.

Baca juga  Patamburu

“Semoga, Bu. Hanya saja setelah melahirkan nanti, Bang Hasan akan segera kembali ke kota. Urusan pekerjaan.”

“Tak apa Rosma, yang jelas suamimu dapat menemani saat kau bersalin nanti.”

***

Dalimah yakin betul tidak akan terjadi apa-apa seperti yang disangkakannya dulu. Rosma tumbuh dari gadis kecil dan sekarang telah memiliki anak pula. Semua berjalan normal. Dirinya merasa bahagia dengan kehadiran cucunya itu.

Namun, akhir-akhir ini atas pengaduan Rosma mengenai Amira, cucunya itu, sedikit membuatnya gusar. Selama ini tidak ada hal yang mencurigakan, untuk itulah Dalimah mengira semua akan berjalan baik-baik saja.

“Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar. Diberi pisang, diberi pisang, tak mau makan ….”

Pikiran Dalimah seakan diteror oleh nyanyian yang dulu pernah dilantunkan ibunya kala menanam pisang itu. Lebih tepatnya menanam janin yang seharusnya kakak dari Rosma. Sekarang cucunya entah tahu dari mana sering melagukan nyanyian itu kala bermain sendirian di halaman. Tidak itu saja, jemari kecilnya selalu menggoreskan sebilah kayu guna membuat gambar orang-orangan botak di atas tanah.

***

Semua seakan cepat berlalu. Setelah kepergian ibunya yang tidak wajar, batin Rosma terus dihantui kecemasan atas tingkah Amira. Sore ini dirinya tidak mendapati Amira di kamarnya. Setelah mencari ke setiap ruangan juga tidak ada. Rasa takut seakan bercampur aduk dengan kegusaran yang tidak dapat dijelaskan.

“Amiraaa …!” pekiknya semakin kalut.

“Ya, Bu.”

Tiba-tiba Rosma terperanjat mendapati anak gadisnya tengah bermain dekat rumpun pisang. Secepat kilat Rosma menariknya ke dalam rumah. Hari semakin gelap.

***

Kabar burung yang didengarnya bahwa ibunya dulu ada perjanjian yang menyebabkan semuanya terjadi. Awalnya Rosma tidak percaya sebab selama ini terlihat baik-baik saja. Pantas saja ibunya dulu bersikukuh agar tanaman pisang itu tetap tumbuh. Pasti ada sesuatu di balik ini semua, batin Rosma sambil berlari mengambil parang kemudian menuju halaman dan menebas setiap batang pisang itu. Sekelebat bayangan sempat dilihatnya melintas dengan cepat yang membuat dirinya berhenti sejenak.

Baca juga  Kyai Sepuh

Dalam keheningan itu sayup-sayup didengarnya Amira tengah menyanyikan lagu itu dari dalam rumah. Bergegas Rosma menghampiri. Terlihat kamar anaknya berantakan sementara Amira membelakanginya sambil terus menggoreskan gambar-gambar di dinding. Gambar orang-orangan botak dengan senyum lebar. Satu, dua, tiga, dan banyak, di mana-mana.

“Amira!”

Gadis kecil itu berhenti. Seperti tidak menghiraukan, dirinya kembali menggoreskan gambar-gambar yang serupa. Secepat kilat Rosma menarik tangan anaknya. Seketika itu pula Amira lemas tidak sadarkan diri.

Kehebohan yang terjadi menyebabkan beberapa orang mendekati kediaman Rosma. Dirinya menceritakan semua hal yang menimpa diri dan anaknya. Beberapa tetua membuka masa lalu Dalimah. Aib yang disimpan rapat itu mulai terbuka dan semakin menjelaskan titik terangnya.

Rosma merasa terpukul mendengarkan penjelasan itu. Keputusannya menebang semua pisang dinilai tepat. Kemudian membongkar kuburan janin yang sudah tertanam sekian tahun itu untuk kemudian dikuburkan kembali dengan layak.

Tiga lingkaran antara ibunya, dirinya serta Amira telah lenyap. Rosma berharap Amira tumbuh seperti gadis normal. Setelah kepulangan suaminya nanti, dirinya tidak akan menempati rumah ini lagi sebagai upaya membuang jauh cerita kelam masa lalunya. ***

.

.

De Eka Putrakha. Lahir 18 Mei. Profilnya dimuat dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 6” (FAM Indonesia). Berbagai tulisannya termuat di beberapa buku antologi bersama, media cetak dan online (Indonesia, Malaysia dan Brunei). Buku tunggalnya antara lain Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Merupakan pemenang 10 Resensi Terbaik—Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020 anjuran Persatuan Penyair Malaysia. Dapat disapa melalui facebook De Eka Putrakha dan instagram @deekaputrakha.

.

Tiga Lingkaran. Tiga Lingkaran. Tiga Lingkaran. Tiga Lingkaran.

Loading

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!