Cerpen, Kedaulatan Rakyat, T Agus Khaidir

Pawang Jailani Tak Pernah Datang Lagi

Pawang Jailani Tak Pernah Datang Lagi - Cerpen T Agus Chaidir

Pawang Jailani Tak Pernah Datang Lagi ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

4
(6)

Cerpen T Agus Chaidir (Kedaulatan Rakyat, 10 Juni 2022)

TIAP kali hujan turun lebat begini, kami akan mengingat Pawang Jailani.

Tak banyak yang kami tahu tentang dia. Dua tahun lalu, berawal dari ketidaksengajaan melihat selebaran iklan jasa yang ditempelkan di tiang listrik di ujung lorong, Marjili Samsuri yang hendak menghelat pesta pernikahan mendatangkannya untuk menghalau hujan.

Sebagai pawang, penampilan Jailani sungguh kurang meyakinkan. Wajahnya belia, bersih mulus cenderung berkilat seperti wajah personel boyband Korea. Sorot matanya biasa-biasa saja: tidak dingin, tidak tajam menusuk, apalagi menyiratkan kemisteriusan sebagaimana lazimnya orang-orang pintar.

Tak ada segala pernak-pernik ikat kepala, kalung, gelang, anting, atau cincin batu akik. Cara kerjanya juga berbeda. Tak ada lidi, tak ada ijuk, batang bambu, rokok, dupa, lilin, pedang, jeruk purut, pisang, kemenyan, atau darah ayam hitam. Tak ada upacara dan pembacaan mantra-mantra.

Di hari pernikahan Marjili, tatkala langit mulai ditutupi awan pekat dan angin bertiup kencang ditimpali sekali dua kali sambaran kilat, Jailani hanya berdiri menengadah. Matanya terpejam dan tangannya membentang lebar. Hanya begitu, dan langit yang gelap pelan-pelan kembali cerah.

Tuntas dengan Marjili, berturut-turut dia didapuk mengawal hujan di pesta sunatan keponakan Anwar Sadat, hajatan naik pangkat Abdul Majid, perayaan ulang tahun emas pernikahan Zainuddin Tambi dan Laila Habsah, selamatan masuk rumah baru sekaligus pembukaan kedai kelontong milik Tamsil Kalimaya, serta kenduri demokrasi yang mengantarkan Leman Dogol menjadi kepala lorong untuk ketiga kali.

Hujan memang tidak turun, dan kami yang didera penasaran akhirnya tak tahan melempar tanya. Apa yang dilakukannya saat menengadah dengan mata terpejam dan tangan membentang lebar itu? Apakah dia berdoa?

Baca juga  Kali Pertama Aku Menangis

“Saya bermohon kepada Tuan Israfil,” jawabnya.

Kami terperangah. Jailani tertawa. Siapa lagi, katanya—dialah yang diberi kuasa oleh Allah atas segala angin dan hujan. Namun menurut Jailani pula, hujan-hujan itu sebenarnya tidak pernah batal turun.

“Ini takdir Tuhan. Artinya, kalau takdirnya turun, ya, turun, begitu sebaliknya. Tak dapat dicegah, tapi bisa dipindahkan.”

Tentu ada yang percaya ada yang tidak. Namun seperti yang kerap terjadi di negeri terkasih ini, kemudian ada saja kedengkian merayap. Kasak-kusuk terdengar Jailani memindahkan hujan dengan ilmu hitam.

“Malaikat omong kosong! Aku lebih percaya dia pengabdi setan,” kata seseorang dalam rapat warga yang digelar setelah Leman Dogol melihat situasi di lingkungan kami sudah tak kondusif lagi.

“Sesat!” ujar yang lain menimpali.

“Kalau saya, lebih baik kebanjiran seumur-umur daripada ikut jadi sesat. Neraka ganjarannya. Betul tidak, saudara-saudara?”

“Betuuulll!”

“Kalau pawang sesat itu datang, kita usir dia.”

“Kalau dia macam-macam, hajar!”

Ternyata Pawang Jailani tak pernah datang lagi. Seiring itu lorong kami dan lorong-lorong lain di lingkungan sekitar mulai sering diguyur hujan. Mulanya kami mengira ini perkara lazim belaka. Kami baru sadar ada yang tidak beres setelah hujan turun berhari-hari sementara di kawasan lain kering sama sekali.

Fenomena ini membuat lorong-lorong di lingkungan kami jadi pusat perhatian. Ahli-ahli cuaca dan ilmuwan dalam dan luar negeri datang. Pastinya juga ada wartawan.

Laporan yang mereka tulis berdasarkan pandangan mata dan mengutip pernyataan para ahli cuaca dan ilmuwan itu menyebut hujan yang turun tak henti-henti merupakan peristiwa alam ekstrem.

Mereka memang tidak pernah tahu perihal Pawang Jailani. Kami sengaja menutupinya rapat-rapat. Tak boleh ada yang tahu. Kami sepakat menyelesaikan sendiri persoalan ini. Namun, di mana kami bisa menemukan dia?

Baca juga  Percakapan di Warung Kopi

Nomor telepon selularnya tak lagi bernada sambung. Jailani pernah memberi alamat. Kami mendatanginya dan cuma mendapati rumah kosong yang dinding-dindingnya sudah separuh roboh dengan pekarangan berbelukar hingga setinggi pinggang. Dua tiga warga sekitar bilang rumah ini sebelumnya dihuni seorang lelaki dengan ciri mirip Jailani, tapi tak ada yang tahu ke mana dia pergi.

***

NUN di satu tempat, seorang lelaki berdiri di bawah langit yang tertutup gumpalan awan yang bergulung-gulung pekat. Angin menderu. Kilat berkerejaban ditimpali suara petir bersahutan. Ia menengadah, memejamkan mata, membentangkan tangannya. Tak berselang lama, langit berubah cerah. Orang-orang yang berkerumun bertepuk tangan riuh dan menatapnya penuh kekaguman. ***

.

.

Medan, 2022

*) T Agus Khaidir. Lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 4 Februari 1977. Menulis beberapa puluh cerpen yang sebagian besar telah tersebar dan dimuat di berbagai media cetak, daring, maupun sejumlah buku antologi bersama. Tinggal di Medan dan hingga saat ini masih bekerja sebagai wartawan.

.

Pawang Jailani Tak Pernah Datang Lagi

 160 total views,  4 views today

Average rating 4 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: