Cerita Anak, Kedaulatan Rakyat, Salsabila Zahratusysyita

Fara dan Belang

Fara dan Belang - Oleh Endang S Sulistiya

Fara dan Belang ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

0
()

Oleh Salsabila Zahratusysyita (Kedaulatan Rakyat, 10 Juni 2022)

SETIAP pulang sekolah, Fara suka bermain di rumah Kak Rena, tetangga yang juga sepupunya. Di sana, ia suka bermain dengan kucing Kak Rena yang lucuc-lucu. Ada Abu, Siteng, dan Belang yang beberapa bulan lalu baru lahir.

“Ayo, main, Abu, Siteng, Belang,” ujar Fara sambil menggelindingkan bola.

Abu dan Siteng langsung sigap berlari mengejar bola. Sedangkan Belang hanya melihat saja.

“Kenapa Belang tidak ikut rebutan bola Fara?” tanya Wafa, teman sekolah Fara, yang ikut main ke rumah Kak Rena, karena penasaran dengan kucing-kucing Kak Rena yang suka diceritakan Fara di sekolah.

“Oohh… itu. Mungkin karena badan Belang paling kecil, paling kurus dan kurang lincah dibanding yang lain. Jadi ia tak ikut rebutan bola karena sering kalah,” jawab Fara.

Wafa mengangguk-angguk. Ia lalu menghampiri Belang yang hanya menonton saja. Melihat ada orang asing yang menghampiri, Belang takut dan langsung bersembunyi di bawah kursi. Wafa berhati-hati mendekatinya. Dipanggilnya Belang dengan suara lembut, diulurkan tangannya ke bawah kursi dan dielus-elusnya kepala Belang.

“Ngeong….” Belang bersuara. Ia perlahan keluar menuju Wafa. Wafa menyambutnya dengan tersenyum senang, lalu mengajaknya bermain bersama.

Keesokan harinya, seperti biasa, sepulang sekolah, Fara selalu bermain ke tempatnya Kak Rena. Dan alangkah terkejutnya ia ketika tahu bahwa Belang tak ada. Dan lebih terkejut lagi ketika ia tahu bahwa Belang tak ada karena telah diadopsi oleh Wafa.

“Kok Kak Rena membolehkan?” tanya Fara dengan alis bertaut.

“Iya, soalnya kucing Kakak sudah banyak. Ada lima belas ekor. Kakak pikir, tak ada salahnya jika Kakak menyerahkannya satu pada Wafa. Lagipula Kakak lihat, Wafa sayang pada Belang, dan Belang juga nyaman dengan Wafa. Jadi Kakak percaya sama dia,” balas Kak Rena.

Baca juga  Tubuh Kurus

Fara cemberut. Sebenarnya ia ingin protes pada Kak Rena. Kenapa harus Belang? Kan masih banyak kucing lain. Tapi, mengingat itu adalah kucing Kak Rena sendiri, bukan kucing Fara, Fara jadi mengurungkannya.

Di rumah, Fara kesal pada papa. Dulu, Fara sempat mau mengadopsi Belang, kucing pemalu dan menggemaskan, tapi papa tak membolehkannya. Alasannya papa tak suka dengan hewan yang berkeliaran di rumah dan juga tak nyaman dengan bulu-bulunya yang bisa menempel di mana saja.

“Siapa tahu, dengan Belang yang menjadi kucing satu-satunya di rumah Wafa, Belang jadi bisa lebih gemuk karena tak kalah rebutan makanan dengan yang lain, dan juga lebih ceria karena dapat perhatian sepenuhnva dari Wafa,” ucap papa.

Fara menyilangkan kedua tangan di dada. Meski ada benarnya juga kata papa. Tapi hati Fara masih tak rela.

“Tahu gini, aku tak mengajak Wafa ke rumahnya Kak Rena kemarin,” kesalnya.

Selepas kepergian Belang, Fara jadi sering termenung. Di sekolah, ia jadi suka cemberut, apalagi ketika bertemu dengan Wafa. Di rumah Kak Rena, ia merasa ada yang kurang tanpa adanya Belang yang pendiam dan kalem. Di rumah, ketika tidur, Fara sering bermimipi tentang Belang. Sepertinya, Fara benar-benar kehilangan.

“Fara, yuk kita menengok Belang. Kak Rena dengar, sekarang Belang jadi lebih gemuk dan menggemaskan,” ajak Kak Rena di suatu sore.

Fara menatap Kak Rena dengan pandangan bingung. Sebenarnya ia ingin, tapi ia masih marah sama Wafa.

“Ayo….” ajak Kak Rena lagi sambil menarik lengan Fara. Mau tak mau, karena kerinduannya pada Belang, akhirnya Fara luluh juga. Sesampainya di rumah Wafa, Kak Rena dan Fara mengucapkan salam. Salam itu dijawab si empunya rumah dengan membawa kucing yang dirindukan Fara.

Baca juga  Hutan Air Mata

“Belang!” pekik Fara gembira.

“Ngeong…,” Belang tak kalah gembira melihat siapa yang datang. Ia langsung lompat menuju Fara dan Kak Rena.

“Belang, kamu lucu sekali! Badanmu bersih, tubuhmu gemuk. Dan sekarang, kamu juga punya kalung. Ih, tambah ganteng!” puji Fara.

Dipuji seperti itu, Belang makin mengeong-ngeong manja.

“Iya dong. Di sini kan, Belang rutin mandi. Makannya banyak dan sering tak ajak main, jadi ia lebih ceria dan ganteng,” jawab Wafa.

“Wah, terimakasih Wafa, telah merawat Belang dengan sangat baik,” ujar Kak Rena.

“Sama-sama, Kak.”

“Iya! Tapi Belang ini penakut dan pemalu! Jangan asal kau ajak main. Apalagi sama teman-temanmu yang tak mau diam dan banyak tingkahnya itu! Nanti dia jadi lari dan takut,” kata Fara.

“Tenaaaang. Insyaallah Belang aman. Ada Wafa di sini,” ujar Wafa sambil menepuk dada kirinya.

Fara hanya menyengir saja.

Setelah mengobrol banyak tentang Belang. Kini saatnya mereka bermain bersama. Belang dengan senang hati bermain bola bersama Kak Rena, Fara, dan Wafa. Ia berlari, melompat, dan lincah mengejar bola. Setelah agak lama bermain, mereka beristirahat sebentar, dan tak lama kemudian Kak Rena dan Fara pamit pulang.

Tapi sebelum beranjak pergi. Fara meninta maaf kepada Wafa dan Kak Rena karena telah marah selama beberapa hari karena Belang. Wafa dan Kak Rena dengan senang hati memaafkan.

“Tidak apa-apa. Kak Rena juga minta maaf, karena saya tak tahu jika Fara sesayang itu dengan Belang.”

“Iya Wafa juga minta maaf, karena meminta Belang tanpa bicara dulu sama Fara,” ujar Wafa.

Fara mengangguk. Meski sedih, tapi Fara juga senang karena Belang bisa hidup dengan baik di tempatnya Wafa. Sebelum berpisah, mereka lalu berjanji untuk saling mengunjungi rumah masing-masing dengan kucing kesayangan. Wafa membawa Belang ke rumah Kak Rena. Dan juga gantian Kak Rena dan Fara yang membawa Abu dan Siteng untuk nanti bermain bersama. ***

Baca juga  Kedatangan Renggali

.

.

Pengirim: Salsabila Z. Tinggal di Jepara, penyuka cerita-cerita anak.

.

.

 119 total views,  3 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: