Kedaulatan Rakyat, Naning Scheid, Puisi

BILA KAUMAU, AKU BISA

BILA KAUMAU, AKU BISA - Puisi-puisi Naning Scheid

BILA KAUMAU, AKU BISA ilustrasi Istimewa

5
(11)

Puisi-puisi Naning Scheid (Kedaulatan Rakyat, 10 Juni 2022)

LARUNG

.

Seperti air bandang melarung daun,

seperti itu mimpiku hanyut

mengambang tiada arah

terdampar di senyap sudut

.

Pada airmu, kuteguk asin kekecewaan

hasrat yang pernah muncrat

hanya sekelebat nikmat:

cinta kugadang, cinta menghilang

.

Waktu membusuk, aku melapuk

O, secepat itu aku kuyup,

secepat itu cintamu redup

.

Kini aku daun mati

dan pada palung laut

aku mengubur diri.

.

Brussel, Mei 2022

.

.

.

BILA KAUMAU, AKU BISA

.

Bila kaumau, aku bisa menjadi tanah,

menyerap airmu

menumbuh pohon & buah

.

Bila kaumau, aku bisa menjadi kayu

demi apimu

menjelma abu & debu

.

Bila kaumau, aku bisa menjadi air / udara

bulan / galaksi / planet / matahari

rumah / ranjang / melodi / puisi

.

Bila kaumau, aku bisa menjadi apa saja!

Tapi, bila kautakmau

: aku bisa apa?

.

Brussel, Mei 2022

.

.

.

YANG TERKUTUK

.

Malaikat telah pergi.

Meninggalkanku di pinggir pantai janji surgawi

aku sekarat

sendiri.

.

“O, beri aku cahaya, beri aku aroma surga,

beri aku gema illahi, beri aku cinta!”

tapi

takada yang mendengar,

takada yang peduli.

.

Seperti itu pula kau

yang larut dalam keagunganmu

terlalu kudus

terlalu mulia

untuk menerima

ketulusan cinta

dari Iblis sepertiku.

.

Lalu dengan mulut sucimu

: kauludahi persembahanku!

.

Brussel, Mei 2022

.

.

.

BIARKAN AKU MENCINTAIMU SEPERTI PECUNDANG

.

Biarkan aku mencintaimu seperti pecundang

dengan kebisuan yang diucap sunyi kepada ruang

yang menjadikannya hampa

.

Biarkan aku mencintaimu seperti pecundang

dengan isyarat yang disampaikan nyala

kepada angin

yang membuatnya padam

.

Biarkan aku mencintaimu seperti pecundang

dengan hasrat yang diungkap bebatuan

kepada ombak

yang menjadikannya pasir

.

Seperti pecundang, biarkan aku menyetubuhi delusi,

membangun kuil kesenyapan bertahta kemandulan cinta,

Baca juga  Mengintip Pedofilia dalam Novel

tempat keheninganku padamu

: kekal selamanya!

.

Brussel, Mei 2022

.

.

*) Naning Scheid, lahir di Semarang, 5 Juni. Penulis, penerjemah, dan pemain teater berkebangsaan Indonesia yang menetap di Brussel, Belgia. Aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan di Belgia dan beberapa komunitas sastra di Indonesia. Bukunya: ‘Melankolia – Puisi dalam Lima Bahasa’ (2020), ‘Novela Miss Gawky’ (2020), ‘Fable Jean de La Fontaine: Edisi Dua Bahasa Prancis-Indonesia’(2021), segera terbit: ‘Les Fleurs du Mal: Edisi Dua Bahasa Prancis-Indonesia’(2022), ‘Bunga-Bunga Iblis’ (2022), ‘Mengurai Les Fleurs du Mal karya Charles Baudelaire’ (2022). Karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai terbit di media cetak dan daring.

.

.

 435 total views,  1 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!