Cerpen, Pikiran Rakyat, YOFFIE CAHYA

Lelaki Tua Pejalan Kaki

Lelaki Tua Pejalan Kaki - Cerpen Yoffie Cahya

Lelaki Tua Pejalan Kaki ilustrasi Adhimas Prasetyo/Pikiran Rakyat

0
(0)

Cerpen Yoffie Cahya (Pikiran Rakyat, 11 Juni 2022)

DI kampung di mana ia tinggal, sejak beberapa tahun terakhir, Pak Kabul mendapat julukan: “Lelaki Tua Pejalan Kaki”. Julukan itu diberikan oleh Andri, seorang mahasiswa Fakultas Sastra. Ia terinspirasi oleh judul cerita pendek “Lelaki Tua dan Laut”, sebuah cerpen terjemahan Trisnoyuwono dari judul asli “The Old Man and The Sea” karya Ernest Hemingway.

Sejak usia 23 tahun ke mana-mana, Pak Kabul memang selalu berjalan kaki. Ia sudah tidak punya nyali untuk mengendarai sepeda motor atau sepeda sekali pun. Ia mempunyai riwayat trauma sejak mengalami kecelakaan yang hampir merenggut jiwanya, 47 tahun yang lalu.

Waktu itu Kabul muda mengendarai sepeda motor temannya dengan kecepatan tinggi. Ia menuju sebuah kampung untuk memberi tahu pamannya bahwa salah seorang bibinya meninggal dunia.

Di jalan yang menurun mendekati sebuah jembatan, ia melihat seorang perempuan yang memberi isyarat agar ia menghentikan kendaraannya. Namun Kabul bukan menginjak rem, malah tanpa sadar menancap gas hingga ia tak dapat mengendalikan sepeda motornya.

Dalam kecepatan yang sangat tinggi, Kabul dan sepeda motornya menabrak pagar jembatan. Tiga orang pemuda yang sedang duduk di pagar jembatan itu terpental dan berhamburan ke jalan aspal. Orang-orang di sekitar TKP segera memberikan pertolongan, membawa Kabul dan ketiga pemuda itu ke rumah sakit.

Dua hari Kabul mengalami koma di ruang UGD, dan baru pada hari yang ketiga ia sadar dan mengetahui apa yang terjadi.

Salah seorang dari ketiga pemuda korban kecelakaan itu meninggal dunia karena luka di kakinya terpapar tetanus. Beruntung, Kabul tidak sampai berurusan dengan hukum karena keluarga kedua pihak sepakat menyelesaikan perkara secara damai dan kekeluargaan. Kabul merasa bersyukur, dan sejak itulah Kabul ke mana-mana selalu berjalan kaki.

***

PAK Kabul berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya hanya mampu menyekolahkan Pak Kabul sampai SMP. Lulus SMP Pak Kabul harus mencari nafkah dengan menjadi pedagang asongan. Profesi sebagai pedagang asongan ini terus dijalani Pak Kabul sampai dewasa dan berumah tangga.

Baca juga  Mata Sayu Itu Bercerita

Sampai punya anak tiga, ekonomi keluarga Pak Kabul masih tetap memprihatinkan, meskipun istrinya ikut membantu dengan berjualan kue-kue keliling kampung.

Kendati demikian, Pak Kabul tetap tabah dan rajin menjalankan salat lima waktu, tahajud, berpuasa wajib dan sunah. Ia terus berdoa agar nasib keluarganya bisa menjadi lebih baik, diringankan dari berbagai kesulitan.

Ketika lahir anaknya yang keempat, Pak Kabul berdoa agar anaknya ini bisa membawa keberuntungan. Ia tersenyum sendiri ketika menemukan sebuah nama untuk diberikan kepada anaknya, yaitu Sugandi.

Jika di belakangnya adalah nama ayah, tentu nama lengkapnya: Sugandi Kabul. Ini berarti, semoga doanya dikabulkan Allah swt, sebab kata “sugan” dalam bahasa Sunda berarti semoga atau mudah-mudahan. Diam-diam Pak Kabul merasa pas dalam memberi nama kepada anaknya yang keempat atau yang bungsu ini.

***

ALLAH Maha Pengasih dan Penyayang. Kendati menempuh waktu yang sangat panjang, doa Pak Kabul terkabul. Sugandi tumbuh menjadi anak yang cerdas. Oleh seorang bapak angkat di kampungnya, Sugandi terus disekolahkan sampai lulus kuliah dan mendapat gelar sarjana. Lebih dari itu, Sugandi langsung mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan di Jakarta, dengan posisi penting dan gaji cukup besar.

Sugandi yang belum berkeluarga, setiap bulan rutin mengirim sejumlah uang buat keluarga. Pak Kabul yang sudah berusia senja, sudah tidak lagi berdagang asongan karena kondisi fisiknya memang sudah tidak memungkinkan.

Kini ia dapat menikmati hari tuanya dengan kiriman uang setiap bulan dari Sugandi, dan istrinya masih tetap berkeliling menjajakan kue-kue. Ketiga anaknya yang terdahulu sudah berumah tangga dan tinggal di kota-kota lain. Keadaan ekonomi mereka hanya pas-pasan.

Sugandi memang anak yang baik. Ia tidak sekadar mengirim uang tiap bulan, tapi jika mendapat cuti atau libur, selalu menyempatkan diri menemui kedua orang tuanya.

Baca juga  BELAJAR MEMASAK

Menginap sehari atau dua hari melepaskan kerinduan. Jika sempat, Sugandi menemui kakak-kakaknya dengan memberi bantuan keuangan kepada mereka.

Kebiasaan Sugandi jika menengok orang tua, selalu lebih dulu mengajak Pak Kabul makan malam di rumah makan Mina. Pak Kabul menjemput atau menunggu di depan rumah makan itu.

Sugandi akan datang pada hari dan waktu yang sudah ditentukan. Sugandi selalu datang dengan mobil taksi. Begitu kebiasaan Sugandi jika pulang menengok orang tua beberapa tahun terakhir ini.

***

DAN begitulah, malam itu, beberapa hari menjelang bulan suci Ramadan, Pak Kabul berjalan kaki menuju rumah makan Mina. Lewat handphone, Sugandi memberi tahu bahwa ia akan sampai di rumah makan itu sekira pukul sebelas malam.

Baru pukul sepuluh malam lebih sepuluh menit, Pak Kabul seperti biasa menunggu di pangkalan ojek, sekira berjarak 50 meter dari rumah makan itu. Ia mengobrol dulu dengan Parman dan Nurdin, tetangga dekatnya, tukang ojek yang mangkal di tempat itu.

“Mau menjemput Sugandi, Pak?” tanya Parman.

“Ya, katanya ia akan datang pukul sebelasan,” jawab Pak Kabul.

“Sugandi sudah sukses ya, Pak?” tanya Nurdin.

“Ya, alhamdulillah… sudah bisa bantu orang tua,” suara Pak Kabul terdengar merendah.

Mereka mengobrol cukup lama sambil minum kopi, sampai kemudian Pak Kabul melihat sebuah taksi berhenti di depan rumah makan Mina.

“Itu dia!”Pak Kabul setengah berteriak, lalu setengah berlari bergegas menuju rumah makan itu. Malang bagi Pak Kabul, ia terpeleset dan hampir jatuh. Badannya terhuyung-huyung agak ke tengah jalan. Sebuah mobil Avanza menyeruduknya dari belakang hingga tubuh Pak Kabul terpental cukup jauh. Parman dan Nurdin segera memberi pertolongan.

Orang-orang di sekitar TKP segera berlari mengejar mobil yang menabrak Pak Kabul. Mobil itu perlahan berbalik arah, terdengar suara sang sopir yang membuka jendela mobilnya: “Tenang, tenang, saya tidak akan lari, saya akan menyerahkan diri ke kantor polisi!”

Baca juga  Inem

Parman dan Nurdin segera memasukkan tubuh Pak Kabul ke sebuah mobil angkot untuk dibawa ke rumah sakit.

“Kamu ke kantor polisi saja, ikuti sopir mobil itu, biar aku yang bawa Pak Kabul ke rumah sakit!” kata Parman seperti memberi perintah. Nurdin mengangguk dan segera berangkat ke kantor polisi.

Di rumah sakit, di ruang UGD, nyawa Pak Kabul tak tertolong. Kepalanya banyak mengeluarkan darah.

Di kantor polisi, Nurdin duduk di ruang tunggu. Handphone-nya berdering, ternyata Parman yang memanggil. Nurdin segera mengangkat handphone-nya.

Hallo, Man… bagaimana kondisi Pak Kabul?” tanya Nurdin.

“Sudah meninggal…..”

Innalillahi wa innailaihirojiun…”

“Kamu bilang sama Pak Polisi dan sopir itu, bahwa korban sudah meninggal di rumah sakit. Terus kamu ke rumah makan Mina. Ceritakan dengan tenang kepada Sugandi apa yang terjadi supaya ia tidak syok.”

Oke, siap, Man… siap!”

Setelah menunggu beberapa saat, Nurdin melihat pintu kantor polisi itu terbuka. Sopir Avanza itu keluar dengan langkah gontai dan wajah murung. Nurdin terperangah, ia seperti terkesima karena orang itu adalah… Sugandi! ***

.

.

Kadipaten, 24 Januari 2022

Yoffie Cahya, lahir di Kadipaten, Majalengka, 26 Oktober. Menulis puisi, cerpen, esei dan artikel di media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpennya yang terbaru: Catatan Seorang Mantan Anggota KAPPI (dalam proses untuk diterbitkan oleh Pustaka Kemucen, Cijati, Majalengka).

.

Lelaki Tua Pejalan Kaki. Lelaki Tua Pejalan Kaki.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!