Cerpen, Kiki Sulistyo, Koran Tempo

Mereka Menikah di Kolong Jembatan

Mereka Menikah di Kolong Jembatan - Cerpen Kiki Sulistyo

Mereka Menikah di Kolong Jembatan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

1.8
(6)

Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 19 Juni 2022)

DAMAYANTI baru sadar bahwa ia punya telepon rumah. Maka ia menelepon ke kantor Abidin dan berkata: “Kemarilah. Sesuatu yang aneh akan terjadi.”

Menjelang petang, Abidin mengendarai Binter Merzy yang ia pinjam dari temannya. Tadi ia mau langsung ke rumah Damayanti pada jam istirahat, tapi khawatir tak punya cukup waktu. Lagi pula pemilik Binter Merzy pergi makan siang di suatu tempat yang tak diketahuinya.

“Kalian rujuk?” tanya temannya setelah Abidin bilang mau pinjam motor untuk dipakai ke rumah Damayanti.

“Bukan. Ia mau menunjukkan sesuatu yang aneh.”

“Sesuatu yang aneh? Boleh aku ikut?”

“Tenang. Motormu tidak akan kujual.”

“Bukan begitu maksudku.”

“Boleh atau tidak?”

Binter Merzy meluncur. Melewati pertokoan, jembatan yang di bawahnya sungai kecil menjalar bagai hewan berlendir, simpang kota dengan bioskop tua—di mana Abidin sempat berhenti, melihat poster film yang sedang diputar—juga pasar sore yang kusam dan menguarkan bau penderitaan. Langit memuncratkan suasana yang rawan, seperti akan ada perpisahan. Perumpamaan yang kasip bagi Abidin, sebab ia sudah berpisah dengan Damayanti. Meski sekarang mereka akan bertemu kembali, itu sudah pasti untuk berpisah lagi.

Di telepon tadi Abidin bertanya: “Adakah yang lebih aneh dari kita?”

“Semua pernikahan di dunia ini sama anehnya. Bahkan, kalau tidak ada anehnya mereka akan berkata: ‘aneh ya’?”

Abidin diam. Damayanti melanjutkan: “Apa yang mau kutunjukkan ini kujamin tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Jadi segeralah kemari. Oh ya, aku meneleponmu dari rumah.”

“Oh, bukan telepon umum? Sejak kapan kau punya telepon?”

“Ini rumahku yang baru. Ah, sebetulnya rumah dinas ayahku. Perumahan Dinas Kehutanan. Kau tahu, kan?”

Meski pernikahannya dengan Damayanti tak diketahui oleh orangtua masing-masing, Perumahan Dinas Kehutanan sudah dijelajahi Abidin semenjak ia masih kecil. Bahkan pernah diam-diam ia menyangka perumahan itulah yang disebut hutan. Bersama gerombolan bocah lain, ia kerap masuk ke perumahan itu, tanpa tujuan yang jelas. Para bocah memang tak pernah punya tujuan yang jelas, dan mereka sering salah sangka. Mungkin karena itu mereka bisa cepat berbahagia.

Di depan gerbang rumah nomor 32, Abidin berhenti. Ia baru memarkir motor ketika pintu rumah dibuka. Rumah dengan cat abu-abu, lubang angin bundar, jendela daun ganda, beranda kecil yang bersih dengan sepasang kursi tali, dan sepetak halaman tempat tumbuh pohon-pohon hias. Damayanti melambaikan tangan. Wajahnya ceria.

Mereka menikah bukan di Kantor Urusan Agama. Bukan pula di rumah ibadah dengan disaksikan oleh anggota keluarga. Mereka menikah di kolong jembatan, dengan Yanus sebagai satu-satunya saksi. Waktu itu ketiganya masih sekolah di SMKK. Gagasan soal pernikahan itu disampaikan Yanus setelah mereka bertiga melihat seorang laki-laki yang setiap sore berjalan mengelilingi kota bersama anak perempuannya. Laki-laki itu menarik gerobak. Anak perempuan itu menumpang ketika gerobak itu belum terisi, dan berjalan di sisi bapaknya ketika gerobak penuh dengan barang-barang rongsokan. Anak perempuan itu membawa seikat lonceng kecil yang bergemerincing setiap kali ia menggerakkan tangannya.

Baca juga  Sentimental Journey

Suatu ketika Damayanti menyapa anak itu, menawarkan es potong, dan mengajaknya bersepeda. Sejak itu mereka bertiga kerap bersepeda mengiringinya. Mereka bahkan mengikuti laki-laki dan anak perempuannya itu pulang. Mereka baru tahu, laki-laki dan anak perempuannya itu tinggal di kolong jembatan. Sejak tahu keluarga itu tinggal di kolong jembatan, mereka tak lagi mengiringinya. Namun, setiap hari Minggu mereka datang berkunjung. Lama-lama mereka tampak seperti sanak-saudara yang sedang piknik.

Sampai kemudian, laki-laki dan anak perempuannya itu menghilang. Pada hari itu, trio SMKK termenung, menatap air kali yang keruh, seakan-akan di sana dapat tersingkap rahasia ke mana perginya keluarga mereka. Seminggu kemudian, Yanus menikahkan Abidin dan Damayanti, persis di bekas tempat tinggal laki-laki dan anak perempuannya. Mereka bertiga menyelenggarakan resepsi dengan hidangan amplang kacang dan es potong.

“Motormu bagus,” kata Damayanti setelah mereka masuk. Suasana agak remang disebabkan oleh sayap petang telah terbentang.

“Itu motornya Yanus,” jawab Abidin. Ia berdiri saja seraya memperhatikan seisi ruangan. Satu set kursi sofa mengelilingi meja kayu dengan taplak berenda. Selembar tirai kuning membatasi ruangan itu dengan ruangan dalam. Di dinding tak ada apa-apa, kecuali potret Soeharto dan Umar Wirahadikusumah.

“Seharusnya ada burung garuda di tengah-tengahnya,” kata Abidin.

Damayanti menoleh, menatap dinding sejenak, lantas bertanya: “Apakah Yanus sudah menikah?”

“Belum. Kupikir ia jatuh cinta kepada Asila.”

“Bocah itu? Kita tidak pernah membicarakannya.”

“Yanus yang paling sedih ketika mereka menghilang. Tidakkah kau merasakannya? Ah, kau memang bukan orang yang perasa.”

“Kenapa berkata seperti itu? Aku menangis ketika kita berpisah.”

“Kau menangis bukan karena kita. Tapi karena kau akan meninggalkan sekolah. Kau tidak ikut konvoi kan? Tidak ikut corat-coret seragam?”

“Itu karena ayahku melarang. Kenapa kau tidak mengajak Yanus?”

Damayanti duduk. Abidin masih berdiri. Dari ruang dalam terdengar suara orang bersiul.

“Duduklah,” kata Damayanti.

“Ayahmu di sini?” tanya Abidin.

Damayanti diam.

Setelah pernikahan itu, setiap hari Minggu mereka bertiga masih berkumpul di kolong jembatan. Bekas bangunan yang ditinggalkan keluarga pemulung menjadi rumah mereka. Tentu itu bukan rumah sesungguhnya, cuma bangunan yang disusun dari kayu sisa, terpal kumal, lembar-lembar kardus, serta kain-kain gombal. Kadang mereka masih berkeliling kota dengan harapan dapat menemukan kembali Asila. Mereka sering melihat sosok Asila dan bapaknya di suatu tempat yang agak jauh, tapi saat akan dihampiri, sosok-sosok itu selalu menghilang kembali.

Baca juga  Apakah Ia Harus Mengunci Pintu?

Selepas SMKK, Abidin dan Damayanti berpisah. Sebagaimana saat mereka menikah, Yanus pula yang menjadi saksi perpisahan itu. Perpisahan mereka juga diresmikan di kolong jembatan. Damayanti melanjutkan kuliah ke Bogor. Abidin dan Yanus tetap tinggal, melanjutkan belajar akuntansi. Mereka sering saling berkirim surat. Namun, surat Damayanti selalu ditujukan kepada Yanus, dan setiap kali Abidin hendak mengirim surat ke Damayanti, surat itu selalu ditulis atas nama Yanus.

“Ayo, duduk dulu,” ucap Damayanti.

Abidin duduk. Damayanti berdiri dan beranjak ke ruang dalam. Di luar, azan bergulung-gulung dari pengeras suara, memenuhi udara di bawah langit yang suram warnanya. Sesekali terdengar bunyi sandal yang basah, terangkat dan terpijak dengan cepat ke tanah, menandakan langkah yang bergegas. Damayanti keluar lagi, membawa makanan. Abidin tak memperhatikan. Ia menatap dinding dan berkata: “Sebentar lagi potret itu harus diganti.”

“Keduanya?” tanya Damayanti.

Abidin menoleh, menatap Damayanti, dan tersenyum. “Tentu tidak. Satu saja. Kau akan mencoblos nomor 2?”

“Kamu tahu aku anak yang berbakti,” tukas Damayanti. “Kamu juga kan?”

Abidin mau menjawab tapi tak jadi, pandangannya sudah terbentur hidangan di meja. Tiga tusuk es potong, dan sepiring amplang kacang. Abidin kembali menatap Damayanti. Alis gadis muda itu melengkung seperti payung parasut, bulu matanya halus, nyaris kasat. Sepasang matanya bercahaya, menandakan gairah dan pertumbuhan. Pipinya mulus, tidak tirus, membantu pembentukan sempurna dagu kecilnya.

“Apa maksud semua ini?” tanya Abidin.

Bibir Damayanti membentuk garis lembut. Dari ruang dalam seseorang kembali bersiul, kali ini lebih panjang, dan disusul bunyi kaki melangkah, menuju ruang tamu. Tirai pembatas tersibak. Abidin berseru: “Yanus!”

Yanus, masih mengenakan seragam kantor yang sama dengan Abidin, langsung duduk di antara Abidin dan Damayanti.

“Kenapa kau tidak bilang mau kemari?” tanya Abidin setelah beberapa saat mengamati Yanus.

“Tadi saya bilang mau ikut, tapi kamu melarang,” jawab Yanus. Suaranya terdengar dingin.

Abidin hendak menimpali, tapi Damayanti lebih dulu berucap: “Abidin, dengar ini. Aku ingin menikah lagi. Apakah kamu bersedia?”

Abidin terhenyak. Ia menatap dua kawannya bergantian.

“Tidak. Aku tidak bisa!” serunya sambil menyandarkan punggung di sofa dan menggoyang-goyangkan sebelah kaki macam orang gelisah. “Pernikahan kita sudah jadi masa lalu. Aku tidak mau mengulangnya. Lagi pula, kala itu kita masih remaja yang polos hatinya ber….”

“Bagaimana kalau kukatakan bahwa ketika kita berpisah aku sedang mengandung anak kita?” seru Damayanti memotong kata-kata Abidin.

Baca juga  Apakah Tradisi Ini Juga Berlaku bagi Kami?

Abidin termangu. “Yanus, jangan diam saja, kau tahu segala hal tentang Yanti. Benarkah semua yang dikatakannya? Kenapa kau tak pernah cerita?”

Yanus tak menanggapi. Ia tertunduk. Dalam remang Abidin masih dapat melihat leher yang gempal dan tanda-tanda kebotakan di kepala kawannya itu.

“Wajah anak kita mirip Asila,” ujar Damayanti.

“Benarkah? Bagaimana bisa?” Abidin kembali bertanya, kali ini terarah ke Damayanti.

“Bagaimana pun juga, aku harus menunjukkan siapa ayahnya.” Wajah Damayanti mengerut, seperti menahan sesuatu agar tak meluap.

Hening sejenak.

Sekonyong-konyong Damayanti terbahak-bahak. Yanus ikut terbahak-bahak. Suara mereka susul-menyusul terlepas ke udara, melayang-layang, lalu jatuh bagai konfeti, mengguyur sosok Abidin.

“Aku bohong. Aku tidak hamil. Kenapa kamu begitu cepat percaya?” Damayanti terbahak-bahak makin kencang. Yanus mengikutinya. Setelah itu, sembari merapikan napas, Damayanti melanjutkan: “Tapi aku benar-benar akan menikah.” Ia menatap Abidin dengan serius. “Bukan denganmu, melainkan dengan Yanus.”

Yanus tertunduk. Damayanti ikut tertunduk. Pelan-pelan malam masuk. Mengendap-endap tanpa suara. Melekat pada semua yang ada dalam ruangan. Potret di dinding jadi tampak menyeramkan. Damayanti berdiri dan menyalakan lampu. Dalam sekejap, sinar lampu menghapus jejak malam. Di ruangan yang terang itu ketiganya kembali saling tatap.

“Aneh, ya?” ucap Damayanti.

Sesaat kemudian giliran Abidin yang terbahak-bahak. Tubuhnya sampai terlonjak-lonjak di kursi. Ia bahkan menepuk-nepuk tangannya.

“Baik,” kata Abidin sambil berusaha menahan tawa. “Dengan senang hati. Kupikir ini pernikahan yang indah. Kalian ingin aku yang menjadi saksi kan?”

Damayanti dan Yanus tak bisa lagi menahan diri. Mereka ikut terbahak-bahak. Ruangan dipenuhi suara tawa.

“Tapi, ssst! Tunggu dulu. Sebentar. Aku ingin tahu satu hal,” ucap Abidin tiba-tiba.

Hening sesaat. Pandangan Abidin mengarah ke Yanus. Damayanti menunggu.

“Apakah kau sudah punya rencana mau mencoblos nomor berapa? Nomor 3 ya?” kata Abidin. Pertanyaan itu membuat mereka kembali terbahak-bahak. Konfeti ditembakkan dan lembar-lembar suara berjatuhan seakan sebuah kemenangan baru saja diumumkan.

Sebetulnya, lonceng-lonceng kecil bergemirincing di luar rumah semenjak tadi. Namun, ketiganya pura-pura tak mendengar. ***

.

.

Kekalik, Juni 2022

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok. Buku kumpulan cerpennya adalah Belfegor dan Para Penambang (2018), Muazin Pertama di Luar Angkasa (2021), dan Bedil Penebusan (2021).

.

Mereka Menikah di Kolong Jembatan. Mereka Menikah di Kolong Jembatan. Mereka Menikah di Kolong Jembatan.

 73 total views,  6 views today

Average rating 1.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: