Cerpen, Kompas, Supartika

Rumah yang Selalu Berbau Busuk

Rumah yang Selalu Berbau Busuk - Cerpen Supartika

Rumah yang Selalu Berbau Busuk ilustrasi Ni Komang Atmi Kristiadewi/Kompas

1.4
(13)

Cerpen Supartika (Kompas, 19 Juni 2022)

KINI kami harus menanami pekarang dengan aneka bunga yang berbau harum. Ada mawar, cempaka, sandat, dan bunga harum lainnya. Berbagai jenis bibit mawar kami tanam dan kami memutuskan membabat semua tanaman yang tak berbau harum.

Di depan kamarku misalnya, aku meletakkan dua pot bunga berisi mawar merah dan putih untuk mengganti dua tanaman sente yang sudah berada di sana sejak beberapa tahun lalu. Selain untuk memunculkan bau harum, ini juga untuk menunjukkan betapa diriku memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, sampai-sampai bunga mawar di depan kamarku pun berwarna merah putih.

Meskipun kami membabat semua tanaman tak berbau harum dan menggantinya dengan bunga harum, rumah kami nyatanya tetap berbau busuk. Baunya seperti gabungan antara bangkai tikus, bangkai ayam, dan bangkai anjing.

Saking baunya, kakek dan nenekku memutuskan untuk kembali ke rumah tuanya di desa. Katanya, ia tak enak makan dan tak bisa tidur karena bau bangkai yang menusuk hidung tuanya itu.

“Kalau terus di sini, bisa mati karena bau busuk ini,” kata kakek berdebat dengan ayah.

“Biarlah hidup sederhana di kampung, tapi nyaman tanpa bau busuk. Daripada tinggal di rumah mewah tapi menderita.”

Saat itu juga, kakek dan nenek segera berkemas. Ayah tak mau mengantarnya ke desa. Namun mereka memilih naik angkot yang biasa nangkring di pangkalan yang tak jauh dari rumahku. Kakek juga menolak menerima uang dari ayah, karena uang itu menurut mereka juga berbau busuk.

Tak hanya di halaman, semua yang ada di rumah ini berbau busuk. Kamar tamu, kamar mandi, dapur, tempat sembahyang juga berbau busuk. Bau bunga harum meskipun sudah berbunga dan mekar semua kalah dengan bau busuk.

Tetangga tak ada yang mau datang ke rumah. Temen-teman kerja ayah juga kapok datang ke rumah. Begitu juga ibu-ibu arisan tak pernah lagi menggelar arisan di rumah kami.

Setelah kakek nenek pergi, pembantu kami juga kabur dari rumah. Mungkin karena merasa sungkan, ia pergi tengah malam, dan saat kami bangun pagi harinya sudah tak ada. Hanya ada sepucuk surat yang ditinggalkan di kamarnya. Katanya ia sudah tak tahan dengan bau busuk di rumah kami dan ia meminta maaf kepada kami. Padahal sesuai jadwal, seminggu lagi ia menerima gaji.

Semakin hari, bau busuk itu semakin menyengat. Aku mengusulkan untuk menyemprotkan parfum di semua ruangan. Usulanku diterima dan sepulang dari kantor, ayah membeli beberapa kardus parfum murah. Tak apa baunya murahan, yang penting bau busuk itu hilang. Juga pengharum ruangan untuk menambah pengharum ruangan yang sudah ada sebelumnya yang kewalahan melawan bau busuk.

Baca juga  Orang-orang yang Menjaga Tidur Mereka di Sungai yang Merah

Aku, ayah dan ibu menyemprotkan parfum itu di semua ruangan. Halaman rumah juga kami semprot dengan parfum. Usaha kami cukup berhasil. Bau busuk tersamarkan oleh bau parfum murah itu.

Tengah malamnya, kami semua terbangun dan aku hampir muntah. Bau busuk menusuk hidung dan mengganggu tidur kami. Aku berlari ke luar kamar karena merasa sesak dan mual oleh bau busuk itu. Ayah dan ibu ternyata sudah berada di halaman rumah. Ibu muntah-muntah di kebun. Hingga pagi, kami tak bisa tidur.

Menjelang subuh, ibu memaksa memasak di dapur sambil sesekali menahan napas dan menutup hidung. Sementara aku dan ayah masih berada di halaman sambil mencium mawar yang sedang mekar untuk menyamarkan bau busuk itu.

Ibu selesai memasak dan menggelar makanan di atas meja. Aku dan ayah dipanggilnya. Sebentar kemudian, kami sudah duduk melingkar di meja makan dan di depan kami tergelar masakan ibu.

Ayah yang pertama memakan masakan ibu pun muntah-muntah. Ibu yang sedari tadi belum mencicipi masakannya mencoba menyendok sup dan menelannya, juga muntah. Aku tak langsung memakannya. Kudekatkan satu sendok sup ke hidungku dan baunya busuk. Semua masakan ibu ternyata berbau busuk. Lebih busuk dari bau rumah kami. Masakan ibu pun terpaksa dibuang.

Ayah keluar dan membeli nasi untuk kami bertiga. Sampai di rumah, nasi itu tak bisa kami makan juga, karena baunya ternyata busuk. Setelah mandi, kami memutuskan makan di luar rumah.

Di rumah, kami kini memakai masker N96. Dengan masker itu, bau busuk bisa sedikit kami atasi. Dan tak lama masker itu ditembus juga. Kami menggantinya dengan masker gas, dan ternyata bau busuk masih saja menyengat.

Lama kelamaan, bau tak hanya tercium di rumah. Bau itu ternyata menempel di pakaian kami. Teman-teman di sekolah menjauhiku. Di ruang kelas semua tutup hidung termasuk guruku. Teman-teman akrabku mulai menjauh.

“Tubuhmu bau bangkai tikus,” ejek temanku.

Aku menceritakan hal ini pada ibu dan ibu mengatakan hal yang sama. Ayah sepulang dari kantor juga mengadukan hal yang sama.

Esoknya, saat keluar rumah kami semua menyemprotkan parfum dalam jumlah yang banyak ke pakaian kami. Satu botol parfum habis saat itu juga.

Banyak teman yang menanyakan parfum apa yang aku pakai. “Ini parfum mahal, gaji bapak ibumu sebulan tak akan cukup untuk membelinya,” jawabku meledek.

Baca juga  Nomor

Semakin siang bau parfumku memudar dan bau busuk tercium menyengat. Semua menjauhiku lagi. Aku merasa tersisih dan memilih bolos dari sekolah. Di rumah aku menangis. Ayahku pulang dan marah-marah karena semua teman kantornya kini menjauh akibat bau busuk. Kami semua tak tahu harus bagaimana. Dua hari aku tak sekolah, ayah juga tak berangkat kerja.

Ayah memutuskan untuk membeli rumah baru. Lewat seorang teman ia mendapat rumah sederhana di pinggiran kota. Tabungannya ditarik dan rumah berbau busuk itu ia jual.

Kami pindah ke rumah baru dengan meninggalkan semua yang ada di dalamnya. Kami pindah hanya dengan satu mobil dan pakaian yang menempel di badan.

Sebelum pergi, ayah menggantung sebuah pengumuman di pintu pagar: DIJUAL CEPAT HUBUNGI 081XXXXXXXXX.

Kami tiba di rumah baru dan seperti memulai semuanya dari awal. Memulai menata kamar, memasang lukisan, membeli peralatan dapur, menata taman. Juga mengakrabkan diri dengan tetangga di kanan kiri serta depan rumah kami.

Kehidupan kami jadi lebih baik dan tak ada bau busuk yang mengganggu. Kami mulai bisa makan dengan tenang, teman-teman arisan ibu datang ke rumah, beberapa teman kantor ayah juga kadang bertamu. Kadang kami juga saling mengunjungi dengan tetangga.

Kami belajar untuk beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Kadang kami juga masih terngiang-ngiang dengan kehidupan di rumah yang dulu sebelum bau busuk tiba-tiba menyerang. Halamannya luas, rumah berlantai dua dengan fasilitas yang lengkap, ada pembantu dan semua keperluan sehari-hari sudah ada yang mengurus.

Semua itu kini jadi kenangan. Dan hingga hari ini rumah itu pun belum laku. Beberapa orang yang menawar mengurungkan niatnya saat datang ke sana. Baru sampai di depan pagar saja, bau busuk sudah menusuk hidung.

Waktu berlalu dan kami tak terlalu berharap lagi pada rumah itu. Entah laku atau tidak, kami pasrahkan saja. Sampai akhirnya kami belajar ikhlas, saat rumah kami itu mulai terlihat rapuh dan kotor dan orang-orang sekitar sana menyebutnya dengan rumah mayat karena bau busuknya yang awet.

Empat tahun kami merasakan ketenangan tinggal di rumah baru ini. Kenangan rumah lama kami sudah memudar bahkan sudah jarang kami sebut saat melakukan pembicaraan di ruang keluarga.

Rumah ini kini sudah mulai bersolek. Ayah selalu menghadirkan sesuatu yang baru di rumah ini setiap bulannya. Kadang sebuah guci mahal, lukisan, hingga kepala Budha. Tak hanya itu, ayah juga membeli rumah tetangga karena mereka memutuskan pulang kampung setelah lelakinya pensiun.

Tembok pembatas dijebol dan kami punya halaman yang luas. Keceriaan yang pernah kami rasakan dulu, kini kembali lagi. Seorang pembantu juga kami datangkan ke rumah ini.

Baca juga  Geheugen Gallery

Dan begitulah, saat kami semakin menikmati hidup kami, tiba-tiba bau busuk itu datang lagi. Mula-mula bau busuk itu datang dari arah dapur yang tercium oleh pembantu kami.

Ibu memarahi pembantu kami dan menganggap ia telah ceroboh menaruh sesuatu sampai membusuk. Pembantu kami mencari sumber bau busuk itu. Tempat penyimpanan daging ia periksa. Semua sela-sela tersempit di dapur pun diperiksa. Semuanya nihil.

Bau itu semakin meluas. Ke kamar mandi, lalu ke kamar tamu, lalu ke kamar ibu, kamar ayah, kamarku, ke halaman rumah dan semua bagian rumah kami telah berbau busuk.

Kami mulai sadar, bau busuk itu datang lagi di kehidupan kami. Ayah tak bisa berkata apa-apa sepulang dari kantor saat tahu bau busuk itu datang lagi.

“Kita pergi dari sini!” kata ayah setelah terdiam dalam waktu yang lama.

“Pergi ke mana?” ibu bertanya.

“Ke mana saja, sejauh-jauhnya dari rumah ini.”

“Ke desa menyusul bapak dan ibu?”

“Tidak, kita tidak ke sana.”

Hari itu juga kami keluar dari rumah itu. Ayah meminta kami meninggalkan semuanya. Pembantu dipulangkan, gajinya selama sebulan dibayar lunas meskipun baru seminggu lalu ia menerima gaji. Ditambahi juga dengan ongkos pulang. Kami keluar rumah dengan berjalan kaki tanpa membawa apa-apa. Entah ke mana ayah akan membawa kami, aku dan ibu hanya mengikutinya dari belakang. ***

.

.

Amlapura, Maret-Mei 2022

Supartika bernama lengkap I Putu Supartika, lahir di Karangasem, Bali, 16 Juni. Alumni Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Kini mengelola majalah sastra Bali modern Suara Saking Bali, bukunya yang telah terbit Babi Babi Babi (novel, 2020).

Ni Komang Atmi Kristiadewi, lahir di Denpasar Juni 1990. Pendidikan terakhir, Pascasarjana ISI Denpasar. Dalam kurun tahun 2010-2021, sedikitnya 25 kali terlibat pameran bersama. Dia juga pernah pameran tunggal pada tahun 2011 bertajuk “Polusi Rasa (Sense Polution)” di TEN Fine Art Gallery, Sanur, Bali. Lalu tahun 2015 bertajuk “APAH” di Sudakara Art Space, Sanur, Bali.

.

Rumah yang Selalu Berbau Busuk. Rumah yang Selalu Berbau Busuk . Rumah yang Selalu Berbau Busuk . Rumah yang Selalu Berbau Busuk .

 90 total views,  15 views today

Average rating 1.4 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: