Cerpen, Jan Stanlav, Koran Tempo

Kota Angin

Kota Angin - Cerpen Jan Stanlav

Kota Angin ilustrasi Koran Tempo

1.6
(5)

Cerpen Jan Stanlav (Koran Tempo, 12 Juni 2022)

INI kota angin. Aku sering mampir menggenggam embun. Basah. Tipis.

Aku dibunuh oleh senja, kemarin sore. Aku tidak main-main, katamu. Bintang menatapmu nanar, dan aku berjalan tanpa suara. Aku kehabisan kata. Semuanya sudah usang. Aku hanya memungut waktumu yang basah, setengah basah, atau kadang-kadang hampir basah. Waktu-waktu yang tak bernama, waktu-waktu yang tidak penting. Bukan aku di sana. Aku tidak di sana. Aku tidak pernah ada di sana.

Ke kota itu aku ingin pergi. Kata orang-orang, namanya Kota Alogos. Tapi kata ibuku, namanya kota angin. Kota angin, bukan Kota Alogos. Kata mereka, aku tidak akan menjumpai apa pun di sana. Mengapa, tanyaku. Kau tidak akan menemukan apa-apa di sana, katanya. Tidak ada tulisan atau angka apa pun di sana. Juga tidak ada yang bicara, kata mereka. Lalu aku merasa begitu ingin sampai di sana. Dan aku tidak perlu bicara apa-apa. Mungkin juga aku belajar mengenal tanpa kata-kata. Itu kota angin, dan jika kau tersesat oleh angin, tanyalah pada badai, kata ibuku. Aku ingin melihatmu melahirkan bunga di kota angin, kata kekasihku.

Lalu aku sampai di kota itu. Kota angin. Hanya ada angin. Seluruh bangunan, yang mungkin rumah atau bukan, berbatu, dan jalan-jalan hampir semuanya berdebu. Tak banyak tanaman tumbuh di sini. Lalu aku ingin bertanya. Tentu saja bicara. Dengan siapa saja. Aku ingin bertemu siapa pun di sini.

Ini kota angin, dan jika kau tersesat, tanyalah pada badai. Tapi badai tidak datang di sini, atau belum? Sudah berjam-jam aku menantinya. Di tengah taman bunga. Setidaknya ada warna juga di sini, pikirku.

Mengenang hanya debu yang kujumpai dan jalan bebatuan abu-abu. Taman itu punya air mancur. Aneh sekali ada fontana di sini, ujarku, girang setengah berbisik. Ah, untuk apa berbisik? Toh, tidak akan ada yang paham juga apa yang kukatakan.

Kulihat di tepinya ada seorang anak duduk menghisap rokok. Ia batuk-batuk. Kelihatannya ia baru mulai mencoba merokok. Aku ingin mendekatinya sekaligus tidak ingin. Aku tidak tahu apa yang hinggap di sini. Kata apa yang mereka pakai untuk saling menyapa?

Lalu aku mulai diam, tercekat, sambil perlahan-lahan menarik diri, membatalkan keinginanku mendekat. Di sini tidak ada kata-kata. Kota angin tidak mengenal kata, kata ayahku saat aku bilang ia ingin tinggal di sini. Tapi ketika kutanya bagaimana aku bicara dengan mereka, ayahku cuma bilang tanpa kata. Lalu apa, tanyaku bingung. Kau akan tahu, katanya.

Ah, kota tanpa kata-kata. Lalu apa bahasanya. “Aku tidak akan pernah tahu, tapi kau pasti akan tahu,” kata ayahku. Cuma itu kata-katanya yang kuingat.

Lalu aku sampai di sini, taman kota di tengah kota angin. Aku duduk dan melihat orang lalu lalang. Tidak ramai, tapi kelihatannya beberapa dari mereka saling mengenal. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka mengenal dan menyapa. Apakah ada kata selain kata yang kita kenal dari abjad? Apakah ada kata yang tidak diucap lewat mulut? Aku mengenalnya lewat mata, hidung, dan telinga. Apakah mereka tidak membuka mulut di sini? Ataukah mulut dibuka hanya untuk makan, tidak untuk mengeja?

Kota ini tanpa kata. Kota tanpa tulisan. Aku tidak melihat apa pun yang tertulis di sini. Tidak ada alamat. Tidak ada papan nama toko. Tidak ada plang sekolah, kantor pemerintahan, tempat ibadah, atau apa pun. Bangunan itu hanya deretan bangunan tanpa nama. Tidak ada harga. Tidak ada rambu-rambu. Simbol pun tidak? Bahkan tidak ada aturan yang disepakati lewat tanda.

Baca juga  Pasir Sagadish

Pasar, hmm, rasa-rasanya besok pagi akan langsung kucari, meski aku tak yakin pasar di sini berlangsung pagi hari seperti di kota-kota pada umumnya. Kalau bisa menemukan pasar, mestinya aku jadi bisa melihat dan mendengar bagaimana orang bercakap-cakap.

Lalu bagaimana mereka menjalani kehidupan? Aku makin berdebu seiring senja yang mulai merah, menyisakan titik-titik embun di belahan tengkukku. Aku tidak punya rambut. Baru saja kupotong kemarin. Aku tidak ingin repot-repot mencari tukang cukur di sini, karena aku tidak tahu berapa lama waktu yang kupakai untuk memahami dan mengenali tukang cukur, karena tidak ada kata di sini.

Lalu jam pun tidak ada. Tidak ada tanda waktu di kota angin. Kau tidak akan pernah tahu jam berapa sekarang, kecuali mengira lewat bayangan yang jatuh di bawah matahari, dan bulan yang bergeser meninggi. Tidak ada tanda waktu di kota angin karena angka pun rasanya tidak ada.

Tidak ada seorang pun yang menyapaku di sini. Aku merasa ada di kota mimpi. Tidak ada seorang pun yang mendekat, sekadar senyum atau menawarkan sesuatu. Dengan cara apa mereka menawarkan sesuatu? Senyum, melambaikan tangan? Setidaknya itu tanda yang sama untuk setiap orang di belahan dunia ini.

Tidak ada yang peduli aku tidur di mana. Setiap orang tidur di mana-mana. Setiap orang jalan ke mana-mana. Setiap orang melakukan apa saja. Setiap orang sepertinya tahu apa yang akan mereka lakukan. Aku harus bisa mengenal setiap sudut kota ini agar bisa berjalan ke mana pun. Aku harus bisa mengenal celah yang bisa kugunakan untuk bersandar dan mencari tempat tidur yang nyaman.

Tidak ada polisi, dan tampaknya tidak ada aturan juga. Tidak ada tanda waktu. Tidak ada juga jam raksasa seperti pada umumnya di kota tua. Aku seperti bukan apa-apa, apalagi siapa-siapa di sini. Aku hanya tubuh yang berjalan mengitari kota di bawah malam, kota yang tanpa tanda waktu.

Pada akhirnya, aku merasa mati sebab tak ada kata, tak ada makna. Tak banyak manusia di sini, dan sepertinya mereka beraktivitas seperti pada umumnya manusia, berjalan, makan, minum, duduk-duduk, bersih-bersih, dan sebagainya. Semua tampak tertata, tapi ganjil. Ini semua seperti mengharuskan kepalaku tidak berisi pikiran. Tapi sesungguhnya, pada akhirnya aku mencoba hidup kembali dengan tubuh yang bergerak, bernapas. Waktu pasti berjalan di sini, tapi tidak ada seorang pun yang merasa perlu menandai waktu. Sepertinya mereka hanya menjalani segala sesuatu tanpa mempertanyakan apa-apa.

Kota ini. Ah, jangan-jangan setiap orang hanya berjalan di sini. Jangan-jangan yang mereka lakukan hanya menyusur setiap sudut kota, selain bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Bertani, berladang, atau atau beternak mungkin. Pekerjaan yang tanpa perlu berbahasa manusia. Tapi sebesar apakah kota ini?

Jarang sekali melihat orang yang sama melewati taman kota ini beberapa kali. Mereka selalu orang yang baru. Aku tidak bertemu dengan orang yang sama di sini. Benar tak ada kata, hanya ekspresi wajah, dan gestur. Mereka seperti bercakap, tapi tak ada artinya. Hanya terdengar bunyi-bunyi yang seakan tak bermakna jadi kata.

Atau memang aku tak mengerti bahasa mereka, tapi tak pernah terdengar orang bicara tanpa ada kata berurutan seperti itu, bahkan tak muncul dialek tertentu. Itu seperti orang yang tak mampu bicara dengan bahasa, hanya mengeluarkan bunyi-bunyian.

Baca juga  Misteri Tulisan yang Bergantung

Orang-orang lalu lalang. Orang-orang tidak pernah sama. Orang-orang sepertinya sudah tahu apa yang akan mereka lakukan. Pasti mereka mengenal sesuatu, sesuatu yang pasti bukan kata dan sesuatu yang sama sekali tidak dikenali lewat kata. Lalu apa yang ada di balik kata? Bukan. Semua bukan kata. Jika tidak ada kata, tidak ada yang ada di sebaliknya, atau di depannya atau di sampingnya.

Aku jadi banyak sekali bertanya soal kata karena apa lagi yang bisa kulakukan selain berpikir sendiri. Tak ada seorang pun yang bisa diajak bercakap. Lalu bagaimana mereka membangun kota tanpa lewat kata?

Siapa tahu kota ini memang sudah ada sejak zaman purba, dan hanya kebetulan saja sekarang hinggap orang-orang yang tanpa bisa berkata-kata. Atau setiap orang datang dari negeri yang berlainan sehingga tidak saling mengenal bahasa masing-masing? Tapi tidak mungkin dalam waktu yang lama, jika mereka bersama, tidak ada satu pun aturan di sini. Bahkan orang berjalan begitu saja. Seperti aku kini.

Tampaknya kota ini memang sebuah kota tua dan tidak begitu besar ukurannya. Ataukah ia hanya sebuah desa? Jalan-jalan berbalok-balok berbatu berdebu, tapi tak ada sampah. Atau mungkin memang karena tak ada toko, tak ada konsumsi, tak banyak berurusan dengan pembuangan?

Beberapa belokan jalan begitu cepat untuk diingat, tapi juga terlupa begitu saja karena mereka seragam. Ada beberapa belokan kecil, sisanya besar, dan satu-dua jalan raya yang tanpa lampu lalu lintas. Entah ke mana jalan raya menuju.

Kemudian satu-dua taman kota yang juga tak banyak orang duduk-duduk di sana. Sekilas tampak cukup tertata. Udara kering kendati tak begitu panas. Pepohonan cukup banyak sebagai peneduh, dan sungai masih tampak alami jernih. Siapa ujung tombak penata kota ini, apakah ia juga tak punya kata-kata?

Tiba-tiba aku ingat makam. Sepertinya aku harus ke makam untuk menemukan apa yang tertulis di batu nisannya? Tidakkah mereka memiliki nama, atau semacam tanda untuk mengenang yang tiada? Bagaimana dengan kendaraan? Pelat nomor? Tidak ada. Hanya ada sepeda beberapa lalu lalang. Ada satu-dua mobil tanpa pelat nomor juga. Apakah ini sebuah negara? Mungkin ia juga tak punya kode pos.

***

Semuanya berawal di sebuah kota yang namanya kota angin. Sudah beberapa hari aku di sini. Aku punya kata “berapa” karena aku terbiasa menghitung. Hari di hidupku selama ini punya nama, punya kata, dan punya angka. Sedangkan di sini, bagaimana membicarakan hari dengan orang di sini? Aku tidak bisa memanggil siapa pun di sini. Mereka tak punya nama. Aku punya nama yang sia-sia. Rangkaian huruf yang tak bisa jadi tanda di sini. Tanda buat mereka bukan abjad. Lalu, apa yang sebenarnya ada di balik abjad?

Selama ini aku muntah oleh kata. Surat kabar, siaran stasiun televisi, game online, bursa saham, merek-merek parfum, merek-merek makanan, produk-produk instan yang dijual di supermarket. Semua dipahami lewat kata-kata. Namun di sini aku seperti dipaksa melupakan kata, lupa bahasa. Tapi aku ingin kata. Aku rindu bahasa. Aku rindu bicara. Bicara apa yang tanpa kata?

Jika ada, aku ingin bisa bicara tanpa kata. Aku ingin bisa berkata tanpa gramatika. Lalu aku mulai belajar tidak berpikir. Belajar tidak mengurut-urutkan kejadian, setelah bosan bercanda dengan hari yang tak ada tanya dan tak ada jawab. Tak ada permulaan waktu. Tak ada akhir waktu. Hanya ada gelap, terang, hujan, udara, aroma … Sisanya, tak ada apa-apa. Mungkin sesungguhnya ada, tapi manusia di sini mempersepsikannya seakan tidak ada apa-apa karena tidak ada kata untuk mengatakannya agar sesuatu jadi ada.

Baca juga  Sofia

Sesuatu yang bukan kata. Pasti ada. Tapi apa? Segala sesuatu yang bisa kautemukan tanpa lewat kata. Napas? Bau? Angin? Detak? Aku ingin bisa bicara lewat napas. Tapi itu tidak mungkin terjadi jika kau masih berpikir tentang bagaimana caranya. Tapi itu tidak mungkin saat kau masih merasa kau bisa.

Logos. Pada mulanya adalah logos. Tiba-tiba aku ngeri, kenapa kelahiran harus melalui logos? Tidak adakah cara lain mengatakan kelahiranku? Mengatakan aku lahir tanpa lewat kata?

Ah, ya, mungkin mereka tidak punya abjad, tapi suara yang keluar dari mulut mereka pastilah mengeluarkan semacam sesuatu yang di antara mereka saling paham. Tidak tertulis mungkin, tapi bukankah memang semestinya manusia punya bunyi. Dan bunyi itu yang dituliskan kemudian, dan kota ini mungkin saja sebuah kota lisan.

Bicara lewat angin. Apakah mereka bicara lewat angin? Bagaimana caranya? Seketika aku merasa jadi makhluk penghuni peradaban. Aku yang bertanya, aku yang berkata, aku yang menjawab. Huruf-huruf hanya ada pada tubuhku. Ia yang bukan lagi “a”, “b”, “c”, atau “e”, melainkan sesuatu yang lain.

Seperti ada nama-nama yang asing di tubuhku yang belum dikenali. Mungkin hidup di kota ini baru bisa dimaknai ketika kita bisa mengenali apa-apa huruf di tubuh yang belum dikenali. Hidup adalah cerita kita mengenali nama-nama yang hinggap di sepanjang tubuh dengan cara menghubungkannya dengan orang lain. Lalu cerita itu hadir, semacam biografi. Lalu kita mati. Yang tinggal hanyalah kisah. Narasi. Hampa.

Tidak. Hidup bukan begitu. Semestinya ia berlanjut dengan cara pewarisan kisah. Tapi tak hanya itu. Ia juga tidak sekadar mengenali nama-nama yang tersembunyi di tubuh. Hidup bagiku adalah menamai kembali sesuai dengan apa yang aku tahu dari waktu ke waktu. Dan mereka, huruf-huruf yang sudah ada, kubongkar tatanannya, kurangkai lagi, dan aku mencipta kata-kata baru.

Mulanya kota angin kukira adalah kota teka-teki, tempat kita menebak apa yang harus dilakukan, apa yang harus dikatakan. Tapi bukan. Kota angin ada begitu saja, tidak menuntut apa-apa, dan bukan apa-apa bagimu jika kau tidak merasa apa pun di sana. Ia hanya bisa memberimu rasa, bukan kata. Ia hanya bisa berbicara denganmu lewat napas, bau, dan udara. Bukan abjad. Ia tidak punya bahasa, bahkan untuk melukis dirinya sendiri.

Dan kota mana di dunia ini yang tidak pernah bisa dibahasakan oleh manusia? Kota mana di belahan bumi ini yang tidak pernah disentuh oleh kata? Ini kota angin, dan jika kau tersesat oleh angin, tanyalah pada badai, pesan ibuku sebelum aku pergi. ***

.

.

Jan Stanlav, nama pena dari Stanislaus Yangni, adalah penulis dan kritikus seni kelahiran Lampung pada 1982. Bukunya yang telah terbit antara lain Dari Khaos ke Khaosmos, Estetika Seni Rupa (Institut Seni Indonesia & Erupsi Akademia, 2012); Tiga Venus dan tentang Seni yang Enggan Selesai (Penerbit Nyala, 2019); serta Waria, Bahasa dan Dunia Malam (Penerbit Buku Baik, 2020). Ia pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, STF Driyarkara Jakarta, dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

.

.

 162 total views,  3 views today

Average rating 1.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!