Cerpen, Republika, Sigit Widiantoro

Ujian Pertama Seorang Dai

Ujian Pertama Seorang Dai - Cerpen Sigit Widiantoro

Ujian Pertama Seorang Dai ilustrasi Rendra Purnama/Republika

4.5
(2)

Cerpen Sigit Widiantoro (Republika, 19 Juni 2022)

BERBUAT baiklah kepada semua orang, niscaya orang akan berbuat baik kepadamu. Begitu Kiai Suleman menasihati Sobron ketika di pesantren. Sobron percaya kepada kiai sepuh berakhlak mulia itu. Nasihat Kiai Suleman ia tancapkan ke dadanya sehingga setiap detak napas dirinya terentang tali keluhuran budi dan akal.

Nahas, kali ini hati Sobron terkoyak. Tapi, Sobron tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia menyalahkan diri sendiri. Pada diri terendam kelemahan; ambisius, ingin cepat sukses, mudah lupa, gampang terlena. Tak heran apabila kedatangan Jatmiko yang ramah membius Sobron. Apalagi, Jatmiko datang dengan seranjang sanjungan.

“Kami tak sabar menantikan Ustaz untuk membagi ilmunya,” ucap Jatmiko, anggota Dewan yang tajir, juga pemilik beberapa toko bangunan ketika pertama kali menemui Sobron atas informasi gurunya di pesantren.

Ustaz? Sobron risih dengan panggilan itu. Sejak lulus pesantren, tak seorang pun memanggilnya ustaz. Bahkan, Sobron kerap kali menegur orang yang menyapanya ustaz karena ia merasa tak pantas dipanggil ustaz. Baginya, ustaz adalah panggilan terhormat untuk orang yang mumpuni dalam ilmu agama, juga mulia dalam adab dan akhlak.

Jatmiko menemui Sobron untuk mengajaknya tinggal dan berdiam di kota. Sobron punya ilmu, Jatmiko sarat harta. Klop! Mereka bisa bekerja sama dalam kebaikan. Namun, Sobron tak ingin memberi awang-awang.

“Saya khawatir, Bapak kecewa nantinya….”

“Oh, tidak. Tidak,” jawab Jatmiko cepat. “Kami tidak akan kecewa. Niat kami tulus. Kami ingin belajar. Di bawah arahan dan bimbingan Ustaz, tempat kami bisa bercahaya. Kami baru membangun masjid.”

“Saya belum berpengalaman.”

“Ustaz akan jadi orang yang berpengalaman nanti. Ustaz tidak usah mikir macam-macam. Buatlah masjid kami makmur.”

Sobron tak kuasa menolak. Akalnya macet. Rayuan Jatmiko membawa angan Sobron ke puncak bukit. Tetapi, kini, Sobron harus putuskan. Ia enggan bernasib seolah-olah sampan yang terombang-ambing di ombak ganas. Kalaupun sampan, Sobron ingin sampan yang gesit, baik saat datang ke laut maupun saat kembali ke darat.

Sobron paham, kebaikan harus disuarakan. Sobron juga sadar, kebaikan tak selalu didengar dan diperhatikan. Namun, Sobron seperti baru tersadar, betapa sakitnya seluruh tubuh saat bibir yang ia gerakkan untuk menyuarakan hal ihwal kebaikan dan kebenaran ternyata tidak didengar dan tidak diperhatikan orang.

Baca juga  Wijil dan Anjing Siluman

“Para nabi tak pernah berhenti bersuara, sekalipun banyak orang memusuhi. Pada nabi ada kesadaran bahwa hidup adalah bersuara, tidak diam,” ucap Kiai Suleman suatu ketika kepada Sobron.

“Apakah para nabi tak kehilangan suara, Kiai?” tanya Sobron.

“Para nabi pernah lelah dan para nabi pernah kalah. Namun, para nabi tak pernah kehilangan suara. Mereka menyadari akan tugas utamanya, yakni bersuara hingga orang-orang yang memusuhi justru akhirnya kehilangan suara.”

Sobron bukan ulama, wali, apalagi nabi. Cium tangan atau panggilan hormat dari orang lain kepadanya pun masih membuatnya keliru tingkah. Ada risih yang kuat menyemai di sudut hati. Apakah nabi, wali, ulama, juga orang-orang saleh pernah mengidap risih itu?

Sobron tidak membawa risih itu. Ia malah menenteng program. Sobron percaya, program yang ia susun dengan api akan mampu menyalakan ruang-ruang gelap di dinding batin orang. Ia bidik suami dan istri yang bertanggung jawab atas rumah tangga karena merekalah sebuah keluarga dapat berdiri kukuh.

Sekali atau dua kali sepekan ia wajibkan diri mengajak mereka bertemu di masjid. Sobron paham apa yang akan terjadi andai dalam satu keluarga hanya satu pihak yang sadar agama. Pasti keluarga itu akan miring seperti bangunan yang hendak roboh. Bisa-bisa malah si suami ke kanan, si istri ke kiri, dan sang istri beranjak ke atas, sang suami ke bawah.

Sobron juga tak abai terhadap anak-anak. Setiap sore, seusai anak-anak itu pulang sekolah, ia kumpulkan mereka. Baca tulis Alquran dan berkisah mengenai hidup dan kehidupan para nabi serta sahabat dan orang-orang alim menjadi niatnya. Ia percaya, hanya kisah-kisah seperti itu yang mampu membuat akhlak anak-anak berbuah baik.

Sayang, Sobron menghadapi kenyataan yang tidak manis. Program yang berusaha ia wujudkan harus berhadapan dengan kenyataan lain. Ternyata, tak banyak orang yang melangkahkan kaki ke masjid. Kebanyakan orang memilih pergi ke mal, menghabiskan waktu di jalan, atau mengurung diri di rumah.

Baca juga  Jack dan Bidadari

Saat suara azan Subuh disenandungkan dan shalat ditunaikan, suara merdu muazin dan suara dirinya sebagai imam harus bersaing dengan deru mobil dan asap motor yang membelah jalanan. Orang memburu waktu demi tepat tiba di tempat kerja.

Di pagi hari, senyum kecut para ibu menghiasi rumah. Ada atau tidak ada asisten rumah tangga, mereka menyiapkan sarapan, baju-celana, atau sepatu suami-anak. Sesudahnya, mereka sibuk dengan tanggung jawab di rumah, cucian kotor, juga menu masakan harian. Jadilah, program mengaji seperti busa yang meluncur dari mulut ke mulut.

Sebaliknya, bagi anak-anak, rumah adalah tempat menyemai kegembiraan. Tidak sedikit anak yang tertarik dengan ajakan Sobron. Mata mereka mengamati barisan huruf Hijaiyah dan telinga mereka mendengar kisah heroik para nabi agung. Namun, lebih banyak dari mereka yang lebih suka nongkrong di warnet atau pencat-pencet tombol game di rumah.

“Ustaz harus punya strategi. Bukankah dalam dakwah harus ada strategi?” cetus Jatmiko mulai keras.

“Semoga ke depan ada perubahan, Pak,” jawab Sobron.

“Hampir tujuh bulan, lho.”

Sobron getir. Tapi, kegetiran itu seperti tak hendak pudar. Sobron mulai direndam lelah. Ibarat pendekar, ia telah menunjukkan segala. Semua jurus ia keluarkan, semua ilmu ia kerahkan. Sobron sadar, ia tidak punya jurus mematikan. Anehnya, Sobron seperti tidak paham, siapa musuh yang tengah ia hadapi. Setankah?

Sobron pusing bila memikirkan itu. Jangan-jangan, ia sesungguhnya tidak sedang berperang dengan pihak lain sehingga sebenarnya tidak ada musuh yang harus ia taklukkan. Bukankah tak satu pun pihak yang menyerang dirinya? Bukankah tidak seorang pun yang mengganggu dirinya? Atau, musuh itu adalah dirinya sendiri?

Sobron malu. Ia malu dengan semua. Ia malu dengan Jatmiko yang mengajaknya. Ia malu dengan orang-orang yang sampai kini belum juga melirik dirinya, apalagi mengiyakan dakwahnya. Ia malu dengan diri sendiri yang seolah kehilangan akal cerdasnya. Andai Kiai Suleman tahu, hendak ke mana mukanya ia sembunyikan.

Baca juga  Rendang Batak Umak

Ah, betapa tak mudah mengajak orang ke masjid. Masjid ternyata hanya layaknya penanda bahwa di situ berdiam orang-orang yang bersujud. Perkara orang malas memakmurkan, malas mendatangi, itu perihal lain. Sobron direndam ragu antara mundur atau maju.

Mungkin ini yang menyebabkan semalam, sehabis Isya, Jatmiko mendatanginya. Rupanya, ia punya rencana. Jatmiko hendak mendatangkan ustaz baru. Konon, ustaz baru itu adalah orang yang berpengalaman dalam dakwah, sarjana agama yang hebat, dan qori bersuara emas. Lantas, bagaimana nasib Sobron?

“Saya ingin kamu bekerja di toko bangunan saya. Saya yakin, kamu cocok,” tegas Jatmiko, tanpa ragu.

Sobron berdebar. Kamu? Bekerja di toko bangunan? Baru kali ini Sobron dikamu-kamukan Jatmiko setelah sekian lama Jatmiko menyapa dengan panggilan ustaz. Sejak masuk pesantren tak pernah tebersit dalam hatinya bekerja di toko bangunan karena mimpi Sobron cuma satu, berjalan di titian dakwah, seperti nabi, jadi dai.

Kini, Sobron seolah tersadarkan bahwa ia hanya pemula. Bahkan, di mata Jatmiko, Sobron tak lebih dari bawahan. Jatmiko berhak seperti itu sebab ia menghidupi Sobron. Jatmiko memberi tanggung jawab, memberi rumah untuk tempat tinggal, juga upah untuk hidup. Jatmiko enggan merugi.

“Di toko, kamu bisa melayani pembeli atau mengangkat batu, semen, pasir,” tutup Jatmiko, ketus.

Dada Sobron bergetar. Ia direndahkan. Tetapi, tak mungkin ia membalas dengan menampar atau memukul. Hanya satu yang Sobron kuasa lakukan, pergi lekas dari rumah Jatmiko. Pantang baginya bergantung kepadanya, yang cuma hamba Sang Mahatinggi. ***

.

.

Taman Pagelaran, Bogor 06/2022

Sigit Widiantoro lahir di Banjarnegara, mukim di Bogor. Belajar Sejarah di UNY dan Komunikasi di UI. Cerpennya dimuat di berbagai media.

.

Ujian Pertama Seorang Dai. Ujian Pertama Seorang Dai. Ujian Pertama Seorang Dai.

 52 total views,  8 views today

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Sedih eh gw bacanya, persis banget dengan kenyataan yang ada, top penulisnya🔥🔥

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: