Cerpen, Ichwan Arifin, Suara Merdeka

Lembayung Senja di Langit Manhattan

Lembayung Senja di Langit Manhattan - Cerpen Ichwan Arifin

Lembayung Senja di Langit Manhattan ilustrasi Nugroho DS/Suara Merdeka

3.8
(4)

Cerpen Ichwan Arifin (Suara Merdeka, 19 Juni 2022)

TATAPAN mata perempuan itu tertuju pada salah satu nama yang terpahat di tembok pembatas sebuah kolam besar. Berbentuk segi empat dengan kedalaman sekitar sembilan meter. Luasnya sekitar empat ribu meter persegi. Kolam itu dikelilingi tembok terbuat dari perunggu. Pada bagian atas tembok, dipahat ribuan nama. Mereka adalah korban serangan teroris 11 September 2011 dan pengeboman World Trade Centre (WTC) 1993. Ada lebih dari 2.500 nama terpahat di situ.

Dari setiap sisi tembok, terdapat air mengalir menuju rongga kolam. Desainnya dibuat supaya air terus mengalir tanpa henti, namun tidak pernah sampai memenuhi kolam. Gemericik air mengalir itu seolah meniadakan kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan Kota New York, khususnya di Lower Manhattan.

Suasana semakin sejuk dengan pohon-pohon yang tertanam rapi di sekitar kolam. Ada satu pohon bersejarah sebagai saksi bisu tragedi 11 September, yaitu “Pir Callery”, disebut juga sebagai “survivor tree”. Ditemukan di balik reruntuhan gedung WTC dan berhasil diselamatkan. Menjadi simbol harapan dan kebangkitan kembali dari situasi keterpurukan.

Aku merasakan suasana hening. Meski banyak pengunjung di hari itu, namun tidak ada hiruk-pikuk atau suasana gaduh. Semua lebih banyak berdiam diri. Jadi sangat tepat, memorial itu diberi nama “Reflecting Absence”, yang dibangun di bekas dua lokasi menara kembar WTC.

Michael Arad, sang arsitek menyebut desainnya sebagai situasi yang mewakili ketiadaan yang terlihat. Selayaknya ruang kontemplasi untuk publik. Tidak jauh dari kedua kolam memorial, terdapat museum “The National September 11 Memorial & Museum”. Lebih dikenal dengan sebutan “The 9/11 Memorial & Museum”. Di dalamnya tersimpan ribuan artefak, foto dan barang-barang lain terkait tragedi 11 September.

Hingga beberapa saat, perempuan itu masih belum berubah posisinya. Badannya cukup tinggi untuk ukuran orang Asia. Rambut hitam panjang dibiarkan terurai. Jaket musim dingin warna hitam membalut tubuhnya, menjuntai hingga lutut. Sepatu boot cokelat melindungi kakinya yang jenjang. Mata beningnya tertutup “sun[1]glasses” hitam. Penampilannya semakin terlihat cantik dengan “scarf” merah melingkar di leher.

Bibirnya nampak berkata lirih. Seperti sedang mendaraskan doa. Aku berdiri agak jauh di sampingnya. Tidak ingin merusak keheningan suasana. Beberapa saat kemudian seusai mengusap pahatan nama di “parapet”, perempuan itu menengok ke arahku. “Hai Seta, aku nyaris tidak mengenalimu! Kau jauh berubah dari terakhir kita ketemu,” ucapnya sambil berlari kecil menghampiriku dengan kedua tangannya mengembang. “Hehehehe, iya, akhirnya nasib mempertemukan kita di sini yaa,” kataku. Aku pun menyambut pelukannya dengan hangat.

Baca juga  Boneka Terakhir Seli

Perempuan itu bernama Zahra. Sepengetahuanku, nama itu dari bahasa Arab, artinya bersinar. Sesuai namanya, kehadiran Zahra selalu membuat situasi di sekelilingnya nyaman dan “bersinar”. Lahir di Jakarta. Namun sudah cukup lama pindah ke New York. Kami berteman dekat sejak kuliah. Ke mana-mana selalu berdua. Hingga banyak yang menganggapnya pacaran.

Mungkin kami berdua merasakan hal yang sama. Tapi perasaan itu tidak pernah terungkapkan. Seiring kepindahannya ke New York dan ditambah dengan kesibukan masing-masing, perlahan hubungan itu memudar. Hanya sesekali masih saling komunikasi. Kabar terakhir yang aku dengar, Zahra sudah bertunangan dan merencanakan pernikahan.

Setelah sekian tahun berpisah, kesempatan bertemu lagi itu akhirnya tiba. Saat itu, aku punya agenda ke negeri Paman Sam. Berkunjung ke beberapa kota dan negara bagian. Kebetulan sekali, salah satu agendanya berlangsung di New York. Karena itu, jauh hari sebelum berangkat, aku berkabar dengan Zahra. Ia pun merespons dengan semangat.

***

Begitu sampai di New York, aku pun mengabarkan kedatanganku pada Zahra. Lower Manhattan jadi pilihan tempat bertemu. Zahra ingin mengajakku ke “ground zero” atau memorial “9/11”. Tempatnya juga tidak jauh dari hotel tempat aku menginap. Transportasinya pun mudah, dapat dijangkau dengan “subway”.

Sikap Zahra tidak berubah. Hanya terlihat murung dan terkesan menahan beban. Namun sikapnya tetap hangat dan menyenangkan. Kami berbicang ringan, saling berbagi kabar dan mengenang kekonyolan berdua di masa lalu. Wajahnya yang semula murung berubah ceria. Sesekali tawanya terlihat lepas tanpa beban saat merespon candaanku yang “garing”. Hawa dingin yang menyergap serasa berubah hangat dengan kehadiran Zahra.

Sore itu, selepas dari memorial, Zahra mengajakku ke “Staten Island”. Melanjutkan ngobrol sambil menikmati senja. “Pemandangannya bagus banget, apalagi saat matahari terbenam, kereen!” katanya. Aku pun tak menolak. Jaraknya dari lokasi memorial juga tidak jauh. Dari Lower Manhattan dapat ditempuh dengan “The Staten Island Ferry” yang cukup besar, bersih, dan nyaman. Intervalnya setiap 30 menit. Jadwalnya pun tepat waktu. Tiketnya gratis pula. Pemandangan selama perjalanan dapat dilihat dari dek dan jendela kaca yang lebar. Waktu tempuh Manhattan ke St. George Terminal sekitar 20 menit.

Sore itu langit di Manhattan berwarna lembayung. Angin berhembus cukup kencang. Meski sudah masuk musim dingin, namun belum tampak salju turun. Matahari tak sepenuhnya bersinar sempurna. Patung Liberty yang terkenal itu masih dapat terlihat dari jendela ferry. Liberty dari kata Libertas, dewi kebebasan Romawi. Berdiri kokoh, tangan membawa obor dan tangan kiri membawa tabula ansata bertuliskan tanggal kemerdekaan Amerika Serikat.

Baca juga  Lelaki Senja

Zahra duduk di sampingku. Wajahnya masih terlihat sedih. “Hingga hari ini aku masih belum bisa melupakan kejadian itu, Seta. Perjalanan waktu ternyata belum bisa menyembuhkan luka sepenuhnya,” ungkap Zahra merujuk momen kehilangan calon suaminya dalam tragedi 11 September. Wajahnya kembali muram saat bercerita awal mula bertemu hingga akhirnya bertunangan. Mereka juga sudah merencanakan pernikahannya pada bulan September juga.

Namun, impian dan kebahagiaan itu direnggut dengan tiba-tiba. Tragedi 11 September telah meluluhlantakkan semuanya. “Tak ada tanda apa pun pagi hari itu. Kami masih sempat “breakfast” bareng, sambil ngobrol persiapan pernikahan,” ungkap Zahra. Matanya menerawang seolah menghadirkan kembali momen tersebut di hadapanku.

“Selepas kejadian itu, aku jadi skeptis dan mengalami krisis kepercayaan terhadap agama. Coba perhatikan, banyak sekali kekerasan yang terjadi atas nama agama. Bukan hanya peristiwa 11 September, tapi juga peristiwa lainnya. Skala kecil atau besar. Di Indonesia juga terjadi kan?” kata Zahra sambil merapikan rambut panjangnya yang tersibak angin. Zahra mempertanyakan aspek kemanusiaan dan keimanan para pelaku teror itu. Korbannya juga tidak hanya yang meninggal. Namun “collateral damage” itu juga menimpa orang-orang lain yang masih hidup, Zahra hanya satu dari sekian banyak orang yang menanggung beban itu.

“Al-Qaeda, Taliban, ISIL, dan para teroris pengebom bunuh diri adalah orang-orang kalah. Takut dengan hidup dan tidak berani menatap perubahan. Makanya, mereka ingin kembali ke masa silam,” lanjutnya. Fundamentalisme seolah ingin mematikan waktu. Roda kehidupan hanya berjalan sampai dengan era kenabian. Segala sesuatu yang dihasilkan manusia di luar masa itu, termasuk kemajuan teknologi, dianggap sebagai ancaman kesucian agama dan iman.

Pertanyaan Zahra memancing ingatanku pada peristiwa teror di Indonesia. Serangkaian bom bunuh diri terjadi di beberapa kota. Pelakunya tidak jauh-jauh dari jaringan terorisme internasional yang berlabelkan agama. Hal yang menyedihkan, ada pelaku melibatkan anak-anaknya yang masih di bawah umur dalam bom bunuh diri itu. Lebih memprihatinkan lagi, ada pemuka agama, meskipun dalam konteks berbeda, menyebutkan pelaku bom bunuh diri sebagai syuhada. Kematian yang suci dengan jaminan surga.

Baca juga  Lelaki Sepi

“Pada awalnya, saat bicara tentang Taliban, ISIL dan lainnya, sebagian masyarakat merasa hal itu kejadian jauh di luar sana. Namun begitu bom bunuh diri meledak di Indonesia, baru mereka tersadar, teror itu sudah ada dalam rumah kita,” jawabku. Aku melihat fenomena lainnya yang juga memprihatinkan, politisasi agama yang telah membuahkan polarisasi tajam di kalangan masyarakat.

Karena itu, aku sangat memahami jika Zahra berada dalam pusaran kegamangan terhadap agama dan mungkin juga keimanan.

“Kau percaya adanya Tuhan?” tanya Zahra. Aku terhenyak dan menata batin untuk menjawabnya.

“Kepercayaan dan keimanan itu sebuah pilihan dan aku memilih percaya. Aku tidak punya argumen untuk membuktikan ketiadaan Tuhan. Sebaliknya, aku merasakan kehadiran-Nya dalam setiap denyut kehidupan kita, dalam kebahagiaan, kepedihan, dan situasi lainnya,” jawabku.

Zahra termenung sambil menarik nafas mendalam. Aku biarkan dia tenggelam dalam renungan pribadinya.

Tak terasa ferry telah sampai ke Staten Island. Udara sangat dingin dan angin bertiup begitu kencang. Tanpa sadar Zahra mengandeng tanganku. Kami turun dan berjalan ke arah gerai pertokoan yang ada di sekitar situ dan berhenti di satu gerai kopi.

“Acaramu di sini sampai kapan, Seta?” tanya Zahra.

“Uhm, lusa masih ada agenda di beberapa kota lainnya. Habis itu baru pulang ke Jakarta,” jawabku.

“Gak bisa stay lebih lama ya?” tanyanya dengan manja. Aku hanya tersenyum dan dalam hati mengingatkan diri sendiri bahwa hubungan ini tidak akan ke mana-mana. Ada perbedaan mendasar terkait keimanan yang menjadi pembatasnya. Hal itu pun disadari oleh Zahra sejak awal bertemu.

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Kuseruput kopi yang tersisa dan kuajak Zahra pulang. ***

.

.

Ichwan Arifin, alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro. Disela-sela kesibukan bekerja di satu perusahaan migas, masih intens menulis. Beragam tulisan fiksi dan nonfiksi telah dimuat di berbagai media massa serta menulis buku “Sketsa Pergolakan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia” dan “Meretas Jalan Pembaruan”.

.

Lembayung Senja di Langit Manhattan. Lembayung Senja di Langit Manhattan. Lembayung Senja di Langit Manhattan.

 38 total views,  8 views today

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: