Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Mashdar Zainal

Pelajaran Tampar-menampar

Pelajaran Tampar-menampar - Cerpen Mashdar Zainal

Pelajaran Tampar-menampar ilustrasi Joko Santos (Jos)/Kedaulatan Rakyat

3.3
(3)

Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 17 Juni 2022)

PAGI itu, untuk pertama kalinya aku melihat ayahku menampar orang. Seorang perempuan, bertubuh besar dan hampir tua.

Pagi itu sebenarnya terlalu cerah untuk sebuah tamparan. Sebuah pagi pada hari libur di bulan Mei. Pukul tujuh pagi, Ayah memboncengku pergi untuk menonton festival layang-layang. Di tanah lapang berumput itu ada begitu banyak orang dan layang-layang. Layang-layang beraneka bentuk, warna, dan ukuran. Angin semilir, suara-suara riuh rendah. Ayahku baru saja membelikanku layangan berbentuk burung di sebuah lapak di tepi lapangan, dan ia tampak bersemangat mencoba menerbangkannya untukku.

Begitu sampai di tengah lapangan, Ayah mengulurkan benang dengan berjalan mundur. Aku sudah meminta Ayah untuk berhati-hati, tapi sepertinya Ayah terlalu bersemangat. Sementara itu, di belakangnya, aku melihat seorang perempuan mendongak cukup lama, sambil berlari mundur. Lari yang kecil dan ceroboh. Pada akhirnya, punggung ayahku dan punggung perempuan itu bersitabrak cukup keras.

Benang di tangan ayahku menggelinding ke atas rumput, aku segera menangkapnya. Sementara tubuh perempuan itu roboh ke tanah.

Mendadak, perempuan berbadan besar itu bangkit dengan wajah marah, lalu menampar pipi ayahku dengan sangat keras. Ayahku terenyak, menyentuh pipinya sebentar, lalu balas menampar perempuan itu. Perempuan itu tidak mau kalah, ia balas menampar Ayah sekali lagi, dan Ayah juga tak mau kalah ia balas menampar perempuan itu sekali lagi. Terjadilah adegan tampar-menampar di tengah lapangan yang mengundang kerumunan. Beberapa orang akhirnya melerai mereka. Namun perempuan itu sepertinya masih belum terima, ia berusaha untuk terus maju menyerang ayahku.

“Mengapa kau menampar perempuan?” Seorang laki-laki yang mencekal tangan Ayah memprotes.

Baca juga  Arajang

“Dia yang menamparku duluan,” balas Ayah.

Perempuan itu melemparkan serapah ke muka ayah lalu berkata, “Kau menabrakku!”

“Tepatnya, mereka bertabrakan, aku melihat perempuan ini berlari mundur,” seorang perempuan berkerudung menambahkan.

“Tapi sangat tidak pantas memukul perempuan.” Seorang lelaki paruh baya bertopi ikut berkomentar dengan nada kecewa.

Ayah tersenyum, tapi rautnya marah, “Lantas, apakah laki-laki harus diam saja saat dipukul perempuan?”

Semua orang terdiam.

“Perempuan ini, tiba-tiba menampar wajahku tepat di hadapan anakku. Andaikata aku yang salah menabraknya duluan dan tanpa sengaja, apakah ia boleh menamparku sembarangan?”

Semua bungkam.

“Kau menabrakku, Sialan,” perempuan itu memekik lagi.

“Aku tak menabrakmu, kita bertabrakan, di sini banyak saksinya.” Ayah ikut memekik, “Dan kau menamparku duluan.”

“Kau pantas mendapatkannya.” Perempuan itu menyeru sekuat tenaga.

“Dan aku sudah mengembalikannya,” ayah tersenyum sinis.

“Tapi memukul perempuan sungguh tindakan yang memalukan.” Seorang ibu yang menggendong balitanya ikut berkomentar.

“Nyonya.” Ayahku coba membela diri. “Percayalah! Jika yang tertabrak atau menabrak perempuan ini adalah Anda, maka ia akan menampar Anda. Jika itu terjadi pada Anda, apakah Anda akan diam saja? Ia memukul Anda tepat di depan anak Anda hanya karena bertabrakan tanpa sengaja. Aku yakin, perempuan seperti ini sudah terlatih untuk menampar siapa saja. Hal seperti ini harus dihentikan. Aku menamparnya balik supaya ia tahu bahwa perkara tampar-menampar itu bukan perkara sepele. Itu berhubungan dengan kepala seseorang, wajah seseorang, kehormatan seseorang. Dengan ini, semoga ia tidak menampar orang sembarangan lagi.” Suara Ayah tersengal.

“Satu lagi.” Ayah sepertinya belum lega. “Kekerasan tidak mengenal kelamin. Laki-laki atau perempuan, kalau mereka melakukan tindak kekerasan, mereka harus dihentikan. Salah satu cara menghentikannya adalah dengan menamparnya balik. Untuk memastikan saja, bahwa seseorang juga bisa menampar wajahnya. Bahwa di kemudian hari, ia tidak akan menampar orang sembarangan lagi,” ayah menambahkan.

Baca juga  Kurban

“Aku sepakat dengan laki-laki ini.” Seorang pemuda berjaket mengeluarkan suara.

“Ya. Andai aku yang ditampar tiba-tiba, mungkin aku juga akan menamparnya balik.” Sahut yang lain.

“Sudah, bubar-bubar!” Seorang lelaki gempal membuyarkan kerumunan. Orang-orang beranjak pergi dari kerumunan, sementara mulut mereka terus saja bersuara, seperti puluhan ayam yang berkeriap.

Ayah menatap wajahku dengan cemas, tapi ia tetap tersenyum. Sementara perempuan itu terus menoleh ke Ayah, tatapannya menyimpan dendam dan kebencian.

“Kamu tidak apa-apa?” Ayah bertanya padaku. Aku mengangguk sebagai isyarat bahwa aku baik-baik saja.

“Maaf, kamu harus menyaksikan dan mendengar ini semua,” ungkap Ayah.

Aku mengangguk tanda paham, lalu bertanya, apakah Ayah baik-baik saja. Ayah tersenyum dan mengangguk. Lalu berbisik, “Ingat! Jangan pernah menampar orang sembarangan, dan jangan biarkan orang lain menamparmu sembarangan!”

.

.

*) Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, penyuka prosa. Buku terbarunya ‘Kartamani, Riwayat Gelap dari Bonggol Pohon’, Penerbit Basabasi, 2020. Kini bermukim di Malang.

.

Pelajaran Tampar-menampar. Pelajaran Tampar-menampar. Pelajaran Tampar-menampar.

 282 total views,  6 views today

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: