Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Mochamad Bayu Ari Sasmita

Tahlil di Rumah Pak Nyoto

Tahlil di Rumah Pak Nyoto - Cerpen Mochamad Bayu Ari Sasmita

Tahlil di Rumah Pak Nyoto ilustrasii Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(1)

Cerpen Mochamad Bayu Ari Sasmita (Kedaulatan Rakyat, 01 Juli 2022)

“TAHLIL! Tahlil!”

Tidak ada orang di dusun ini selain Wak Karnadi yang setiap Kamis sore bakda salat asar akan mendatangi rumah-rumah di bagian utara dusun ini untuk menarik iuran tahlil rutin setiap Kamis malam Jumat. Lelaki tua itu akan mengenakan topi dan membawa sebuah buku bersampul tebal untuk mendata setiap orang yang sudah membayar. Sekarang dia sudah berada di halaman rumahku. Aku harus berhenti untuk memindahkan pot-pot bunga yang baru saja dibeli istriku tadi pagi dan baru bisa kutata sekarang.

“Tahlil, Cak Mad.”

“Sebentar,” kataku sambil melepaskan tanganku dari pot yang berbahan tanah liat itu. Kurogoh sakuku dan kutemukan selembar uang lima ribuan. Kuserahkan kepadanya dan dia menerimanya. Dia letakkan uang itu pada tengah-tengah buku dan dia mencentang kolom yang yang berada di baris namaku. “Di rumah siapa nanti?”

“Pak Nyoto.”

“Baik.”

“Datanglah. Pak Nyoto kabarnya membuat soto ayam dan beberapa kudapan yang enak. Dia menyembelih tiga ayamnya.”

“Apa tidak kebanyakan?” tanyaku bercanda.

“Porsinya pasti besar.”

“Hahaha.”

“Baiklah. Mari.”

“Mari, Wak Karnadi.”

Wak Karnadi kembali ke jalan dan aku kembali mengurusi pekerjaanku untuk memindahkan pot-pot itu sesuai permintaan istriku. Dia suka rewel kalau urusan hiasan rumah, berbeda denganku yang masa bodoh dengan hal seperti itu. Watak kami berdua benar-benar bertolak belakang.

***

Pak Nyoto adalah salah satu orang terhormat di dusun ini. Meskipun tidak terlalu kaya, tapi budinya baik. Dia tidak segan untuk menolong orang lain yang kesusahan, misalnya, dengan uang. Orang-orang di sini lebih suka meminta bantuan kepada Pak Nyoto daripada kepada orang-orang yang lebih kaya dari Pak Nyoto yang sebenarnya lumayan banyak di dusun ini.

Baca juga  Perempuan Sunyi dan Saudaranya

Itulah gambaran sekitar lima tahun yang lalu ketika aku baru saja pindah ke tempat ini karena mutasi. Aku mendengar cerita itu dari beberapa orang yang masih berkawan karib dengan Pak Nyoto; jumlah mereka hanya segelintir.

Semenjak kedatangan seseorang yang lebih kaya dan tampak lebih mengerti agama, orang-orang mulai mengucilkan Pak Nyoto, meskipun tidak secara terang-terangan. Aku bisa melihat gelagat semacam itu karena telah melihat berbagai jenis orang meskipun aku masih cukup muda.

Setelah mendengar cerita semacam itu, tanpa berpikir dua kali, aku langsung menjadi salah satu kawan karib Pak Nyoto.

Pernah suatu kali karena penasaran aku bertanya tentang kondisinya sekarang kepadanya.

“Apa sampeyan tidak marah diperlakukan seperti itu?”

“Untuk apa, Mas?”

“Ya, bagaimanapun, sampeyan tidak pernah buat kesalahan sampai harus dikucilkan seperti itu.”

“Saya ini sudah tua. Mengapa harus repot-repot memikirkan hal semacam itu? Kalau mereka datang ke rumah, ya, akan kujamu. Kalau tidak, ya, sudah.”

Aku semakin kagum dengan ketabahan Pak Nyoto sejak saat itu. Terlebih, dia juga enak untuk diajak bicara. Terkadang, dia menceritakan pengalamannya di tahun delapan puluhan sampai sembilan puluhan ketika pekerjaannya begitu lancar dan hasilnya begitu banyak. Pak Nyoto adalah seorang sopir truk yang menolak definisi negatif kata sopir, ngasone mampir, yang berarti istirahatnya mampir (ke rumah simpanannya atau tempat-tempat pelacuran). Pada dasarnya, dia sopir truk yang lurus. Dia tidak ikut-ikutan sopir lain yang main judi online, yang semakin marak akhir-akhir ini.

***

Kata Wak Karnadi, Pak Nyoto telah menyembelih tiga ekor ayam dan membuat soto ayam yang kemungkinan irisan ayamnya lebih banyak tinimbang yang dijual di warung-warung dengan spanduk besar bertuliskan SOTO AYAM. Tapi, sejak pukul empat awan-awan hitam berkumpul di atas dusun ini dan sekitar pukul setengah lima hujan turun dengan begitu deras dan disertai angin, meskipun hampir tidak ada gemuruh sama sekali. Hujan itu membasahi terasku sepenuhnya dan sialnya aku lupa untuk memasukkan keset sehingga benda itu basah sepenuhnya.

Baca juga  Sebelum Peledakan Itu

“Hujannya begitu mengerikan,” kata istriku. “Bunga-bunganya bagaimana?”

“Mendapatkan rahmat yang besar.”

“Bodoh. Kalau sampai mati nanti awas saja.”

“Tidak perlu terlalu khawatir begitu.”

Aku duduk di sofa dan melihat hujan di luar rumah dari kaca jendela yang tembus pandang. Sesekali ada yang nekat berkendara dengan berbalut jas hujan yang orang-orang sebut jas lawa (kelelawar). Mungkin mereka orang jauh yang kebetulan harus melintasi dusun kecil ini. Kemudian angin kencang juga mengobrak-abrik seng sebuah garasi yang terbengkalai di seberang rumahku. Suara seng jatuh itu sampai ke rumah kami. Suaranya begitu nyaring, cukup untuk mengejutkanku.

Saat itu aku mulai khawatir dengan Pak Nyoto. Dia sudah memasak besar-besaran. Jika hujan tak berhenti, masakan itu akan sia-sia karena kebanyakan orang-orang akan enggan berangkat, apalagi yang dituju adalah rumah Pak Nyoto, orang yang telah dikucilkan di sini.

.

.

Mojokerto, 10 Juni 2022

*) Mochamad Bayu Ari Sasmita, lahir di Mojokerto pada HUT ke-53 RI. Cerpen-cerpennya tersiar di media daring dan koran lokal.

.

Tahlil di Rumah Pak Nyoto. Tahlil di Rumah Pak Nyoto.

 497 total views,  1 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: