Cerpen, Fahrus Refendi, Rakyat Sultra

Mujarab Air Mata Kesedihan

Mujarab Air Mata Kesedihan - Cerpen Fahrus Refendi

Mujarab Air Mata Kesedihan ilustrasi Istimewa

3.3
(4)

Cerpen Fahrus Refendi (Rakyat Sultra, 04 Juli 2022)

SETELAH 20 tahun berlalu, ia tetap setia di tempat ia dipertemukan dengan kekasihnya dahulu. Ia menikmati setiap kesedihan yang bermukim di dadanya. Di sana, kenangan selalu tumbuh subur. Sempat ia memukul, membunuh, dan membakar segala kenangan yang telah menjalar, tetapi sia-sia belaka. Kenangan itu selalu datang dalam bentuk kesedihan.

Hanya mata air, air mata kekasihnya yang selalu ia simpan pada sebotol parfum berwarna senja. Ia akan menghirup dalam-dalam aroma air mata kekasihnya sampai air matanya sendiri menetes pada tanah-tanah yang kering. Tiap ingatan akan tangis kekasihnya datang menghampiri, ia akan lekas-lekas pergi ke pinggir pantai dan menangis sejadi-jadinya. Mengenang segala yang sudah terjadi.

“Apa kau akan setia padaku?” kau bergumam di sampingku sambil menatap dalam-dalam bola mataku.

“Yang kuinginkan hanyalah kesetiaan dan kesetiaan itu tidak ada.”

Kau memberikan sebotol air mata lagi dan aku menerimanya dengan tabah. Jelas sekali malam itu kau bilang, kelak bila perpisahan datang, teguklah air mata penangkal kesedihan ini sebagai penyembuh segala duka, penyembuh segala angkara.

Malam semakin senyap, sementara kilau bulan bersujud rapi di keningmu. “Apa kau bisa menceritakan kepadaku tentang sebuah kehilangan?” ucapmu.

Masih segar dalam ingatan ketika perahu maling-maling sapi kandas di tepi lautan. Kau menunjuk jari di depan sana. Mereka, para maling sapi, di kepung orang-orang kampung. Mereka tak bisa lari, air laut tak bisa diprediksi—surut dengan begitu cepat—dan para maling sapi tak bisa lari, mereka dikejar dengan pentungan, besi dan baja oleh pemilik sapi yang geram atas tingkahnya.

Setidaknya ada delapan orang yang ditanggap, mereka diseret beramai-ramai, darah memancar dari wajah mereka. Kulihat, muka-muka mereka dipenuhi dengan ketakutan. Sesekali suara serak mereka memohon ampun, tetapi tak digubris. Tendangan dan pukulan bergantian bersarang pada wajah dan seluruh tubuh mereka. Kulihat wajah-wajah lebih menyedihkan dari tikus yang dibakar hidup-hidup.

Di pulau ini, ironis memang, semuanya semena-mena. Mereka terus saja dipukul dan ditendang, entah berapa kali, yang jelas, air mata kesedihan mereka sudah kering untuk ditumpahkan. Setelah puas diarak keliling kampung, para maling sapi digiring ke pinggir laut. Jarak antara mereka dan kematian hanyalah sedekat urat nadi. Dengan sisa napas yang masih ada, mereka dikubur bersama nyawa mereka yang masih tersisa. Sampai saat ini tragedi maling sapi yang nahas itu menjadi sejarah buram pulau ini.

Baca juga  Lelaki Kalong

Setiap Jumat legi, istri para maling sapi selalu datang. Mereka selalu menyempatkan hadir ke tempat suami mereka dieksekusi. Mereka selalu membawa kesedihan dan meluapkan segala duka dengan menumpahkan segala air mata yang mereka punya. Sampai kuburan suaminya basah oleh air mata, baru mereka selesai dan pulang.

“Sekarang, coba ceritakan perihal sejati!” ucap kekasihnya.

Dia menghela napas dalam-dalam, “Sejati itu, ketika tidak ada alasan lagi untuk mencintai, tapi memutuskan untuk tetap bertahan. Seperti laut pada ombaknya, seperti siang dan panasnya, seperti hujan dan mendungnya. Yang terpenting adalah sikap saling mengasihi. Namun, hati-hati juga dengan cinta sebab cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar. Hidup adalah menunda kekalahan kata Chairil Anwar.”

“Bukankah hidup ini untuk meraih kejayaan?”

“Tidak, tidak. Pada akhirnya kita semua juga akan menyerah. Dunia adalah tempatnya sengsara. Entah karena cinta ataupun oleh air mata. Semua akan terlahir menjadi anak-anak, remaja, orang tua, sakit kemudian mati. Semua sia-sia belaka bukan?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Oh, baik-baik. Begini, ada seorang pemuda sangat tampan dan karena ketampanannya semua orang tua rela anaknya dinikahi pria tersebut. Dadanya bidang, matanya bersinar terang, hidungnya lancip. Sedikit berkumis, sementara kulitnya kuning langsat. Ia sangat patuh pada rajanya. Apa pun yang diperintahkan rajanya pasti pemuda itu akan dengan senang hati melakukannya hingga pada suatu hari pemuda itu dipanggil untuk menghadap rajanya. Sang raja hanya ingin mengetahui seberapa setia ia padanya. Kemudian sang raja menjodohkan pemuda itu dengan anaknya yang cantik, tapi buta. Pemuda itu dengan senang hati menerima tawaran rajanya. Ia tidak mempermasalahkan calon istrinya karena buta. Ia menerimanya sebagai anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Ke mana pun si suami melangkah sang istri mesti menemaninya. Ia selalu membopong istrinya ke mana pun ia pergi. Pada suatu waktu di suatu wilayah yang gersang, sang istri ingin mandi. Ketika tongkat istrinya ditancapkan ke dalam tanah, muncullah mata air, mata air yang jernih, tempias airnya mengenai mata sang istri, dan semenjak itu, mata sang istri bisa melihat suaminya yang setia.”

Baca juga  Macet

Sementara malam sudah semakin larut, keduanya tetap duduk rapi di samping pohon bidara. Menghabiskan malam dengan sisa-sisa air mata. Orang-orang kampung memang membiarkan sepasang muda mudi tersebut berduaan, bahkan sampai semalaman di pinggir pantai. Kadang, pada separuh malam mereka tertawa bersama dan separuhnya lagi bisa menjadi tangisan bersama.

Tiap sore menjelang, kedunya selalu berpapasan di jalan desa. Mereka sama-sama buta, hanya sepasang tongkat yang selalu menjadi penunjuk arah ke mana pun mereka melangkahkan kakinya. Penduduk pulau hanya bisa melihat keduanya berjalan beriringan. Siapa pun yang punya masalah, maka dua muda mudi itulah yang menjadi juru selamat. Tidak hanya itu, jika ada sampan nelayan yang bermasalah seperti sulit dapat ikan, penduduk pulau percaya agar bisa meraup ikan yang banyak mereka harus sowan kepada dua muda mudi yang buta itu.

Semua yang datang sowan hanya diberi sebotol air mata hasil tangisan mereka berdua. Pernah mereka didatangi pemuda yang mengaku ditinggal kekasih yang sudah lama ia cintai, tetapi wanita tersebut lebih memilih lelaki lain. Lelaki tersebut hampir saja bunuh diri dengan menenggak racun tikus.

“Minumlah air mata penyembuh segala duka dan nestapa ini. Minum dalam satu tegukan napas, pastikan semuanya tandas tanpa sisa, dan semua kesedihanmu juga akan ikut larut seiring surutnya air laut.”

Benar saja, segala kesedihan tanggal begitu saja. Semua penduduk merasakan sejahtera semenjak muda mudi itu hadir di dalam desa. Hanya satu yang tidak dirasakan semua penduduk desa, yaitu kesengsaraan. Banyak desas-desus perihal pertama kali munculnya dua muda mudi yang buta itu. Ada yang bilang mereka menumpang kapal tongkang dari kota seberang, ada juga yang bilang mereka cucu dari panembahan kerajaan Sumenep yang diutus untuk menyudahi segala kesedihan dari masyarakat. Namun, yang paling penduduk percayai ketika malam sebelum dua muda mudi terlihat pertama kali di kampung.

Baca juga  Figur Tak Dikenal

Tak seperti biasanya, pulau diserang badai. Ombak menghujam daratan dengan sangat kerasnya. Nelayan-nelayan mengurungkan niat untuk berlayar mencari ikan. Semua orang pulang dan berteduh di rumahnya masing-masing, kecuali Mat Rakib, Si Penjaga mercusuar.

Di kejauhan, di antara badai dan gelap malam, Mat Rakib tertuju pada sebuah teja. Persis seperti lilin yang di kepung kegelapan. Ia bersinar, sendirian, dan semakin dekat ketika ombak perlahan menyeretnya. Sejak dibangun pada masa Orde Baru sampai sekarang, Mat Rakib tidak pernah merasa situasi semencekam seperti malam itu. Ia terus saja memandangi teja di kejauhan.

Setelah hujan dan badai mereda, barulah Mat Rakib tahu bahwa teja yang bersinar saat badai tadi merupakan dua orang muda mudi. Kulit mereka secerah bulan, cantik dan tampan, tapi sayang, mereka buta. Saat pertama kali ditanya dari mana asal mereka, muda mudi tersebut menjawab dengan kompak bahwa mereka terlahir dari rasa sakit, kesedihan, dan air mata.

Kini, kesedihan pun sirna di pulau itu. Tak ada lagi ratap tangis dan tak ada lagi pertengkaran antara suami istri, semua damai. Ketika semua kedamaian sudah merata di seluruh penjuru pulau, muda mudi yang buta itu pun ikut lenyap. Tidak ada satu orang pun yang tahu kemana perginya. Akankah mereka lenyap bersama seluruh kesedihan yang telah sirna? ***

.

.

Fahrus Refendi merupakan alumnus Universitas Madura, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia Bergiat di Sivitas Kothѐka, Lesbumi, dan menjadi salah satu tenaga pengajar di SDI Mabdaul Falah Sumenep, Madura.

.

Mujarab Air Mata Kesedihan. Mujarab Air Mata Kesedihan. Mujarab Air Mata Kesedihan. Mujarab Air Mata Kesedihan.

 514 total views,  2 views today

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: