Cerpen, Hari B Mardikantoro, Suara Merdeka

Fragmen Dua Perempuan

Fragmen Dua Perempuan - Cerpen Hari B Mardikantoro

Fragmen Dua Perempuan ilustrasi Hery Purnomo/ Suara Merdeka

3
(2)

Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 03 Juli 2022)

SORE ini mestinya jadwal aku konsultasi ke dr Mila, dokter kandungan langgananku. Namun aku ragu karena Mas Han, suamiku, tidak bisa mengantar karena ada tugas ke luar kota selama tiga hari. Akankah aku datang sendiri ke dokter kandungan tanpa ditemani suami? Lagi-lagi, aku bersungut dalam diam. Sore yang muram. Semuram perasaanku saat ini. Keraguan terus mendera.

Dengan terpaksa, aku memutuskan tak akan berangkat, rasanya tidak enak pergi ke dokter kandungan tanpa ada lelaki di sampingku. Aku sudah membayangkan berbagai macam tatapan orang-orang yang tentu menaruh praduga tentang diriku. Tapi mendadak keputusanku mengambang lagi manakala dr Mila menyapaku dan mengingatkan akan jadwal konsultasiku lewat gawai.

Ya dokter cantik itu memang langgananku sejak dulu. Bahkan ketika aku hamil anak pertama dan kedua, meskipun keguguran serta kelahiran anak ketiga juga ditangani dokter itu. Kami tidak hanya sebatas pasien dan dokter, tapi lebih dari itu, dr Mila merupakan teman sekolah di SMA, bahkan teman sebangku. Frida, anakku yang lebih disayang Tuhan, ngotot ingin jadi dokter setelah menamatkan SMA juga terinspirasi dr Mila.

Sore kian menua. Sayatan-sayatan warna kemerahan di langit barat mengekalkan senja. Angin kering mulai mengusik, menampar dedaunan pada pohon di depan rumah. Suaranya khas sudah cukup melantunkan tanda musim kemarau. Satu dua daun terbang mengikuti angin yang kemudian luruh menggapai bumi.

Aku masih termangu dengan keraguanku. Sinetron di televisi yang biasanya mengharu biru perasaanku, kali ini kubiarkan bersandiwara sendiri. Kutatap teh panas di meja depanku. Tapi lagi-lagi aku tak berniat menyentuhnya. Sesaat kemudian, lantas gelas itu kuraih. Aku hanya ingin menghangatkan tanganku dengan gelas yang berisi teh panas. Lalu kubiarkan teh yang semula panas itu luruh dalam dingin yang menyebalkan. Sepi mengendap.

Ya, sejak anak tunggalku dipanggil pulang ke surga, rumah ini menjadi sangat sepi. Pojok-pojoknya menebarkan bau muram yang akut. Kursi, meja, almari, dan perabotan lain barangkali sudah kehilangan gairah untuk disentuh. Debu tipis menggaris dalam beberapa bagian. Kulihat perabotan-perabotan itu sebenarnya ingin mengajak bicara penghuninya sekadar untuk mengusir sunyi, tapi keangkuhan kami dalam diam menyebabkan semuanya tercipta dalam sepi. Sementara di luar, angin meneror dengan suaranya yang berisik.

Lagi dr Mila menghubungiku. Pasti dokter cantik itu mencoba memastikan kedatanganku ke kliniknya. Aku tak berniat menjawabnya. Keraguan masih saja menguasaiku. Gawai di depanku masih saja meraung-raung menimbulkan bunyi berisik. Aku masih diam. Setelah suara gawai berhenti, sepi menjadi jeda yang amat panjang.

Sebenarnya kedatanganku ke klinik dr Mila juga tidak terlalu mendesak, ditunda lain waktu juga nggak masalah. Aku hanya ingin konsultasi tentang kemungkinan aku bisa punya anak lagi. Maklum usiaku sudah tidak muda lagi, kepala empat. Kalau dihitung mestinya aku sudah hamil tiga kali. Anak pertama dan kedua belum sempat lahir karena keguguran. Bahkan aku sempat berputus asa ketika dua kali keguguran, tapi Mas Han menyemangatiku terus. Akhirnya aku dititipi anak juga sampai beranjak gadis, meskipun kemudian Tuhan memintanya kembali pada saat aku belum siap. Saat itu dunia tiba-tiba menjadi gelap dan aku merasa menjadi perempuan yang kehilangan separuh jiwaku.

Baca juga  Randu Alas

Dalam hitungan menit mendadak rencanaku berubah. Sore ini aku ingin sekali bertemu dr Mila. Aku ingin menyampaikan kegundahanku sebagai seorang perempuan.

***

Sore yang kering. Panas sisa-sisa siang masih terasa. Ketika aku sampai di klinik dr Mila tepat manakala mentari baru saja lingsir di garis fatamorgana. Semburat warna merah keemasan masih menebal dalam garis di ufuk barat. Suster yang sudah kukenal menyambutku dengan senyuman khas yang menentramkan. Kulihat dr Mila belum ada di ruang praktiknya. Klinik yang tidak terlalu besar itu tampak asri dan bersih.

Di ruang tunggu sudah ada beberapa pasien yang mengantre. Semua didampingi pasangannya, kecuali seorang perempuan yang duduk di pojok ruang. Kusapu ruangan itu dengan pandangan mataku. Tidak lupa kusungging senyum pada orang-orang yang ada di situ. Sengaja kupilih duduk di hadapan perempuan yang menunggu sendirian. Kulempar senyum. Perempuan di hadapnku itu menyambutnya dengan anggukan.

“Kursi ini kosong?” sapaku sambil menunjuk kursi yang kumaksud. Perempuan di hadapanku tersenyum ramah kemudian mempersilakan aku duduk di depannya.

“Ibu menunggu dr Mila?” tanyaku kemudian setelah duduk. Lagi-lagi perempuan itu mengangguk.

“Ibu juga mau periksa?” gantian perempuan muda itu yang kemudian bertanya kepadaku. Aku tergagap. Kubiarkan pertanyaan itu berlalu. Aku belum berniat menjawabnya. Aku sendiri ragu, apakah kedatanganku ke dr Mila mau periksa atau sekadar curhat, aku sendiri tak tahu pasti.

“Ibu juga menunggu dr Mila?” kembali perempuan itu mengagetkanku. Aku lantas mengangguk berkali-kali. Perempuan muda itu tersenyum melihat kegugupanku.

Setelah duduk, kegugupanku agak berkurang. Kulirik perempuan di hadapanku. Ternyata ia tengah hamil. Mungkin berjalan lima bulan. Aku terus memandangi perut perempuan itu yang tampak membesar. Mendadak aku gelisah. Agaknya perempuan itu menangkap kegelisahanku.

“Hamil berapa bulan?” aku mencoba mengalihkan perhatian perempuan itu. Perempuan di hadapanku tampak tersenyum.

“Jalan lima bulan,” ia tersenyum ramah.

“Oh…anak pertama?”

Perempuan yang kemudian kutahu bernama Melinda tergagap. Ia terdiam lama. Mukanya mendadak muram. Ada semburat kesedihan yang tiba-tiba muncul. Muka perempuan itu berubah pucat.

Aku merasa bersalah. Barangkali pertanyaanku mengingatkan tentang suatu peristiwa yang menggores hatinya.

“Mohon maaf, kalau pertanyaan saya membuat Anda sedih,” kataku perlahan. Kusentuh punggungnya supaya perempuan itu tenang. Betul, kini ia tampak lebih tenang.

“Pertanyaan Ibu tidak salah,” jawabnya setelah beberapa saat kami terdiam. Kembali perempuan itu tersenyum.

“Ini anak ketiga kami,” ujarnya sambil memegang perut yang tampak buncit. Perempuan itu tampak lebih cantik. Wajahnya menyiratkan keramahan seorang perempuan. Meskipun baru bertemu beberapa menit, kami jadi akrab. Karena perempuan di hadapanku itu lebih muda, aku kemudian menyapanya Mbak Melinda.

Sore kian temaram. Suster yang membantu dr Mila masih sibuk melayani para pasien yang datang. Namun dr Mila sampai sejauh ini belum datang juga. Aku merasa bukan sesuatu yang harus disesali datang lebih awal. Saat ini ada teman bicara yang bisa mengurai rasa bosan berada di klinik kandungan tanpa pendamping.

Baca juga  Nasihat Ibu

Dalam sekejap, aku lantas duduk di samping Mbak Mel, tidak lagi berhadapan agar pembicaraan kami tidak mengganggu pasien lain. Mbak Mel tampaknya tidak berkebaratan. Ia bergeser sedikit memberi ruang untukku.

“Wah senang ya sudah punya tiga anak, rumah jadi tidak sepi,” ujarku membuka percakapan lagi setelah kami beberapa saat diam. Mbak Mel hanya mengangguk. Kembali wajahnya yang cantik mendadak berubah. Tapi sedetik kemudian ia mulai tersenyum. Wajahnya sudah kembali menyiratkan binar-binar kecantikan.

“Mestinya begitu,” ujarnya tercekat. Tiba-tiba ia menghentikan jawabannya. Ada kalimat yang terpotong. Ia lalu menatapku tajam. Senyumnya tetap mengembang. Gantian aku yang tersipu ketika mata kami bersirobok.

“Dua anak kami lebih memilih besar bersama Tuhan di surga,” ujarnya lagi pelan.

“Maksud Mbak Mel?”

“Kedua anak kami sudah diminta Sang Pemilik Sejati ketika masih kanak-kanak,” katanya. Mbak Mel lantas diam. Tapi senyumnya tetap mengembang menghiasi bibirnya yang semburat kemerahan. Aku terkejut dengan jawaban perempuan di sampingku ini. Aku juga ikut diam. Lama. Sepi menjadi jeda pembicaraan kami. Aku merasa bersalah mengungkit masa lalu Mbak Mel dengan pertanyaan itu. Namun aku heran, Mbak Mel tidak menampakkan kesedihan yang berlarut. Agaknya ia tahu, apa yang sedang kupikirkan.

“Kesedihan justru akan menambah beban bagi kehamilanku. Saya sudah ikhlas karena memang semuanya sudah rencana Tuhan bagi anakku dan keluargaku,” begitu ringan Mbak Mel melanjutkan jawabannya.

“Kedua putri kami meninggal pada usia kanak-kanak. Anak pertama meninggal pada usia 7 tahun, sementara anak kedua meninggal pada usia 2 tahun. Menurut dokter, rhesus darah saya dan suami tidak cocok. Saya memiliki rhesus negatif, sedangkan suami memiliki rhesus positif. Masih kata dokter, apabila kami punya anak laki-laki barangkali akan bisa bertahan hidup,” Mbak Mel mengakhiri ceritanya. Perempuan itu lantas menarik napas panjang berkali-kali. Saya tahu ada beban berat yang dicoba dikeluarkan dalam desahan napasnya itu.

Aku masih terdiam, terkesima mendengar cerita Mbak Mel. Dari tadi aku memang mencoba menjadi pendengar yang baik. Menurutku, perempuan muda ini termasuk perempuan yang tangguh. Padahal, kehilangan orang yang sangat dicintai adalah kehilangan separuh jiwa. Aku pernah merasakannya dan bahkan sampai kini separuh jiwa yang hilang tersebut belum sepenuhnya kembali.

Mendadak aku malu dengan diriku sendiri, apalagi dengan Mbak Mel. Selama ini aku merasa kehidupanku tidak punya makna lagi setelah anakku satu-satunya diminta Sang Pemilik Sejati. Ternyata beban Mbak Mel lebih berat, hanya Mbak Mel masih beruntung karena masih diberi kesempatan hamil.

“Semoga anak yang dikandung ini laki-laki,” aku memberi semangat pada Mbak Mel. Perempuan itu mengangguk masih dengan senyum yang tetap mengembang.

“Ibu sendiri mau periksa kehamilan?” tanyanya mengagetkanku. Aku masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Dingin AC di ruang klinik dr Mila belum bisa menghapus titik-titik keringat yang tiba-tiba muncul. Aku dan Mbak Mel ternyata punya cerita yang hampir sama, ditinggal buah hati yang sangat kami cintai.

Baca juga  Eva dalam Dua Cerita Berbeda

Untunglah suster yang berjaga di depan pintu ruang dr Mila segera menyebut namaku untuk mendapat giliran masuk ke ruang periksa dokter kandungan itu. Aku bernapas lega karena tidak harus menjawab pertanyaan Mbak Mel.

***

Meskipun kami hanya bersua sejenak dalam ruang tunggu klinik dr Mila, aku dan Mbak Mel menjadi akrab. Bahkan kami sering berkomunikasi melalui telepon atau saling berkunjung ke rumah. Bahkan kami pernah saling berkunjung ke makam anak kami masing-masing untuk saling mendoakan. Kami punya cerita yang sama. Barangkali itu yang menjadikan kami akrab. Suamiku dan suami Mbak Mel juga tidak keberatan kami berteman.

Siang yang kering. Udara panas sudah mulai menguasai kota kecil tempat tinggalku. Angin yang berembus tipis-tipis belum juga meredakan panas yang sudah tercipta sejak tadi. Matahari seakan-akan berada persis di atas kepala kami. Siang ini aku janjian dengan Mbak Mel sekadar ingin bertemu. Kami janjian di makam anakku, setelah itu kami akan ke makam kedua anak Mbak Mel.

Aku sudah selesai membersihkan makam anakku. Makam itu terlihat bersih. Ya karena aku dan Mas Han selalu hadir membersihkan dan mendoakan anak kami. Bahkan pekuburan ini sudah menjadi rumah kedua kami. Pekuburan yang rindang dengan banyak pohon kamboja ini mampu mengurangi udara panas siang yang kering ini. Aku betah berlama-lama di makam anakku ini.

Mbak Mel belum juga datang. Aku mulai gelisah. Beberapa kali kutengok jam yang melingkar di tangan kiriku. Perlahan jarun jam merangkak dengan pasti.

Tiba-tiba Mas Han, suamiku, datang mengabarkan bahwa ia baru saja mendapat kabar dari suami Mbak Mel. Ternyata Mbak Mel yang sudah kutunggu sedari tadi berada di rumah sakit karena melahirkan. Kelahirannya ini lebih cepat dari perkiraan semula karena ia sempat jatuh. Yang membuat aku terkejut dan sangat sedih, Mbak Mel tidak bisa diselamatkan karena terlalu banyak darah yang keluar, sementara anak laki-laki yang baru saja dilahirkan hidup. Ya Tuhan, betapa rencana-Mu belum bisa sepenuhnya aku selami sampai sejauh ini.

Mendadak aku ingin ke rumah sakit. Aku tetap mau bertemu Mbak Mel seperti janji kami sehari sebelumnya. Aku ingin memberi tahu bahwa anak yang dilahirkan laki-laki seperti yang selama ini didambakannya. Aku juga ingin segera menggendong anak itu, kalau perlu selamanya. Ya, selamanya. ***

.

.

Ungaran, Oktober 2021

Hari B Mardikantoro, alumnus Sastra Indonesia UGM. Kini mengajar di Universitas Negeri Semarang. Beberapa cerpen telah tersiar pada media cetak dan online. Sekarang dia tinggal di Ungaran

.

Fragmen Dua Perempuan. Fragmen Dua Perempuan. Fragmen Dua Perempuan. Fragmen Dua Perempuan. Fragmen Dua Perempuan. Fragmen Dua Perempuan.

 577 total views,  1 views today

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: