Pos Bali, Puisi, Sapto Wardoyo

RUANG TAMU

RUANG TAMU - Puisi-puisi Sapto Wardoyo
1
(1)

Puisi-puisi Sapto Wardoyo (Pos Bali, 02 Juli 2022)

RUMAH

.

sebuah rumah dalam kepalaku

adalah rindang sebuah pohon

bangku kayu dan kupu-kupu

yang terus terbang menandai waktu

.

di pekarangan

aku menanam kata-kata

aku sirami dengan cinta

tumbuh menjadi puisi

menjadi doa-doa di saat senja

.

sebuah rumah di dalam batinku

adalah kamu

menjelma hujan dan kesuburan

agar pohon tetap rindang, dan

sepetak taman di pekarangan

terus menyuburkan kata-kata

.

: tumbuh menjadi puisi dan doa-doa

.

.

.

RUANG TAMU

.

Di dinding terpajang rupa-rupa kenangan

tentang kita atau tentang anak-anak

yang sedang menangis dan tertawa

tertata rapi dalam bingkai masa lalu

.

kita duduk di sebuah sofa tua

dalam diam menatap bingkai-bingkai

kenangan itu tanpa rasa bosan

sampai matamu menciptakan

sungai-sungai, sampai tanganku gemetar

menggenggam butiran waktu

.

Kita sudah sampai di sini, katamu

di ujung waktu yang menuakan kita

waktu telah menjelma samudra

dan kehidupan menjadi perahunya

biarkan anak-anak meninggalkan kenangan

melayari musim-musim yang berlarian

.

Di redup matamu selalu ada rimbun doa-doa

tak pernah alpa menyebut nama mereka

padahal aku tahu, sayangku

setiap kali tanganmu membersihkan

debu-debu pada kenangan itu

aku selalu melihat sebuah bingkai baru

di dalamnya ada sepi dan juga air mata

.

.

.

KAMAR

.

sebuah jam dinding

tak pernah lepas menatap kita

detaknya jadi penanda

kapan kita harus terjaga

sampai di mana usia kita

.

sebuah cermin di bawah jam dinding

memberi kesaksian

tentang waktu dan kehidupan

yang rindu meninggalkan goresan

dan jejak di wajah kita

.

dan di atas ranjang

kita baringkan rasa sakit

dan juga kepenatan

lalu membangun mimpi-mimpi

menjadi tempat persembunyian

dari pahitnya sebuah kenyataan

.

.

.

DAPUR

.

demi sebuah rasa lapar

Baca juga  Wangi Baju Koko

api itu hampir tak pernah padam

menanak kesabaran

keikhlasan dan ketabahan

.

di bawah cahaya lampu

adalah tangan ibu

gemetar mengusap pilu

di antara panci wajan

dan juga dandang

.

terus bergerak

menuliskan kehidupan

.

RUANG TAMU

 313 total views,  1 views today

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: