Cerpen, Dody Widianto, Pontianak Post

Kedutaan Iblis

Kedutaan Iblis - Cerpen Dody Widianto

Kedutaan Iblis ilustrasi Kekes/Pontianak Post

4.3
(3)

Cerpen Dody Widianto (Pontianak Post, 17 Juli 2022)

KETIKA waktu belum diukur dengan angka-angka, taman Eden masih dibuat dua tingkat dan Adam belum diletakkan di sana. Causa Prima kemudian meletakkan benih-benih makhluk di lereng-lereng pegunungan Astrida. Benih yang semacam bola api sebesar kelereng terus dijatuhkan lalu menggelinding dari udik ke hilir, bertumbukan, menyatu, membesar, lalu berkumpul dalam satu lembah yang bernama Urano.

Sekumpulan makhluk kemudian lahir dari proses aneh tersebut. Tanpa proses metamorfosis, semua terlahir dalam umur sama, hanya rupa mereka yang berbeda-beda. Tubuh mereka sama-sama merah kekar dengan telinga kecil panjang dan dua tanduk hijau di kepala. Hidung mereka sedikit menjorok ke dalam dengan kepala plontos agak persegi. Tingginya melebihi pohon bidara umur setahun dan bola mata mereka selalu menyala berganti warna. Salah satu dari mereka yang matanya selalu biru menyala bertanya pada Causa Prima, Sang Pelindung yang selalu mereka sebut.

“Eloi.”

“Eloi, Eloi … lama sabakhtani?” *

Teriakan itu terdengar berulang-ulang. Nada menyayat lagi meratap. Menggema hingga ke sisi sudut-sudut pegunungan. Mereka terus berteriak, meminta keadilan pada Sang Pelindung. Hidup mereka yang damai sejahtera selama dua puluh ribu tahun, tiba-tiba berubah setelah kedatangan makhluk baru nan aneh ke tempat mereka. Mereka meminta keadilan.

Awalnya, negeri Urano adalah negeri kaya dengan sumber daya alam yang melimpah di dalamnya. Air, tanah, sayur, buah-buahan, hewan ternak, semuanya seolah tersedia dan telah disiapkan Causa Prima untuk kemakmuran tempat itu.

Namun, semenjak peraturan itu dibuat bersama makhluk asing itu, kekeringan yang melanda lembah Urano tak pelak lagi. Mereka sekarang kebingungan mencari sumber air. Bahkan mereka tak habis pikir, menyerahkan begitu saja semua sumber-sumber kehidupan mereka pada makhluk-makhluk itu yang wajahnya lebih rupawan dari mereka.

Entah dari mana mereka datang dan menemukan lembah Urano yang subur dan makmur. Mereka tahu, sebentar lagi bangsanya akan segera punah. Mati karena kelaparan dan kehausan yang diakibatkan kebodohannya sendiri.

“Andai saja kita tahu waktu itu. Air di sini telah dikuasai. Untuk minum kita harus membayar mahal untuk membelinya. Tak terpikirkan bagaimana mungkin mereka bisa selicik ini. Membungkus air-air kami dalam kemasan, memasarkan hingga ke tempat-tempat lain, dengan harga mahal pula. Ini air kita bukan? Ini air yang dianugerahkan untuk bangsa Urano dari Sang Terkasih Eloi. Kenapa kita diam saja. Kita harus menggugat sekarang.”

Baca juga  Malaikat Lordsburg

“Kata bangsa Nun yang masih sedarah dengan kita, airnya juga dikuasai makhluk baru itu. Bangsa Nun malah lebih menderita dari kita.”

“Tak hanya air, udara untuk bernapas telah dikuasai mereka. Tragisnya makhuk baru nan menjengkelkan itu selalu melakukan perjalanan ke berbagai tempat dengan mesin aneh. Udara di tempat kita jadi ikut tercemar. Untuk bernapas, kita jadi harus membeli oksigen kiloan yang dijual mahal.”

“Licik,” pemimpin bangsa Urano menggeram, tangannya mengepal kaku, kepalanya menggeleng perlahan. “Ini tak bisa dibiarkan, mau sampai kapan seperti ini. Ini negeri kita, ini air kita, ini udara kita, mengapa harus beli!”

“Kita yang salah,” seseorang lagi yang matanya berwarna merah jambu menyala ikut menunduk sedih.

Entah dia dari kelamin apa. Bangsa Urano tak begitu masalah dengan kelamin dan semua punya kesetaraan gender.

“Bukankah waktu dulu kita telah sepakat menjual air kita demi emas, pakaian, dan permata yang sekarang kita pakai? Juga dengan bangunan megah yang sekarang kita tinggali.”

“Kita harus bagaimana?”

“Eloi, Eloi, lama sabakhtani …?”

Teriakan itu mereka gaungkan lagi. Berharap Eloi benar-benar mendengar mereka. Mau mengerti tentang perasaan mereka. Andai saja waktu itu mereka tak termakan tipu daya, mereka tentu masih bisa hidup damai sampai sekarang.

Tak perlu membeli air di tanah mereka sendiri yang telah lama mereka tempati. Mereka hanya mampu bertahan hidup selama empat hari tanpa air. Sungguh keadaan yang membuat pilu. Harus ke mana lagi mencari bantuan.

“Apa kita ajukan lagi perundingan?”

“Maksudmu?”

“Mereka membeli tanah kita, menggunakan alat-alat mereka untuk menguras habis air kita, lalu dari selang-selang itu mengalirlah air ke dalam kemasan-kemasan. Mereka bilang namanya botol. Setelah itu mereka menjual air kemasan itu ke kita lagi. Lucu bukan?”

“Perjanjiannya memang seperti itu. Mereka telah membeli apa yang ada di dalam tanah kita. Kita tak tahu harus berbuat apa. Kita tinggal menunggu kematian saja.”

“Tak bisakah kita mengubah perjanjian?”

“Maksudmu?” Pemimpin bangsa Urano melihat antusias lawan bicaranya yang matanya hijau menyala.

“Aku tahu semua perjanjian mereka dengan bangsa-bangsa lain telah tersimpan rapi di Kedutaan Iblis. Kita harus memohon perjanjian itu diubah, mengirim perwakilan ke sana.”

“Apa rencanamu?”

“Aku tak yakin. Tetapi patut dicoba. Eloi tak suka dengan kita yang cepat putus asa. Ini juga demi kelestarian bangsa kita. Tak lucu jika nanti bangsa kita tak pernah ada dalam buku sejarah tanpa seorang pun tahu seperti apa kita, bentuk dan rupa, juga tempat tinggalnya.”

Baca juga  Cerita yang Mengubah Segalanya

“Jika kau yakin, aku akan mengirim orang untuk itu.”

“Tetapi di Kedutaan Iblis, hanya makhluk pendosa yang bisa masuk ke tempat itu.”

“Itu syarat utama?”

Wajahnya muram kembali. Ia tahu, rakyat di depan yang berjumlah ratusan (dulu ribuan) kini sedang menunggu keputusannya. Ratusan nyawa telah Eloi titipkan dalam genggamannya. Ia harus yakin. Apa pun yang terjadi.

Ia tahu, bangsa Urano adalah bangsa yang taat pada Eloi. Tak satu pun mengingkari Sang Pelindung. Jika ia harus mengirim orang yang masuk ke tempat itu untuk mengubah perjanjian dan mengembalikan yang telah mereka punya sekarang, serta meminta sumber air mereka dikembalikan, tentu ini hal sulit.

Mereka terbiasa bicara jujur. Negeri Urano tercipta tanpa kebohongan di dalamnya. Malangnya, hal ini yang membuat mereka hidup dalam kesusahan. Ditipu makhluk lain dari bangsa lain. Ia menggeram lagi. Tangannya mengepal kaku. Bingung.

“Apa syaratnya harus seorang pendosa? Salah satu dari kita tak mungkin bisa masuk kalau seperti itu. Apa yang harus kita perbuat?”

Ia menunduk. Lawan bicara Sang Pemimpin yang tadinya begitu antusias dengan rencana ini tiba-tiba tak habis pikir. Ada saja kendala untuk makhluk-makhluk jujur seperti mereka.

“Eloi, Eloi, lama sabakhtani ….”

Ia bergumam pelan. Harus dengan cara apa masuk ke tempat itu.

“Kedutaan Iblis? Sejak kapan kau tahu mereka membuat tempat itu?”

“Kita punya Phoenix. Ternyata selain sering mengabarkan berita di sekitar, ia tahu tempat itu. Mereka terbiasa hidup dalam kelicikan. Dan iblis selalu mereka jadikan teman demi mendapat apa yang mereka inginkan. Di tempat itu semua rencana mereka telah dipikirkan matang-matang. Tinggal pelaksanaannya saja.”

“Kenapa kita tak minta pada Eloi saja untuk bergabung jadi bangsa mereka agar bebas melakukan kebohongan dan dusta. Oh, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tak adakah tempat untuk makhluk yang jujur seperti kita. Kita benar-benar hanya menunggu kepunahan kita.”

“Mereka benar-benar licik. Datang ke tempat ini atas nama kemakmuran, tetapi kami tak tahu kata-kata itu ditujukan untuk siapa.”

Tiba-tiba hening. Lalu seseorang bergumam pelan. Ia tak tahu jika suara itu adalah sebuah jawaban yang gemilang.

“Bagaimana kalau kita menyamar jadi mereka agar bisa masuk ke dalam tempat itu? Tinggal mengubah bagian hidung dan kepala. Bukankah berbohong adalah bagian dari dosa?”

Baca juga  Lelaki dalam Lukisan

“Benar juga. Sungguh luar biasa. Ayo kita lakukan!”

Mendengar jawaban itu, Sang Pemimpin langsung mengepalkan tangan ke atas. Seyumnya mengembang. Ia yakin, ia bisa mengakhiri perjanjian itu dan bebas mengelola air untuk bangsa mereka sendiri.

“Eloi …! Eloiiiii …!” pekik mereka senang sambil bersama-sama mengepalkan tangan. Terbayang jika sumber air itu akan murni mereka miliki lagi tanpa harus membeli.

***

Kantor Kedutaan Iblis ternyata tutup saat Sabtu dan Minggu. Untuk bangsa yang tak bisa menghitung waktu dengan angka-angka, tentu ini membingungkan sekali, juga membuat kecewa. Mereka jauh-jauh hari mempersiapkan penyamaran. Merasa usahanya sia-sia belaka, dua utusan dari bangsa Urano itu melangkah pulang. Kembali tanpa hasil.

“Apa Eloi tak sayang lagi pada bangsa kita,” ucapnya sambil menunduk. Langkah mereka begitu gontai.

“Kenapa kita tak tunggu saja sampai Kedutaan Iblis buka?”

“Percuma saja bukan, kita sudah tiga hari tak minum. Sudah kukatakan kita tinggal menunggu mati.”

“Kau percaya tentang Juru Selamat?”

“Tentu, hanya saja kenapa ia tak diturunkan sekarang. Entah apa yang ada dalam benak Eloi-ku. Bangsa kita akan punah dan tak akan pernah muncul di buku sejarah mana pun.”

“Ya, Eloi-ku, kami hanya meminta air. Sejak mereka berdatangan ke tempat kami, awan-awan seakan bisa mereka geser sehingga hujan tak pernah turun di tanah kami. Ya, Eloi-ku, apa yang harus kami lakukan? Ya, Eloi-ku ….”

Suaranya gemetar. Langkah mereka terhenti. Badan mereka benar-benar letih. Mereka merebah di kaki pegunungan di jalan menuju pulang. Di atas deret pohon oak dan bidara, awan gelap bergeser menjauh dari mereka. Bayang-bayang kematian nampak di pelupuk mata.

***

Sejak kepunahan bangsa Urano itu, bangsa yang hidupnya dipenuhi kemakmuran karena selalu jujur, saat ini kantor-kantor Kedutaan Iblis telah berdiri di mana-mana. Di tempat yang ditinggali manusia di lebih dari 192 negara.

Dan seperti yang ditemukan Phoenix, makhluk baru itu terus berusaha menemukan negeri baru yang makmur demi mereka kuasai. ***

/

.

* Eloi, Eloi, lama sabakhtani: Tuhanku, Tuhanku, mengapa Kau tinggalkan aku (bahasa Ibrani)

.

.

 525 total views,  2 views today

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!