Ade Mulyono, Cerpen, Kompas

Tragedi Cinta Amangkurat

Tragedi Cinta Amangkurat - Cerpen Ade Mulyono

Tragedi Cinta Amangkurat ilustrasi Yeyet Dewi Koryeti/Kompas

2
(5)

Cerpen Ade Mulyono (Kompas, 31 Juli 2022)

SUDAH hampir tiga bulan Prabu Amangkurat tak menyentuh tubuh istrinya maupun garwa ampeyan yang jumlahnya puluhan. Kabar sang prabu kehilangan kejantanannya sempat mencuat menjadi kasak-kusuk di antara para garwa ampeyan. Namun, kabar itu ditepis oleh Ratu Kulon. Dari mulut sang ratu barulah diketahui bahwa Prabu Amangkurat sedang kesengsem oleh kecantikan seorang sinden bernama Retno Gumilang sejak pertama kali bertemu.

Kini sang prabu sudah memantapkan hatinya untuk memboyong Retno Gumilang ke istana untuk dijadikan garwa padmi. Keinginan tersebut menjadi polemik di lingkungan istana. Bagi masyarakat Jawa, menikahi wanita yang sudah bersuami tidaklah lazim. Sang prabu tidak kehilangan cara. Ia segera mengutus senopatinya untuk membunuh suami Retno Gumilang.

Kabar keinginan Prabu Amangkurat yang ingin memperistri Retno Gumilang membuat hati Diyah Wulansari resah. Ia pun bergegas menemui Kebo Garang—iparnya.

“Kebo Garang, apa kamu tahu jika Prabu Amangkurat akan memperistri Retno Gumilang? Sebelum itu terjadi, aku ingin kamu membunuh perempuan itu. Sungguh aku khawatir Kakanda Prabu Amangkurat akan mengalihkan cintanya. Sebab, setelah Ratu Kulon, akulah garwa ampeyan kesayangan sang prabu. Aku juga khawatir dari rahim Retno Gumilang akan lahir putra mahkota yang akan menggantikan kedudukan Adipati Anom—putra Ratu Kulon,” kata Diyah Wulansari sambil berjalan mondar-mandir yang menunjukkan kegelisahan hatinya.

“Jujur, hati hamba bergetar hebat mendapat perintah dari Kanjeng untuk menentang keinginan sang prabu. Selama ini tidak ada yang berani melawan Prabu Amangkurat,” balas Kebo Garang.

“Apa yang kamu takuti? Di tanah Jawa ini siapa yang tidak mengenal pendekar Kebo Garang orang kepercayaan Pangeran Pekik? Prajurit-prajurit Mataram pun segan jika mendengar namamu.”

“Benar, Kanjeng, tetapi tetap saja hamba hanya manusia yang pasti tidak akan mampu jika harus menghadapi puluhan senopati Mataram.”

“Itu bedanya pendekar dengan prajurit. Kamu bertarung hanya menggunakan tenagamu, bukan pikiranmu.”

“Maksudnya?”

“Kamu bisa menculik Retno Gumilang tanpa seorang pun tahu siapa yang melakukannya. Terserah ingin kamu apakan setelahnya. Asalkan habisi nyawanya. Aku sangat khawatir Prabu Amangkurat terbunuh oleh kecantikan Retno Gumilang yang begitu gemilang.”

Kebo Garang diam usai menerima sebundel emas dari Diyah Wulansari. Dia masih termenung menenangkan hatinya. Sebagai seorang pendekar, dia tahu kesaktian Prabu Amangkurat dan para senopatinya. Terlebih kekejamannya tiada tandingannya.

Prabu Amangkurat kali ini gegabah mencintai wanita yang sudah bersuami. Pastilah Dewata akan murka. Begitulah Kebo Garang berbincang dengan dirinya sendiri. Menghibur suasana hatinya.

Baca juga  Abu Jenazah Ayah

Sebagai seorang pendekar, pantang menyembunyikan keris yang sudah keluar dari sarungnya. Segera saja Kebo Garang mengumpulkan anak buahnya. Telik sandi segera dikirim ke Pasundan untuk memata-matai keberadaan Retno Gumilang.

Sial bagi Kebo Garang, belum juga memandikan kerisnya dengan tujuh rupa bunga, dia sudah harus berhadapan dengan senopati Prabu Amangkurat.

“Keluar kau Kebo Garang. Jangan bersembunyi di bilik istrimu. Aku Senopati Aji Saka menantangmu bertarung sekarang juga,” katanya dengan setengah berteriak.

Mendengar keributan di depan rumahnya, segera saja Kebo Garang keluar. “Banyak sekali Tuan Senopati membawa tamu, padahal rumah hamba begitu kecil,” kata Kebo Garang dengan tenang.

“Jangan pura-pura bodoh. Kau mengirim telik sandi untuk memata-matai Retno Gumilang, bukan? Para telik sandimu sudah aku ringkus.”

“Biar aku jelaskan. Aku hanya menjalankan tugas dari junjunganku.”

“Siapa junjunganmu? Siapa yang berani melawan Prabu Amangkurat?”

“Itu tidak penting. Tetapi keberadaanmu di Pasundan justru membuatku curiga. Misi apa yang kau bawa?”

“Analisismu bagus juga Kebo Garang. Kita sama-sama menjalankan tugas. Dan tugasmu mengacaukan tugasku.”

“Jangan berbelit-belit, katakan yang sebenarnya atau keris lekuk pituku yang akan memaksa mulutmu untuk bicara!” kata Kebo Garang yang mulai habis kesabarannya.

“Aku juga mempunyai keris. Apa kau penasaran ingin menguji kerisku?”

“Kalau begitu lekas katakan!”

“Aku diperintah untuk membunuh Ki Dalem, suami Retno Gumilang.”

“Bedebah. Berarti kau musuhku. Cabut kerismu. Kita buktikan kulit mana yang lebih keras. Kulitmu atau kulitku.”

Pertarungan pun terjadi dengan sengitnya. Setelah mengeluarkan jurus pamungkasnya masing-masing, Kebo Garang berhasil merobek perut Senopati Aji Saka meski dia mengalami luka cukup parah di lengan tangannya.

Kematian Senopati Aji Saka berhasil menggemparkan Istana Mataram. Prabu Amangkurat sangat marah menyaksikan salah satu senopati terbaiknya telentang di hadapannya dengan luka mengerikan. Sang prabu menuding Ki Dalem dan orang-orangnya telah membunuhnya. Segera saja sang prabu memberi titah kepada panglima perang Mataram untuk mengepung pedepokan Ki Dalam beserta pengikutnya dan meringkusnya hidup atau mati.

Kabar penyerbuan pasukan Mataram ke pedepokan Ki Dalem yang dipimpin langsung oleh panglima perangnya terdengar ke seluruh pelosok negeri. Kebo Garang bersyukur Prabu Amangkurat tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, nalurinya berkata lain, bagaimanapun juga dirinya harus menemui Ki Dalem untuk memberi tahu penyerbuan pasukan Mataram.

Baca juga  Pemanggil Bidadari

Kurang dari setengah hari perjalanan, Kebo Garang sudah sampai di pedepokan Ki Dalem. Tanpa tedeng aling-aling, dia langsung memberi tahu rencana Prabu Amangkurat yang akan menghancurkan pedepokan dan membunuh Ki Dalem. Itu disampaikan oleh Kebo Garang seusai istri Ki Dalem, Retno Gumilang, mengobati luka di lengannya yang menganga.

Detik itu juga ia terpesona oleh kecantikan Retno Gumilang. “Inikah perempuan yang membuat Prabu Amangkurat kehilangan akal warasnya,” ujarnya dalam hati.

“Lebih baik Ki Dalem tinggalkan pedepokan ini. Jumlah pasukan Mataram yang diturunkan begitu banyak dengan persenjataan lengkap,” ujar Kebo Garang seusai menguasai hatinya yang tiba-tiba bergejolak melihat kecantikan Retno Gumilang.

“Tidak. Sekalipun harus mati, aku akan mempertahankan tanah leluhur buyut kami,” balasnya tanpa ragu-ragu.

“Bagaimana dengan Retno Gumilang? Terlebih istrimu itu sedang mengandung.”

Ki Dalem diam sebelum berujar pada istrinya, “Bagaimana Dinda?”

“Aku terserah Kang Mas saja. Asal aku tetap bersama Kang Mas.”

“Itu bukan pilihan yang bijak,” sergah Kebo Garang.

“Lalu?”

“Jika Ki Dalem tidak keberatan, aku akan membawa istrimu menyingkir dari pedepokan sambil mengawasi situasi.”

“Apakah aku turuti saja keinginan Prabu Amangkurat. Karena akulah biang kerok dari semua ini. Dari awal Prabu Amangkurat menginginkanku untuk menjadi istrinya,” sela Retno Gumilang sambil menangis.

“Tidak, Dinda. Di mana letak kehormatan seorang suami jika menyerahkan istrinya kepada lelaki lain untuk dinikmati biliknya. Biar aku hadapi pasukan Mataram. Kisanak, bawa istriku menjauh dari pedepokan.”

“Baik,” balas Kebo Garang dengan hati girang.

Segera saja Kebo Garang membawa Retno Gumilang ke rumahnya. Kedatangan Retno Gumilang disambut baik oleh istri Kebo Garang. Namun, setelah beberapa hari sang istri mulai cemburu lantaran suaminya tidak lagi memperhatikan dirinya.

“Sedang apa, Kang Mas?” tanya sang istri suatu malam di kamarnya.

“Menulis syair,” jawab Kebo Garang ringkas.

“Tumben. Sudah lama sekali Kang Mas tidak menulis syair untukku.”

“Ini bukan untukmu. Ini untuk menghibur hati Retno Gumilang yang sedang gelisah.”

Mendengar jawaban suaminya, sang istri murka. Ia pun memberi tahu keberadaan Retno Gumilang kepada Diyah Wulansari.

Segera saja Diyah Wulansari menuju rumah Kebo Garang. Sesampainya, Diyah Wulansari meminta Kebo Garang untuk menyerahkan Retno Gumilang. Namun, permintaan itu ditolaknya dengan alasan jika dirinya akan memperistrinya. Diyah Wulansari sangat marah mendengar jawaban itu. Tanpa menunggu lama, Diyah Wulansari mengambil sebilah pisau untuk menghabisi Retno Gumilang. Kebo Garang tidak tinggal diam. Hanya dengan sekali gerakan, pisau tersebut telah menancap ke perut Diyah Wulansari.

Baca juga  Menunggu Truk Itu Datang

Istri Kebo Garang begitu sedih melihat kakaknya tewas di tangan suaminya. Tanpa pikir panjang, dia mencabut keris suaminya dan menusuknya dari belakang. Seketika Kebo Garang tewas oleh kerisnya sendiri. Kemudian istri Kebo Garang memerintahkan para pengawal untuk membawa Retno Gumilang ke istana.

Kini sudah setahun Retno Gumilang tinggal di istana dan menjadi istri kesayangan Prabu Amangkurat yang telah memberinya gelar Ratu Wetan. Seiring bergulirnya waktu, Retno Gumilang akhirnya mengetahui bahwa suaminya sudah lama tewas saat penyerbuan pasukan Mataram. Sejak saat itu dia mulai sakit-sakitan. Sementara keberadaan Retno Gumilang di keputren membuat istri dan para garwa ampeyan terbakar api cemburu.

Pada suatu malam salah satu garwa ampeyan menyuruh dayangnya untuk meracuni makanan Retno Gumilang. Seketika Retno Gumilang tewas dengan mulut berbusa. Kematian wanita yang terkenal dengan kecantikannya itu membuat hati Prabu Amangkurat terpukul. Sang prabu yang mengetahui penyebab kematian istri tercintanya langsung memerintahkan prajuritnya untuk mengurung semua garwa ampeyan dan dayang-dayangnya ke penjara tanpa diberi makan hingga semuanya tewas.

Dalam kesedihannya, sang prabu memutuskan meninggalkan kerajaan untuk menemani mayat istri tercintanya di atas bukit Gunung Sentana. Di samping mayat istrinya, sang prabu berujar, “Kecantikan adalah kutukan bagi seorang wanita. Dan cintaku padamu adalah korban dari kutukan itu.” ***

.

.

Jakarta, Juni 2022

Ade Mulyono, lahir di Tegal. Prosais dan esais. Tulisannya dimuat di sejumlah media. Novel terbarunya Namaku Bunga (2022).

Yeyet Dewi Koryeti, lahir di Bandung 1965. Belajar sketsa dan drawing di Pasir Layung Bandung dari pelukis Jeihan Soekmantoro, Maman Noor, dan Agoes Noegroho tahun 1984-1985. Kuliah Jurusan Seni Murni FSRD ITB, 1985-1992. Sekarang mengajar pendidikan TPB DKV Itenas sejak 2007. Beberapa kali menggelar pameran tunggal ataupun bersama di dalam dan luar negeri. Yang terakhir adalah Pameran Self-Portrait 2022 di Sanggar Olah Seni Bandung.

.

Tragedi Cinta Amangkurat. Tragedi Cinta Amangkurat. Tragedi Cinta Amangkurat. Tragedi Cinta Amangkurat. Tragedi Cinta Amangkurat.

 790 total views,  25 views today

Average rating 2 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: