Cerpen, Maya Sandita, Republika

Buteug

Buteug - Cerpen Maya Sandita

Buteug ilustrasi Rendra Purnama/Republika

3
(2)

Cerpen Maya Sandita (Republika, 24 Juli 2022)

DUA tahun yang lalu, Lis bercerai dengan suaminya yang pertama. Ia lantas memilih hidup dengan status janda bersama lima orang anak perempuannya. Tahun pertama dilalui Lis—dan hari-hari berlalu biasa saja. Hingga pada tahun kedua, omongan orang kampung sudah bising di telinga Lis.

Mereka berkata bahwa hidup menjanda tidaklah baik, bagaikan kacang tanpa kulit, bagaikan rumah tak berpintu. Tak ada yang menjaga. Orang pun tak menaruh segan barang seujung jari saja.

Pikiran Lis terusik. Ia yang biasanya sanggup bekerja dari subuh hingga matahari terbenam—dibantu anak-anaknya, kini sering sekali bermenung di halaman.

“Apa yang Ibu pikirkan?” tanya si bungsu.

Lis yang baru pulang dari ladang dengan wajah lesu dan tertunduk itu pun tersentak dari lamunannya. “Tidak, Nak. Hanya letih saja. Ambilkan ibu segelas air, ya?” pintanya kemudian.

Orang-orang kampung seperti yang ada di Sindapang barangkali juga ada di kampung lain. Mereka senang mengurusi periuk orang, bahkan tilam, hingga sumur galian yang tak seberapa dalam. Tapi, jangan pikir mereka tengah berempati. Mereka hanya suka mengomentari. Tidak peduli apakah akan baik atau buruk akibatnya. Kritik yang bergandengan dengan gosip berada di takhta paling raja.

Lis dengan cepat menjadi omongan ke kampung sebelah. Ia yang dulunya menikah di usia yang sangat muda, kini sudah menjanda di usia 35, dan wajah Lis masih memesona. Wajar jika banyak lelaki yang menawarkan diri menjadi pengganti bapak bagi kelima anaknya. Tapi, Lis masih ragu membuka hati.

Hingga suatu petang, dua orang lelaki datang bertamu di rumah Lis. Orang yang muda bernama Siman, sedangkan yang lebih tua adalah Buteug. Lis tidak canggung menyambut Siman, sebab mereka adalah teman masa kecil. Lantas, disuguhkannya dua cangkir teh manis dan sepiring lemang yang dibawakan Siman.

“Dari mana, Man?” tanya Lis.

“Dari pasar mudik, Lis. Baru saja pulang mengantar bahan bangunan dari Toko Jaya Abadi yang dipesan orang kantor camat,” jawabnya.

“Di jalan bertemu dengan Pak Tua ini. Namanya Buteug. Dia membawa sebatang lemang. Saya kasihan, Lis. Agaknya sudah penat betul dia berjalan. Jadi, saya tawarkan tumpangan. Mumpung lewat di depan rumahmu, jadi saya singgah. Saya ingin berikan lemang ini padamu. Sebab, di rumah tidak ada yang akan memakannya.”

Lis heran dengan kalimat terakhir Siman, “Bukankah Niar suka makan lemang?” tanyanya.

Baca juga  Musyawarah Para Pencuri

“Niar sudah seminggu berpulang, Lis. Ada pendarahan di otak istriku itu,” Siman menjawab pelan, matanya memerah sebab air mata yang ia tahan.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun… Maaf, Man. Saya tidak tahu.”

“Tidak apa, Lis,” Siman menyapu wajahnya. “Saya harus pergi sekarang, Lis. Sudah terlalu sore. Saya harus antarkan Buteug pulang. Kasihan kalau terkena angin malam.”

Sesingkat itu saja pertemuan mereka. Lis yang sudah merasa canggung sebab merasa bersalah telah membahas almarhumah istri Siman lantas menjadi makin tenggelam dalam diam. Lis makin banyak bermenung. Ada-ada saja yang terlintas di pikirannya.

Dalam sekejap, Lis terbebani pikirannya, “Bagaimana jika Siman tersinggung, lalu marah padanya? Bagaimana jika orang kampung tahu dan menganggap Lis tidak punya perasaan? Tapi, dari mana orang kampung tahu? Apakah Siman yang memberitahu kan?”

Perut Lis jadi lapar sebab pikiran-pikiran itu. Ia teringat lemang yang dibelikan Siman. Lis pun makan. Mulut Lis mengunyah pelan, tapi perutnya tak kenyang, malah otaknya yang penuh dengan pertanyaan.

Rupanya, kedatangan Siman dan Buteug bukanlah seperti yang tampak di mata Lis. Siman sengaja datang sebab ia tahu Lis sudah jadi buah bibir orang kampung dan butuh pelindung. Buteug dan lemangnya adalah pengantar agar rencananya berjalan lancar. Sungguh, benar-benar lancar. Satu bulan kemudian, Lis dan Siman sudah dalam ikatan pernikahan.

Ini tidak sesederhana yang tampak. Setelah Lis menikah, orang kampung Sindapang yang disangka akan diam malah mencari busuknya Siman. Beberapa orang membandingkannya dengan suami Lis yang pertama. Lis diaduk-aduk perasaannya. Belum lagi, anak-anak Lis tidak suka dengan Siman.

Si sulung yang paling tidak suka, sebab ia tak pernah melihat Siman beribadah. Sementara, tiap kali Lis dan Siman bertengkar, laki-laki itu selalu mengancam, “Akan saya selesaikan kau, Lis. Atas nama Buteug!”

Lantas pergi dari rumah untuk satu malam. Si sulung sudah berusaha memberitahu ibunya. Tapi, Lis bergeming. Semalaman ia akan mengurung diri di kamar. Ketika Siman kembali di pagi hari, ia akan meminta maaf kepada Lis dengan membawa sebatang lemang. Dengan begitu mudahnya Lis memaafkan, melupakan, dan tak ragu melanjutkan pernikahan. Dan ini bukan pertama kali.

Malam itu, Siman pergi lagi ke luar, katanya hendak ke rumah Buteug, menenangkan diri. Lis membiarkannya pergi, juga membiarkan rasa khawatir muncul di dada sendiri. Sebab, sebelumnya mereka bertengkar karena Siman yang tidak bekerja.

Baca juga  BILA KAUMAU, AKU BISA

“Kau tak suka saya menganggur, kan? Jadi, tunggulah di rumah. Nanti jam 12, saya kembali,” kata Siman.

Benar. Tepat pukul 12, Siman kembali. Namun, ia tidak sendiri. Ia bersama Buteug.

“Buteug akan menginap semalam. Besok pagi kuantar ia ke Balai Rami.” Siman berlalu di hadapan Lis. Di tangannya ada sebuah benda dalam balutan kain putih. “Buteug titip di sini sebentar. Suatu saat, diambil lagi. Jangan dipindahkan letaknya dari atas lemari. Biar tidak dimainkan anak-anak.” Siman tidak menunggu jawaban Lis. Ia keluar dan menutup pintu kamar. Siman di ruang tamu dengan Buteug.

Sehari setelahnya, Lis tak lagi menyoalkan Siman yang malas bekerja. Ia tidak menuntut meski Siman tak memberi nafkah. Jika Siman membentak anak-anaknya pun, ia tidak marah. Malah, ia akan membela Siman habis-habisan.

Si sulung akhirnya berontak. Ia tak lagi bisa menerima keadaan seperti ini. Ia merasa ibunya tidak sayang lagi pada anak-anaknya.

“Laki-laki itu sudah tidak pulang seminggu. Kalau besok pagi Ibu masih menerimanya dengan baik sementara ia tak menjelaskan apa-apa, saya akan pergi, Bu. Maafkan saya. Tidak sanggup saya melihat Ibu jadi alas kaki pagi ke senja.”

Lis spontan menamparnya.

Tamparan itu menjadi tanda bagi si sulung tentang pilihan ibunya. Keesokan paginya, ketika matahari belum lagi tampak, dan bulan masih di peraduan, si sulung ke luar dari rumah. Namun, alangkah terkejutnya ia mendapati Buteug memercikkan air ke dinding rumah sembari mulutnya komat-kamit. Di ujung jalan, ia dapati seseorang dengan lampu minyak di tangannya. Ia tahu, itu suami ibunya.

Kepergian satu anaknya membuat Lis kembali jadi bual-bualan di kampung Sindapang. Lis dikatakan perempuan gatal yang lebih mementingkan suami dibanding anak sendiri. Lis dihujat sebagai ibu gagal sejak saat itu. Kemudian, Lis menjadi makin banyak diam. Pikirannya makin kacau. Ia makin sering bermenung di halaman dan si bungsu masih bertanya padanya, “Apa yang Ibu pikirkan?”

Sayangnya, pertanyaan yang sering sekali keluar dari mulut bocah delapan tahun itu membuat emosinya meledak. Lis muak. Ia berteriak tepat di depan wajah si bungsu. Anak kecil itu kemudian membisu. Ia pelan-pelan berjalan ke kamar dan meringkuk di dekat kakak-kakaknya.

Orang Kampung Sindapang menganggap Lis sudah hilang akal sehatnya. Mereka mengatakan, Lis salah pilih suami, Lis salah punya banyak anak, Lis salah karena menikah muda, Lis salah karena miskin, Lis salah ini, Lis salah itu, semua salah Lis.

Baca juga  Cerita Poster dalam Rumah Penuh Dusta

Sedang obrolan begitu hangatnya, awan berubah gelap, hujan lebat turun, dan angin memorakporandakan Kampung Sindapang tanpa ampun. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Pohon-pohon tak kuat lagi, atap seng terbang berseliweran ke sana kemari—seolah leher orang yang sedang ia cari.

Lis yang tadi sedang di halaman, tersadar dari lamunannya. Ia teringat anaknya. Berlari ia ke dalam rumah, masuk ia ke kamar, dikuncinya pintu rapat-rapat, dipeluknya anak yang kini tinggal empat. “Ibu… kami takut!” tangis mereka.

Kurang lebih setengah jam badai meluluh lantakkan Kampung Sindapang. Orang-orang yang rumahnya tidak roboh pelan-pelan memberanikan diri ke luar rumah, mengintip keadaan yang sudah kelewat parah. Lis pun demikian. Ia keluar kamar sembari tangannya dan tangan anak-anak bergenggaman.

Hawa dingin masih terasa. Lalu, Siman muncul dan masuk ke kamar. Tiba-tiba berteriak ia, “Di mana benda yang saya taruh di atas lemari ini, Lis?”

Lis menggeleng. Ia benar-benar tidak tahu. Tapi, Siman tidak percaya. Ia terus mendesak Lis dan anak-anaknya. Hingga akhirnya Siman menyadari bahwa si sulung tidak di rumah, “Di mana ia?” tanyanya.

Lis tidak menjawab. Siman meninggalkan Lis dan keempat anaknya, lantas ia mencari si sulung. Ia menduga, benda itu ada di tangan si sulung. “Akan kubuat kau menyesal, atas nama Buteug!”

Sementara, Buteug sedang duduk di dalam bus AKAP melintasi jalan yang membelah kampung Sindapang menjadi dua. Ia di sana membawa sebatang lemang. Si sulung duduk di sampingnya dengan sebuah benda berkain putih.

“Tidakkah kau merasa bersalah telah mempermainkan ibuku, sementara ia telah tersiksa pula hatinya oleh saudara sekampung yang tak punya empati?” bisiknya geram.

Buteug diam dan menelan ludah. Ujung benda malapetaka yang tajam itu diarahkannya ke pinggang si tua. ***

.

.

Batam, 24 Juni 2022

Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang (2019). Berdomisili di Batam, Kepulauan Riau. Buku kumpulan cerpen terbarunya bertajuk Ruang Tunggu (2021, Penerbit Egvan).

.

.

 304 total views,  4 views today

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: