Cerpen, Media Indonesia, Sidik Nugroho

Pernikahan Pengarang

Pernikahan Pengarang - Cerpen Sidik Nugroho

Pernikahan Pengarang ilustrasi Budi Setyo Widodo (Tiyok)/Media Indonesia

4.6
(12)

Cerpen Sidik Nugroho (Media Indonesia, 24 Juli 2022)

TAMU-TAMU mulai berdatangan, calon istriku masih belum sampai di gedung resepsi. Jadwal acara yang kami tuliskan di undangan pernikahan adalah 09.00-13.00. Sekarang sudah pukul 09.05. Kampret, dia memang sering bikin hal sejak dulu. Tapi, tak jarang juga dia memberi kejutan. Mengesalkan, tapi kadang membahagiakan. Tapi… ini pernikahan! Kuharap kejutan itu benar-benar membahagiakan. Kalau tidak, memang sungguh kampret dia!

Aku merogoh saku jas, mengambil ponsel, meneleponnya. Yang menjawab operator. Aneh, operatornya pria. “Telepon yang Anda tuju sedang… apa coba?”

Sedang… apa coba? Lalu, yang bicara pria! Yang benar saja! Bukannya biasanya “sedang berada di luar jangkauan” dan operatornya wanita? Apa-apaan ini!?

Di antara para tamu, tidak ada yang menyadari kegelisahanku selama beberapa menit sampai aku melihat dua pasang mata mengamatiku. “Hei, Bung!” Yang menyerukannya berseragam polisi.

Polisi? Ini pasti kawan calon istriku. Aku punya teman polisi, tapi sudah lama tak menjalin hubungan akrab. Di samping polisi itu ada wanita yang selalu tersenyum. Dari gelagat keduanya, mereka tampak akrab satu sama lain.

“Jangan khawatir, Bung,” kata wanita itu. “Teman kami, Gozali, sudah kami minta untuk mencaritahu keberadaan calon istrimu.”

Gozali… aku pernah dengar nama itu. Belum kutanggapi, mereka sudah bergabung dengan tamu-tamu lain, mengobrolkan kisah-kisah yang terdengar seru. Samar-samar terdengar sebuah kata yang diucapkan mereka berkali-kali: “misteri”. Aku pun segera tahu—mereka berdua adalah S. Mara Gd dan Kapten Polisi Kosasih! [1]

Mereka begitu asyik berbicara sampai-sampai aku lupa ada tiga orang yang mendekatiku: pria tua, nenek tua, dan pria muda. Si nenek tua menepuk pundakku, berkata sambil terkekeh-kekeh, “Hei! Kau perlu santai, Nak. Kalau nanti kau mendapati calon istrimu berselingkuh, atau tidak jadi menikah denganmu, belajarlah ilmu kanuragan.”

“Kanuragan? Semacam silat?”

“Betul, Nak,” kata si pria tua.

“Sabar dan marah. Diam dan bertindak. Cara halus dan kasar. Kita harus selalu seimbang menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Mata dua, hidung satu, telinga dua, mulut satu—semuanya seimbang.” Pria tua yang satu ini tampak lebih bijak.

Aku baru menyadari bahwa pria muda yang belum bicara berambut gondrong ketika mendekatiku. Kupandang dari samping, rambutnya disisir ke belakang, dikuncir. Sebelum menepuk pundakku, dia menatap dua teman yang bersamanya. Dua orang itu mengangguk, si nenek tua yang suka terkekeh-kekeh wajahnya berubah jadi serius. “Berikanlah,” katanya dengan takzim, sambil bersedekap dan mengangguk pelan.

Pria muda itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya di bagian dalam. Aku terpana memandangnya, kakiku seperti tak kuat berdiri. Itu kapak terkenal, di matanya ada tulisan 212. “Jadi, kalian ini… Bastian Tito, Sinto Gendeng, dan Wiro Sableng?” kataku dengan suara bergetar. Tanganku ikut bergetar menyambut kapak itu. [2]

Baca juga  Sangkar Perkawinan

Ketiganya mengangguk, tersenyum, saling berpandangan. “Jaga baik-baik kapak itu, Bung,” kata Wiro Sableng.

“Kukira kalian selalu berpakaian silat ke mana-mana,” kataku sambil memerhatikan penampilan mereka yang mengenakan jas dan celana panjang seperti tamu-tamu lain.

“Di dalam resepsi pernikahan, berbaju pendekar akan terlalu mencolok, Nak,” kata nenek tua yang suka terkekeh-kekeh alias Sinto Gendeng.

Tamu-tamu semakin ramai. Aku mengamati keadaan sekelilingku sambil berjalan mengelilingi gedung resepsi. Oh… orang-orang yang tadi kutemui, sungguh tak terduga hadir dalam acara ini. Seingatku, tak pernah kuundang mereka; ia juga tak pernah menceritakan akan mengundang mereka.

“Hei!” tegur seorang pria dari kejauhan.

Seketika aku menoleh, menatap wajah pria yang jaraknya sekitar sepuluh meter dariku. Aku pun mendekatinya sambil menengok jam. Sudah pukul 09.30. “Iya, ada apa?”

“Kau bawa kapak ke mana-mana! Apa ada masalah, Bung?”

Aku baru sadar masih memegang kapak yang diberikan Wiro Sableng. “Oh, maaf. Saya lupa menyimpannya,” kataku sambil memasukkannya ke dalam saku jas bagian dalam. Saku jasku ternyata agak kecil, tidak sebesar milik Wiro Sableng, mata kapak itu kelihatan sebagian saat jas kukancingkan. Kapak itu pun kuletakkan di bawah punggungku, kuselipkan di celana.

“Apa tadi ada ribut-ribut di sini?” tanya pria itu, suaranya terdengar menyelidik.

“Tidak, ini kapak pemberian, Bung. Dari seseorang,” kataku sambil menoleh ke belakang, mencari-cari Wiro Sableng.

“Hei!” terdengar suara lain. Sesosok pria yang tampak alim, berkacamata, berjalan mendekati kami dari belakang pria yang menegurku. “Ada apa, Ajo Kawir?” katanya saat berada di depanku, di samping pria itu.

“Saya tadi lihat dia bawa-bawa kapak. Saya kira, dia mau berkelahi atau semacamnya, Mas,” jawab Ajo Kawir.

“Oh… mungkin saja, Bung, kapakmu mengingatkan dia akan masa lalunya,” kata pria itu sambil tersenyum kepadaku. “Dia dulu sangat suka berkelahi.”

“Sekarang sudah jarang, sejak bisa ngaceng!” kata Ajo Kawir setengah berbisik, lalu mengedipkan mata kepada pria di sampingnya.

“Ayo kita ke sana!” kata pria berkacamata, merangkul Ajo Kawir, mendekati suatu kerumunan.

Ajo Kawir menoleh ke belakang, berhenti melangkah, menatapku. “Kulihat ada amarah di wajahmu, Bung. Kalau ada yang meresahkanmu, bertindaklah jantan! Jangan memendam dendam! Seperti rindu, dendam harus dibayar tuntas, Bung!” [3]

Aku lantas menyadari, dua orang itu Eka Kurniawan dan Ajo Kawir. Seketika aku teringat calon istriku yang cantik—apakah dia terluka? Aku makin khawatir, sekarang sudah hampir jam sepuluh. Aku mendekati pintu keluar, menunggu kedatangannya. Kalau ada yang memanggilku atau menyapaku, sumpah mati akan kuabaikan. Sampai di pintu, aku melihat dua pria gondrong yang masing-masing dibonceng tukang pos. Yang satu rambutnya banyak yang putih; lainnya lebih muda, berambut hitam, dan bertato. Setelah turun, mereka seperti berlomba masuk ke dalam gedung resepsi. “Aku sudah mengirimi Alina sepotong senja! Nggak akan kurelakan dia jadi milik pria lain!” kata pria yang lebih tua.

Baca juga  Suatu Ketika dalam Kematian Budi Anjing

“Dia sudah kukirimi sepotong bibir! Dia milikku!” sahut pria satunya.

“Ah, bibir yang kaukirimkan itu bibir Tukang Kibul. Itu pun bukan khusus untuknya. Itu awalnya kaukirim untuk Maneka! Biarlah tukang pos terbaik di dunia yang menjadi saksi kita, siapa di antara kita berdua yang lebih pantas mendapatkan Alina!” kata pria yang lebih tua sambil masuk ke dalam, diikuti yang lebih muda.

“Yang paling pantas untuk Alina ya… Sukab! Bagaimana sih?” kata pria yang lebih muda dan bertato.

Saat mereka berdebat, mobil pengantin tampak di kejauhan. Namun, menyaksikan apa yang baru saja terjadi, aku bingung. Dua pria itu menyebut-nyebut Alina, sementara nama calon istriku Anggita.

Pintu mobil dibuka. Saat kaki calon istriku terjulur keluar, menyentuh aspal, aku degdegan. Ah, akhirnya momen terindah dalam hidupku ada di depan mata! Ia keluar, menutup pintu. Ia melangkah masuk, tapi mengabaikanku, melintas di depanku tanpa menoleh, diikuti sederet orang yang berjalan di belakangnya dalam dua barisan. Lagu yang indah berkumandang, bergema di dinding dan langit-langit gedung resepsi yang tampaknya makin luas dan megah.

Sepasang merpati masuk ke dalam gedung, diikuti banyak burung gereja.

Di pelaminan, sekitar dua puluh meter dari tempatku berdiri, seorang pria sudah menunggu. Akukah itu?

Kelihatannya mirip aku, tapi aku tidak yakin. Seluruh hadirin bersuka cita, bersorak, ada juga para remaja putri yang bilang, “Cieee… cieee.” Aku membisu di dekat pintu. Kucari kursi untuk duduk karena lelah berdiri. Aku pingsan kelelahan pada hari pernikahanku.

Saat terbangun, aku merasa badanku dibungkus dalam sebuah kardus besar. Aku tidak bisa bergerak. Terdengar suara “brettt” beberapa kali setelah tak ada lagi guncangan. Aku menyadari itu suara isolasi yang ditarik atau dilepas. Aku bernapas lega ketika kardus yang membungkusku mulai terbuka. Kulihat tukang pos berseragam oranye melepaskan semua isolasi yang ditempelkan di kardus yang membungkusku.

Baca juga  Surat Balasan untuk Bidadari

Aku bertanya, “Siapa yang mengirimku kemari?”

“Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor.” [4]

Oh… aku baru teringat nama dua pengarang gondrong yang datang belakangan itu!

“Mereka berdua ke mana?”

“Kembali ke Negeri Senja, diantar dua tukang pos lain,” katanya sambil membantuku keluar dari kardus. “Mereka salah masuk gedung resepsi tadi. Alina masih sendiri, tapi entah di mana. Memang sempat tersiar kabar, Alina akan menikah. Tapi… kuyakin itu kabar burung.”

“Aku sendiri… sekarang ada di mana?”

Tukang pos itu tersenyum. “Lihatlah sekelilingmu.”

***

AKU berada di warung kopi yang tiap hari kukunjungi. Dari kejauhan kulihat wajah Anggita, menghampiriku. Tumben dia kemari, menyusulku. Melihatnya, hatiku diliputi kelegaan yang besar. Betapa beruntung aku mendapatkannya. Sering mandi, sering gembira, dan banyak membaca adalah tiga hal yang perlu dilakukan pria jomlo yang tidak ganteng agar ditaksir wanita—itulah nasihat kawanku yang dulu kulakukan ketika mulai mengenalnya.

“Sudah selesai ngarangnya, Mas? Jangan lupa, sebentar lagi kita mesti mengambil jasmu.”

Kuhabiskan kopiku, mematikan laptopku, menuju kasir, membayar. Kunyalakan mesin sepeda motorku; Anggita duduk di belakangku, memeluk erat pinggangku. Aku tahu, dia sangat menantikan resepsi pernikahan kami besok.

Aku yang masih terbius kopi, bertanya kepada Anggita saat warung kopi sudah makin jauh kami tinggalkan, “Eh, ada kapak nggak di punggungku, kuselipkan di celanaku?”

“Apa?” katanya setengah berteriak. “Kapak?” ***

.

.

Pontianak, 2021-2022

.

Catatan:

[1] S. Mara Gd terkenal dengan cerita-cerita detektif dengan tokoh Kapten Polisi Kosasih dan Gozali. Judul novelnya banyak yang diawali dengan kata “misteri”.

[2] Bastian Tito menulis cerita-cerita silat dengan karakter Wiro Sableng dan Sinto Gendeng.

[3] Itu berasal dari judul novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Di novel itu dikisahkan, tokoh bernama Ajo Kawir yang tidak bisa ngaceng atau tegak kemaluannya dan suka berkelahi.

[4] Seno Gumira Ajidarma menulis kumpulan cerita Sepotong Senja untuk Pacarku dan Agus Noor menulis kumpulan cerita Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Keduanya menggunakan beberapa tokoh bernama sama, yaitu Sukab, Alina, dan Maneka.

.

.

Sidik Nugroho menulis artikel, cerpen, dan beberapa bukunya sudah diterbitkan. Novel terbarunya berjudul Klien Ketiga (2021)

.

Pernikahan Pengarang. Pernikahan Pengarang. Pernikahan Pengarang. Pernikahan Pengarang. Pernikahan Pengarang. Pernikahan Pengarang.

 584 total views,  19 views today

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

10 Comments

  1. Rml

    Nda jelas. Nol besar

    • haiya

      iya, cerpenmu lebih bagus

      • Rml

        Mudah-mudahan begitu.

        Tapi penilaian saya di atas, didasarkan pada pembacaan saya bahwa cerpen tersebut tidak memiliki jalinan cerita yang baik dan menarik. Cerpen itu hanya terbaca sebagai kumpulan penyataan dan rangkaian penyosokan sejumlah penulis besar, tanpa dijalin oleh sebuah cerita yang logis. Hanya serupa “tinjauan pustaka” jikalau pada karya tulis ilmiah. Seolah hanya sebagai upaya sang penulis untuk menggandeng nama besar demi menarik perhatian redaktur, yaitu dengan berupaya mengesankan bahwa cerpennya itu “sebaik” cerpen penulis besar yang dikutipnya.

        Semestinya, cerpen harus memiliki sebuah jalinan cerita yang menarik dan utuh, sebab itulah yang membedakannya dengan jenis tulisan yang lain. Kalau mau bermain majas dan membuat tulisan superrealis, maka tulislah puisi, jangan cerpen. Kalau mau menulis dengan penuh teori keilmuan, tulislah karya ilmiah, jangan cerpen. Kalau mau menulis peristiwa nyata secara kronologis tanpa intrik apa-apa, tulislah diary atau berita. Kalau mau menulis kumpulan pernyataan dan biodata tokoh-tokoh, tulislah biografi.

        Jadi, merupakan sebuah keharusan bahwa cerpen harus memiliki jalinan cerita yang mantap, agar ia tidak malah jatuh menjadi jenis tulisan yang lain. Cerpen harusnya bisa memberikan hiburan dan kesan yang lain dengan cerita yang menarik tersebut.

        Persoalan itu penting untuk menjadi perhatian semua penulis cerpen, bahwa janganlah menulis cerita dan mengatasnamakannya cerpen, hanya dengan sekadar menumpahkan hasil imajinasinya yang kabur dan absurd, tetapi mesti mengupayakannya untuk bisa menyentuh ruang imajinasi pembaca. Itu penting, agar para pembaca cerpen, setidaknya, bisa mendapatkan kenikmatan hiburan dari aktivitas membaca cerpen dan tidak malah muak dengan ketidakmasukakalan atau keburaman cerita sebuah cerpen.

        Singkatnya, penulis cerpen harus menulis “CERITA”, dan itu harus menarik dan logis.

        • “Merupakan sebuah keharusan bahwa cerpen harus…”, “Penulis cerpen harus…”, banyak sekali kata “harus” di komentar ini. Anda ingin mengatur penulisnya membuat cerita seperti yang anda mau. Itu pun menunjukkan bahwa Anda menulis cerpen juga.

          Soal memasukkan nama-nama penulis lain, saya kira itu sah-sah saja dalam cerita. Cerita terbaru di Kortem judulnya malah ada Hemingway-nya. Yang jadi persoalan adalah klaim Anda yang menyatakan “menggandeng nama besar untuk menarik perhatian redaktur.” Itu menunjukkan selama ini Anda tidak bisa menarik perhatian redaktur. Belum ada cerpen Anda yang dimuat kah? 🙂

          Ide cerita Pernikahan Pengarang ini menghibur dan unik kok. Ceritanya tidak terlalu spesial. Ya itu hal biasa dalam menulis, kadang ada karya bagus, biasa, atau jelek dari penulis yang sama. Tapi untuk menganggapnya nol besar, saya tidak sepakat. Alih-alih tertuju kepada karya ini, saya membaca komentar anda nol besar itu sebagai ungkapan kekecewaan Anda yang selama ini cerpennya tidak dimuat di mana-mana. Yang rileks dan sabar ya, Rml. 🙂

          • Rml

            Hehe. Saya sangat santai ini. Aman… Kamu mungkin yang terlalu serius.

            Soal tudingan bahwa pendapat saya dilatari oleh kekecewaan saya karena tidak berhasil menerbitkan cerpen saya di “media besar”, itu tidaklah benar. Itu karena saya memang tidak pernah mengukur keberhasilan saya menulis cerpen dengan menerbitkannya di media besar. Cukup dengan menerbitkannya di “media kecil” atau bahkan di blog pribadi, sudah merupakan kepuasan bagi saya. Apalagi, memang bukan ukuran yang objektif bahwa karya yang terbit di media arus utama cerpen semacam Tempo dan Kompas, merupakan karya yang berkualitas. Terbit di media tersebut hanyalah ukuran bahwa seorang penulis berhasil memikat subjektivitas redaktur, serta berhasil mengalahkan banyak orang yang mengharapkan honor gede atas karya mereka. Intinya, pemikatnya adalah honor yang besar. Sayangnya, tanpa sadar, orang-orang “buta” telah mengaminkan bahwa cerpen yang diganjar honor besar adalah cerpen yang berkualitas. Ini adalah kiamat dalam kreativitas percerpenan.

            Soal karya yang saya kritik di atas, tentu saya pun mengerti pokok cerita yang ingin disampaikan penulis, bahwa pada akhir ceritanya, sang tokoh utama menikah dengan Alina yang merupakan tokoh cerpen SSUP karya Seno Gumira. Hanya secuil pertautan cerita itu yang saya tangkap berdasarkan pembacaan saya atas cerpen SSUP. Tapi soal kutipan karya dan penokohan nama penulis besar lainnya, itu terkesan hanyalah tempelan untuk memperpanjang halaman. Hanya sebuah upaya untuk menggandeng nama besar. Akibatnya, cerita tersebut jadi sangat kabur dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang sedang “mabuk di dalam dunia surealisnya”.

            Sekali lagi, penulis cerpen haruslah menulis cerpen sebagai cerpen, yaitu dibangun dengan sebuah jalinan cerita yang bisa dipahami dan dinikmati. Kalau mau menulis persoalan dengan supersurealis dalam soal makna, yang mungkin maksudnya untuk mendobrak batas makna tulisan demi memberikan kemerdekaan kepada setiap pembaca untuk menafsirkannya, maka tulislah puisi, jangan cerpen. Silakan tulis puisi seabsurd-absurdnya, dan jangan menodai dunia percerpenan.

            Terus terang, kritik saya berangkat dari kekecewaan saya setelah membaca sekian banyak cerpen terkini yang “kosong” dalam soal cerita. Hanya mengandung cerita semacam: suatu pagi ia mandi, makan, lalu pergi ke sekolah. Begitu saja. Namun celakanya, itu dianggap cerpen yang baik karena memuat nama dan pernyataan tokoh-tokoh besar, berlatar belakang negeri luar, mencantumkan teori ilmiah, atau menggunakan istilah-istilah yang kemudian diterangkan pada bagian catatan kaki. Hanya sebuah trik untuk membuatnya seolah-olah bergengsi. Dan sialnya, sering kali, ya, ceritanya sama sekali tak punya nilai “menghibur” sebagai seni. Melempem atau malah kabur.

            Saya kira, wabah meresahkan dalam dunia percerpenan itu diakibatkan oleh pengkiblatan orang-orang pada media tertentu, yang itu berarti penuhanan terhadap redakturnya. Kalau para penulis cerpen, misalnya, berkiblat pada Kompas atau Tempo, mereka akan berusaha membuat cerpen yang menjadi ciri khas media tersebut, yang berarti cerpen yang sesuai selera sang redaktur. Akibatnya, semua orang akan jadi satu mazhab soal cerpen yang baik, yang jika saya identifikasi belakangan ini, mesti memuat kriteria-kriteria tertentu: judul harus memikat, kalimat pembuka harus bombastis, mengandung kata-kata asing yang akan dijelaskan di catatan kaki, menggunakan nama tokoh yang “kebule-bulean” atau “asing”, berlatar belakang negara-negara luar atau dunia khayali, dan lebih baik mengandung unsur surrealis agar mencerminkan keagungan imajinatif. Demikianlah. Tapi, sekali lagi, celakanya, seringkali cerpen yang memuat kriteria-kriteria tersebut tidak dibangun dengan tulang punggung cerita yang utuh dan menarik dari awal sampai akhir. Akibatnya, lahirnya cerpen dengan cerita yang melempem, kabur, atau sangatlah buruk.

            Fenomena itu lahir seturut dengan lahirnya penulis saklek yang mendakwakan cara-cara “halu” dalam menulis. Mereka mendoktrinkan cara mereka menulis cerpen, yaitu menulis setelah hanya menemukan rangkaian kata judul yang menarik, atau menulis cerpen setelah menemukan kalimat pembuka yang membuat penasaran. Mereka ingin menggoda redaktur dengan judul atau kalimat pembuka yang melangit, dan mereka yakin sudah menghasilkan cerpen yang baik jika mereka unggul pada dua hal itu, meski mereka sama sekali tak memiliki konsep soal jalinan cerita yang menarik dan utuh dari awal sampai akhir cerpen. Imbasnya, lahirlah cerpen dengan judul sensasional, misalnya, “Elizha Menanam Khuldi dalam Mimpinya yang Kedua Puluh”. Lalu dibuka dengan kalimat, ” Elizha mati sebelum lahir. Akalnya habis dimakan naga. Ular berkepala dua tak mampu menyeretnya ke dunia”, dan seterusnya. Dan bisa dipastikan, bahwa cerpen semacam itu adalah cerpen yang sekabur, seabsurd, dan setidakbermakna judul dan kalimat pembukaannya. Itu sering terjadi, dan itu sangat mengecewakan.

            Tapi sudahlah, ini hanya sekadar unek-unek saya. Bagaimanapun, saya sadar kalau saya hanyalah budak dalam percerpenan. Orang-orang, termasuk “Kamu”, pastilah lebih suka memandang cerpen yang baik sebagimana cerpen yang baik, sebagaimana yang digariskan “para rasul” media-media yang menyediakan honor yang besar.

            Salam waras, salam santai, salam cerpen! 🙂

        • Baguslah kalau kamu santai. Kalau santai sejak awal, mestinya gak buru-buru kamu bilang nol besar. Dan… ini yang saya sayangkan dari kamu: kamu membaca cerpen ini pun salah. Kamu menyebut si tokoh menikah dengan Alina? Wah… kamu nggak membaca cerpen ini. Tokoh ini di akhir menikah dengan Anggita, bukan Alina.

          Yang kamu lakukan kalau menurut saya sudah menyerempet bahaya, mengkritik tapi tak paham esensi. Pahami dulu ceritanya sebelum mengkritik. Alina hanya tokoh rekaan yang disebut dalam cerita, sama seperti Wiro Sableng, Ajo Kawir, dll. Coba baca ulang lagi, kata kuncinya adalah “terbius kopi”. Kopi yang membawa penulis dalam cerita itu berkelana bertemu pengarang2 lain dan tokph2 yg mereka ciptakan .

          Saya sepakat denganmu kalau memang banyak penulis cerpen terlalu asyik dengan dunianya, tapi kalau yang ini menurut saya tidak demikian. Penulisnya (Sidik Nugroho) berusaha membuat cerita berdasarkan “kedekatan”-nya dengan beberapa bacaan. Yang menarik di sini adalah bacaan itu beberapa tidak dianggap sastrawi. S Mara Gd dan Bastian Tito bukanlah orang-orang yang dianggap sastrawi.

          Saya kira cerpen ini tetap berhasil menyuguhkan kisah yang menghibur dan sedikit lucu. Masih jauh dari nol besar. Ya, kalau nilai tertinggi 100, saya kasih 60-70. Cheers. 🙂

          • Rml

            Sip. Terima kasih atas respons kamu. Saya sangat menghargai itu. Saya mungkin salah menafsir cerita itu karena ceritanya memang “melangit” dan sangat “khalayali”. Bisa juga karena saya membalas komenan kamu setelah beberapa hari saya membaca cerpen itu, sehingga saya jadi keliru dalam soal nama tokoh ceritanya.

            Tapi sekali lagi, saya kira, kita butuh saling mengkritik dalam soal percerpenan agar para penulis cerpen tidak asyik dalam dunianya dan mengabaikan kepentingan “kenikmatan” para pembaca. Kritik terhadap karya, tanpa peduli pada “nama besar” penulisnya. Dan saya rasa, komentar saya sebelumnya, sedikit-banyak telah menyuarakan keresahan para pembaca atas cerpen-cerpen “kabur” yang belakangan ini membanjiri media.

            Salam.

  2. Cerpen paling menghibur yang pernah saya baca. Teringat film Midnight in Paris

  3. Arjendro Setiajid

    Cerita tidak mutu

  4. Lebih bagus yang Warta Jemaat, tapi ini lumayan menghibur lah.. ngak jelek-jelek amat kok. Menyebut Bastian Tito dan S Mara Gd bagi saya malah merupakan suatu kehormatan bg mereeka. Kebetulan saya suka cerita2 mereka. Eka Kurniawan belum baca

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: