Cerpen, Jawa Pos, Jemmy Piran

Laut Mengambil Cintaku

Laut Mengambil Cintaku - Cerpen Jemmy Piran

Laut Mengambil Cintaku ilustrasi Budiono/Jawa Pos

1
(1)

Cerpen Jemmy Piran (Jawa Pos, 30 Juli 2022)

TANAH makam belum kering. Warat dan putrinya masih tetap membakar lilin, meletakkan di atas tanah kubur, kemudian ditutup dengan mendaraskan doa Bapa Kami satu kali. Usai berdoa tangis lelaki itu pecah, terdengar mencakar-cakar keheningan laut.

Warga pesisir yang mendengar tangis itu menggeleng dan tersenyum kecut. Beberapa orang yang kebetulan bersama lantas mulai berbisik-bisik, bercakap-cakap dengan suara yang direndahkan, berusaha menjaga perasaan Warat.

Mereka berpura-pura berkabung dengan kepergian Bulu, istri Warat, yang mati tenggelam karena tidak bisa menyelamatkan dirinya dari lilitan tali senar ukuran delapan puluh. Sebuah kematian yang tak masuk akal, tetapi kemudian semua orang berusaha memahami: Itu semua harus terjadi dalam kehidupan Warat, nelayan yang telah menerima bagian lebih banyak atas kemurahan laut dari nelayan-nelayan lain yang berada di perkampungan pesisir itu. Ia harus memanen hasil dari keras kepalanya sendiri.

Jika sudah demikian, selanjutnya, laut akan terasa lebih bermurah hati—tidak hanya kepada Warat, tetapi bagi mereka semua. Sebuah kematian yang mendatangkan berkat. Karena laut bagai memberi kelimpahan kepada mereka. Ikan-ikan akan memenuhi sampan-sampan.

Malam kedelapan hari perkabungan, setelah doa bersama di rumahnya bubar, Warat keluar, berjalan menyusuri bibir pantai. Ia memandang bulan sabit, mengangguk kecil.

Ia tahu sosok itu akan datang. Lama menunggu, sesekali ia bercakap sendirian ke arah laut, tertawa, lalu sesenggukan. Sebelum suara tangisnya hilang ditelan keletihan, ia melihat seberkas cahaya redup melintas di depannya, masuk ke dalam laut, bergerak kian menjauh darinya—menuju ke kedalaman laut.

Ia kaget, tapi cepat menguasai diri. Cepat-cepat ia membuka pakaiannya hingga bugil, lalu mengelus dadanya.

“Untung kau tidak mencium aroma dagingku. Kaukira bisa mengambilku seperti kau mengambil Bulu? Aku nelayan sejati. Akan kutaklukkan ganas ombakmu,” ujar Warat, lebih kepada cahaya redup itu.

Sebagai seorang nelayan, Warat tahu benar apa yang harus dilakukan manakala melihat cahaya seperti tadi atau seekor gurita raksasa di tengah laut. Bugil. Konon kabarnya, cahaya redup itu maupun gurita raksasa adalah jelmaan Harin Botan. Sesosok yang dapat mengendus keberadaan nelayan di sekitar penampakan tersebut apabila tetap mengenakan pakaian. Tetapi apabila bugil, warga percaya bahwa sosok yang mereka keramatkan itu tidak bisa mengendus keberadaan mereka.

Dua tahun lalu, Petu mati mengenaskan. Sehari sebelum ia meregang nyawa, lelaki legam yang digurat otot kekar itu bercerita bahwa ia telah melihat sosok itu dan ia lupa menelanjangi tubuhnya. Sekujur tubuhnya melepuh, lalu tiba-tiba menghitam, seperti terpanggang dalam bara. Warga kemudian percaya bahwa hawa panas tubuh Harin Botan menimpanya.

“Apa lagi yang kauminta dariku? Bukankah sudah kauterima semuanya?” Warat bersuara. Ia geram, tapi ia sadar bahwa tidak bisa berbuat banyak. Apa yang diterimanya selama ini sudah impas. Air matanya kembali mengalir saat mengingat wajah Bulu. Istri yang telah memberinya seorang gadis manis.

Baca juga  LANGIT PETANG PINGGIR DERMAGA

Malam berikutnya, ketika laut masih mengirimkan amuknya ke pantai, Warat keluar, meninggalkan putrinya yang masih duduk di kelas lima SD di kamar sedang menangis. Jika malam sebelumnya dadanya membuncah takut, kini ia bagai diberi keberanian oleh Bulu. Warat berjalan menembus kegelapan malam. Ia merasa seperti ada yang mengikuti langkahnya. Ia menengok ke belakang, tapi tidak menemukan apa-apa. Kuduknya meremang. Dari kejauhan ia mendengar lolong anjing timbul tenggelam. Seembus angin kering berembus, bagai merembes dari kegelapan malam yang kian kelam.

“Apa lagi yang kauminta?” ujar Warat ke arah laut. Tidak lagi terdengar laut yang bergemuruh, atau ombak yang mengganas. Semua menjadi tenang. Hawa dingin yang tidak biasa menjilati tengkuknya.

“Apa lagi yang kauminta? Datanglah jika kauingin menjumpaiku. Aku tidak akan lari atau menanggalkan pakaianku. Aku tetap di sini, atau kau tidak bisa mengendus keberadaanku?”

Warat menoleh ke belakang dan mendapati seorang perempuan. Tubuhnya seperti dilumeri cahaya, setengah telanjang, buah dadanya ditutupi rambut, matanya bercahaya, memipih—vertikal, tidak bulat seperti mata manusia umumnya.

“Aku tidak lagi percaya padamu,” ujar Warat.

“Aku telah memberikan semua kepunyaanku padamu. Dan, kau tidak lagi percaya padaku?”

“Ya.”

“Kau bohong.”

“Kalau memang ini keinginanmu, tenggelamkan aku sekarang juga ke dalam laut agar ikan-ikan kembali banyak.”

“Aku tidak menerima darah dari seorang yang tidak punya kesamaan dengan darahku.”

“Kau mengambil semuanya dari kehidupanku.”

“Kau sama seperti orang-orang lain. Hanya tahu mengambil, berharap laut tetap memberikan kelimpahan berkat, sementara itu kau sendiri tidak tahu bagaimana menjaga kesuciaan lautmu.”

“Aku telah melakukan apa saja untuk menyenangkanmu.”

“Menyenangkan laut.”

“Ya.”

“Lautmu kotor, tercemar, dan bau.”

“Itukah alasanmu untuk menyeretku pada penderitaan?”

“Pada saatnya pantaimu hanya tinggal cerita. Kota-kota pesisir akan lenyap. Saat itu matamu akan terbuka. Tak ada kuasa yang bisa menahan amuknya. Laut akan mengembalikan apa-apa yang pernah diterimanya dari darat.”

Warat terdiam. Ia membayangkan beberapa tempat, yang beberapa tahun lalu masih ada pantai, tapi kini mulai diganti dengan tanggul. Beberapa kota lenyap ditelan amuk laut seperti yang disaksikannya dari layar televisi. Ikan-ikan tidak lagi sebanyak dulu, seperti ketika ia masih kecil. Sampah-sampah plastik memenuhi pesisir tempat ia mendamparkan sampannya.

Setelah mengatakan itu, perempuan itu lenyap. Ribuan, bahkan jutaan gurita memenuhi pantai, entah dari mana muncul, mendesis, bagai mengatakan sesuatu, tapi Warat tidak memahaminya. Sungguh.

***

Tepat empat puluh hari kepergian istrinya, usai sembahyang yang dipimpin seorang guru TK, setelah semua orang kembali ke rumah, Warat ke dapur dan mendapati seekor gurita sedang menggerayangi peralatan dapur yang belum tercuci. Entah bagaimana, saat melihat gurita itu, ia menjadi terangsang. Ia seperti menemukan sesosok lain, seorang perempuan jelita, yang ranum dadanya menantang hasratnya. Atau tubuh yang liat oleh semacam krim, bening bagai ubur-ubur yang mulai mencair. Atau matanya yang menawan, seperti menembusi biru lautan. Sesosok perempuan gemulai, yang sering dikisahkan oleh para tetua ketika laut di hadapan mereka bergemuruh tak bersahabat. Sesosok yang pernah ditemuinya tempo hari. Sosok yang mereka percaya sebagai penjaga laut. Kadang ia menjelma perempuan cantik atau seekor gurita atau ular hitam putih.

Baca juga  Koran Ahad

Gurita itu tidak bergerak manakala Warat menembakkan pandangan ke arahnya. Warat merasa terdorong begitu saja oleh sebuah kekuatan, ia melangkah, mendekat, lantas membelai kepala gurita sambil membayangkan sesosok perempuan—tentu, bukan Bulu, istrinya.

“Apa yang kauinginkan?” bisik Warat.

Gurita itu meloloskan dirinya dari tangan Warat, menyusuri piring-piring kotor di dalam baskom. Pahamlah lelaki legam itu. Ia kemudian membiarkan gurita itu bergerak ke sana-sini sambil terus membayangkan gurita itu dengan dada berdebar. Pikirannya semakin liar memandang gurita itu bergerak gemulai.

“Andaikan…” ujar Warat, sebelum kalimatnya selesai, gurita itu cepat-cepat turun dari rak piring yang terbuat dari kayu, lantas hendak keluar melalui celah bebag.

“Besok aku akan turun ke laut,” tukas Warat. Gurita itu merayap, menghilang di balik celah pelepah kelapa dinding rumahnya.

Malam itu, Warat tidak bisa lelap. Bayangannya jatuh pada tubuh gurita yang gemulai. Napasnya menjadi tidak teratur. Ia seperti jatuh cinta pada seekor gurita. Ya, seekor gurita.

Ia bukan seekor gurita, Warat meyakinkan diri. Ia seorang perempuan jelita yang terjebak dalam tubuh seekor gurita. Dadanya menjadi berdebar. Apa pun kau, aku sepertinya telah jatuh cinta padamu, Harin Botan, bisiknya.

***

Kehidupan Warat mulai menggeliat. Sesekali ia turun ke laut bersama putrinya. Anak semata wayangnya itu terlihat gembira dan suka dengan kehidupan barunya. Bocah itu merasa bebas dari tugas sekolah.

“Pa, mengapa ibu guru memberi tugas mencari tahu tentang ikan lele?” ujar Ona, putri Warat, saat lelaki legam itu mulai menurunkan pukat. “Mengapa tidak gurita saja?”

Warat hanya tersenyum mendengar ocehan itu.

Ketika pukat terlihat mulai tertarik ke bawah, Ona berkata, “Siapa perempuan yang datang malam itu, Pa? Yang membersihkan piring-piring kotor di dapur. Ia mirip mama.”

Warat menegakkan punggung, mencoba mengingat. Sejauh ini belum ada seorang perempuan yang ia temui di rumahnya kecuali seekor gurita.

“Ia bilang supaya Ona memanggilnya dengan sebutan mama.”

Baca juga  Resep Sambal Rahasia

“Papa tidak pernah melihat dan mengundang seorang perempuan datang ke rumah kita.”

“Tapi perempuan itu bilang padaku ia mencintai aku dan Papa.”

“Aku hanya mencintai ibumu, Ona.”

“Papa bohong.”

“Aku pernah melihat papa memeluknya seperti papa memeluk mama.”

Warat tidak menjawab.

“Katanya aku boleh tinggal dengannya dalam laut. Ia berjanji mengajari aku banyak hal tentang laut kita, Papa.”

“Sebaiknya kita pulang, Ona. Sepertinya angin kencang akan segera tiba.”

“Angin tidak akan datang, Papa. Coba lihat.”

Bocah itu kemudian merentang tangannya, menengadah ke langit, lalu dengan kedua tangannya ia menyentuh permukaan laut pada kedua sisi sampan. Laut tiba-tiba menjadi bening, dan pandangan Warat mampu menembus kedalaman laut, yang sebelumnya hanya ada kegelapan.

Di bawah sana, ada sebuah perkampungan dan anak-anak berlari, tertawa bebas. Segala tampak seperti sebuah perkampungan yang ada di darat.

“Aku ingin Papa tinggal bersama aku di sana. Ada mama di sana.”

Tanpa mengangkat pukat yang ada dalam laut, Warat mendayung cepat-cepat ke arah pantai.

“Papa tidak akan pernah mengizinkanmu ke laut. Kalau kau melanggar, Papa akan menghukummu.”

Sore itu juga Warat kembali ke laut untuk mengambil pukat miliknya. Ia tidak lagi melihat perkampungan yang ditunjukkan putrinya.

Warat mulai menarik pukatnya, dan anehnya tidak ada satu ekor ikan pun tersangkut di mata pukatnya. Ia geram bukan main, lantas mengumpat kepada sesosok tak kasatmata, yang menjaga segala dalam laut. Harin Botan.

Warat kembali ke pantai ketika senja mulai lamur. Ketika sampai di pantai, hari sudah gelap. Dari keremangan lampu, ia melihat sesosok bocah perempuan masuk ke laut, dituntun seorang perempuan. Angin tiba-tiba menjadi tenang, laut tak lagi bergemuruh, dan ombak bagai begitu amat sangat tenang. Tenang sekali.

Sebelum linting tembakau sek-nya tandas, ia menjerit keras. Suaranya membelah malam yang tenang dan hening. Semua telah diambil dari kehidupannya. Semua. Tak ada yang tersisa, juga cinta dan hidupnya sendiri. Ia tidak percaya bahwa putrinya pergi ke laut menemui Bulu. ***

.

.

Waimana 1, 2022

JEMMY PIRAN. Lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI pada Universitas Nusa Cendana, Kupang. Buku kumpulan cerpen yang sudah terbit berjudul Obituari Sebutir Telur, Seekor Ayam, dan Babi (Basabasi, 2018), dua novel berjudul Wanita Bermata Gurita (Laksana, 2020) dan Dalam Pelukan Rahim Tanah (Basabasi, 2021).

.

Laut Mengambil Cintaku. Laut Mengambil Cintaku. Laut Mengambil Cintaku. Laut Mengambil Cintaku. Laut Mengambil Cintaku.

 353 total views,  20 views today

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: