Cerpen, Ian Kurniawan, Koran Tempo

Menangkap Hemingway

Menangkap Hemingway - Cerpen Ian Kurniawan

Menangkap Hemingway ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

5
(1)

Cerpen Ian Kurniawan (Koran Tempo, 31 Juli 2022)

DEBURAN ombak memukul pinggiran kapal. Banyak karang menempel, yang semakin tua, semakin membandel. Kayu-kayu berderak seolah-olah mengalami osteoporosis, dan ajal kapal itu sudah pasti akan datang menjemput.

Sang juru Nelayan Tua bernama Avis akan memulai petualangan akhir bersama kapalnya. Berlayar bersama dan tenggelam bersama, itu motonya. Avis menganggap laut adalah kampungnya sejak kecil dan tempat terbaik menguburkan dirinya dengan lautan biru yang dalam. Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berlayar, merakit kayu, membaca, dan menulis. Keuangan bukan sumber utama untuk Avis, begitu juga keluarganya, yang sudah beranak pinang sampai ia mempunyai banyak cicit—tak ada lagi kewajiban memperbanyak keturunan karena tanggung jawabnya sudah lepas dari itu.

Dia lebih suka menyendiri, namun dia orang yang dihormati, lebih sering mendapat kunjungan daripada mengunjungi. Orang-orang menganggap ia adalah sumber ilmu yang sulit ditemukan, bahkan itu tak mungkin lagi bisa ditemukan di Google, atau buku sekalipun. Dia seperti pusaka penting yang harus dilestarikan tanpa ada beban tanggung jawab yang diberikan langsung kepada generasi sekarang (milenial dan Z).

Walau suka sendiri, ia tetap membawa hewan untuk menemaninya sepanjang hari. Pertama, Figaro, kucing ginger yang hobinya melompat ke sana-ke sini. Namun, ajaibnya, dia bukan kucing yang hobi menjatuhkan barang, dan ia tampak pintar seolah-olah ia memahami sang Majikan. Kedua, burung beo bernama Ciado. Dia burung langka yang sering diburu oleh para pemburu liar, dan dia ditemukan dalam keadaan terkurung di kandang yang mungkin terjatuh saat dibawa oleh pedagang liar.

Kedua hewan peliharaan itu seperti hewan penjaga untuknya sekaligus keluarga yang mungkin sulit ditemukan di masa tuanya. “Figaro, berhenti berlagak pintar di depan buku,” kata serak sang juru kapal, “Bermainlah di luar bersama Ciado, selayaknya hewan.”

Figaro diam dan menatap majikan dengan mata indahnya. Figaro mendapat elusan dari tangan majikannya yang kasar, kapalan, dan besar itu. Kucing mempunyai sifat alamiah berlagak sebagai raja, tetapi dia bukan kucing angkuh seperti kucing yang sering dijumpai.

Figaro turun dari meja dan keluar bermain dengan Ciado di atas bebatuan pantai. Pria tua tersenyum tipis, menyeruput cangkir teh ke mulutnya. Tatkala mulutnya terbuka, gigi kremnya masih utuh—tak ada bekas noda hitam, tak ada karang gigi, dan tak ompong. Itu terlihat sempurna untuk orang tua seperti dia. Dia orang yang rajin merawat diri. Orang tua cenderung lebih suka membiarkan dirinya dihantam oleh hari-hari tuanya yang jenuh, sedangkan dia tidak.

Ia membaca buku kesayangannya: The Old Man and the Sea (Lelaki Tua dan Laut) karya legendaris Ernest Hemingway. Ketika masih kecil, ia mendapat buku itu dari nelayan tua yang pernah berlayar ke laut di negeri Barat. Itu buku tua yang sudah lusuh, namun masih bisa dibaca dan aromanya itu memicu memorinya kembali ke saat ia masih berpetualang di lautan. Alasan ia suka lautan adalah buku tersebut. Dulu dia bercita-cita menjadi seorang pilot, namun ia membuang mimpinya saat mendapat buku itu, dan ia menginjakkan dirinya ke atas kapal untuk mengarungi lautan ketika berusia 20 tahun.

Baca juga  Tragedi Cinta Amangkurat

Ia suka membaca dan menulis, dan di situlah kekayaannya bertambah pesat sehingga ia tak lagi dibebankan oleh financial issue. Dia mungkin tidak semahir A.A. Navis, tapi karyanya bisa membuahkan hasil dan menjadi museum yang berharga dalam dunia sastra. Memahat kapal adalah pekerjaan sampingan ketika ia mendapat pesanan. Tapi, semakin lama, ia tak lagi terasah akan kemampuannya sendiri. Dia tahu akan bernasib sama dengan sang kapal.

Sebelum Avis tua benar-benar lumpuh dan menjadi lelaki tua yang terbaring di ranjang, ia akan membaringkan dirinya di dasar lautan yang nyaman dan biru. Sebelum dia akan mati—dia harus mencari buruan terindahnya, yaitu Sword Fish.

***

HARI-HARI persiapan sebelum berangkat ke lautan—ia membeli persediaan makanan kaleng, minum, obat-obatan, dan vitamin, karena perjalanan laut seorang diri bisa menyerang dia kapan saja. Hari-harinya bersama kedua peliharaannya membuat dia semakin sayang kepada mereka berdua. Ia menambahkan jumlah porsi makanan mereka dari biasanya. Dengan lahap mereka berdua menikmati makanan tersebut. Mereka berdua membulat sekejap dalam hitungan hari. Avis, sang majikan, merasa puas karena ia berhasil membuat mereka makmur sebelum mereka akan mengempis nanti.

“Kalian berdua diberkahi oleh sang Penguasa Dunia. Aku ini cuma hamba-Nya yang bertugas merawat kalian karena kewajibanku sebagai majikan kalian. Namun kalian akan bebas. Kalian harus belajar kembali sebagai hewan bebas. Biarkan naluri kalian yang akan membimbing kalian untuk kehidupan kalian sendiri tanpa diriku. Aku berencana akan mengubur diriku bersama kapal tuaku itu. Jangan coba tiru si tua bodoh ini.”

Matanya yang tua masih menyisakan banyak air untuk mengalirkan air terjun ke wajahnya. Dia bahagia bisa menikmati daratan bersama yang lain. Dan bersyukur ia berhasil membesarkan anaknya untuk menjadi orang mandiri. Dan dia berharap akan segera menjemput istrinya di surge—yang ia sudah nantikan sedari dulu.

Harinya makin sendu dan muram karena memikirkan hari kematiannya saat berlayar nanti. Di sisi lain, ia bersemangat membayangkan seekor Sword Fish akan ia raih. Kilatan warna kulitnya saat tersinari oleh sinar sang surya seperti cerita The Old Man dan the Sea. Yang jadi pertanyaan: apakah ia akan mendapatkan happy ending, bittersweet ending, atau bad ending. Semua itu menjadi akhir misteri untuknya. Tentu ini seperti permainan kartu: keberuntungan, bertaruh, dan keputusan.

Baca juga  Bisnis Keluarga

***

DIA sudah menuliskan semua kisah riwayatnya ke dalam buku yang ia jilid sendiri untuk anak-anaknya jika suatu hari mereka berkunjung kemari. Dan ia juga meninggalkan surat wasiat dan harta benda miliknya. Mungkin dia tahu tempat ini beserta harta benda miliknya akan terabaikan begitu saja meskipun anaknya akan mempunyainya. Tapi ia juga tidak berharap peninggalannya akan diagungkan. Sebab, semua yang manusia miliki akan menjadi debu: kosong seperti sediakala ketika tata surya belum lahir.

Dia sudah mengemasi segalanya dengan bantuan pemuda yang cukup dekat dengannya, yang membawakan semua barang miliknya ke atas kapal. Pemuda itu sudah menyelesaikannya. Sebelum berangkat, Avis berpamitan dengan kedua peliharaannya: Figaro dan Ciado. Pemuda itu tersenyum lalu berkata, “Kenapa tidak membawa beo saja? Bukankah dia hewan yang cocok untuk perjalanan jauh ini? Seperti dalam cerita-cerita bajak laut—seorang kapten dan burungnya.”

“Saat kau berlayar, kau harus sendirian, dan seorang penyendiri butuh hewan peliharaan,” kata Avis masih mengelus Figaro. “Pelayaranku akan menjadi tempat menyenangkan untukku, jadi aku tidak butuh mereka.”

“Sangat disayangkan perjalanan ini tidak bisa kau bagi. Bagaimana jika kau mau aku menemanimu dalam perjalananmu?”

“Aku enggan berbagi denganmu.”

“Kenapa Tuan Avis?”

“Karena peti matiku tidak akan muat untuk dua orang dalam perjalanan ini.”

“Kalau begitu, biarkan aku memperlebar kapal tuamu, Tuan?”

“Tidak ada waktu untuk menunda waktu kematianku, kecuali kau mau mati di laut menjadi makanan ikan.”

Setelah berpamitan, dia melambaikan tangannya dan mempercayai tempat tinggalnya bersama pemuda itu. Sekarang ia benar-benar sendiri di lautan. Belum berjarak 2 kilometer, ia sudah ditampar kesepian. Ia sudah lupa rasanya melaut, atau ia sudah nyaman dengan kehidupannya itu. Avis dilema dengan perasaan itu. Namun ia tidak boleh memutus perjalanannya itu.

Ia terus berlayar dan lama-kelamaan lingkungannya bisa membuatnya gembira kembali. Kali terakhirnya ia berlayar sekitar 20 tahun lalu. Ia ingat letihnya melaut, yang memaksanya pensiun dari profesinya itu. Seorang kapten butuh nakhoda kapal, dan seorang pelaut butuh keyakinan.

Sudah berminggu-minggu ia berlayar, hasil buruannya ia gunakan sebagai makanan sehari-harinya, tanpa dimasak. Ia terpaksa melakukannya karena ia harus berhemat lantaran persediaan gas terbatas. Avis tetap orang yang perhitungan walau ia tahu akhir perjalanan ini adalah kematiannya.

Namun, sebelum mati, ia masih punya tujuan, yaitu Sword Fish. Ikan itu menjadi pialanya seperti cerita buku Hemingway. Ia bertanya apakah ikan itu akan utuh atau menjadi tulang seperti dalam cerita tersebut.

Baca juga  Wajah Terakhir

Badai datang menerjang. Dengan ganas badai itu memainkan kapal si tua Avis seperti anak kecil memainkan kapalnya di baskom. “Ahoy, badai! Ada apa denganmu? Apa sudah terlalu tua untuk menghanyutkan kapalku?” kata pria tua Avis dengan bersemangat melawat badai. Ini bukan lagi pertandingan, melainkan pertempuran yang sudah ia nantikan, yang menentukan hidup dan mati. Demi tujuan akhir dan harga diri, pria tua itu berdiri sebagai pemenang.

“Oh, kawanku!? Pertarungan ini aku telah menangi, namun aku merasa bahwa masa tuamu merenggut kejayaanmu. Kau begitu mengagumkan di masa-masa itu. Dari lubuk hatiku terdalam berharap Engkau bisa membalikkanku bersama kapal tua ini.”

Ia berkata demikian seolah-olah ada percampuran dalam intonasi perkataannya, antara senang dan kecewa. Rambut kelabu dan janggut miliknya memanjang, membuat dirinya terlihat seperti penyihir tua “Gandalf”. Saat-saat yang dinanti telah tiba. Ia melihat seekor ikan berkilauan dari kejauhan di bawah terik matahari. Ikan itu adalah Sword Fish.

Ikan itu berenang dengan cepat seperti torpedo, melesat ke depan, menggoyangkan ekornya dengan anggun. Pria tua itu terbahak-bahak. Ia mendapatkan mimpinya. “Kau akan menjadi pialaku, seperti aku meminang wanita, atau memeluk kau seperti Teddy Bear.”

Ia mengambil tombak dan berkali-kali melemparkannya ke arah ikan cantik itu. Ikan itu adalah petarung tangguh, dan seekor hiu pun akan kesulitan untuk melucuti senjata di mukanya. Ia lelah, namun semangatnya belum patah sebelum berhasil. Sepertinya ikan itu juga menikmati pertarungan ini, tetap berada di permukaan laut untuk membuktikan siapa pemenangnya. Entah ada ikatan takdir, pria tua itu berhasil menusuk tubuh Sword Fish. Ikan itu menggelepar, belum menyerah pada kekalahannya daripada kematiannya.

Akhirnya, Sword Fish menyerah dan ia menjadi piala untuk pria tua Avis. “Akhirnya aku bisa mati dengan tenang, di atas laut ini bersama peti matiku ini.”

Ketika ia menarik tombaknya, bermunculan ikan-ikan di dalam lautan biru hitam, dan sekelompok ikan melompat-lompat kegirangan melewati waktu. Ia melepaskan ikan tangkapannya yang sudah ia nantikan, lalu ia melepaskan segalanya, termasuk laut dan kapalnya, dengan hati bersinar. ***

.

.

Ian Kurniawan adalah seorang penulis. Dia tinggal di Depok, Jawa Barat.

.

Menangkap Hemingway. Menangkap Hemingway. Menangkap Hemingway. Menangkap Hemingway. Menangkap Hemingway. Menangkap Hemingway.

 237 total views,  11 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: