Artie Ahmad, Cerpen, Jawa Pos

Menakar-nakar Bulan

Menakar-nakar Bulan - Cerpen Artie Ahmad

Menakar-nakar Bulan ilustrasi Budiono/Jawa Pos

3.7
(3)

Cerpen Artie Ahmad (Jawa Pos, 06 Agustus 2022)

IA tak pernah mengerti mengapa dilahirkan di kota ini. Kota kecil, sangat kecil, tak ubahnya sebuah delta di sungai yang terbentuk karena kemarau. Kota kecil yang berdenyut di dalam sebuah kota besar. Kota di mana manusia-manusia di dalamnya bisa berlaku apa saja.

Satu kali dia pernah mencuri dengar bahwa kota ini tak bisa tertulis di dalam KTP. Alamat dan tempat lahir tak bisa ditulis sesuai nama kota tempat dia lahir. Kota ini nista, harus dibinasakan kalau bisa. Tapi bagaimana caranya membinasakan sebuah kota yang selalu berdenyut setiap waktu. Belum ada yang menemukan jawabannya.

Dia terlahir di kota ini. Di sebuah rumah petak berdinding tripleks semipermanen, di sebuah balai-balai dia terlahir tanpa tangis. Konon, saat itu bidan sampai gemetar karena dirinya hanya diam membatu, dikira sudah lewat, urat nadinya tak berdenyut. Setelah ditepuk-tepuk pantatnya, barulah dia menangis. Meringkik lemah seperti suara anak kucing.

Kini ia remaja, sebentar lagi usianya lima belas. Sedari tadi matanya menatap almanak. Jari telunjuknya menghitung perkiraan berapa lama ulang tahunnya tiba. Wajahnya serius sedang rembulan tampak bersinar terang di langit luar. Beberapa minggu lagi, usianya tepat lima belas. Matanya kemudian menatap keluar jendela. Kota tempat dia tinggal begitu hidupnya di luar sana.

“Kelak kamu harus pergi dari sini. Jadi orang luar. Pergi jauh dan jadilah manusia seutuhnya.” Kalimat ini sering dikatakan ibunya.

Nyaris setiap hari dirinya mendengar kalimat seperti itu. Semacam siaran ulang yang harus dia dengar saban hari. Banyak waktu dia merasa bosan dengan kalimat itu, ada waktu pula bertanya dengan nada menyelidik.

“Mengapa aku harus pergi, Bu? Kenapa tidak di sini saja sampai tua?”

Ibunya tak segera menjawab, hanya tatapan matanya kemudian berubah menjadi nyala api yang siap menghanguskan tubuhnya. Meja makan persegi itu menjadi begitu dingin meski sup di dalam panci masih mengepulkan asap.

“Mau tidak mau kamu harus pergi! Di sini bukan tempatmu. Kamu tidak akan menjadi manusia jika lebih lama tinggal,” lantas perempuan itu mengambilkan nasi untuknya, wajahnya semuram mendung yang menggantung di luar. “Kamu tahu cerita Timun Mas dan Buto Ijo?”

Dia cepat-cepat mengangguk, mendadak suaranya seolah menghilang melihat wajah muram ibunya.

“Kalau tidak pergi dari sini, kamu akan dimakan Buto Ijo.”

Setelah menyelesaikan makannya, dia hanya duduk termenung-menung mengingat perkataan ibunya. Cerita Timun Mas dan Buto Ijo sangat dia hafal alur ceritanya. Bagaimana juga, ibunya senang sekali menjejalinya dengan berbagai macam dongeng sebelum tidur. Dulu ibunya juga pernah bercerita, ada waktu masa dulu ibunya ingin menjadi seorang pengarang. Pengarang buku. Cerita-cerita yang menyumpal di dalam kepalanya akan dituliskan dan berubah menjadi buku bacaan. Tapi itu keinginan ibu, cita-cita yang sekadar menggantung tanpa bisa dipetik.

Baca juga  Perempuan Hajar

Jika ibunya dulu menyukai mengarang cerita, dirinya lain. Ada tugas yang tak ia sukai selama duduk di bangku sekolah. Tugas mengarang di pelajaran bahasa. Tugas mengarang ia dapatkan kali pertama saat duduk di kelas rendah sekolah dasar. Tema yang diberikan Bu Guru Tutik saat itu “Berlibur ke Rumah Nenek”. Setengah mati dia berpikir bagaimana cara membuka cerita liburan ke rumah nenek. Hampir setengah jam lewat, baru judul dan namanya saja yang berhasil ditulis di lembar kertas.

Dia sama sekali tak menemukan gambaran rumah nenek, bahkan wujud nenek bagaimana saja dia tak mengenalnya. Dia tak mempunyai nenek. Ibu tak pernah bercerita tentang nenek. Ibu hanya bercerita tentang dongeng yang lahir dari kepalanya. Dalam pelajaran mengarang itu, dirinya hanya menduga-duga bagaimana rumah nenek. Ia memutar otak, di angan-angannya tergambar sebuah rumah mungil tak jauh dari gunung, bunga-bunga bakung tumbuh mengelilingi rumahnya, pagar dari bambu menambah kesan manis rumah itu. Sosok nenek ia bayangkan bertubuh tak terlalu gemuk, tak terlalu mungil seperti ibu. Hanya, dia cukup kesulitan menggambarkan wajah nenek. Oh, mungkin wajah nenek mirip Mak Munir, tukang pijat keliling. Setelah memeras otaknya dalam menggambarkan rumah nenek dan wajahnya, dia mengarang bagaimana berlibur di sana. Kesulitan datang lagi saat mengingat apa saja yang dia lakukan di rumah nenek. Tak ada kejadian lain yang bisa dituliskannya selain makan dan tidur. Karangan berlibur ke rumah dia selesaikan dengan susah payah, dan mendapatkan nilai tak terlalu bagus karena kegiatannya di rumah nenek hanya makan dan tidur.

***

Almanak di dinding sudah nyaris penuh coretan spidol. Setiap hari dia harus menghitung berapa bulan dia akan mencapai angka lima belas. Ibunya setiap hari masih saja terus menyampaikan warta berita lama tentang kepergiannya. Sesungguhnya dia bukan remaja pertama yang harus pergi dari kota kutukan itu. Beberapa kawan lamanya sudah pergi. Pagi buta mereka akan mengendap-endap diantar ibu masing-masing. Menjelang tengah hari yang kembali hanya para ibu. Anak mereka entah di mana, sampai detik ini dia tak melihat lagi kawan-kawan lamanya.

Kota yang tak bisa ditulis namanya di KTP itu memang menyeramkan. Para remaja usia lima belas tahun harus segera dibawa pergi. Terlambat sedikit saja mereka akan menjadi penghuni kota itu selamanya. Kata ibu ada perjanjian yang tak bisa diingkari, tapi menyelamatkan diri masih bisa di usia lima belas.

Baca juga  Ustaz Abidin dan Corong Masjid

“Semuanya akan menjadi petaka jika kamu kelewat batas usia lima belas dan masih di sini. Kamu harus pergi, keluar dari sini dan menjadi manusia utuh.”

Ia hanya mendengarkan omongan ibunya sembari mengangguk-angguk. Tak ada pertanyaan setelahnya. Pergi setelah usia lima belas tahun memang semacam tradisi di kota kecil ini. Kota yang sebenarnya sebuah kampung di tengah keriuhan kota besar. Untuk anak-anak perempuan, sudah jamak dilakukan pergi dari kota petaka. Ia sendiri sudah melihat beberapa kali tentang perempuan muda yang dibawa pergi. Ada pula yang tak sempat melarikan diri dan menjadi penghuni tetap di kota kecil nan riuh dengan segala macam neraka dunia. Ibu tak menginginkan dia seperti itu. Ia harus hidup merdeka di luar sana. Sebisa mungkin dirinya harus hidup selayaknya manusia pada umumnya.

Rembulan tampak penuh di atas langit. Dari jendela dia melihat bulatan yang berpendar-pendar. Sekarang sudah tengah malam. Ibu sudah berangkat bekerja. Tak jauh dari rumah sepetak yang ia tempati, gendang telinganya menerima suara musik mengentak-entak. Derai tawa terdengar. Lampu-lampu di sepanjang gang berkerlap-kerlip begitu semarak. Suara sepeda motor meningkahi suara riuh rendah, beberapa laki-laki tampak berjalan sempoyongan. Seorang pemuda terlihat berjalan dengan beberapa kawannya. Dari jendela rumahnya, dia bisa melihat betapa payahnya pemuda itu, matanya sudah setengah terpejam, jalannya sempoyongan, kemudian pemuda itu jatuh terjerembap dan nyemplung ke dalam selokan. Kawan-kawannya tak segera membantu. Mereka malahan tertawa terbahak-bahak melihat seorang kawannya bermandi air got yang hitam pekat.

Ia jenuh melihat keluar. Ditutupnya jendela papan itu dan ia memilih duduk di balai-balai. Setiap malam dilaluinya seorang diri. Ibu selalu sibuk kerja, saudara tak punya, sedang bapak entah siapa. Lelah termangu-mangu dia mengambil kalender, ulang tahunnya sebentar lagi. Diedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Baginya itu rumah meski banyak orang menyebutnya sebuah petak kecil. Di dalam petak itu dia terlahir dan tumbuh bersama ibu. Lewat sepertiga malam dia baru bisa memicingkan mata, bergelung di atas balai-balai.

***

Coretan di almanak sudah penuh dan sampai di angka itu, hari ulang tahunnya. Ibunya terburu-buru menyiapkan semua pakaiannya. Dirapikan semua barangnya. Sebelum fajar tiba, ibu membawanya pergi.

“Kamu harus pergi dari sini. Di tempat baru jauh lebih baik. Ibu hanya bisa merawatmu sampai usia lima belas tahun.”

Mendengar perkataan ibunya, tangisnya pecah. Di sepanjang jalan dia menangis, enggan berpisah dengan ibu. Ibu memang bukanlah perempuan termanis yang pernah ia temui, tapi karena perempuan itu ibunya, hanya perempuan itu yang memberikan kasih sayang tulus kepadanya.

“Kamu harus menjadi perempuan baik-baik. Jangan seperti ibu, jadilah manusia yang punya harapan hidup baik,” tangan ibu terasa berkeringat saat menggenggam tangannya. “Ibu akan sering-sering mengunjungimu.”

Baca juga  Nasihat Ibu

Ibu membawanya ke sebuah panti. Ia tak bisa membaca panti apa itu karena papan nama hanya disinari lampu bohlam yang cukup remang, ditambah air mata, pandangannya teramat terbatas untuk mengeja tulisan di papan.

“Mereka orang baik. Kamu hanya Ibu titipkan barang sebentar.” Ibu membujuknya.

Dirinya masih menahan sedan ketika ibunya tergopoh masuk ke dalam kantor panti. Seorang penjaga menemuinya, mereka tampak berbicara serius. Tak lama seorang perempuan setengah baya muncul dari dalam. Sesekali perempuan itu melihat ke arahnya. Lalu ia diminta masuk, ibunya masih bercakap-cakap, sesekali perempuan itu tampak menahan tangis.

“Di sinilah dulu. Ibu akan sering datang menemuimu. Kamu harus menjadi manusia berguna. Sekolah terus yang baik.”

Itu kalimat terakhir sebelum ibunya pamit pulang. Matanya tak lepas menatap ibunya sampai tubuh perempuan itu lenyap dari pandangan. Perempuan pengurus panti terlihat begitu ramah. Dia menghibur bahwa ibunya akan sering berkunjung. Katanya pula di panti ada banyak kawan, dirinya tak akan kesepian.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya untuk menjawab petugas panti. Tapi tampak betul petugas panti itu begitu sabar. Perempuan berbadan tambun itu terus mengajaknya berbicara, sesekali tawa kecilnya terdengar, barulah kali itu dirinya mengamati betul petugas itu. Wajah petugas itu mengingatkannya dengan salah satu gurunya di SD dulu. Wajahnya cukup mirip, tapi perangainya teramat berlainan. Guru SD itu tak seramah petugas panti. Dulu dia pernah dibentak-bentak guru itu hanya lantaran menjawab ketika ditanya mengenai pekerjaan ibunya. Dirinya menjawab jujur saat itu, tapi malahan gurunya terkejut dan marah.

Di saat ia sedang termangu-mangu mengingat gurunya dulu, seorang perempuan muda muncul. Wajahnya masih setengah mengantuk.

“Siapa, Mbak?” Sapanya kepada petugas panti.

“Anak baru. Dititipkan ibunya tadi. Dia senasib dengan Retno.”

“Oh… anak mana dia?”

Si petugas lantas menyebut nama kota terkutuk itu, atau sesungguhnya nama sebuah kampung.

“Baru dengar, kampung apa itu?”

Si petugas panti berhenti mencatat. Dia mengamati rekannya dengan serius sebelum menjawab…

“Kampung pelacuran.” ***

.

.

Salatiga, 2022

ARTIE AHMAD. Lahir dan besar di Salatiga. Selain menulis cerita pendek, dia juga menulis novel. Buku terbarunya, “Sebuah Surau”, diterbitkan penerbit Divapress.

.

Menakar-nakar Bulan. Menakar-nakar Bulan. Menakar-nakar Bulan. Menakar-nakar Bulan. Menakar-nakar Bulan. Menakar-nakar Bulan.

 405 total views,  5 views today

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!