Cerpen, Gansar Dewantara, Suara Merdeka

Pengadilan Akhirat

Pengadilan Akhirat - Cerpen Gansar Dewantara

Pengadilan Akhirat ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

4.7
(3)

Cerpen Gansar Dewantara (Suara Merdeka, 31 Juli 2022)

BENTURAN dahsyat saat itu membuat jantungku lepas. Tubuhku melayang tinggi. Tinggi sekali. Aku seperti mimpi, tetapi tanpa tertidur. Entahlah, aku hanya merasakan sakit teramat sangat dan tahu-tahu tubuhku tersangkut di pohon duri-duri hitam, seperti layang-layang yang putus tersampir di rerimbun pohon bambu menggantung.

Tubuhku menggantung dengan posisi kepala di bawah. Kecuali leher dan kepala, sekujur tubuhku tertancap duri-duri hitam pohon aneh itu. Ya, pohon itu pohon teraneh yang pernah kudapati. Pohon yang besar dan menjulang tinggi itu tak punya daun, apalagi bunga dan buah, melainkan batang dan seluruh dahan-dahannya adalah duri-duri hitam nan panjang.

“Tolooong! Tolong aku!” teriakku berulang-ulang, tetapi tak ada yang merespons.

Aku mengerang kesakitan dan berusaha lepas. Anehnya, semakin aku berontak, tusukan duri-duri itu bertambah dalam, makin perih. Sebagaimana tusukan-tusukan beberapa duri hitam itu di tangan dan kakiku mencuat.

Sejauh panah pandangku melesat ke atas, aku tak menemukan ujung pohon hitam itu. Pohon hitam itu menjebol langit. Lamun, mataku melata ke bawah hanya hamparan sangat luas yang kelabu. Hanya sunyi senyap.

Beberapa waktu selanjutnya, cambuk petir menggelegar begitu saja. Aku terguncang, kaget. “Aau!” jeritku seraya menahan ribuan nyeri. Tubuhku gemetar dibarengi degup jantung kencang tak teratur.

Cambuk petir itu bukan saja merontokkan kabut putih, tetapi juga memuntahkan sesosok manusia. Kepalaku terpaku pada satu titik: manusia yang terkapar tanpa busana, hanya selempang kain putih menutupi auratnya. Awalnya terlihat samar-samar, membayang. Setelah semuanya tampak dekat dan benar-benar nyata. Sungguh, aku tercengang! Mataku nanap menangkap jelas manusia itu mirip sekali denganku. Apakah mungkin ia diriku sendiri? Diriku yang satpam sebuah department store yang di-PHK, beralih membuka lapak ikan-ikan hias dan burung-burung kicauan di sebuah lapak sederhana di perempatan jalan pasar kecamatan yang tak pernah sepi.

***

Sosok manusia itu membungkukkan badan, persis seseorang tengah rukuk dalam shalat. Hanya mampu sebatas itu. Beberapa kali sebelumnya, ia berusaha bangkit tegak yang kuat, tetapi selalu tumbang.

Aku hanya bisa memelotot dan seakan-akan dipaksa menyaksikan penuh khidmat peristiwa-peristiwa di bawah sana. Sementara manusia itu tetap rukuk. Diam. Rukuk yang ganjil dengan kepala mendongak dan sorot matanya yang tak sanggup kumaknai itu tepat mengena bola mataku, lekat.

Ia cukup lama mematung seperti itu. Selanjutnya, tanpa kuduga, ia mengerang keras. Dua alisnya bertemu. Ia meringis. Bibir dan kulitnya pucat. Tangan kanannya bagian atas perlahan-lahan robek. Seberkas cahaya memancar dari sana. Lalu ambyar.

Bulu kudukku merinding ketika cahaya itu berubah wujud sosok besar. Sosok berjubah cahaya. Aku tak sanggup menatapnya lama-lama, juga tak bisa mengatupkan kelopak mata. Sekedip pun tak bisa. Hanya membuang pandang ke manusia itu dan sekelilingnya.

Baca juga  Tahlil di Rumah Pak Nyoto

“Hei! Fulan ibna Fulan!” sapa sosok berjubah cahaya berdiri berjarak di sebelah kanan manusia itu.

Manusia itu menundukkan kepala, pandanganku mengikutinya. Hamparan sangat luas yang semula kelabu berubah bening seperti kaca.

“Salam, Tuan.” Tangan kanan manusia itu bergerak-gerak, juga tak ada bekas robekan di sana.

“Saya perekam jejak seluruh kebaikanmu. Lahiriah maupun batiniah. Semua terekam sejak kamu akil balig sampai batas paling akhir yang ditentukan,” ujar sosok berjubah cahaya itu penuh wibawa.

“Tuan, kenapa saya berada di tempat ini dengan kondisi seperti ini?” Suara manusia itu terdengar ganjil. Seperti bukan suaraku. Bahkan, yang lebih ganjil. Aku tidak melihat mulutnya terbuka saat ia mengeluarkan kata-kata. Begitu pula bibirku ikut mingkem rekat.

“Setiap insan yang menjalani tahap pengadilan, niscaya kondisi dan prosesnya berbeda-beda. Saat ini, kamu berada di Pengadilan Akhirat.”

“Pengadilan akhirat?” Hanya satu gerakan cepat tangan kanan manusia itu. Terdengar ada tekanan pada suara itu.

“Ya! Sebentar lagi kamu tidak akan pernah linglung. Daya ingatanmu meningkat lebih tajam saat berlangsung pengungkapan.”

Sosok putih bercahaya itu mulai meriwayatkan lakon baikku. Tangan yang mungil salim lalu mencium punggung telapak tangan kedua orang tua, penuh hormat dan sayang. Itu pertama kali perbuatan baikku, katanya.

Betul. Kala itu, aku pamit berangkat sekolah, kelas satu menengah pertama.

Hamparan luas yang bening serupa kaca itu memperlihatkan ulang perbuatan baikku juga menguak isi dalam hati. Diawali adegan mencium telapak tangan kedua orang tuaku. Tidak sekadar menaruh telapak tangan yang tua di pipi atau di jidat, tetapi mencium. Lantas, adegan demi adegan diperlihatkan secara runtut dan gamblang, sesuai dikte sosok berjubah cahaya itu. Dan berhenti setelah adegan malam pertamaku dengan istri.

Satu per satu duri-duri hitam itu lepas dari anggota tubuhku yang lain. Tanpa aku mengaduh. Kecuali lengan dan kakiku, duri-duri hitam itu masih mencuat, menembus daging.

“Sedikit itukah amal ibadah saya, Tuan. Sehingga tak sanggup memerdekakan saya dari siksa pohon berduri itu?” Air mata manusia itu menetes.

“Ini belum tuntas!” pungkas sosok berjubah cahaya. Kemudian ia lenyap ketika sorot sinar menyilaukan dari atas melimpahi jagat itu.

Sebentar lalu bahu manusia itu bergoyang, dihantam ratapan. Kian lama tubuh rukuk itu berguncang hebat. Ia ambruk, kemudian rukuk kembali. Seperti ada desakan tenaga yang besar mengguncang tubuhnya. Sekali lagi ia terjatuh. Kejang-kejang. Ketika ia seperti itu, senyala api kecil keluar dari lengan kirinya yang berlubang. Api itu membesar setelah mencelat dari lubang tangan kiri manusia. Api itu beralih menjadi raksasa. Aku menyebutnya Raksasa Api.

Baca juga  Menunggu Salju Turun di Jakarta

Dadaku kian bergemuruh, miris. Sementara manusia itu kembali rukuk dengan badan basah dan memalingkan muka.

“Hai! Fulan ibna Fulan!” Suara Raksasa Api itu memekakkan telinga. Ia tegak berjarak di depan condong sebelah kirinya manusia itu.

“Saa… salam, Tuan.” Tangan kiri manusia itu bergerak putus-putus. Tubuhnya gemetar.

“Saya bertugas membeberkan sejarah dosamu! Baik yang nyata maupun yang tersimpan di batin. Sedikit pun tak akan luput dari data saya. Semenjak akil balig sampai batas yang ditentukan!”

“Tu… Tuan.”

“Apa!”

Manusia itu keder.

“Ada apa!” bentak Raksasa Api sembari menjulur-julurkan lidah apinya yang bercabang, seperti ingin melumat apa saja yang di dekatnya. Tangan dan kaki manusia itu moplok, gemetaran, tanpa kata.

Hamparan sangat luas itu tidak lagi bening serupa kaca melainkan berganti tanah lapang yang kering. Kering yang retak-retak. Raksasa Api melaksanakan amanahnya.

“Kau makan tiga pisang goreng dan minum segelas es teh di warung samping sekolah, tetapi kau sengaja membayar dua pisang goreng dan segelas minuman. Sampai pemilik warung tersebut meninggal dan kau belum meminta keikhlasaannya!” beber Raksasa Api. Setelahnya, terdengar suara derit pelan dari hamparan tanah kering itu.

Retakan hamparan tanah kering itu menjalar. Sesekali terdengar ledakan keras, tanah kering itu pun pecah terbelah. Sesuai bobot dosa-dosaku yang diuraikan. Sampai dosa terakhirku diperdengarkan.

“Subuh kala itu, kau terjaga dan melangkah ke kamar kecil, lalu kembali ke ranjang mendekap erat istrimu. Subuh berlalu dan kau tak menyesali!”

Raksasa Api itu murka, menyembur-nyemburkan apinya ke semua arah. Manusia itu sangat ketakutan lalu ambruk. Semburan api itu beralih ke tanah kering yang pecah menganga, dengan semburan yang tak putus-putus. Ledakan keras menandai sirnanya Raksasa Api itu.

Tidak berhenti di situ. Hamparan tanah kering itu mengalami gempa. Manusia itu terjerembap. Ledakan-ledakan dari tanah yang pecah bermunculan ribuan jangkrik dengan ukuran yang tak biasa, lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Jangkrik yang struktur tubuh luarnya serupa besi hitam yang panas. Setiap sungut-sungatnya bertemu selalu mengeluarkan asap dan berdenting. Ribuan jangkrik itu menyerang, mengerubungi kaki dan tangan manusia seperti memikul dendam paling kesumat. Ketika gempa itu berguncang lebih dahsyat, pohan duri-duri hitam itu pun bergoyang hebat, hingga aku melesat.

***

Kata istriku, aku batuk-batuk, tetapi batuk yang paling akhir keras dan memunceratkan darah. Selimut lurik yang menutupi tubuhku pun bercak merah. Demikian tuturku pagi itu di kursi roda, sebulan selepas dari rumah sakit.

Baca juga  Kekasih Bulan Sepenggal

“Iya, saat itu tubuh Bapak akan digeser ke ambulans,” timpal istriku duduk di samping Eva, anak sulungku. Di sebelah Eva hadir juga kerabat dan tetangga.

“Kronologi kecelakaannya bagaimana, Pak?” tanya Pak Ustaz yang tilik ke rumah, tetapi ceritaku hampir ending.

Lantas kuceritakan ulang peristiwa kecelakaan itu. Siang itu langit masih menyisakan ritik-rintik kecil. Aku mengendarai motor metik dengan kecepatan sedang menuju pasar kota. Karena sudah lima hari jangkrik di lapakku habis dan nomer kontak bakul jangkrik tidak bisa dihubungi. Padahal, setiap pagi aku harus memberi makan burung-burung kicauan dengan jangkrik, sebagai vitamin. Juga paling dicari konsumen.

Aku selalu mematahkan kaki-kaki jangkrik itu sebelum kulempar ke sangkar burung satu per satu. Jangkrik itu ada yang langsung disantap burung, ada juga yang lepas, jatuh. Mungkin jangkrik-jangkrik yang sudah bujel, tak punya kaki itu masih hidup dan menderita.

Ketika itu, aku berada di jalur yang lampu lalu lintas berwarna hijau dan hujan mulai deras, maka kutancap gas. Tidak kusangka, di perempatan jalan dari lajur sisi kiri ada angkotan kota, bus mini melaju dengan kencang.

Brak!

Motor terpental dan aku terbanting membentur pembatas jalan beton permanen. Sejenak kemudian terdengar suara dentuman keras. Lalu gelap, aku tak mengerti apa-apa, selain merasakan sakit luar biasa.

“Pak, mohon maaf. Boleh saya tanya?”

Aku mengangguk

“Pohon duri itu maknanya apa, Pak?” sambung Pak Ustaz.

Aku tak menjawab pertanyaan menohok itu, hanya senyum yang kubuat-buat supaya mereka beranggapan baik. Padahal, sejujurnya aku tahu setelah manusia itu bertanya, “Sedikit itukah amal ibadah saya, Tuan. Sehingga tak sanggup memerdekakan saya dari siksa pohon berduri itu?” Lantas, hamparan yang bening itu memperlihatkan kekikiranku juga menyuarakan kata hatiku.

Pak Ustaz dan sebagian yang tilik sepertinya menahan napas menunggu jawaban dariku. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan. Istriku bangkit menyambut si tamu. Setelah pintu dibuka, ternyata bakul jangkrik beserta dagangannya. Ia terperangah melihatku tanpa kedua kaki dan tanpa tangan kanan. ***

.

.

Demak, 2021.

Gansar Dewantara, pengajar di Madin “Al Ma’had Nurul Huda” Wedung Demak. Cerpennya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online, dan pernah juara 1 Lomba Prosa Kampoeng Mahasiswa dan Santri Jogja (Kampoeng MaS, 2018).

.

Pengadilan Akhirat. Pengadilan Akhirat. Pengadilan Akhirat. Pengadilan Akhirat.

 323 total views,  2 views today

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Danang Tergalek

    Merinding
    Cerita yang sampai kepadaku
    Keren

Leave a Reply

error: Content is protected !!