Cerpen, Hasan Aoni, Suara Merdeka

Air Mata Luh

Air Mata Luh - Cerpen Hasan Aoni

Air Mata Luh ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

2.3
(4)

Cerpen Hasan Aoni (Suara Merdeka, 07 Agustus 2022)

LUH terguncang hebat saat mendapati orang tuanya bersimbah darah di depan kamar. Ia baru saja pulang dari sekolah. Keringat hangat yang mengucuri seragamnya setelah menggowes sepeda sejauh 500 meter berubah dingin seketika.

Ia menjerit sejadinya. Mengguncang pundak kedua orang tuanya yang sudah tak bernyawa, lalu berteriak meminta tolong. Tak satu pun yang datang. Tetangga terdekatnya berjarak 100 meter. Tak ada lalu-lalang orang di ujung pematang. Hanya tiang listrik dan batu-batu terjal. Selebihnya pohon-pohon.

Teriakan itu seperti lolong srigala yang kalah dalam pertarungan. Makin berteriak, makin habis suaranya. Ia kembali ke kamar. Air matanya bercucuran menumpahi ceceran darah yang mulai mengental.

Jejak telapak kaki berwarna merah kehitamam berceceran di antara pintu kamar dan ruang depan. Campuran antara darah dan tanah hitam. Jejak itu mengabarkan kecemasan. Gambar telapak kaki dengan jari-jari yang tak wajar. Melengkung seperti kaki yang tak pernah memakai sepatu. Kaki siapakah?

Jeritan gadis itu, meski parau, meninggalkan gelombang di ranting pepohonan. Melekatkan jejak dan meninggalkan isyarat. Seseorang tiba-iba mengetuk pintu rumahnya. Raungan Luh terhenti. Gelombang kecemasannya teresonansi.

Merayap menembus frekuensi udara melalui lubang pintu dan celah genting rumahnya.

Pengetuk pintu menangkap getaran itu.

“Apa ada orang di dalam?!” serunya.

“Ia kah penolong itu, atau si pemilik telapak kaki itu?” tanya Luh cemas dalam hati.

“Aku mendengar suara burung beterbangan di dekat rumah ini!” sambung sang pengetuk.

Teriakan Luh meruntuhkan harmoni alam. Gelombangnya merambat ke reranting pohon yang di atasnya bertengger sekawanan burung. Burung-burung berterbangan menangkap gelombang itu dan memroduksi isyarat baru. Sebagai penduduk asli desa itu, si pengetuk pintu hafal akan isyarat alam di desanya.

Baca juga  Rumah Ibu

Ketegangan berlangsung di depan rumah yang sunyi itu. Luh yang cemas dan si pengetuk pintu misterius yang masih menunggu seseorang menjawab sapaannya.

“Braaakkk!” Pintu rumah terjungkal diterjang lelaki itu. Pukulan kayunya mampu menjebol daun pintu rumah Luh yang rapuh.

Penggedor itu terjerembab dan jatuh ke dalam rumah. Berguling-guling menimpa ceceran darah yang menggumpal di depan kamar.

Luh merunduk di bawah ranjang. Diam membeku seperti darah itu. Lelaki yang baru menerjang itu bangun dengan tertatih. Ceceran darah melumuri seluruh tubuhnya. Suaranya melenguh seperti kesakitan. Lalu menggeram dan berteriak, “Siapa di rumah?!”

Tak ada jawaban. Sepasang mayat yang bergelimang darah di depan kamar telah menjawab pertanyaannya. Ia memperhatikan kedua mayat itu, kemudian memegang tangan dan lehernya untuk memastikan denyut nadi. Tak ada getaran sama sekali.

“Siapa di dalam?!!! lelaki itu berteriak makin keras.

Darah makin bercecer diinjak lelaki itu. Menambah jumlah jejak jari melengkung yang sudah ada sebelumnya. Luh makin cemas. “Pasti dia pembunuhnya?”

Ia mengambil jangka dari dalam tasnya. Ia harus membalas kematian orang tuanya. Langkah lelaki itu terseret. Mungkin terkilir akibat terjerembab tadi. Langkahnya berhenti tepat di depan ranjang. Jari-jari kakinya yang melengkung menjulur persis di depan mata Luh. Tidak salah, pasti dia!

Dengan cepat Luh menancapkan jangka yang ujungnya runcing ke jempol lelaki itu. Raungan kesakitan segera menggema di kamar yang masih bau anyir darah. Disusul bunyi badan jatuh di atas lantai yang berpelur semen sederhana. Luh lari menyelamatkan diri menerobos hutan bambu di sebelah rumahnya.

Orang-orang berkerumun di depan liang lahat. Doa dan tahlil selesai dipanjatkan oleh tetua desa. Pemakaman kedua orang tuanya segera dimulai. Luh datang menyelinap di antara kerumunan. Para pelayat terkejut melihat seragam sekolah yang dikenakan Luh berlumur darah. Mengering dan sebagian meleleh oleh air mata.

Baca juga  Kerja

“Ibuuu!!! Bapaaak!!!” teriak Luh memeluk kedua mayat yang sudah diselimuti kain kafan.

Ia menangis sejadi-jadinya. “Siapa yang membunuh Ibu-Bapakku? Siapa?!!” tanya Luh sambil menghunus jangkar dari sakunya.

Orang-orang mulai mundur. Sebagian yang lain menenangkan gadis yang masih terguncang jiwanya itu.

Luh terus meronta. Energinya sekuat orang dewasa. Suasana berubah mencekam. Makin lama Luh kehabisan tenaga. Ia tertunduk lemas. Dalam suasana yang mencekam itu, ia diam-diam memperhatikan jari-jari kaki para pelayat yang berdiri di seputar liang lahat. Orang-orang itu tidak satu pun yang beralas kaki.

Luh bisa melihat dengan jelas salah satu jari kaki yang diperban. Berdiri sempoyongan memegang tongkat. Luh menengadah dan mengamati wajah orang itu. Ia ingin menjerit. Tetapi, urung, karena sedetik kemudian ia mengamati jari-jari kaki para pelayat yang lain juga melengkung.

Apakah lelaki tua yang jari kakinya diperban itu yang membunuh orang tuanya? Lelaki pengetuk pintu itu? Atau mungkin ada pengetuk pintu lain yang datang sebelumnya. Teka-teki itu masih belum terjawab, atau bahkan tak akan pernah terjawab.

Di ruang rehabilitasi mental yang jauh dari rumahnya, Luh diam terpaku. Gadis itu terus membisu. Setiap pertanyaan tentang orang tuanya selalu dijawab dengan air mata. Seperti namanya, Luh, air matanya mengucur bagai mata air. Tak pernah habis ditimba oleh kesedihan yang teramat dalam oleh kematian kedua orang tuanya. ***

.

.

Kudus, 28 Maret 2022

Hasan Aoni adalah pendiri sekolah alam Omah Dongeng Marwah di Kudus. Pernah dinobatkan oleh Kemenko PMK sebagai salah satu pemuda inspirator revolusi mental (2018). Penulis serba bisa ini telah melahirkan banyak cerpen bermuatan kritik sosial.

.

Air Mata Luh. Air Mata Luh.

 426 total views,  4 views today

Leave a Reply

error: Content is protected !!