Anton Kurnia, Cerpen, Jawa Pos

Sepucuk Surat Pengantar

Sepucuk Surat Pengantar - Cerpen Anton Kurnia

Sepucuk Surat Pengantar ilustrasi Budiono/Jawa Pos

4.7
(3)

Cerpen Anton Kurnia (Jawa Pos, 20 Agustus 2022)

Bintaro, Tangsel, 21 Agustus 2022

Kepada Yth Bapak Prof Adinan

Kritikus Sastra dan Guru Besar

Universitas Negeri Surabaya

.

SEMOGA Bapak senantiasa berada dalam keadaan sehat dan sejahtera di tengah pandemi yang masih terus berkecamuk meskipun kini telah mulai mereda. Menindaklanjuti percakapan kita via telepon dan WA, bersama surat ini saya kirimkan sebuah naskah untuk Bapak baca.

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, naskah ini adalah kumpulan cerita karya seorang penulis kurang dikenal yang akan kami terbitkan. Kami memerlukan komentar mengenai naskah ini dari kritikus ahli seperti Bapak untuk dimuat di sampul buku. Banyak terima kasih atas kesediaan Bapak membaca naskah ini dan memberikan kata-kata berharga setelahnya.

Saya bertemu dengan si penulis secara tak sengaja di Frankfurt pertengahan Oktober 2021 lalu. Pada waktu itu saya terpilih menjadi peserta program International Fellowship terkait Frankfurt Book Fair yang diikuti oleh para editor penerbit buku independen dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur.

Sebagai peserta program tersebut, selain mengikuti beragam seminar tentang penerbitan, saya mendapatkan sebuah stan mungil secara cuma-cuma untuk penerbit ACAB (Aksara Cipta Anak Bangsa), yang saya dirikan bersama seorang kawan enam tahun silam, di area pameran khusus bagi penerbit internasional di lantai atas Gedung 5 Messe Frankfurt pada saat pameran berlangsung.

Karena masih dalam situasi pandemi, pameran buku tertua dan terbesar sedunia itu kali ini tak seramai biasanya. Jauh lebih sedikit peserta yang hadir, juga relatif sedikit pengunjung yang datang. Ini kali kedua saya mengikuti pameran raya itu. Sebelumnya saya hadir saat Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Jadi, saya bisa membandingkan suasananya. Pada 2015 itu ajang pameran sangat ramai dan semarak. Banyak orang membanjiri stan kolektif Indonesia yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ah, ya, tentu Bapak mengetahuinya sendiri karena seingat saya Bapak pun hadir waktu itu.

Tahun lalu, pada hari terakhir pameran, seorang lelaki setengah baya berkacamata datang ke meja saya tak lama setelah saya makan siang. Saat itu saya tidak ada jadwal janji temu dengan siapa pun. Dia mengaku bernama Andry Kepson, seorang warga negara Indonesia yang telah bertahun-tahun bermukim di Jerman. Sosoknya termasuk jangkung untuk ukuran orang Indonesia. Rambutnya ikal dan agak panjang. Entah mengapa dia mengingatkan saya kepada seseorang atau satu kenangan dari masa lalu. Tetapi, saya tidak tahu pasti kepada siapa atau apa.

Dalam pertemuan singkat itu dia menyerahkan sebuah manuskrip kepada saya dengan harapan dapat diterbitkan. Saya tidak menjanjikan apa-apa kepadanya, tetapi saya menerima naskah yang dibungkus dengan map karton warna biru itu dan mengatakan bahwa saya akan membacanya terlebih dulu.

Baca juga  Insiden Makima

Kami lalu bercakap-cakap sejenak tentang jalan hidupnya yang membawa dia menetap di negeri orang. Juga tentang riwayat kepenulisannya. Berdasar penuturannya, dia pernah kuliah di Jurusan Teknik Penerbangan ITB pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an. Pada saat dia masuk kuliah, bidang aeronautika memang sedang naik daun sebab menteri riset dan teknologi kala itu adalah seorang pakar aeronautika internasional yang lama berkarier dalam industri pesawat terbang di Jerman.

Semasa kuliah, Andry tak hanya berkutat di kelas. Meski belajar di bidang teknik, dia tertarik pada sastra. Dia bergiat di Stema (Studi Teater Mahasiswa) dan gerakan mahasiswa prodemokrasi di tengah represi rezim Orde Baru. Dia juga kerap menulis esai dan puisi di media kampusnya, antara lain buletin mahasiswa independen Boulevard. Berkala yang terbit tak tentu waktu bergantung dana patungan itu dinamai demikian karena “bermarkas” di tepi jalan utama kampus akibat tak punya ruangan sekretariat karena tak difasilitasi oleh rektorat. Mereka biasa berdiskusi dan melakukan rapat redaksi di atas rumput di tepi jalan.

Menurutnya, saat mahasiswa dia pernah memenangi sayembara penulisan esai tentang rekonsiliasi nasional yang diselenggarakan oleh sebuah LSM di Jakarta berkaitan dengan peluncuran film Puisi Tak Terkuburkan karya sutradara ternama Garin Nugroho pada akhir 2000. Setahu saya, film yang sepintas tampak seperti bertutur tentang penyair Ibrahim Kadir itu sesungguhnya berkisah mengenai konflik politik dan kultural di Aceh pascatragedi 30 September 1965 yang diikuti pembantaian kaum kiri di berbagai daerah.

Selulus dia dari ITB, situasi telah berubah. Menyusul jatuhnya rezim Soeharto yang korup, satu-satunya pabrik pesawat milik pemerintah terancam bangkrut. Industri pesawat terbang yang dibangga-banggakan Orde Baru ternyata sungguh keropos. Andry memutuskan bekerja di luar bidang aeronautika. Dia mencoba merintis karier sebagai penulis.

Andry menulis sebuah novel berjudul Via Dolorosa yang diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bandung pada 2002. Sayangnya, novel itu bisa dibilang gagal. Tak satu kritikus sastra pun menganggap serius novel yang dia tulis dengan keringat, air mata, serta pergulatan berat secara psikis dan intelektual itu. Dari sisi pasar, novel itu juga jeblok. Hanya terjual 150-an buku dalam setahun dari 1.000 eksemplar cetakan pertama. Tak sampai 20 persen yang laku.

Dia menyadari bahwa sastra bukanlah sesuatu yang penting bagi masyarakat Indonesia. Sungguhpun penduduknya ratusan juta, menjual seribu buku sastra saja susah sekali di negeri ini; apalagi buku karya seorang pengarang baru yang tidak terkenal dan tak menjadi bagian dari kelompok berpengaruh yang bisa mengatrol sebuah karya yang sesungguhnya tak seberapa menjadi terkesan luar biasa. Buku bukanlah barang menarik bagi kebanyakan orang, termasuk kalangan terdidik dan terpelajar yang terkadang justru menganggap buku sastra semacam novel hanyalah bacaan tak bermakna untuk para remaja dan kaum pemimpi.

Baca juga  Joged

Kenyataan pahit itu membuat Andry merasa patah semangat dengan dunia sastra dan tulis-menulis. Dia merasa bakatnya tidak dihargai dan tak berguna. Dia pun memutuskan untuk berhenti menulis dan banting setir menjadi agen multilevel marketing (MLM). Tak dinyana, ternyata kariernya di dunia penjualan cukup sukses.

Namun, dia kemudian hijrah ke Jerman, mengikuti istrinya—seorang perempuan berkebangsaan Polandia yang mengajar arsitektur di TU Munich. Mereka bertemu di Ubud, Bali, lalu menikah setahun kemudian di sebuah gereja di Krakow, kota asal sang istri. Di Munich, Andry membuka sebuah toko buku kecil yang menjual buku-buku bekas dan buku-buku antik, terutama dalam bahasa Jerman dan Inggris. Toko itu dia beri nama Kafka & Co yang diambil dari nama pengarang kesayangannya. Diam-diam, dia juga melanjutkan kecintaannya terhadap dunia menulis meski tidak pernah memublikasikan karyanya. Hasilnya antara lain manuskrip ini.

Manuskrip Andry saya baca sepulang ke tanah air saat harus menjalani karantina selama seminggu di sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat. Ternyata kumpulan cerpen ini cukup menarik meskipun agak tidak lazim.

Menurut saya, Andry seorang penulis yang perfeksionis, bacaannya luas, agak nakal, dan punya daya khayal luar biasa, tetapi cenderung pemurung. Dia memandang pesimistis pada dunia dan sinis terhadap manusia, termasuk dirinya sendiri. Dia kerap membaurkan fiksi dengan fakta dalam cerita-ceritanya. Ini mengingatkan saya kepada para penulis Amerika Latin serupa Borges, Bolano, dan Aira. Namun, di dalam karyanya juga tergambar nuansa pengaruh pengarang-pengarang Eropa abad kedua puluh semacam Kafka dan Joyce serta para sastrawan terkemuka tanah air seperti almarhum Budi Darma, Halima Puti Djamhari, dan Rika Kambuaya. Meski demikian, dia memiliki gaya pengucapan tersendiri yang otentik.

Saya merasakan semacam kegetiran tak kunjung usai yang menyusup di dalam cerita-ceritanya yang berlatar berbagai kota, dari Jakarta sampai Istanbul. Mungkin itu akibat masa lalu yang pedih dan ingin dilupakan. Mungkin juga karena cinta lama yang berakhir sedih dan terus membayangi. Namun, di balik semua itu, saya menangkap perlawanan terhadap kekuasaan yang tersirat di sana-sini dan terkadang disamarkan dengan simbol-simbol yang mungkin hanya dipahami oleh segelintir orang.

Pada awal tahun, setelah melakukan rapat redaksi dan mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan naskah ini ke dalam daftar buku yang akan kami terbitkan tahun ini. Sebagai penerbit kecil yang baru berusia muda, kami hanya sanggup menerbitkan rata-rata dua buku dalam sebulan. Artinya, kami harus benar-benar selektif.

Baca juga  Taman di Depan Rumah

Pada mulanya manuskrip kumpulan cerita ini oleh pengarangnya diberi judul Pencegahan Bunuh Diri. Judul tersebut diambil dari salah satu cerpen dalam kumpulan ini. Namun, setelah membaca keseluruhan naskah, saya berinisiatif untuk mengubah judulnya menjadi Nostalgia: Kisah-Kisah Ganjil tentang Maut dan Cinta yang menurut saya lebih sesuai dengan inti jiwa kisah-kisah di dalamnya—walaupun belum mendapat persetujuan dari sang penulis.

Saya telah berusaha menghubungi Andry terkait rencana penerbitan naskah ini, tetapi hingga saat ini belum berhasil. Kartu nama yang dia berikan saat kami berjumpa di Frankfurt dan berisi alamat surel dan nomor teleponnya ketlisut. Tentu Bapak mafhum bahwa ketlisut adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut barang yang tak terlacak karena terselip dan terlupakan. Ketlisut berbeda dengan hilang. Sebab, barang yang ketlisut sebenarnya tidak hilang. Ia masih ada di satu tempat di sekitar kita, tetapi kita tak tahu persis di mana ia berada.

Saya juga melacak nama Andry Kepson melalui Google dan mesin pencari lain di internet, tetapi tak dapat menemukan jejaknya, kecuali data novel yang pernah dia terbitkan dan kini sudah sulit didapat di pasaran karena dirilis dua dekade silam. Saya bahkan mencoba mencari informasi tentang dirinya di berbagai platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Hasilnya pun nihil. Namun, saya masih terus berupaya mencari kontaknya.

Demikianlah surat pengantar ringkas ini. Sekali lagi, saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan Bapak membaca naskah ini serta menyumbang saran, kritik, dan komentar berharga.

Salam takzim,

A.K. ***

.

.

ANTON KURNIA. Menulis cerpen, novel, esai, dan nonfiksi kreatif. Kumpulan cerpennya, Insomnia (2004), diterbitkan dalam terjemahan bahasa Arab sebagai Al-Quth alal qamar (2020) oleh Noon Publisher, Kairo, Mesir, dan tengah diterjemahkan ke bahasa Spanyol sebagai El gato en la luna untuk diterbitkan oleh Esquina Tomada Ediciones, Medellin, Kolombia, dengan dana bantuan dari Sharjah Translation Grant, Uni Emirat Arab. Buku terbarunya adalah Banyak Jalan Menuju Praha (2022), sebuah travelog. Novelnya, Majnun, segera terbit. Cerpen ini semacam tribute untuk mengenang sastrawan Budi Darma (1937-2021) yang wafat pada 21 Agustus setahun lalu.

.

Sepucuk Surat Pengantar. Sepucuk Surat Pengantar. Sepucuk Surat Pengantar. Sepucuk Surat Pengantar. Sepucuk Surat Pengantar.

 821 total views,  1 views today

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: